blank
Masyarakat Pracimantoro dari Paguyuiban Tali Jiwo dan dari Komunitas Wonoharjo Lestari, menyalami personel Polres yang berjaga di depan Gedung DPRD Wonogiri. Mereka datang ke Gedung Dewan untuk menyampaikan penolakan pendirian pabrik semen di Forum Rapat Dengar Pendapat.(SB/Bambang Pur)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Tali Jiwo dan dari Komunitas Wonoharjo Lestari, menolak pendirian pabrik semen di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Sikap tegasnya ini, Senin (14/4/25), disampaikan dalam forum dengar pendapat dengan DPRD Kabupaten Wonogiri.

Sekitar 150 warga masyarakat Pracimantoro beramai-ramai mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Wonogiri. Mereka diterima Ketua DPRD Sriyono bersama Wakil Ketua Sugeng Achmady dan Suryo Suminto. Ikut hadir pula sebanyak 16 Anggota Dewan masing-masing dari unsur Pimpinan Dewan, para Ketua Komisi dan perwakilan dari semua fraksi, serta 4 Anggota Dewan asal Kecamatan Pracimantoro.

Ke 16 Anggota DPRD itu terdiri atas Gimanto, Bambang Sadriyanto Kingkong, Nyamik Saptati, Achmad Nasir, Irawan Hari Purnomo, Intan Kusuma Susanti, Widiyatno, Wawan Arifianto, Sugiarno, Abdullah, Ari Sumantri, Titik Sugiyarti, Arum Subekti, Supriyanto, Catur Winarko dan Novri Roesmono.

Suryanto Perment sebagai pendamping Tali Jiwo, juga mendesak agar DPRD Wonogiri mencabut atau merevisi Perda Nomor: 2 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tahun 2020-2040. Karena Perda ini, lebih mengakomodasi kepentingan industri daripada melindungi alam dan kesejahteraan warga.

DPRD Wonogiri diminta memberikan kepedulian tentang pentingnya mempertahankan lahan pertanian dan upaya memproteksi kelestarian Kawasan Bentang Alam Kars (KBAK) Gunung Sewu. Temasuk yang berada di bentang Kabupaten Wonogiri.

Kehadiran pabrik semen, dinilai hanya akan menghancurkan KBAK Gunung Sewu sebagai kawasan geopark dunia yang telah ditetapkan UNESCO. Selanjutnya, mendesak agar pemerintah menerbitkan moratorium pendirian pabrik semen.

Akademisi

Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Speleological Society (ISS) Petrasa Wacana, yang hadir sebagai pendamping ahli, merekomendasikan agar dilakukan pertemuan akademisi yang pro dan kontra terkait pendirian pabrik semen di Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Para akademisi harus bertanggung jawab atas kajiannya, terkait mengapa KBAK Gunung Sewu sampai diizinkan untuk pendirian pabrik semen.

Petrasa sebagai Ketua Masyarakat Speleologi Indonesia (MSI), menyatakan, mestinya pemerintah tidak mengeluarkan izin Amdal apalagi izin pendirian pabrik semen di KBAK Gunung Sewu. Termasuk yang berlokasi di Pracimantoro, Wonogiri. Sebab, itu masuk KBAK Kelas 1 yang sepenuhnya harus mendapatkan proteksi.

Melalui Pemandu Wicara, Waris Wibisono, ada 10 orang warga yang secara bergiliran menyampaikan pendapatnya. Mereka terdiri atas Mulyono, Katiman, Warso, Suprihatin, Setia Dewi Saputri, Anto, Suryono, Ketua Tali Jiwo Harto, Ahmad Fitrianto dan Kadus Bambang yang mewakili masyarakat dari tiga dusun (Dusun Sladi, Jeruk dan Salak) Desa Tubokarto, Pracimantoro, Wonogiri.

Semua yang ambil bicara, menolak pendirian pabrik semen di Pracimantoro, Wonogiri. Kehadiran pabrik semen di Pracimantoro, dikhawatirkan akan menghancurkan alam yang selama ini menjadi lahan ketahanan pangan masyarakat, dan tidak berpihak pada kelestarian lingkungan.

Ketua DPRD Wonogiri Sriyono, menyatakan, pihaknya akan segera membahas masalah ini bersama para unsur pimpinan Dewan. Terkait Perda, itu dulu diajukan oleh eksekutif, dengan alasan sebagai upaya pengembangan wilayah Wonogiri selatan. Tujuannya, agar pertumbuhan ekonomi di Wonogiri selatan meningkat, dan tidak ketinggalan dengan Wonogiri timur.

Menjelang petang hari, massa kemudian berjalan kaki menuju Pendapa Kabupaten Wonogiri, dengan membawa aneka macam poster dan spanduk penolakan pabrik semen, serta meneriakkan yel-yel: ”Praci-Nyawiji, Gunung Sewu-Lestari, Petani-Menang.” Tapi mereka tidak dapat bertemu Bupati Setyo Sukarno, karena Bupati tidak berada di tempat.(Bambang Pur)