blank
Sandyakala Smara Koleksi Batik Kudus 2023 - 2024. Foto: dok. Bakti Budaya Djarum Foundation

KUDUS (SUARABARU.ID) –Semburat warna jingga senja menerpa keindahan rumah adat Kudus Yasa Amtra Rabu (6/9) sore itu. Keindahan cahayanya seakan berpadu padan dengan keelokan busana yang dibawakan oleh 70 model dalam pagelaran fashion show batik Kudus bertajuk ‘Sandyakala Smara’ persembahan desainer kondang Denny Wirawan.

‘Sandyakala Smara’ memang sengaja dipilih Denny Wirawan sebagai tema dalam salah satu pagelaran fashion show terbesar batik Kudus yang berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation. Tema tersebut diimplementasikan dengan memilih waktu pagelaran tepat saat sang surya masuk ke peraduannya.

‘Saat sore bertepatan dengan sunset. Kami memilih karena waktu itu merupakan waktu yang indah saat langit memerah dengan cantiknya. Tema ini juga bertepatan dengan kecintaan saya dengan batik Kudus,”ujar desainer kenamaan Indonesia ini.

Denny menambahkan, gelaran ini menampilkan koleksi terbaru batik Kudus sebagai upaya melestarikan batik Kudus dan meningkatkan perekonomian pembatik lokal.”Fashion show terbesar ini merupakan yang keempat,” tambahnya.

Menurut dia, batik Kudus kembali menjadi bagian penting dari perjalanan kreatif dirinya sejak tahun 2015. Tahun ini menandai sewindu keindahan batik Kudus memberikan inspirasi yang membuat dirinya terus mengeksplorasi dan berkreasi.

“Koleksi ‘Sandyakala Smara’ saya persembahkan sebagai bentuk dedikasi untuk menggali lebih dalam lagi potensi-potensi yang ada pada motif batik Kudus yang belum tereksplorasi, setelah sebelumnya hadir koleksi pasar malam, padma, dan wedari,” ujarnya.

blank
Keelokan rumah adat Kudus Yasa Amtra menambah suasana pagelaran fashion show batik Kudus Sandyakala Smara. foto: Bakti Budaya Djarum Foundation

Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, mengungkapkan bahwa Sandyakala Smara ini adalah bentuk dukungan tulus dalam melestarikan dan mengapresiasi kekayaan wastra budaya Indonesia.

Khususnya, kata dia, batik Kudus yang memukau dan menginspirasi kreativitas untuk terus mengeksplorasi serta memperkaya keindahan yang tak ternilai dari kain-kain Indonesia.

“Setelah delapan tahun perjalanan yang luar biasa, dengan bangga kami membawa batik Kudus kembali ke akarnya, ke Kota Kudus, yang dikenal sebagai Kota Kretek, untuk perayaan penuh makna dan inspirasi,” ujarnya.

Hal Ini, kata dia, menggambarkan bahwa Kudus bukan hanya dikenal sebagai penghasil kretek, tetapi juga memiliki batik yang bernilai tinggi sekaligus menghargai perjalanan panjang dalam berkarya lewat kain dan pola yang telah memberikan warna baru bagi dunia mode Indonesia.

Kegiatan ini, kata dia, dihadiri sekitar 250 tamu undangan yang datang untuk mengenal dan menjelajahi budaya Kota Kudus. Ini merupakan sebuah kesempatan untuk mengenalkan daya tarik Kota Kretek sehingga menjadi salah satu destinasi wisata yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

blank
Desainer kebanggan Indonesia Denny Wirawan mempersembahkan pagelaran fashion show batik Kudus bertajuk ‘Sandyakala Smara’ di rumah adat Kudus Yasa Amtra. foto:Bakti Budaya Djarum Foundation

“Sandyakala Smara Koleksi Batik Kudus 2023 – 2024 ini mengajak kita untuk merasakan kisah indah yang terinspirasi dari keelokan Kebaya dan Kain Batik Kudus,” ujarnya.

Mengambil ciri khas gaya “kebaya encim” serta kain batik Kudus sebagai padanannya di dekade 1930-an hingga 1950-an, Denny Wirawan menghadirkan kembali kecintaannya terhadap wastra Indonesia yang mengalir tak pernah usai.

Memadukan mahakarya dari para artisan batik yang penuh keindahan dan filosofi, dalam helai-helai busana yang dibuat dengan cinta. Kolaborasi dengan para pembatik binaan Bakti Budaya Djarum Foundation dan para pembatik pesisir di Pekalongan, serta kolaborasi dengan kolektor batik Agam Riyadi, juga turut memperkaya koleksi batik yang ditampilkan pada gelaran Sandyakala Smara.

Ali Bustomi