Rektor Ipmafa KH Abdul Ghofarrozin Med (Gus Rozin), saat menyampaikan sambutannya dalam zoominar bertajuk 'Islam Wasathiyyah, Sastra Pesantren, dan Krisis Kemanusiaan', Senin (26/7/2021). Foto: dok/ist

PATI (SUARABARU.ID)– Rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati, KH Abdul Ghofarrozin Med (Gus Rozin) mengatakan, sastra pesantren harus terus dikembangkan, untuk mengasah kepekaan sosial kemanusiaan.

”Apalagi dalam konteks pandemi covid-19, yang mempengaruhi semua aspek kehidupan. Kepekaan sosial merupakan kata kunci, untuk menghadirkan sikap saling peduli,” kata dia, ketika membuka Zoominar bertajuk ‘Islam Wasathiyyah, Sastra Pesantren, dan Krisis Kemanusiaan’, Senin (26/7/2021).

Seminar yang diselenggaran Pusat Studi Pesantren dan Fiqh Sosial (Pusat Fisi) Ipmafa itu, digelar melalui daring dan diikuti 100 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Jateng.

BACA JUGA: Polres Magelang Tangkap Penipu Bermodus Menjanjikan Bansos Pemerintah

Ketua Pusat Fisi, Tutik Nurul Jannah menjelaskan, sebagai pembicara Sekjen Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan Penulis Buku ‘Islam Wasathiyyah’ Dr Kholid Syeirazi dan sastrawan pesantren yang juga penulis novel best seller ‘Hati Suhita’, Ning Khilma Anis.

Sementara itu, Dr Kholid Syeirazi menyebutkan, dalam beragama janganlah bersifat fanatik. Karena itu akan membatasi seseorang untuk mengenal dan mengharfai orang lain.

Menurut dia, boleh saja fanatik, namun jangan sampai tidak Objektif. Islam Wasathiyyah inilah yang seharusnya dapat dikembangkan dan diterapkan, dalam menghadapi keadaan yang saling bertentangan sebagai mana dalam pengertian ‘Wasatusyaii Ma Baina Thorfaihi’, sesuatu yang berada di tengah di antara dua sisi.

BACA JUGA: Propam Polres Kebumen Mendadak Razia Seluruh Personel

”Artinya, ini memiliki pengertian sebanding, dan keduanya mempunyai sisi yang tidak mungkin ditinggalkan. Oleh karena itu, dengan menerapkan Islam wasathiyah-lah akan memberikan pandangan, bahwa pentingnya menghormati adat dan budaya setempat,” terang dia.

Sedangkan Ning Khilma Anis menyampaikan, sastra dan pesantren merupakan sebuah perpaduan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, karena dengan menggabungkan keduanya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan melembutkan hati seseorang yang mempelajarinya.

Ditambahkan dia, karya-karya pesantren yang dipelajari pun banyak bersinggungan dengan satra yang digunakan. Karena dengan menghadirkan sastra dalam sebuah karya, akan menjadikan bertambahnya wawasan bagi pembaca.

BACA JUGA: Satu Isotank Disiagakan di Kabupaten Banyumas

”Sastra merupakan salah satu kendaraan Islam Wasathiyyah, walaupun hanya sebagian kecil. Perlu ditanamkan dalam pikiran kita, berbuat sedikit demi sedikit daripada tenggelam dalam angan-angan yang begitu banyak, tapi sama sekali tidak dilakukan,” sebutnya.

Oleh karena itu, lanjut Ning, kalangan pesantren harus mampu meningkatkan minatnya dalam bidang sastra, agar dalam mengamalkan Islam Wasathiyyah tidak terlalu kaku.

”Demikian juga dalam krisis kemanusiaan hari ini, semoga dengan sastra dalam menjalankan Islam Wasathiyyah, sedikit banyaknya dapat meminimalisasi krisis kemanusiaan, minimal dalam lingkup pesantren,” tandas dia

Riyan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here