blank
Aura Trisna Aizzatus Sani memamerkan kerajinan tudung lampu dari anyaman bambu buah karyanya. Foto:Ali Bustomi

KUDUS (SUARABARU.ID) – Sejumlah siswa sekolah dasar di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus mengikuti lomba kriya anyam bambu. Lomba yang digelar di SD 1 Jepang, Kecamatan Mejobo, Kamis (7/7) tersebut bertujuan untuk melestarikan kerajinan khas anyaman bambu dari wilayah setempat.

Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian festival lomba seni siswa nasional tingkat kecamatan. Selain itu, juga bagian dari upaya melestarikan kerajinan bambu yang ada di wilayah tersebut.

Koordinator lomba cabang kriya anyam, Muryanti, mengatakan satu di antara ciri khas yang ada di Kecamatan Mejobo merupakan produk kerajinan tangan berupa anyaman bambu.

Kerajinan ini peminatnya kebanyakan merupakan mereka yang sudah berusia senja. Dengan adanya lomba tersebut, dia berharap tumbuh keinginan dari para siswa sekolah dasar untuk kembali menggeluti bidang kerajinan tersebut.

Lomba ini untuk mengasah kearifan lokal di sini berupa anyaman dari bambu. Untuk mengasah bakat biar anak bisa jadi generasi penerus,” kata Muryanti.

Dia mengatakan, dari 46 sekolah dasar di Kecamatan Mejobo, 10 di antaranya mengirimkan siswanya dalam lomba ini.

Masing-masing siswa membuat kerajinan anyaman. Umumnya mereka membuatnya dari bilah bambu, meski ada pula yang membuat anyaman berbahan plastik.

Para siswa itu ada yang membuat keranjang buah, tutup lampu, dan besek bambu. Penilaian hasil karya siswa itu di antaranya meliputi kerapian dan estetikanya.

Satu di antara peserta, Aura Trisna Aizzatus Sani, siswa kelas V SD 5 Jepang memilih membuat tutup lampu. Tutup lampu itu berbentuk persegi dari anyaman bambu.

Dia mengaku mudah membuat kerajinan itu. Sebelumnya, dia belajar kepada gurunya selama kurang lebih empat hari.

“Ini buatnya mudah,” kata Aura yang di akhir lomba meraih juara ketiga tersebut.

Muryanti melanjutkan, di era yang serbadigital ini, anyaman bambu bisa dipasarkan melalui pasar daring. Tentu hal ini menuntut kreativitas.

Besar harapannya anyaman bambu ini tetap ada sebagai bentuk kearifan lokal wilayah tersebut.

Dalam waktu yang sama, dalam festival lomba seni ini juga digelar lomba menari, pantomim, gambar bercerita, dan menyanyi tunggal.

Ali Bustomi