blank
KH Musthofa Bisri (Gus Mus) saat hadir dalam dialog 'Kudus Kota Empat Negeri' dalam acara Festival Kudus 2022 di Museum Satria Mandala Jakarta. Foto:Ali Bustomi

JAKARTA (SUARABARU.ID) – Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus memberi kehormatan dengan hadir dalam Festival Kudus yang digelar di Museum Satria Mandala Jl Gatot Subroto Jakarta Selatan, yang digelar selama dua hari antara 20-21 Mei 2022.

Dalam acara yang diprakarsai oleh Forum Komunikasi Masyarakat Kudus (FKMK) tersebut, Gus Mus didaulat berbicara dalam dialog ‘Kudus Kota Empat Negeri’ yang juga menjadi tema kegiatan tersebut

Kiai asal Rembang, Jawa Tengah, ini bersyukur bisa turut hadir dalam ajang silaturahmi dan Halal Bihalal masyarakat Kudus, Jawa Tengah, yang tinggal di Jakarta. Ikut hadir dalam dialog tersebut Ketua PP Lesbumi NU, M Jadul Maula, dan budayawan gaek, Sosiawan Leak.

Dengan sedikit berseloroh, Gus Mus mengatakan bahwa hadirin telah mendengarkan paparan dua budayawan yang bercerita tentang Islam di Kudus meski kebenarannya masih dipertanyakan.

“Anda sekalian telah mendengarkan obrolan dua seniman tadi. Ndak tahu, pakai literatur apa tidak. Tapi kita percaya saja karena namanya budayawan meski keduanya berbeda pandangan. Yang satu nyebut Kudus Kota 4 Negeri. Satunya Kota 3 Peradaban,” ujar Gus Mus.

Gus Mus lalu mengatakan bahwa dirinya akan berbicara berdasarkan data agar bisa dipertanggungjawabkan. Kudus, bagi Gus Mus, merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang suci. Sebab, kata ‘quds’ yang berasal dari bahasa Arab berarti suci.

“Ada prasasti berbahasa Arab dan beraksara Arab yang menyebut bahwa Syekh Ja’far Shadiq itu khalifatuddahr (khalifah zaman ini). Jadi, kalau ada orang sekarang yang ingin khalifah-khalifahan itu jelas terlambat, flashback,” ungkapnya.

Jika kita melihatnya dari konteks keberagaman, lanjut Gus Mus, maka akan dipandang aneh karena bergaul dengan Tionghoa, misalnya, dan segala macam etnis. “Kalau yang memahami Islam secara benar, pasti tidak akan kaget. Ya memang begitu Islam, yaitu memuliakan manusia,” katanya.

“Kanjeng Sunan Kudus juga memuliakan manusia, siapa saja, dan memuliakan tradisinya umat Hindu yang menyembah sapi. Oleh karena itu, Sunan Kudus tidak makan sapi, tapi kerbau. Itulah salah satu ajaran luar biasa dari Kanjeng Sunan,” sambung Gus Mus.

Setelah berbicara lebih kurang 12 menit, Gus Mus diajak berkeliling oleh Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, KH Em Nadjib Hasan, untuk singgah ke sejumlah stan pameran. Di antaranya adalah pameran ukir.

Saat mampir di stand ukir, Gus Mus dipersilakan untuk mempraktikkan cara mengukir di objek kayu jati oleh penjaga. Gus Mus pun tampak asyik menikmati cara mengukir di kayu jati tersebut. Gus Mus juga mendapatkan hadiah sebuah biola kuno dari penjaga stan alat-alat musik khas Kudus.

Kegiatan Kudus Festival 2022 ini menyajikan aneka pentas seni dan budaya khas Kudus seperti tarian, wayang klitik, ketoprak, dan kirab jenang. Selain itu, juga terdapat pameran mulai produk UMKM hingga kuliner khas Kudus yang dibuka untuk umum oleh Bupati Kudus H Hartopo.

Sebagai informasi, Kudus Festival 2022 merupakan even yang mewadahi para pelaku seni dan budaya, masyarakat kreatif, serta UMKM untuk kembali unjuk gigi ke publik. Even ini diselenggarakan oleh FKMK bekerja sama dengan Pemkab Kudus, Yayasan BUMN, dan para donatur.

Acara ini diagendakan dua hari, Sabtu-Minggu, 21-22 Mei 2022 di Museum Satria Mandala Jalan Gatot Subroto No 14 Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Tm-Ab