WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Produksi biji Kakao (Theobroma cacao L) Kabupaten Wonogiri mencapai 402 ton, dan menjadi yang terbesar di Provinsi Jateng. Yakni mencapai sekitar 25,11 persen dari total produksi Jateng sebanyak 1.600,65 ton biji Kakao.
Tokoh masyarakat Wonogiri, Tarmin, semalam, menyatakan hal itu dengan mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tentang produksi biji Kakao. Di Kabupaten Wonogiri, Kecamatan Jatipurno menjadi sentra tanaman perkebunan Kakao. ”Terutama di Desa Kopen, Mangunharjo, dan Desa Giriyoso,” katanya.
Terkait hal tersebut, tiga Kepala Desa (Kades) disentra Kakao, yakni Kades Giriyoso, Samijo, Kades Kopen, Sarto, dan Kades Mangunharjo, Karyadi, berusaha mendorong pengembangan Kakao menjadi jenis tanaman perkebunan unggulan.
Dalam upaya mengembangkan Kakao, trio Kades tersebut mendatangkan Pakar Kakao dan Kopi terkemuka, Prof Dr Ir Sri Mulato MSc, untuk memberikan pembimbingan dan pendampingan pengembangan Kakao di Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri.
Kehadiran Prof Sri Mulato didampingi aparat dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tenga, untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang teknik bercocok tanam kakao yang optimal. Acara ini digelar di rumah tokoh petani muda, Meru Ristanto, di Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri.
Pakar
Dalam pertemuan tersebut, Prof Sri Mulato, mengajak petani untuk meremajakan tanaman Kakao-nya, yakni menggantinya dengan varietas unggul. Tutujuannya, untuk meningkatkan produktivitas. Kepada petani, juga diarahkan untuk menerapkan prinsip-prinsip Good Agricultural Practices (GAP) yang berkelanjutan dalam pengelolaan kebun Kakao mereka.
Meru Ristanto, berharap, potensi Kakao di Jatipurno dapat dikelola secara maksimal dan profesional. Dengan mendapatkan bimbingan dan pendampingan dari pakar Kakao dna dukungan penuh para Kades, produktivitas Kakao di Kecamatan Jatipurno dapat ditingkatkan dari 0,50 ton per Hektar (Ha) per tahun, menjadi 1 ton per Ha per tahun.
Harapannya, pengembangan komoditas tanaman perkebunan Kakao kelak tidak saja dapat meningkatkan pendapatan petani secara individu, tapi juga meningkatkan kesejahteraan warga yang terbingkai dalam pembangunan desa.
Dengan adanya kolaborasi antara pakar, perwakilan pemerintah, Kades dan petani, diharapkan pengembangan Kakao di Desa Kopen, Mangunharjo, dan Desa Giriyoso, dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain dan berdampak positif bagi masyarakat.
Bambang Pur













