
Usai apel pagi, Bupati Sigit didampingi Wabup Suroto dan Sekda serta pejabat utama menuju ruang kerjanya. Bupati menyempatkan melihat Mushala di samping ruang kerja, ruang Staf Ahli Bupati, dan ruang Sekda.
Saat memasuki ruang kerja, Sigit minta agar kursinya diambil untuk diganti. “Pak Sekda saya bawa kursi sendiri,” tutur orang nomor satu di Sragen itu.
Seorang staf Bagian Rumah Tangga bergegas mengambil kursi empuk, untuk diganti dengan kursi kayu jati ukiran bergambar petani bertuliskan Rakyat. Sandaran kursi kayu ukiran menggambarkan petani makan bersama di tepi sawah, usai bercocok tanam.
Sedangkan ukiran di sebalik sandaran bertema tentang perajin peralatan dapur dan pertanian menata dagangannya dan rakyat yang sedang Wedangan atau ngobrol di Warung Hik.
“Makna di kursi ukiran itu menggambarkan bahwa ini pemerintahan rakyat dijalankan untuk kesejahteraan rakyat,” terang Sigit Pamungkas kepada awak media.
“Tapi kursi kayu yang diduduki itu keras lho Pak,” canda Septi, seorang wartawati.
Sembari tersenyum, Sigit membalas,”Ya biar, yang penting kursi rakyat di depan meja saya itu empuk.”.
Sambil mengelus kursi ukir itu, Sigit menjelaskan kursi itu karya perajin kayu di Sragen.
Anind













