
Beberapa koleksi yang ditampilkan berupa ribuan keris dari era Kerajaan Singosari sampai dengan Medang Kamulan.
Dua sesi acara tersebut ditampilkan, pertama koleksi milik paguyuban dalem Grobogan.
Sementara yang kedua yakni koleksi para pebursa dari luar daerah seperti Solo, Jakarta, Bojonegoro, Tuban, Madura, Lombok hingga Palembang.
Selain tosan aji juga dipajang batu akik dan aksesori pusaka lainnya dalam pameran tersebut.
Bahkan, beberapa ASN juga terlibat dalam kegiatan ini, seperti koleksi pribadi Asisten Pemerintahan dan Kesra, Kurnia Saniadi menjadi penanda bahwa kecintaan pada warisan budaya bisa tumbuh dari ruang-ruang birokrasi melalui pribadi-pribadi yang memahami makna dan menjunjung tinggi nilai leluhur.
Apresiasi
Sementara itu, Sekda Grobogan Anang Armunanto mengapreasiasi karya kerajinan daerah dengan membeli cincin batu King Safir dari salah satu pelaku UMKM yang turut serta dalam acara ini.
Melalui peran ASN dan kolaborasi lintas komunitas seperti Oemah Keris Grobogan, Grobogan Bumi Pepali dan Senapati Nusantara, acara tersebut tidak hanya sebagai ajang apresiasi seni warisan, namun juga sebagai ruang refleksi.
“Bahwa budaya tidak hanya hidup dalam ingatan masa lalu, melainkan terus bernapas dalam tindakan, pemahaman, dan kesadaran kolektif lintas generasi.,” jelas Anang Armunanto.
Tya Wiedya













