blank
Dr. Antonius Benny Susetyo saat bebricara di Malang. Foto: Dok Benny

MALANG (SUARABARU.ID) –   Indonedia merupakan Negara Demokrasi, maka Pemilu adalah suatu keniscayaan. Namun dalam perayaan keberagaman pandangan politik tersebut masyarakat juga kembali  dihadapkan pada kenyataan munculnya kembali narasi perpecahan dan tantangan terhadap kebhinekaan.

“Kenyataan tersebut menyebabkan terjadinya dinamika demokrasi yang tidak baik dalam masyarakat, karena pemilu bukan lagi pertarungan Ide namun pertarungan identitas, kelompok mana yang menang dan kelompok mana yang kalah. Fakta  tersebut juga diwarnai dengan perkembangan teknologi, saat Artificial Intelegence makin marak dan keberadaan AI tersebut memberi ruang dan makin mengembangkan potensi pembuatan berita bohong,” kata staff khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Dr. Antonius Benny Susetyo, di Pusat Pengembangan Karier dan Alumni Universitas Brawijaya Malang, Sabtu 19  Agustus 2023.

Dalam diskusi publik bertajuk Merawat Keberagaman  dengan  Harapan Para Peserta dalam menghadapi Pemilu, Benny menyebut, realita yang berlebihan serta konten konten negatif  yang memperparah proses demokrasi dan lebih lanjut mengancam persatuan dalam keberagaman yang di miliki bangsa Indonesia.

Dengan Latar belakang itu Gerakan NKRI Sehat  bersama Unsur Pendidik dan Mahasiswa di Malang dan sekitarnya  sepenuhnya  sadar dan mengerti bahwa keberagaman bukan hanya merupakan keniscayaan namun merupakan potensi yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai negara yang besar.

“Oleh karena itulah kita harus senantiasa dapat merawat keberagaman dan bijaksana dalam menggunakan Artificial Intellegenhce hingga tidak terjebak dalam narasi negatif,berita bohong dan realitas yang berlebihan,” ujarnya.

Antonius Benny Susetyo menyatakan bahwa pemilu adalah bukti bahwa Demokrasi Pancasila menjunjung tinggi hak tiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Setiap warga negara dipersilahkan menyampaikan aspirasi dengan memilih siapa orang yang akan memimpin  bangsa Indonesia.

“Karena itu hendaknya kita tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, hoaks maupun narasi negatif yang berujung perpecahan, dan  mulai bisa memperhatikan para calon pemimpin dengan melihat rekam jejak,kestabilan psikologis dan kemampuan mereka dalam berdiri bersama  rakyat dan pemilih, kita harus bisa melihat pemimpin mana yang memiliki keutamaan yaitu mereka yang  menghormati  keberagaman, hak asasi manusia dan peduli pada mereka yang terpinggirkan,” kata Benny.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 50 Orang itu Benny menyatakan bahwa kita harus meneliti dengan baik dan bjektif mengenai siapa yang kita pilih terkait rekam jejak dan program yang ditawarkan, bukan lagi terjebak pada romantisme masa lalu atau lebih buruk Politik Identitas.

“Suka atau tidak Kita harus menyadari dalam era digital ini sifat buruk bangsa Indonesia benar-benar tergali, kita tak sadar menjadi pribadi yang melodramatis, mudah terjebak pada romantisme dan keemasan masa  lalu serta menjadi mereka yang bersumbu pendek .

“Mereka tanpa sadar  menjadi komunitas pengiya kata yang membagikan hal dan Informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu , dan karenanya diharapkan setiap para peserta diskusi publik dapat selalu menjadi agen perubahan, agen demokrasi dan agen pengedukasi dalam upaya  penjaga pemilu yang berkualitas,” ujarnya.

Lebih lanjut doktor komunikasi politik itu menyatakan bahwa para pemilih potensial adalah kaum milenial dan generasi Z yang mencakup 60 persen dari jumlah seluruh pemilih di Indonesia. “Mereka dengan segala keunikannya merupakan  potensi besar dalam Pemilu, bukan hanya sekedar sebagai pemilih mereka dengan talenta berteknologi dan bermedia sosial mampu membuat konten konten segar yang suka atau tidak sangat efektif dalam penyampaian pesan dan informasi khususnya terkait pemilu dan pesta demokrasi,” ujarnya

Karenanya kita harus merangkul mereka dan membuat mereka mengerti bahwa Martabat tidak bisa direduksi dengan uang dan identitas , dan menjadi bermartabat berarti  mereka benar benar bisa memilih atas dasar pikiran sehat, dan terhormat mereka memilih berdasarkan kenyataan bahwa demokrasi tidak memberi jaminan kesejahteraan namun memberi jaminan mengenai kemanusiaan, kehormatan dan kesempatan.

Dalam kesempatan ini Benny  juga menyatakan bahwa para peserta diskusi publik ini diharapkan menjadi agen perubahan dalam upaya menggaungkan pemilu cerdas yang dapat memberikan contoh dan edukasi politik kepada masyarakat di sekitarnya.

“Para peserta diskusi publik ini dapat memulai dari keluarga dan komunitas untuk memberikan informasi bagaimana cara memilih pemimpin misalnya dengan metode analisa kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) pada setiap calon calon pemimpin yang akan dipilih hingga benar benar didapatkan pemimpin yang benar benar efektif dan mampu bekerja sesuai ekspektasi Masyarakat,” kata Benny.

Benny Susetyo, Staf Khusus dari Badan yang dipimpin Profesor Yudian Wahyudi ini mengakhiri paparannya dengan menyatakan bahwa demokrasi adalah suatu proses menjadi. “Karenanya proses demokrasi adalah proses berkelanjutan yang mengkoreksi hal hal yang salah dalam proses demokrasi tersebut , maka  diperlukan kesadaran etis dari seluruh masyarakat  untuk menjaga keutuhan bangsa dan menjadikan Pancasila sebagai dasar berpikir,bertindak dan berelasi maka kita akan menjadi bangsa yang besar,” kata Benny.

Waktunya seluruh warga negara Indonesia  menjaga persatuan dalam keberagaman dalam menghadapi Pesta Demokrasi dengan senantiasa menggaungkan bagaimana pemilu cerdas kepada masyarakat sekitar, karena  pada akhirnya berkualitas atau tidaknya suatu pemilihan umum  tergantung kepada masyarakatnya, jika masyarakat berkualitas maka hasil Pemilu akan berkualitas.

“Kita tidak boleh menjadi reaktif dan pesimis, pemilu adalah panggilan kita semua untuk melaksanakan tugas mulia mencapai cita cita kemerdekaan, walau upaya tersebut tidak dapat diraih  dengan singkat namun kita harus jaga agar tetap berlangsung dengan damai dan berkualitas,” tutup Benny dalam Acara yang dihadiri oleh Dosen,Mahasiswa dan Guru Besar di Kota Malang tersebut.

wied