blank
Mbah Subri dengan wayang berbahan karpet yang dibuatnya.

JEPARA(SUARABARU.ID) –  Mbah Subri, 76 tahun adalah potret pengabdi budaya Jawa yang setia. Sebab ia tidak ingin budaya leluhurnya itu kemudian hilang, terkikis perlahan oleh kemajuan jaman yang seakan tak terkendali.

Dari rumahnya yang kecil di RT 03 /RW 03 Desa Tubanan, Kembang,  Ia yang oleh kalangan seniman Jawa  di Jepara dikenal sebagai pujangga Macapat ini telah menghasilkan puluhan karya sastra Jawa dalam bentuk tembang Macapat  mulai Mijil hingga Megatruh yang sarat dengan nilai-nilai ajaran Jawa.

Dalam mencipta tembang Macapat, Mbah Subri memegang teguh pakem tembang Macapat mulai bait kalimat yang disebut gatra, jumlah suku kata atau guru wilangan dan  bunyi  sajak akhir atau yang biasa disebut guru lagu.

blank
Mbah Subri didepan jadwal Pawiyatan Luhur Budaya Jawa

Tembang ini kemudian diajarkan pada murid-muridnya atau siapapun yang mau datang dan belajar. Diantaranya  tembang macapat Riwayat Jati, Piwulang, Pitutur, Laku Kautaman, Babad Desa Tubanan, Babaring Aksara Jawi, Munari, Tingkeban, AmbalWarso, Ratu Kalinyamat, dan bahwa  PLTU Tanjungjati Maweng Kuncaraning Bongso. Macapat terakhir ini dibuat karena Ia lahir dan tinggal di Desa Energi Tubanan, Jepara.

Bukan hanya tembang, Mbah Subri juga juga membuka pawiyatan luhur bagi siapapun untuk belajar : Moco Nulis Aksoro Jowo, Ngoko, Madyo, Inggil dan Kawi, Mocopatan,Wulang Reh Kautamanan dan Olah Roso.

“Semua kami berikan gratis sebagai bentuk pengabdian dan cinta saya pada budaya Jawa dan bangsa,” ujar Mbah Subri saat berbincang dengan SUARABARU.ID dikediamannya yang teramat sederhana. Pawiyatan atau sekolah luhur itu dibuka  setiap hari Sabtu.

Sayang apa yang dilakukan mbah Subri tidak lagi diminati oleh anak-anak, remaja dan pemuda. Hanya ada beberapa orang, termasuk sejumlah dalang yang bersedia mengikuti pawiyatan luhur yang dibuka Mbah Subri 23 tahun lalu.

Untuk wadah kegiatan yang dilakukan, Mbah Subri memang mendirikan Paguyuban Mastuti Sagunging Kautaman (Mastika). Sementara  ajaran Jawa yang diberikan antara  Hasta Brata dan Hasta Dharma.

“Hasta brata ini terdiri dari 8 sifat yang baik dari surya, candra, kartika, hananda, samirana, bantala, dahana dan tirto. Jika sifat kebaikan ini dapat dilakukan secara utuh oleh para pemimpin disemua tingkatan, maka tata tentrem kerta raharja dapat diwujudkan,” ujarnya.

Sementara Hasta Dharma, adalah sifat yang baik yang dapat menuntun manusia yaitu sabar, nrima, welas, asih, eklas, ngalah, teman dan jujur. “Sifat-sifat  kautamanan ini juga mengajarkan kebaikan pada siapapun untuk berbuat kebajikan pada sesamanya,” tuturnya.

Membuat wayang

Kini dalam usianya yang semakin renta dan juga penyakit diabetes yang mulai  dideritanya, Mbah Subri masih saja setia pada panggilan jiwanya sebagai pengabdi budaya Jawa. Ia tidak menyesali pilihannya, jika kemudian tidak banyak yang memberikan perhatian dan bersedia  membantunya merawat budaya bangsa yang adiluhung.

Untuk menopang hidupnya, Mbah Subri sejak 2 tahun lalu mulai membuat wayang. Namun karena harga kulit mahal, Ia memilih membuat wayang dari terpal dengan harga  sekitar Rp. 200 ribu / buah.

“Harapan kami, wayang ini   bisa untuk memperkenalkan nilai adiluhung budaya Jawa terhadap anak-anak,” tuturnya. Sayang wayang ini juga kurang diminati, tambahnya pelan sambil menatap wayang buatannya yang ditata berjejer diruang tamunya yang terbuka.

Hadepe