<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tiki-Taka Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/tiki-taka/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Feb 2024 09:06:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Tiki-Taka Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Feb 2024 10:00:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Camp Nou]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Puppet Master]]></category>
		<category><![CDATA[Tiki-Taka]]></category>
		<category><![CDATA[Timnas Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=398421</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // ke mana dia pergi?/ takkan ke mana-mana/ jiwanya ada di sini/ dia Barcelona/ ornamen kental Blaugrana/ ruh tiki-taka dalam genggam sejarahnya/ tak mampukah dia melawan tekanan rasa?// (Sajak “Xavi dan Barcelona”, 2024) XAVI Hernandez. Anda pasti percaya, dia memainkan peran sebagai “pengatur permainan” dengan penuh perasaan. Ruh Barcelona mengeram dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa">Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-398424 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// ke mana dia pergi?/ takkan ke mana-mana/ jiwanya ada di sini/ dia Barcelona/ ornamen kental Blaugrana/ ruh tiki-taka dalam genggam sejarahnya/ tak mampukah dia melawan tekanan rasa?//</em><br />
<strong>(Sajak “Xavi dan Barcelona”, 2024)</strong></p>
<p><strong>XAVI</strong> Hernandez. Anda pasti percaya, dia memainkan peran sebagai “pengatur permainan” dengan penuh perasaan. Ruh Barcelona mengeram dalam jiwanya, <em>tiki-taka</em> bagai darah yang mengalir di nadinya.</p>
<p>Dia salah satu pemain yang secara gestural dan ekspresional mengeksplorasi sepak bola dengan rasa. Predikat mediatika sebagai “The Puppet Master” menunjukkan Xavi menghayati keberadaannya sebagai dinamo Barcelona, pun peran yang dia sandang di tim nasional Spanyol pada masanya.</p>
<p>Ya, tahukah Anda mengapa ia identik sebagai nyawa Barcelona?</p>
<p>Sang <em>play maker</em> ini adalah ornamen kental sejarah emas Barcelona. Puzzle terpenting yang memimpin orkestrasi <em>tiki-taka</em>. Dia atur ritme permainan Blaugrana. Dia terjemahkan taktik Pep Guardiola dengan kecerdasan di atas rata-rata.</p>
<p>Sebagai pemain, Xavi telah menjadi mesin penggerak <em>possession football</em> El Barca. Dia nikmati fungsi itu sebagai energi: hidupnya untuk Barca, atas nama penghayatan sepak bolanya.</p>
<p>Sekuat itu pulakah Xavi memikul peran sebagai pelatih?</p>
<p>Sekuat itukah “kebergantungan” antara Xavi dan Barcelona, ketika bicara soal “rasa”?</p>
<p>Dan, “rasa”-lah yang pada titik tertentu akhirnya mendorong Xavi Hernandez memutuskan pergi dari kursi kepelatihan Barcelona. Dia merasa menghadapi atmosfer tuntutan yang terlalu “kejam”. Hatinya ada di sini, namun logika tekanan tak kuasa dia hadapi. Ketika mengumumkan rencana pengunduran diri selepas musim 2023-2024, banyak yang terkejut, benar-benarkah dia akan berpisah dari klub yang telah membesarkan dan dibesarkannya?</p>
<p>Pernah ada semburat cahaya harapan, Xavi adalah representasi figur yang ditunggu di Camp Nou, yang diproyeksikan menjadi “penguasa” berikut setelah Johan Cruyff, lalu Pep Guardiola.</p>
<p>Pada awal karier kepelatihannya, pada 2019-2021 dia sukses mengarsiteki Al Sadd di Liga Qatar, membentuk klub tersebut sebagai “miniatur Barcelona” dengan aroma <em>tiki-taka</em>-nya. Sulit dibayangkan, sebuah klub Asia sukses dia besut bermain dengan dominasi penguasaan bola dan keelokan cita rasa.</p>
<p>Manajemen Barca, yang pada 2019-2020 kecewa terhadap kinerja Ronald Koeman, pun serta merta merekrutnya. Pada musim pertamanya, 2021-2022, dia memberi gelar La Liga dan Piala Super Spanyol. Banyak yang berpikir dia bakal sukses di “rumahnya”, juga mengembalikan citra keindahan sepak bola posesif Barcelona.</p>
<p><strong>Pekerjaan “Kejam”</strong><br />
Bahkan ketika suasana instabilitas mulai mendera performa Robert Lewandowski dkk pada musim 2022-2023, tak secepat itu para <em>cules</em> (fans Barca) mendapatkan kejutan rencana mundur. Selain badai cedera pemain, <em>tiki-taka</em> juga seperti “mejan”, sulit dibangkitkan lagi.</p>
<p>Ada sedikit cercah cahaya dengan munculnya Lamine Yamal, <em>wonderkid</em> berdarah Tunisia yang pada usia 16 sudah memperkuat La Furia Roja. Namun cedera pengatur serangan Gavi, penurunan performa Pedri Gonzales, dan Lewy yang tiba-tiba kehilangan “kegalakan” di pertengahan musim adalah sejumlah masalah yang mempengaruhi kinerja tim. Ilkay Gundogan tentu tak bisa bekerja maksimal dalam kondisi kepincangan tim .</p>
<p>Los Cules kepayahan dalam persaingan di La Liga, tertinggal jauh dari Girona dan Real Madrid. Lalu tersingkir di perempatfinal Copa del Rey, dan kalah di final Piala Super Spanyol. Harapan tersisa di Liga Champions, namun melihat konstelasinya, rasanya Barca sulit bersaing.</p>
<p>Xavi pun membaca tanda-tanda buram, meskipun manajemen Barca belum mempersoalkan capaian musim ini. Mengejutkan, karena tiba-tiba dialah yang mengumumkan rencana kepergian. Dengan nada pedih dia beralasan hasil kerjanya tak dihargai. Melatih Barca, katanya, adalah pekerjaan yang kejam dan tidak menyenangkan.</p>
<p>Seperti dikutip <em>ESPN</em>, dia menegaskan, “Ini membuat Anda merasa tidak berharga setiap harinya. Pep pernah mengatakannya kepada saya. Saya sendiri melihat bagaimana Luis Enrique menderita”.</p>
<p>Xavi melihat masalah terkait dengan tingkat tuntutan. “Anda tidak menikmatinya. Anda bermain untuk hidup Anda sepanjang waktu. Ini kejam. Pekerjaan yang sudah kami lakukan tidak cukup dihargai. Padahal kami datang pada 2021, salah satu momen tersulit dalam sejarah klub”.</p>
<p>Dia selalu mencoba menjelaskan, timnya sedang dalam masa pembangunan. Argumentasi bahwa Barca tidak memiliki skuad seperti pada era kejayaan 2010, selalu dikritik. “Ini tidak ada hubungannya dengan daya tahan terhadap tekanan. Saya datang ketika klub dalam situasi yang sangat sulit, dan saya kira pekerjaan kami tidak akan pernah dihargai,” ungkapnya.</p>
<p>Dia juga merasa, ketika memenangi trofi La Liga dengan selisih 10 poin dari Real Madrid pada 2022, dan ketika meraih Piala Super Spanyol pada 2023, sama sekali tidak ada elemen ekosistem klub yang menghargai. Bagi dia, masalah ini berhubungan dengan klub, lingkungan, dan tuntutannya.</p>
<p>Xavi adalah cermin realitas sikap klub yang membedakan perlakuan, antara ketika dia masih bermain dan menjadi kunci permainan, dengan saat dia menjadi pelatih yang harus meracik taktik dan strategi tim.</p>
<p>Ya, pernahkah kita mendengar Xavi mengeluhkan aroma “kekejaman” saat masih bermain? Ataukah nilai-nilai seperti tuntutan di lingkungan Los Cules mempengaruhi daya tahan Xavi sebagai seorang yang tumbuh, berkembang, dan hidup di dunia sepak bola?</p>
<p>Artinya, ada “rasa” yang lebih kuat mencekam pikiran. Ada usikan yang tak mampu dia lawan. Ada kenyataan yang dia pahami harus dihindari. Atau, jangan-jangan “komunitas” Barcelona yang tak pernah memahami Xavi dan gumpalan rasanya&#8230;</p>
<p>&#8212;<strong> Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa">Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Unjuk Gembira Para Penyihir Barcelona</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/03/unjuk-gembira-para-penyihir-barcelona</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2022 10:00:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tiki-Taka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=275780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // kau lihatlah, langit Camp Nou kembali ingar bingar/ para penyihir berpesta/ unjuk kesaktian dan kegembiraan/ serasa mengapungkan aura harapan&#8230;// (Sajak “Para Penyihir”, 2022) PADA era manakah langit Barcelona dipenuhi para “penyihir” dengan aura magis yang memayungi Stadion Camp Nou? Pastilah tak mungkin tidak menyebut periode panjang Lionel Messi sebagai “Harry [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/03/unjuk-gembira-para-penyihir-barcelona">Unjuk Gembira Para Penyihir Barcelona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-275782 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// kau lihatlah, langit Camp Nou kembali ingar bingar/ para penyihir berpesta/ unjuk kesaktian dan kegembiraan/ serasa mengapungkan aura harapan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Para Penyihir”, 2022)</strong></p>
<p><strong>PADA</strong> era manakah langit Barcelona dipenuhi para “penyihir” dengan aura magis yang memayungi Stadion Camp Nou?</p>
<p>Pastilah tak mungkin tidak menyebut periode panjang Lionel Messi sebagai “Harry Potter-nya Barca”. Dan, dia memang pantas diposisikan sebagai tokoh utama dalam tiga periode magika Blaugrana.</p>
<p>Periode pertama, ketika dia mulai dipercaya oleh <em>coach</em> Frank Rijkaard pada 2006, dilanjutkan pada masa-masa puncak kejayaan di bawah Pep Guardiola.</p>
<p>“Penyihir mungil” itu dikelilingi “dukun-dukun nan memesona”: Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets, Dani Alves, juga Carlea Puyol.</p>
<p>Era kedua, di bawah arsitek Luis Enrique, Messi berkolaborasi dengan Neymar Junior dan Luis Suarez membentuk Trio MNS yang dahsyat dan menakutkan.</p>
<p>Pada era ketiga, La Pulga menjadi pemimpin utama untuk para calon penyihir seperti Pedri Gonzales, Gavi, dan Ansu Fati. Dan, itulah periode penutup Leo Messi di Camp Nou, bersama pelatih Ronald Koeman.</p>
<p>Barca tidak lantas kering “pesulap sakti” sepeninggal Messi yang hijrah ke Paris St Germain. Di bawah kepemimpinan Xavi, kini muncul sederet “penyihir” yang siap menebar magi.</p>
<p>Dari Robert Lewandowski, Rafinha, Ousmane Dembele, Fati, Pedri, dan Gavi. Aksi-aksi mereka saat menghumbalangkan Real Valladolid di La Liga, pekan kemarin jelas menebar ancaman bagi klub mana pun.</p>
<p>Para “penyihir” itu tak hanya mencetak gol. Proses dan caranya memperlihatkan hal “yang berbeda”. Aksi-aksi yang lebih bernilai atraksi, dan gol-gol yang bermakna seni.</p>
<p><strong>Tiki-Taka Kembali?</strong><br />
Apakah atraktivitas itu identik dengan kembalinya permainan<em> tiki-taka</em> yang khas Barcelona?</p>
<p>Pertanyaan itu menjadi ungkapan wajar, mengingat Barca kini berada di tangan eks pelaku utama p<em>ossession football</em> yang rancak elok pada masanya.</p>
<p>Saya tidak serta merta memaknainya sebagai pemulihan taktik permainan yang diadopsi oleh Vicente del Bosque ke tim nasional Spanyol di Piala Dunia 2010 itu. Aksen arsitektural Xavi sejauh ini adalah <em>attacking football</em> Barca, dan psikologi pemulihan konfidensi tradisi klub besar Eropa.</p>
<p>Untuk menemukan kembali <em>tiki-taka</em>, butuh syarat lebih dari sekadar permainan menyerang. Pun, konsekuensi antitesis terhadap tesis sepak bola indah telah menyebabkan baik Barca maupun timnas Spanyol terlihat tidak “sesakti” seperti sebelum ini.</p>
<p>Masih Anda ingatkah bagaimana kreativitas Luis Enrique? Ketika menukangi Pasukan Camp Nou pada 2013-2017, ia memodifikasi <em>tiki-taka</em> dengan “menyelipkan” <em>direct passing</em>. Ini menjadi bagian dari jawaban, bahwa dibutuhkan inovasi ketika taktik pressing-posesif itu sudah banyak terbaca dan ditemukan celahnya.</p>
<p>Maka, selain menanti ikhtiar Xavi memulihkan tradisi kejayaan, akan kita lihat apakah tiki-taka bisa dihadirkan kembali; mungkin dengan bentuk yang sudah termodifikasi.</p>
<p>Bahwa Xavi mampu menerapkannya secara atraktif untuk permainan Al Sadd di Liga Qatar, atau Steven Gerrard yang mengadopsinya untuk Glasgow Rangers di Liga Skotlandia, tentu merupakan hal lain dalam atmosfer yang tidak sama.</p>
<p><strong>Kegembiraan Sepak Bola</strong><br />
Yang terasa sekarang, para pemain Barca menemukan kembali kegembiraannya. Dembele, misalnya. Pemain asal Prancis yang sempat melempem dalam era sejumlah pelatih dan punya problem disiplin itu bahkan nyaris dijual. Nyatanya, kini ia bermain begitu ceria, bahkan sering memamerkan “skill dewa”.</p>
<p>Ia menjadi satu di antara para “penyihir”, seperti Lewandowski, Rafinha, Frenkie de Jong, Adama Traore, hingga para calon “Harry Potter” masa depan Barca: Ansu Fati, Sergi Roberto, Pedri, dan Gavi.</p>
<p>Persaingan juara di La Liga serasa menyala. Real Madrid dan Atletico menemukan kembali rival yang setidak-tidaknya dalam lima musim terakhir sibuk mencari bentuk.</p>
<p>Simaklah kegairahan La Liga. Tak ada Messi, muncul sederet “orang sakti” yang bermain menghibur, dan pastinya memperlihatkan aura kegembiraan sepak bola.</p>
<p>Boleh jadi, diwarnai pula dengan<em> tiki-taka</em> yang bersalin rupa&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/03/unjuk-gembira-para-penyihir-barcelona">Unjuk Gembira Para Penyihir Barcelona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Imaji Perkawinan Samba dan Tiki-Taka</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/04/16/imaji-perkawinan-samba-dan-tiki-taka</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2022 10:00:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Jogo Bonito]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tiki-Taka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=245639</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // terbayangkankah ideologi sepak bola/ dengan aura seninya?/ tergambarkan pulakah doktrin skematika/ tiki-taka bertemu artistika samba/ diracik dalam adonan cinta/ imajinasi tentang sepak bola dan jiwa/ eksotika dalam angan penuh warna// (Sajak “Andai Pep Mengulik Samba”, 2022) BRAZIL? Sebagai “lembaga”, dia adalah imaji puncak setiap kali berbicara tentang seni sepak bola. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/04/16/imaji-perkawinan-samba-dan-tiki-taka">Imaji Perkawinan Samba dan Tiki-Taka</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-245652 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/04/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/04/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/04/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/04/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// terbayangkankah ideologi sepak bola/ dengan aura seninya?/ tergambarkan pulakah doktrin skematika/ tiki-taka bertemu artistika samba/ diracik dalam adonan cinta/ imajinasi tentang sepak bola dan jiwa/ eksotika dalam angan penuh warna//</em><br />
<strong>(Sajak “Andai Pep Mengulik Samba”, 2022)</strong></p>
<p><strong>BRAZIL</strong>? Sebagai “lembaga”, dia adalah imaji puncak setiap kali berbicara tentang seni sepak bola.</p>
<p>Pep Guardiola? Sebagai individu, dialah angan tentang eksotika dalam filosofi skematika.</p>
<p>Ada entitas yang terwakili. Brazil dengan Samba-nya, Pep dengan <em>tiki-taka</em>-nya. Samba dengan <em>jogo bonito</em>-nya, <em>tiki-taka</em> mengusung <em>possession football</em> dengan eksotikanya.</p>
<p>Ketika samba dan tiki-taka dipertemukan dalam “perkawinan filosofi”, semenggoda apa lagi angan yang bisa kita apungkan?</p>
<p>Tentu tak terbayangkan dalam sejarah sepak bola Brazil. Tak pula dalam perjalanan karier “ideologis” Pep Guardiola. Ooo, seorang pelatih Eropa mengulik sebuah tim dari negeri yang memperlakukan sepak bola sebagai “agama”? Ooo, tim nasional yang bagai “kuil pemujaan” membuka diri bagi arsitek yang pasti menerapkan standar-standar berbeda dalam disiplin organisasi taktik?</p>
<p>Sebagai ekspresi kultur dan daya hidup, butuhkan samba akan skema disiplin organisasi?</p>
<p>Mampukah skematika tiki-taka “menangani” arus transendensi “tarian” bersepak bola para aktor <em>jogo bonito</em>?</p>
<p><strong>Angin Perubahan</strong><br />
Suara-suara ketertarikan sepak bola Brazil kepada kreativitas taktik Pep Guardiola tampaknya tak sekadar mengapung sebagai wacana. Ada gagasan yang rupanya meniupkan angin perubahan.</p>
<p>Benarkah sepak bola Brazil membuka diri bagi sebuah mimpi yang terbilang liar? Dari sisi Pep, beranikah pelatih asal Spanyol itu mempertaruhkan nama besar untuk sebuah “proyek filosofis” yang pasti menyita perhatian dunia?</p>
<p>Dia telah merajut sukses bersama Barcelona, Bayern Muenchen, dan Manchester City, namun belum untuk tim nasional. Beberapa kali dikaitkan dalam bursa pelatih timnas Spanyol, namun dia memilih tetap berkhidmat ke klub.</p>
<p>Untuk Brazil, beranikah dia? “Berani” menolak kesempatan itu, atau “berani” mencicipi petualangan penuh risiko? Bukankah pelatih Selecao adalah “sosok berani mati” yang hanya mengenal kewajiban meraih trofi, juara, dan menyajikan estetika?</p>
<p>Inilah diskursus tentang sebuah ekstremitas perubahan, dari sisi kedua entitas yang luar biasa.</p>
<p><strong>Arsitek Keindahan</strong><br />
Sejarah sepak bola Brazil mencatat dua arsitek keindahan Tim Samba, Mario Zagallo di Piala Dunia 1970, serta Tele Santana di Piala Dunia 1982 dan 1986.</p>
<p>Skuad Zagallo memenangi trofi 1970, yang disebut-sebut sebagai tim paling indah sepanjang masa. Dia memiliki semua elemen eksotika lewat para aktor seperti Gerson, Jairzinho, Rivelino, Pele, dan Tostao. Inilah ekspresi <em>jogo bonito</em> paling sohor: menang dengan cara indah.</p>
<p>Santana tidak memenangi Piala Dunia. Di Spanyol 1982 gagal di perempatfinal karena takluk dari Italia. Aktor-aktor seperti Zico, Socrates, Cerezo, Falcao, dan Eder memainkan sepak bola yang sangat menghibur meskipun akhirnya dikalahkan Italia dengan gerendel <em>catenaccio</em>-nya.</p>
<p>Di Piala Dunia 1986 sama saja, kali ini dihentikan oleh tim yang sama-sama indah, Prancis lewat drama penalti. Santara meracik estetika lewat Zico, Socrates, Falcao, Josimar, Cerezo, Alemao, dan Careca.</p>
<p>Setelah dua kegagalan itu, Brazil didorong melupakan “rasa” untuk memilih “realitas”, yakni memaksimalkan keunggulan teknis para pemain dengan taktik yang pragmatis.</p>
<p>Untuk Piala Dunia 1990 muncul nama Sebastiano Lazaroni, yang akhirnya gagal total. Brazil dikiritik bermain tanpa “jiwa”. Di AS 1994, Carlos Alberto Parreira, suksesor Lazaroni, lalu memadukan “ideologi” dan “seni”. Dia mampu memberikan piala yang dirindukan sejak sukses 1970. Carlos juga membawa Selecao ke final Piala Dunia 1998, namun dikalahkan oleh tuan rumah Prancis di partai final.</p>
<p>Empat tahun kemudian di Korea-Jepang, di bawah Luiz Felipe Scolari, Brazil berjaya. “Big Phil” sempat menyulut kontroversi karena menyebut “<em>jogo bonito</em> telah mati”. Nyatanya, ekspresi seni Ronaldo, Ronaldinho, Cafu, Rivaldo, Roberto Carlos, dan Juninho Paulista tak bisa dibendung, tetap membawakan orkestrasi keindahan samba.</p>
<p>Di Piala Dunia 2006, 2010, 2014, dan 2018, Brazil beruntun mengalami kegagalan. Kini harapan terhadap ekspresi filosofi Adenor Leonardo Bacchi alias Tite &#8212; yang menukangi Selecao sejak Rusia 2018 &#8212; untuk memadukan “imajinasi” dan realitas organisasi taktik, ditunggu di Qatar.</p>
<p>Para pemuja sepak bola samba tak mau sekadar <em>futebol-arte</em>, yakni pembebasan yang menempuh cara apa saja, yang penting menang dan mendapat piala. Impiannya adalah <em>jeitinho</em>, kultur yang dalam tafsir bebas bisa diartikan sebagai “jalan lain” yang melekat dalam cara berpikir masyarakat Brazil.</p>
<p>Buku <em>Sepotong Mimpi dari Rusia</em> (2018) menarasikan, dalam kehidupan sehari-hari, ketika menghadapi kondisi tak terduga, sulit, atau pelik, mereka dituntut untuk kreatif, imajinatif, intuitif, dan fleksibel. Survivalitas diperjuangkan dengan antisipasi sikap naluriah yang apa adanya. Inilah latar sejarah pembebasan hidup dari dominasi proletar kulit putih.</p>
<p><em>Jeitinho</em> terekspresikan, misalnya dari pernyataan Socrates, kapten tim 1982 dan 1986 yang adalah seorang dokter, “Kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan 15 menit ke depan”. Ya, itulah ungkapan naluri, semacam pembebasan dari hukum, struktur, atau aturan, yang dalam sepak bola seolah-olah melawan “sikap modern”, keteraturan organisasi dan sistem yang dikembangkan sebagai tesis, antitesis, dan sintesis dalam sepak bola Eropa. (Amir Machmud NS, 2018)</p>
<p><strong>Langkah Serius</strong><br />
Visi CBF (Federasi Sepak Bola Brazil) membidik Pep Guardiola rupanya bukan sekadar angan mengawinkan taste artistik dari dua benua. Langkah serius sudah ditempuh, karena apa pun hasil yang diraih Tite di Piala Dunia Qatar 21 November &#8211; 18 Desember mendatang, bakal berlangsung suksesi. Tite, yang sudah bersama Selecao sejak 2016, sudah menyatakan mundur selepas Coppa del Mundo 2022.</p>
<p>CBF merancang proposal ambisius untuk memboyong Pep, yang kini melatih Manchester City. Dapat dibayangkan, The Citizens akan mempertahankan pria Spanyol yang telah memberi “maqam” tinggi Manchester Biru dalam percaturan Liga Primer dan Eropa. Posisi finansial City sebagai salah satu klub kaya tentu juga sudah dipertimbangkan oleh CBF.</p>
<p>Menurut <em>Marca,</em> sebagaimana dikutip <em>detik.com</em> (7/4-2022), CBF sudah mengontak agen Pep yang juga saudaranya, Pere. Dalam proposal CBF, diajukan tawaran gaji 12 juta euro. Angka itu memang di bawah bayaran Pep di Etihad, 16,7 juta poundsterling atau sekitar 20 juta Euro, namun untuk pelatih tim nasional merupakan nominal besar. Para pelatih mendapatkan gengsi tersendiri ketika mengarsiteki timnas, apalagi yang sekelas Tim Samba.</p>
<p>Kontrak Pep di Manchester Biru baru berakhir hingga musim depan. Pastilah bakal berlangsung tarik menarik seru: Brazil ingin membawanya lebih cepat, atau menunggu kontrak Pep selesai.</p>
<p>Selama ini, siapa sosok yang menangani timnas Brazil, Argentina, Italia, Inggris, Jerman, atau Spanyol selalu memiliki tempat tersendiri di panggung publikasi media.</p>
<p>Makin menjadi menarik ketika negara-negara dengan citra sebagai kiblat sepak bola dunia itu memilih figur asing. Inggris sudah berani keluar dari pakem itu ketika menyerahkan kepemimpinan Tim Tiga Singa kepada pelatih asal Swedia Sven-Goran Eriksson pada 2001-2006, dan Fabio Capello dari Italia pada 2008-2012.</p>
<p>Baru sekadar kabar yang mengaitkan Brazil dan Pep Guardiola pun, rasanya sudah menjadi “permainan lezat”. Telah terbayang macam-macam tentang eksotika seperti apa dari perkawinan antara samba dan <em>tiki-taka</em>.</p>
<p>Tentu apabila pria 51 tahun itu mampu menjelajahi secara tepat pemaknaan <em>futebol-arte</em> dan kultur <em>jeitinho</em> sebagai nilai-nilai yang disatukan dengan konsep sepak bolanya.</p>
<p><em>&#8212; </em><strong>Amir Machmud NS</strong><em>, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah &#8212;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/04/16/imaji-perkawinan-samba-dan-tiki-taka">Imaji Perkawinan Samba dan Tiki-Taka</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>