Spanduk dukungan kepada kota kosong dalam pilkada Kebumen. Foto: Ist

Oleh Komper Wardopo

PILKADA Kebumen  9 Desember 2020 telah usai dengan lancar dan aman. Calon tunggal Arif Sugianto-Ristawati Purwaningsih diusung sembilan partai politik berhasil menang sekitar 60 persen atas kotak kosong atau kolom kosong (Koko) yang meraih suara mendekati 40 persen.

Pesta demokrasi di tengah Pandemi Covid-19 ini banyak menorehkan catatan menarik.  Kemunculan jago tunggal Arif Sugianto yang seorang purnawirawan Polisi berpangkat Bripka, namun konon memiliki harta kekayaan yang dilaporkan mencapai Rp 22 miliar pun menarik. Buktinya semua partai di Kebumen mampu ia lobi dan selanjutnya mendukungnya.

Belum lagi pasangannya, Ristawati Purwaningsih, sebagai kader PDIP dengan berani tampil di panggung politik saat sang suami, Cipto Waluyo (mantan ketua DPRD dan mantan ketua DPC PDIP), masih dipidana karena korupsi.  Duet pasangan yang diusung PDIP ini pun diterima oleh delapan partai politik lain.

Kehadiran Koko pun awalnya tak dibayangkan oleh koalisi sembilan partai politik di Kebumen. Dimotori oleh PDIP, Partai Gerindra, PKB, Partai Golkar, Partai Nasdem, PAN, PPPPKS dan Partai Demokrat sebagai pemilik 50 kursi di DPRD, satu per satu mendukung. Mereka sepakat mengusung jago tungga Arif-Rista. Tentu tanpa menduga akan ada perlawanan berarti.

Namun para elite politik lokal agaknya lupa atau tak mau belajar pada sejarah lokal. Daerah yang dikenal subur di Jateng selatan ini sejatinya menyimpan tradisi perlawanan yang sangat historis dan menarik untuk dikaji. Bukankah sejarah adalah cermin masa lalu, untuk masa kini dan masa depan?

Kita mulai ulas dari perolehan angka-angka Pilkada 9 Desember lalu. Dari data resmi KPU jumlah daftar pemilih tetap (DPT) Pilbup Kebumen adalah 1.037.802. Versi hitung cepat yang beredar, Koko meraih 249.992 suara atau 24 persen dari  DPT.

Jago tunggal Arif -Rista (Asri) menang dengan meraih 390.769suara (37 persen dari DPT). Suara tidak sah atau rusak 22.479 atau 2 persen dari DPT, dan tidak datang alias golput 374.562 suara atau sekitar 36 persen dari DPT .

Jika dihitung dari suara sah sejumlah  640.761, maka pasangan Asri menang dengan sekitar 60 persen, Koko meraih sekitar 40 persen. Kalkulasi angka-angka sederhana ini tentu layak menjadi pelajaran semua pemangku kepentingan. Mulai  penyelenggara pemilu, calon terpilih, partai politik hingga penggiat demokrasi.

Tingginya angka golput atau tidak datang pada Pibup, selain karena pandemi Covid-19 tentu pemilih punya alasan masing-masing. Demikian pula tingginya perolehan suara Koko diduga karena tingginnya pemilih milenial dan pemilih cerdas yang semakin sadar politik.

Artinya mereka melek informasi dan semakin sadar berdemokrasi. Sebab kaum milenial di mana pun kini adalah pengguna terbesar media sosial . Anak muda tidak begitu terpengaruh dengan politik uang dan tentu menjadi kredit poin alias angin segar bagi perkembangan demokrasi lokal.

Bagi partai politik, untuk pemilu ke depan tidak bisa berleha-leha dan berlindung di balik regulasi untuk memaksakan kehendak ibarat pemilih disuruh memilih kucing dalam karung. Mereka perlu bekerja keras,  menyiapkan kader terbaik sejak sekarang, bekerja penuh aspiratif dan menghindari kongkaliokong politik anggaran di parlemen,  atau akan semakin ditinggalkan pemilih dalam pemilu selanjutnya.

Partai politik dan elite politik pun perlu sadar bahwa rekam jajak seorang calon (baik eksekutif maupun legislatif) semakin penting diketahui publik dalam pemilu ke depan,  karena 5-10 tahun ke depan adalah era bonus “Bonus Demografi”,  di mana yang muda yang melek informasi dan eranya  kaum muda berkuasa.

Keberanian dan Kejujuran

Kembali ke masyarakat Kebumen yang dikenal religius dan sederhana, sejatinya  juga menyimpan energi positif sifat keberanian, solidaritas dan memegang teguh kejujuran. Hal itu nampak segaris dengan hampir semua kisah pendiri atau cikal bakal daerah Kebumen mengandung tradisi perlawanan. Tentu perlawanan positif.

Kita lihat kedatangan Pangeran Bumidirjo dari Mataram yang babat alas membuka desa di barat Sungai Luk Ulo pada sekitar 1670-an. Pangeran  Bumidirjo merupakan paman dan penasihat  Sunan Amangkurat I di Mataran. Berhubung Amangkurat  dikenal kejam, tidak adil dan tak amanah serta lebih suka kong kalikong dengan Belanda, Pangeran Bumidirjo tak tahan dan memilih menyingkir dari pusat kekuasaan.

Ki Bumidirdjo akhirnya rela menanggalkan posisi sebagai bangsawan dan memilih hidup bersama pengikutnya,  membuka desa yang semula menjadi padepokan dengan nama Ki Bumi. Lama-lama menjadi kebumian dan Kebumen.

Kita tengok dua dinasti penguasa Kebumen Kolopaking dan Arungbinang. Jika dicermati dari sisi historis pada dasarnya sama-sama menyasar ke  pusat kekuasaan Mataram. Kolopaking dikenal lebih nasionalis karena membela Mataram melawan Kolonial.

Perang Garendi tatkala puluhan ribu Pasukan Kuning Tionghoa atau Cina bersama pasukan Mataram sekitar 1740-1743 termasuk prajurit Kolopaking saat bertempur melawan VOC. Lahirlah kemudiain folklor sejarah kisah asmara Ki Sulaiman Kertowongso muda yang kelak menjadi Kolopaking III, beradu sakti dan adu asmara dengan putri Cina Tan Peng Nio, saat keduanya sama-sama bertempur mendukung Prajurit  Mataram melawan Belanda.

Sedangkan Dinasti Arungbinang tidak kalah harum karena tokoh leluhurnya yaitu Arungbinang  I juga punya kisah sejarah sejak muda mengabdi di KeratonMataram di Kartsosuroa.  Selanjutnya, atas jasanya dan pengabdianya bisa menumpas musuh, mendapat posisi sebagai  Tumenggung Honggowongso. Namanya makin harum karena sukses memimpin perpindahan Keraton Mataram di Kartosuro ke Desa Sala (Surakarta) dan ia pun diberi jabatan sebagai Bupati Arungbinang I.

Di luar kisah sejarah lokal itu daerah Kebumen juga memiliki banyak folklor, salah kisah pahlawan sekaligus pelarian Untung Suropati. Ia  tokoh yang malang melintang dari budak karena jasanya membela Mataram, menaklukkan musuh hingga  diberi jabatan sebaga Bupati Pasuruan.

Namun Belanda tidak suka dan tetap berusaha menggulingkan Untung Suropati. Sampai pada hari tua menurut ahli antropologi Prof Koentjaranangrat,  di masa tuanya Untung Suropati menghindari kejaran Belanda tingggal di wilayah pegunungan  Serayu selatan. Desa itu kini dikenal dengan nama Desa Clapar, Kecamatan Karanggayam, Kebumen.

Menurut penelitian Koentjaraningrat, Untung Suropati  di masa mudanya dipercaya oleh Mataram sebagai kepala barisan penjaga keraton. Ia  pernah sukses membunuh komandan pasukan Belanda, Kapten Francois Tack. Di masa tua sebagai pelarian ia menyingkir dari kejaran Belanda, dan memilih menjadi guru spiritual bernama Ki Pemandangan  atau masyarakat setempat menyebut Eyang Kepadangan. Di hari tuanya ia sangat dihormati karena banyak membantu dan menolong masyarakat keluar dari kesulitan.

Pendek kata, hampir semua tokoh pendiri dan cikal bakal Kebumen memiliki tradisi perlawanan sekaliagus pengabdian. Tentu perlawanan yang positif karena melawan hegemoni penjajah, mendukung perjuangan pusat kekuasaan tradisional Mataram melawan penjajah sekaligus membela rakyat.

Di pentas sejarah kontemporer, seorang Pak Harto yang berkuasa 32 tahun ternyat juga punya ikatan emosional dengan Kebumen. Ia sangat paham dan memperhatikan daerah agraris ini. Tentu bukan kebetulan Pak Harto menghadiahi daerah ini dengan membangun dua waduk. Waduk Sempor dibangun  1970-an, dan kemudian Waduk Wadaslintang 1989-1990.

Pak Harto rupanya paham dengan  potensi sekaliguskerawanan daerah Jateng selatan ini. Apalagi  sejak 1940 atau kala pertama dalam karier milliternya ia sekolah tentara di Gombong.  Bahkan uniknya ia punya sahabat dekat Letkol Untung yang asli Kebumen. Dalam pusaran sejarah nasonal Untung sepert dikorbankan. Namun yang jelas saat Untung menikah, Pak Harto juga datang Ke Kebumen untuk menghormati temannya.

Dalam konteks Pilkada  9 Desember, apa yang dilakukan para relawan dan pejuang penggerak  Koko pun bisa ditark benang merah dengan sejarah dan tradisi perlawanan di Kebumen . Sebab Koko yang semula tidak diipandang, dalam kurun sekitar tiga bulan menjadi  kekuatan untuk menyadarkan, menggerakkan dan mengedukasi masyarakat dalam berdemokrasi dan menentukan  pilihannya, Tanpa politik uang alias tanpa wuwuran.

Akhirnya, selamat kepada pasangan cabup-cawabup Arif Sugianto-Ristawati Puwaningsih. Selamat mengemban amanah pada saatnya, dan meraalisasikan janjinya. Selamat juga kepada rakyat Kebumen.  Saatnya bersama membangun daerah dengan peran dan posisi masing-masing.

Komper Wardopo, pengajar IAINU Kebumen dan wartawan SuaraBaru.id