blank
Seusai menyerahkan bingkisan bunga tangan (hand bouquet), kuartet remaja putri Penari Gambyong dari Sanggar Mustika Tari Jakarta, berfoto bersama dengan pengantin dan kedua orang tua pengtantin pria serta kedua orang tua pengantin putri.(SB/Bambang Pur)

JAKARTA (SUARABARU.ID) – Dalam Buku Bauwarna Tata Adat Cara Jawa, Karya Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta-2000), Tari Gambyong memiliki akar sebagai tarian sakral (suci dan murni), untuk pagelaran tari kebaktian di jagad kadewatan (dunianya para dewa-dewi).

Tari Gambyong, hadir sebagai tarian untuk mengiringi upacara pentasbihan para dewa. Secara khusus, tarian ini dipergunakan untuk menghormati para dewa. Gerak tariannya, menggambarkan bagaimana cara mencari penghidupan secara terhormat.

Ada keyakinan, sebagai tarian sakral, Tari Gambyong dapat memberikan tuah kebaikan daya keramat terhadap siapa pun yang menyelenggarakan Gambyongan. Di masa lalu, Tari Gambyong digelar kaum agraris sebelum melakukan panen padi. Harapannya, agar hasil panenannya melimpah, tidak ada yang terbuang karena dicuri siluman.

Tari Gambyong, juga diyakini dapat memberikan tuah untuk sarana penyembuhan penyakit. Utamanya penyakit yang disebabkan dari gangguan sawan (gaib) atau nonmedis. Caranya, dengan meminta bunga yang dipakai oleh penari Gambyong, sebagai sarana penyembuh sakit.

Dalam perkembangannya, Tari Gambyong kemudian bergeser dari tarian sakral ke tarian kebanyakan yang menitikberatkan sebagai hiburan, seperti halnya Tari Taledhekan. Yakni untuk segala keperluan, dan bahkan berkembang menjadi tarian populer di masyarakat dengan sebutan Tari Joged Barangan.

Pada awal Abad Ke-20, yakni di masa Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Sri Mangkunegara Ke-VII, Tari Gambyong diangkat kembali sebagai tarian sakral, dipergelarkan di Praja Mangkunegaran. Dikembangkan menjadi beberapa jenis, seperti Gambyong Campursari, Gambyong Padhasih, Gambyong Gambir Sawit, Gambyong Pareanom.

Serat Centhini

Dalam Wikipedia, disebutkan, Tari Gambyong tertulis dalam Serat Centhini, yaitu kitab yang ditulis pada masa pemerintahan Paku Buwana (PB) IV (1788-1820) dan PB V (1820-1823). Disebutkan, salah seorang Seniman Tari KRMT Wreksadiningrat, pada masa pemerintahan Pakubuwana IX (1861-1893), Tari Gambyong digarap sedemikian halus, untuk dipertunjukkan di kalangan para bangsawan atau priyayi. Kemudian oleh Seniwati Tari, Nyi Bei Mardusari, yang juga sebagai Garwa Selir Sri Mangkunegara VII (1916-1944), Tari Gambyong ditampilkan di hadapan para tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran.

Perubahan penting terjadi ketika pada Tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran (pada masa Mangkunegara (MN) Ke VIII), membuat versi Gambyong yang dibakukan, yang dikenal sebagai Gambyong Pareanom. Yang secara perdana, koreografi ini dipertunjukkan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul (saudara perempuan MN VIII), pada Tahun 1951.

Dalam acara hajatan mantu putra-putri Farhan-Lia, Keluarga Gunadi-Vitri, menyertakan Tari Gambyong. Hajatan pengantin ini digelar Sabtu (12/4/25), di Gedung Serbaguna-1 Komplek Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur (Jaktim).

Tari Gambyong, ditampilkan tidak sekadar untuk hiburan. Tapi dari awal, empat penari remaja putri penari Gambyong, berperan di barisan kedua (di belakang Manggala Yuda), untuk mengantarkan prosesi kirab kedua mempelai, ke tempat duduk pelaminan di panggung utama. Selama prosesi kirab berlangsung, diiringi Gending Ladrang Wilujeng atau Ketawang Sri Narendra dengan titi laras Pelog Barang.

Empat remaja putri yang tampil menjadi penari Gambyong, datang dari Sanggar Seni Mustika Tari, Jakarta. Seusai tugas mengantarkan prosesi kirab pengantin, kuartet penari Gambyong tersebut, kemudian menyajikan Tari Gambyong Pareanmon, yang berdurasi sekitar 20 menit.(Bambang Pur)