Peserta Historical Study Trips dengan latar Jembatan Tiga Lenglung Tembana Kebumen, baru-baru ini.(Foto:SB/HST Kebumen)

KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Kegiatan perpaduan perjalanan wisata menelusuri sejarah masa lalu dan menikmati keindahan alam memang menarik. Historical Study Trips (HST) Kebumen kembali menggelar kegiatan study trip sesi ke-9 pada pertengahan Mei lalu.

Uniknya, perjalanan studi sejarah kali ini mengambil tema dari Sungai Luk Ulo Hingga Lantai Samudera. Menurut Teguh Hindarto selaku pemandu sekaligus peneliti sejarah lokal, pihaknya sengaja memilih tema tersebut seraya mengajak peserta memahami latar belakang sejarah Jembatan Tembana yang dibangun oleh insinyur GA Pet pada 1871, serta melacak keberadaan sungai Luk Ulo yang telah disebutkan dalam naskah Bujangga Manik dari Abad 17 Ms.

Sungai Luk Ulo merupakan salah satu sungai legendaris dan terbesar di Kebumen. Sungai ini secara tradisional membelah wilayah Kebumen menjadi dua wilayah. Wetan Kali dan Kulon Kali. Wetan kali diasumsikan wilayah Kebumen kota, pusat pemerintahan kabupaten dan didukung wilayah Kutowinangun dan Prembun di timur.

Sedangkan Kulon Kali diasumsikan wilayah Kebumen barat mulai Pejagaon, Sruweng, Karanganyar dan Gombong yang relatif dikenal sebagai daerah bisnis dan lebih maju. Apalagi Karanganyar sebelum 1936 merupakan kabupaten tersendiri, terpisah di barat Kebumen. Namun fokus tulisan ini akan lebih banyak mengupas perjalanan HST menelusuri sungai besar tersebut berikut potensi bebatuannya.

Di Sungai Luk Ulo ada Jembatan Tembana, jembatan peninggalan Belanda yang masih kokoh, meski bangunannya terkesan sederhana. Konstruksinya dari bata merah namun masih kuat dan berfungsi hingga kini. Mungkin telah berpuluh, bahkan beratus kali melewati Jembatan Tembana yang menghubungkan Kebumen dengan Karanganyar.

Peserta Historical Study Trips berada di kampus geologi BRIN Karangsambung,, Kebumen.(Foto:SB/HST Kebumen)

Jembatan Tiga Lengkung

Demikian pula memandangi Sungai Luk Ulo yang mengelok melintasi di bawah jembatan. Hal yang sama tentu warga Kebumen pernah melewati kawasan utara yang menaik dan mengelok dengan selingan kenampakan batu-batu yang memperlihatkan jejak kepurbaan. Namun belum tentu memahami latar belakang sejarah dan geologis dibalik semua keindahan yang sangat biasa kita lihat dan lewati.

Teguh Hindarto memandu kegiatan ini bersama Dr Chusni Ansori MT (peneliti geologi) serta Rizki selalu pengelola Historical Study Trip, mengajak peserta melihat keindahan penampakan “drie boogbrug” (jembatan tiga lengkung) dari Jembatan Tembana, dengan menuruni tangga instalasi PDAM Kebumen di Tembana.

Selanjutnya peserta diajak berkonvoi kendaraan motor dan mobil menuju Kawasan Geodiversitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Karangsambung, dulu UTP LIPI, untuk memahami sejarah keberadaan dan aneka ragam kekayaan geologis batuan Karangsambung.

Perjalanan berakhir menuju Kecamatan Sadang, di mana terdapat bukti geologis pertemuan antara lempeng Samudera Hindia Australia dengan Benua Eurasia yaitu di Kali Muncar, Desa Seboro, Kecamatan Sadang. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai “Watu Kelir”, sementara kalangan geologis menamai sebagai “Lantai Samudera yang terangkat”.

Kegiatan berakhir dengan makan siang dan menikmati kesejukan udara di Selo Asri yang memperlihatkan hamparan perbukitan dirimbuni hijau pepohonan.

Teguh menandaskan, HST telah menelusuri pernik wisata sejarah kompleks Rumah Sakit Kebumen yang lama di Kelurahan Panjer Kebumen, serta Stasiun Kereta Api Kebumen berikut bekas pabrik minyak kelapa Mex Olie. HST juga pernah menelusuri bangunan tua bersejarah di kompleks Pendopo Kabumian Rumah Dinas Bupati Kebumen, seputar Alun-alun hingga Jalan Pemuda.

Komper Wardopo