blank
Wakil Ketua keluarga besar Trah Sutahaknyono, Ny Hj Sawitri Mulyaningsih SS (kiri), menyerahkan doorprize di acara pertemuan Ruwahan yang digelar di Limbangan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jabar.(SB/Bambang Pur)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Dalam Almanak Menara Kudus Tahun 2025 M, disebutkan bahwa Hari Jumat Pon (31/1/25) merupakan Tanggal 1 Sya’ban (Ruwah) 1446 H. Bulan Ruwah akan berlangsung sampai Hari Sabtu PahingTanggal 1 Maret 2025 mendatang. Kemudian Tanggal 1 Ramadan 1446 H jatuh pada Minggu Pon Tanggal 2 Maret 2025.

Bagi orang Jawa, Ruwah dipahami sebagai bulan untuk meRUhi (memaknai) keberadaan roh arWAH para leluhur, melalui tradisi Ruwahan. Dalam Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa (Drs R Harmanto Brata Bratasiswara), penerbit Yayasan Suryasumirat-Jakarta 2000, uraian tentang Ruwahan dituliskan pada halaman 635.

Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa termasuk dalam kategori ensiklopedi Kejawen. Ensiklopedi, adalah kumpulan informasi yang disajikan dalam bentuk buku atau digital, yang berisi keterangan tentang berbagai bidang ilmu pengetahuan, seni dan teknologi. Yang penulisannya disusun secara alfabetis dan dilengkapi dengan indeks.

Ruwahan sering juga disebut sebagai tradisi Sadranan. Masyarakat (Jawa) mengadakan pamulen (penghormatan) kepada arwah para leluhur. Ini diawali dengan melakukan bersih kubur (membersihkan makam), kemudian melakukan nyekar (ritual tabur bunga di pusara), mengirim doa agar para leluhur diampuni dosa dan kesalahannya, dengan menyertakan sesaji kue tradisional tiga serangkai (kolak, ketan dan apem).

Pada sejumlah daerah, momentum Sadranan menjadi ajang silaturahmi berkumpulnya sanak-famili handai taulan. Mereka ada yang menggelar kenduri selamatan dengan menyertakan panggang ayam atau sembelih kambing di makam leluhur. Tradisi ini, ada yang dilaksanakan secara massal oleh orang sekampung.

Bagi keluarga besar (Alm) Sutahaknyono, Dusun Demangan, Desa Pijiharjo, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, acara Ruwahan digelar menjadi kegiatan rutin tahunan. Yakni dengan menyelenggarakan pertemuan trah (keluarga besar) yang tempatnya digilir secara bergantian. Untuk Tahun 1446 H (2025 M), dilaksanakan di rumah H Kadiyo-Hj Sekti Astuti di Limbangan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jabar.

Digilir

Tempat yang dijadikan ajang pertemuan Ruwahan, digilir secara berurutan oleh keluarga anak-anaknya. Tahun lalu, bertempat di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jateng. Sebelumnya, digelar di Purwokerto, Jateng.

blank
Keluarga besar Trah Sutahaknyono yang datang dari berbagai kota, foto bersama saat menghadiri acara pertemuan Ruwahan.(SB/Bambang Pur)

Dalam pertemuan trah, diisi dengan acara berdoa bersama, untuk memohonkan ampunan para leluhur agar dapat mulih marang mula nira minggah kaswarga jati, yaitu dapat diberikan anugerah diterima kembali di alam ke-Allah-an dan masuk ke surga. Ini dikemas dengan acara Yasinan dan Tahlilan bersama.

Pembacaan Yasin dan Tahlil dan berdoa, dipimpin oleh Sesepuh Dewan Pembina Trah, H Marsan SPd. Ikut memberikan sambutan, Anggota Dewan Pembina Trah Drs Sudarmo MPd. ”Kita tidak perlu mempertentangkan tradisi Ruwahan sebagai kegiatan budaya Jawa, dengan ajaran agama,” tandasnya.

Dalam pertemuan tahunan itu, para anggota trah diikat dengan pengumpulan iuran untuk dana sosial. Juga pengumpulan simpanan wajib dan sukarela untuk kegiatan berkoperasi. Dana sosial, penggunaannya sebagai sumber bantuan yang diberikan kepada keluarga yang opname di Rumah Sakit.

Kemudian keuangan koperasi, diputar sebagai pelayanan jasa simpan pinjam sesama anggota trah, dan sebagian untuk modal pengembangan usaha ekonomi produktif. Untuk menyegarkan suasana pertemuan trah, panitia menyedikan doorprize atau hadiah hadir yang dibagikan dengan cara diundi, dipimpin oleh Gunadi SPd, MPd.(Bambang Pur)