Neymar, Messi, Mbappe. Foto: dok/ist

Oleh: Amir Machmud NS

// sepak bola pun bisa menjadi kegelisahan impian/ tentang tim yang genit bersolek/ tentang lika-liku keindahan beradu gocek / tentang ambisi-ambisi/ di dalamnya tersimpan imajinasi/ juga ideologi/ pun petualangan lembut jiwa manusia-manusia//    (Sajak “Tim Impian”, 2021)

WAKTU bisa menjadi penanda ambisi manusia untuk menciptakan perbedaan dan membuat sejarah. Dunia sepak bola pun mengenal kehendak-kehendak untuk membangun faktor pembeda, tentu dengan pilihan jalan membentuk tim yang bakal dikenang sejarah.

Media biasa menyodorkan label “Dream Team”. Media pula yang membuat label “Tim Super”. Atau orang Spanyol menyebutnya “Los Galacticos”, tim yang berisi manusia-manusia eksepsional dari galaksi lain.

Dari runutan waktu, New York Cosmos yang merupakan irisan sejarah Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL) berhak mengklaim diri sebagai awal “tim impian”, walaupun The Dream Team lebih melekat sebagai predikat AC Milan pada awal dekade 1990-an.

Ketika itu, pada 1970-an, para pesohor dan tokoh politik Amerika yang gila bola berambisi memindahkan pusat perhatian dunia ke negaranya. Puncak idenya: mendatangkan Pele! Tak mudah mewujudkannya, antara lain karena pemain bernama lengkap Edson Arantes do Nascimento itu meminta bayaran tinggi dan di-gendholi negara.

Lobi pun dilancarkan hingga ke tingkat petinggi negara. Menteri Luar Negeri Henry Kissinger yang maniak sepak bola mewakili Presiden Richard Nixon, mendekati pemerintah Brazil. Pernyataan Pele kepada Wakil Presiden Klub Cosmos Raphael de La Serra waktu itu pun, menjadi quote terkenal, “Ya Tuhan. Kalian benar-benar bisa melakukan apa saja. Aku akan ikut kalian, apa pun yang terjadi!”

Cosmos, yang pernah melawat ke Jakarta melawan Galatama Selection pada 1978, sukses mengumpulkan para bintang dan eks bintang dunia. Selain Pele ada Bogisevic, Beckenbauer, Theofilio Cubillas, Carlos Alberto, Johan Neeskens, Giorgio Chinaglia, dan bek agresif asal Iran, Eskandarian.

NASL tidak serta merta mampu menciptakan histeria, tetapi menyadarkan dunia bahwa Amerika mulai menyukai olahraga ini.

Sejarah bergulir ke dasawarsa 1990. AC Milan menjadi tim bertabur bintang. Klub ikon dari negeri calcio itu terinspirasi tim nasional bola basket AS. Julukan Dream Team disematkan media, karena berkumpul puncak-puncak kemampuan: Michael Jordan, Magic Johnson, Larry Bird, Charles Barkley, Carl Malone, Patrick Ewing, Chris Mullin, dan Scottie Pipen.

Gagasan pemilik Milan, Silvio Berlusconi, yang mengimajinasikan sepak bola sebagai wilayah tanpa batas, diwujudkan. Dia mendatangkan Ruud Gullit, Marco Van Basten, Frank Rijkaard, Zvonimir Boban, Dejan Savicevic, Jean-Pierre Papin, dan Marcel Desailly, yang memperkuat barisan pendekar lokal Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Alessandro Costacurta, Carlo Ancelotti, Alberigo Evani, dan Roberto Donadoni.

Racikan taktik Arrigo Sacchi dengan filosofi pendek – rapat mendekonstruksi karakter sepak bola negatif Italia. Milan menjadi tim ofensif. Sentuhan Sacchi dilanjutkan Fabio Capello yang juga melawan kamus bertahan. Pada masa keemasan Tim Impian, Rossonerri menguasai Liga Seri A, Piala Super Italia, dua kali juara Piala Champions, dua Piala Super Eropa, dan dua Piala Intercontinental.

Capello mencatat rekor dalam rentang 19 Mei 1991 sampai 21 Maret 1993: membawa Milan tak terkalahkan dari 58 laga!

Di sela-sela kejayaan Milan, di Liga Prancis muncul Bernard Tapie, pengusaha yang berambisi menjadi wali kota. Dia menyulap Olympique Marseille menjadi kekuatan tandingan Milan. Caranya juga sama, merekrut pemain-pemain top dunia. Dari Alen Boksic, Abedi Pele, Rudi Voeller, Chris Waddle, Robert Prosinecki, Dragan Stoijkovic, Marcel Desailly, Basile Boli, hingga Jocelyn Angloma.

Franz Beckenbauer didatangkan sebagai Direktur Teknik, sedangkan Raymond Goethals menjadi arsitek tim. “Dream Team” OM tak bereksistensi langgeng, karena terinvestigasi mengatur pertandingan, walaupun kemenangan di Liga Champions 1-0 atas AC Milan tidak dibatalkan oleh UEFA.

Liga Prancis baru mengenal tim hebat beberapa tahun berikutnya lewat Paris St Germain pada awal dekade 1990-an. Tim ini sukses meroketkan George Weah, David Ginola, Thiago Silva, Edinson Cavani, dan Ronaldinho Gaucho.

Dan, tampaknya, era Tim Impian PSG akan dimulai lagi dengan kehadiran Lionel Messi sejak 10 Agustus lalu.

Kiprah Los Galacticos
Membahas perkembangan PSG terkini tentu tak bisa lepas dari kisah tim-tim super yang bertabur pemain top.

Sulit membayangkan Manchester United berjaya meraih treble winner pada 1999 jika Alex Ferguson tidak punya pilar-pilar dahsyat. Dari kemaharajaan Eric Cantona, Setan Merah kemudian menderetkan nama-nama antara lain Roy Keane, Ryan Giggs, David Beckham, Denis Irwin, Jaap Stamp, Gary Neville, Philip Neville, dan Andy Cole. Toh tak ada yang melabeli Setan Merah sebagai Tim Impian

Di La Liga, walaupun media meramaikan sebutan “tim dari galaksi lain” terhadap Real Madrid, namun kiprah Barcelona dengan tiki-taka yang merajai rentang waktu 2006 hingga 2015 menjadi potret nyata tim super yang melengkapi diri dengan keindahan permainan. Keberadaan Ronaldinho, Deco, Messi, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Carles Puyol, Jordi Alba, Sergio Busquets, Javier Mascerano, Neymar Junior, dan Luis Suarez dalam runutan era merupakan skema hebat sebuah tim di bawah pelatih-pelatih hebat.

Sebelum Barca meraih puncak kejayaan, Madrid gila-gilaan membangun tim. Zinedine Zidane, Ronaldo Luis Nazario, Roberto Carlos, Ruud van Nistelrooy, David Beckham, Fernando Hiero, Guti Hernandez, Raul Gonzales, Antonio Cassano, dan Luis Figo membentuk Los Galacticos I.

Sedangkan dalam Galacticos jilid kedua, terkumpul nama-nama Gonzalo Higuain, Toni Kroos, Luka Modric, Mesut Oziel, Ricardo Kaka, Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Gareth Bale.

Sepak terjang Madrid dengan keberlimpahan kekuatan uang menghasilkan el clasico yang panas dengan Barcelona. Namun seiring dengan perjalanan waktu, ketika satu per satu pemain memasuki senja atau berpindah klub, Los Blancos tak lagi sedahsyat Galacticos I dan II.

Muncullah PSG yang membangun kekuatan di tengah realitas Ligue 1 tidak sekompetitif Liga Primer, La Liga, atau Liga Seri A. Nasser Al Khelaifi dari Qatar berinvestasi besar seperti halnya Syeckh Mansour untuk Manchester City dalam road map Eropa.

Bedanya, City bertarung di Liga Primer yang lebih keras. The Citizens juga sudah mampu membentuk filosofi permainan bersama Pep Guardiola sebagai ideolog sepak bola ofensif. Sedangkan PSG masih terus berproses menguji diri, meskipun telah menunjukkan lompatan dengan masuk final Liga Champions 2019-2020, dikalahkan Bayern Muenchen 1-0.

PSG Era Leo Messi
Impian PSG menduetkan Neymar dengan Lionel Messi betul-betul menjadi kenyataan. Bahkan kini membentuk Trio MNM bersama Kylian Mbappe (apabila Mbappe tidak keburu diambil klub lain). Trio ini diperkirakan bakal lebih mengerikan ketimbang “Three Musketeers” Barcelona, MSN (Messi, Suarez, Neymar) pada 2013-2017.

Label PSG sebagai Dream Team saat ini rasanya melewati City, MU, Madrid, Barcelona, dan tim mana pun. Selain Trio MNM, pelatih Mauricio Pochettino punya Mauro Icardi, Angel Di Maria, Pablo Sarabia, Idrissa Gueye, Marco Verratti, Rafinha, Giorginio Wijnaldum, Ander Herrera, Sergio Ramos, Presnel Kimpembe, Achraf Hakimi, Abdou Diallo, Marquinhos, serta dua kiper tangguh Gianluigi Donnarumma dan Keylor Navaz.

Dibandingkan dengan era Ronaldinho dan Weah, Les Parisiens sekarang sudah lebih berpengalaman dalam petualangan Eropa. Pekerjaan Messi cs adalah membawa PSG keluar dari inferioritas Liga Prancis, untuk menjadi lebih kompetitif di Eropa.

Sedangkan Pochettino yang identik dengan sepak bola ofensif semasa bersama Tottenham Hotspur, tentu menjadi fokus sorotan: mampukah imajinasi dan skema taktiknya menyajikan tontonan impresif dengan modal “pasukan langit”?

Poch bertugas mewujudkan PSG sebagai “Real Dream Team”, bukan sekadar tim yang menjadi “mimpi-mimpi Paris”.

— Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan penulis buku —

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here