Ilustrasi, konsultasi online

LAYANAN konsultasi, pelatihan, privat dan keilmuan yang bersifat metafisik itu ada aturan mainnya. Ada yang berbayar resmi,  ada yang model ikhlas-ikhlasan, dalam artian diberi ya diterima, tidak diberi pun juga tak meminta.

Yang belum banyak diterapkan itu manajeman “menjual waktu” ini belum banyak diterapkan para suhu atau trainer. Padahal, opsi “menjual waktu” ini relatif lebih aman dibanding menjual janji-janji “keajaiban” yang berkaitan dengan metafisik.

Pola ini relatif lebih aman dan ada kebaikan dikedua pihak. Karena sejauh mana pihak yang konsultasi atau privat itu dapat menyerap materi yang diajarkan, ditentukan dari kemampuan daya tangkap yang konsultasi itu.

Artinya, mereka yang cerdas, tentu lebih beruntung karena dapat menyerap banyak materi, namun bagi yang lambat atau “tulalit”  ya bagaimana lagi, karena yang dia “beli” adalah  waktu, dan bukan keajaiban atau keberhasilan suatu ilmu.

Ilustrasi.

Konsultasi

Karena saya menulis banyak buku metafisika : ilmu hikmah, tenaga dalam, termasuk trik sulap, seni debus, dan hal lain yang berkaitan dengan wawasan seputar itu, tentu saja banyak yang datang atau mengundang, baik itu privat dan atau grup.

Khusus keilmuan yang riil, yang bisa diajarkan dengan rumus ilmu pasti, saya cenderung menawarkan opsi menjual waktu. Apalagi, menurut saya, tarif  konsultasi atau belajar di Indonesia ini masih terlalu murah.

Misal, Anda belajar satu teknik dengan tarif, misalnya  Rp 300.000,  dan setelah menguasai, Anda bisa mengajarkan kepada orang lain dengan tarif yang sama, atau bahkan lebih tinggi. Apalagi jika  pelatihan massal, baru sekali atau dua kali saja sudah balik modal plus  untung yang lebih-lebih.

Mahal, Dirawat

Bandingkan jika investasi dalam bentuk lain. Misalnya, kita membeli batu akik harga Rp 10 juta sudah pasti dirawat baik- baik, ditempatkan pada kotak khusus dan diperlakukan secara spesial.  Beda jika batu akik itu pemberian gratis, pasti kurang nilai spesialnya. Paling disimpan dilaci.

Begitu pun ilmu, jika mendapatkannya susah payah, tentu akan dirawat sungguh-sungguh.  Ini semua perumpamaan yang pas, namun semua kembali kepada kita, karena yang penting itu jujur pada diri sendiri.

Sebab jika niatnya “jual waktu” lalu mengajarnya sengaja dilama-lamakan, pakai gaya bicara ala Mensesneg zaman Orba dulu, nah yang  ini tidak beda sopir taksi memainkan argo. Tidak bagus! Harus jujur pada diri sendiri, insya Allah lebih berkah, uangnya pun lebih adem.

Negeri Adi Daya

Tulisan ini terinspirasi yang pernah dialami sehabat saya ketika akan bekerja ke negara adi daya. Dia memanfaatkan jasa konsultan yang ahli negara tujuan, dan untuk konsultasi itu, tarif profesionalnya dihitung berdasarkan waktu.

Pada tahun 2000, untuk satu jam konsultasi, tarifnya Rp 1 Juta. Jika sampai waktu yang sudah disepakati ternyata masih ada pertanyaan tambahan, maka “argo”-nya ikut jalan dan ada tambahan biaya berdasarkan menit dan detik.

Untuk layanan konsultasi, saya pernah menerapkan pola ini dan relatif lebih aman. Kedua pihak sama-sama diuntungkan. Pihak yang konsultasi benar-benar menghargai setiap menit dan detik, karena yang dia beli itu waktu, dan bukan janji-janji muluk keajaiban.

Jika aturan main sudah disepakati sebelumnya, urusan yang berkaitan konsultasi atau pembelajaran, pola ini bisa saja diterapkan. Terutama kepada mereka yang saat konsultasi terbiasa ngelantur waktu atau bahkan out of tipic.

Ilustrasi, konsultasi online

Ilmu Berkah

Mekanisme belajar yang baik itu ketika guru memaharkan dan murid setuju, apalagi jika setelah itu dia dapat memahaminya. Bahkan jika murid itu cerdas, dia bisa mengembangkan ilmunya dengan kemasan yang lebih menarik dan  mahar lebih tinggi sehingga secara materi, dia sudah dapat “kembalian” berkali lipat. Tentunya asal tidak mendustai, insya Allah berkah.

Mereka yang bisa memahami mekanisme alam, hendaknya jangan hanya  memburu ilmu gratisan saja. Percayalah, karena alam itu adil. Mereka yang dulu hobi gratisan, biasanya mereka itu nantinya juga akan dipertemukan dengan orang yang hobi gratisan juga. 

Pola Ikhlas

Selain pola berbayar itu tidak wajib. Itu hanya bagian dari salah satu pilihan. Ada juga Guru yang menolak dibayar jika sebatas konsultasi atau ijazah ilmu yang prosesnya “tidak berkeringat”. Pertimbangannya, jika tradisi berbayar itu dibiasakan, hanya orang  kaya yang bisa belajar.

Kalau sekedar konsultasi, jika kondisinya layak dibantu, ya dibantulah. Bahkan, ada yang saat pulang diberi uang saku berdalih titip buat anak-anaknya. Namun ada juga Guru yang “jual ilmu” dengan tarif resmi, soal  berhasil atau gagal, tidak mau tahu.

Belajar ilmu apa pun tak ada jaminan pasti. Misalnya, banyak kampus mencetak sarjana, namun tidak semua dijamin selesai kuliahnya dan sukses. Tentu ada yang gagal, dan mahasiswa atau rangtuanya tidak bisa komplain, apalagi menarik balik uang kembali.

Ada juga guru yang ukrik, kurang Rp 50.000 saja diurus. Kesimpulannya? Guru, trainer, konsultan hanya menawarkan, klien bisa mundur jika merasa tidak siap dengan aturan mainnya. Dan lebih baik segala sesuatu dibahas diawal, hasilnya akan lebih berkah karena ada keikhlasan di kedua belah pihak.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika, penulis buku tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here