<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tele Santana Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/tele-santana/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Oct 2023 13:05:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Tele Santana Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Oct 2023 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Arrigo Saccho]]></category>
		<category><![CDATA[Arsene Wenger]]></category>
		<category><![CDATA[Camp Nou]]></category>
		<category><![CDATA[Fabio Capello]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[Rinus Michels]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tele Santana]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=376210</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // raciklah irama serancak orkestrasi bunyi/ ia akan menghasilkan melodi/ suntiklah dengan ideologi/ ia akan menghadirkan kesetiaan/ pada elok rasa dan indah hati/ tunggulah waktu/ yang akan membawa rindu/ mengharu-biru&#8230;// (Sajak “Sepak Bola Indah”, 2023) PERCAYAKAH Anda, sepak bola indah adalah produk kreatif perputaran siklus? Dia romantisme yang tak sembarang ditemui [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta">Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-376216 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// raciklah irama serancak orkestrasi bunyi/ ia akan menghasilkan melodi/ suntiklah dengan ideologi/ ia akan menghadirkan kesetiaan/ pada elok rasa dan indah hati/ tunggulah waktu/ yang akan membawa rindu/ mengharu-biru&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Sepak Bola Indah”, 2023)</strong></p>
<p><strong>PERCAYAKAH</strong> Anda, sepak bola indah adalah produk kreatif perputaran siklus? Dia romantisme yang tak sembarang ditemui pada setiap musim; bahkan dengan kendali para genius yang punya jejak reputasi untuk menyajikan eksotika dari wayang-wayang yang mereka mainkan.</p>
<p>Bukankah kini Pep Guardiola tak sepenuhnya menghadirkan sepak bola seni di Manchester City? “Muridnya”, Xavi Hernandez yang gilang-gemilang mentransformasi <em>tiki-taka</em> saat menukangi Al Sadd di Liga Qatar, belum pula menghasilkan simfoni estetis di Camp Nou, seelok masa emas Barcelona.</p>
<p>Lalu siapa? Juergen Klopp-kah, Mikael Arteta, Eddie Howe, atau nama baru yang mencuat: Roberto De Zerbi?</p>
<p>Pep dengan “pasukan <em>exellent</em>” memang membentuk The Citizens sebagai tim yang siap menguasai Inggris, Eropa, dan dunia. Akan tetapi, setarakah perfeksionitas permainan Kevin de Bruyne dkk dengan keindahan Barcelona pada masa-masa emasnya?</p>
<p>Barca 2007-2012 boleh dibilang sebagai “karya agung sepak bola indah”. Pep sukses meraciknya sebagai padu padan kemampuan para pesepak bola unggul menjadi melodi nan elok “<em>merak ati</em>”.</p>
<p>Masa-masa emas Blaugrana memang bergelimang cahaya bintang. Dengan sederet nama fantastis seperti Ronaldinho, Deco, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Lionel Messi, Sergio Busquets, Carles Puyol, Dani Alves, David Villa, Gerard Pique, Jordi Alba, juga Cesc Fabregas dan Pedro Gonzales, kejayaan itu masih berlanjut ketika sederet pelatih menjadi suksesor, yang berpuncak ke pengulangan <em>treble</em> di era manajer Luis Enrique pada 2014-2015.</p>
<p><strong>City-nya Pep</strong><br />
Pada 2013, Pep mengusung gaya sepak bola indahnya yang posesif &#8212; menekankan dominasi penguasaan bola &#8212; ke Bayern Muenchen, namun tidak maksimal menjadi filosofi yang memberi kejayaan Eropa. Rupanya, ada penghayatan karakter yang tak bisa dipertemukan secara kultural di Bundesliga.</p>
<p>Di Manchester City, sejak 2016, dia membangun tim dengan keleluasaan rekrutmen bintang-bintang yang dia butuhkan. Dan, baru pada musim 2022-2023 menghasilkan trofi Eropa dalam romantisme <em>treble</em> yang akan selalu dikenang dalam kebesaran sejarah klub.</p>
<p>Hanya, apabila ditanya apakah City versi Pep memainkan sepak bola secantik Barcelona produk kejeniusannya, saya memilih menyimpulkan, “Tak semudah itu menjajari performa Barca pada masanya, ketika gairah, keindahan, dan kekuatan filosofi disatukan oleh kejeniusan menjadi ideologi&#8230;”</p>
<p>Maka, ketika City yang seperkasa itu pun tak bisa dibilang menghadirkan eksotika yang artistik, klub mana pula yang menjadi alternatif untuk menyimak aplikasi keindahan skematika di kanvas permainan?</p>
<p>Atau memang sepak bola indah tak bisa dijamin muncul dalam siklus waktu tertentu?</p>
<p>Sejak musim kemarin, dari “pemagangan” di Liga Qatar, Xavi Hernandes membawa Barcelona dalam pemulihan tradisi kemenangan di La Liga, namun “Barca Xavi” masih jauh dari sepak bola merangsang dengan gairah <em>tiki-taka</em>. Padahal sejatinya, filosofi ini melekat dalam penjiwaan pelatih yang berjejuluk “The Puppet Master” itu. Xavi pernah disebut-sebut sebagai sosok yang sangat memahami sepak bola indah itu.</p>
<p>Kalau dulu, Pep membawa Barca dalam sikap “menang saja tak cukup, melainkan harus dengan cara indah”, kini Xavi masih bergerak di level “kulit” – “apa pun, yang penting menang dulu”. <em>Mindset</em> yang agaknya juga ditempuh Pep dalam petualangannya di Liga Primer.</p>
<p>Pendekatan berbeda ditempuh dua pelatih di Liga Primer, yakni Mikael Arteta yang menukangi Arsenal, dan Roberto De Zerbi yang mengarsiteki Brighton Hove and Albion. Arteta membawa Meriam London ke mode bermain rancak nan indah, sedangkan De Zerbi memadukan gairah dan kecepatan bermain The Seagull yang merepotkan konsolidasi setiap lawan.</p>
<p>Di samping Eddie Howe yang mengawal kebangkitan Newcastle United, nama lain yang kini mencuat adalah Ange Pastecoglou. Arsitek asal Australia yang kini membawa Tottenham Hotspur ke pucuk klasemen ini mendoktrin timnya dengan spartanitas permainan menyerang.</p>
<p>Tanpa kapten dan bintangnya, Harry Kane yang hijrah ke Bayern Muenchen, Spurs dia bentuk menjadi kekuatan konsisten dengan permainan cepat, di bawah kepemimpinan Son Heung-min, mesin gol asal Korea yang semakin matang.</p>
<p>Haruskah kita menunggu raihan trofi liga Arsenal bersama Arteta untuk mengklaim kembalinya sepak bola indah? Atau Pep akan memformulasikan City perlahan-perlahan menjadi kekuatan eksotis?</p>
<p>Lalu Barcelona, akankah seniman sekelas Xavi mandek pada kemenangan-kemenangan yang tanpa menyajikan kembali eksepsionalitas cara bermain bola?</p>
<p>Pada akhirnya, elok sepak bola indah adalah kerinduan. Seni cantik menyajikan skema taktik adalah kejeniusan. Pertunjukan karakter para aktor hebat adalah “bahasa ideologis” yang mengalir sebagai darah dalam nadi sepak bola.</p>
<p>Akankah dalam sisa hari-harinya Pep mewujudkan tontonan yang berbeda? Atau musim ini sang penguasa panggung itu adalah Mikael Arteta?</p>
<p>Inilah siklus pergulatan tesis, antitesis, dan sintesis yang menandai perjalanan sepak bola indah sejak Brazil 1970, Belanda 1974, Brazil 1982, Brazil 1986, dan Spanyol 2012.</p>
<p>Catat pula sederet “klub indah” dari Ajax-nya Rinus Michels, Sao Paulo-nya Tele Santana, AC Milan-nya Arrigo Saccho dan Fabio Capello, Arsenal-nya Arsene Wenger, hingga Barcelona-nya Pep Guardiola.</p>
<p>Makin ditunggu, waktu makin membawa rindu mengharu-biru&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta">Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/07/01/ketika-tanah-suci-sepak-bola-butuh-sentuhan-ulama-manca</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Jul 2023 10:00:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Carlos Alberto Perreira]]></category>
		<category><![CDATA[Ednaldo Rodrigues]]></category>
		<category><![CDATA[Felipe Scolari]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden CBF]]></category>
		<category><![CDATA[Sebastiao Lazaroni]]></category>
		<category><![CDATA[Tele Santana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=348635</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tanah ini menyimpan kekuatan/ kau rasakankah kegaiban dalam diam?/ dengan keingarbingaran/ dengan daya hidup/ dan kini meniupkan energi/ dari aura yang berbeda// (Sajak “Brazil”, 2023) BERLEBIHANKAH menyebut Brazil sebagai “tanah suci sepak bola”? Prestasi, tradisi, dan segala macam eksotika seni mengolah si kulit bundar ada di negeri penghasil kopi terbesar [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/01/ketika-tanah-suci-sepak-bola-butuh-sentuhan-ulama-manca">Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-348645 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/06/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/06/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/06/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tanah ini menyimpan kekuatan/ kau rasakankah kegaiban dalam diam?/ dengan keingarbingaran/ dengan daya hidup/ dan kini meniupkan energi/ dari aura yang berbeda//</em><br />
<strong>(Sajak “Brazil”, 2023)</strong></p>
<p><strong>BERLEBIHANKAH</strong> menyebut Brazil sebagai “tanah suci sepak bola”?</p>
<p>Prestasi, tradisi, dan segala macam eksotika seni mengolah si kulit bundar ada di negeri penghasil kopi terbesar dunia itu. Para seniman sepak bola dengan kemampuan artistik dan teknik aneh-aneh menyatu dengan daya hidup, ekspresi naluriah, dan kultur karnaval yang penuh gairah.</p>
<p>Di sana lahir “pujangga-pujangga sepak bola” yang tak ada duanya. Dari Pele, Garrincha, Jair, Rivelino, Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Kaka, hingga Neymar.</p>
<p>Brazil menjadi kutub tersendiri di antara pusat-pusat peradaban sepak bola seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Argentina.</p>
<p>Dengan segala kebesaran itu, kesan apakah yang Anda rasakan ketika mendengar Federasi Sepak Bola Brazil (CBF) kesengsem mendatangkan Carlo Ancelotti, “ulama sepak bola” dari Italia, kutub yang <em>notabene</em> secara ideologis dan gaya bermain menggambarkan paradoksa dengan Brazil?</p>
<p>Sebegitu gentingkah kondisinya, sehingga CBF membutuhkan sentuhan dari tokoh yang dalam “spiritualitas taktik” dan kultural sejatinya berbeda?</p>
<p>Pelatih genius Manchester City, Pep Guardiola pernah masuk radar incaran untuk menyegarkan manajemen Selecao. Juga legenda Real Madrid, Zinedine Zidane. Dan, kini langkah memboyong Don Carlo diseriusi lewat berbagai pintu pendekatan.</p>
<p>Neymar Junior, misalnya, membentuk opini untuk meyakinkan kepada Ancelotti tentang kehendak perubahan sepak bola negerinya. Ricardo Kaka, yang pernah diasuh oleh Don Carlo di AC Milan disebut-sebut akan menjadi utusan khusus CBF untuk merayu eks mentornya itu.</p>
<p>CBF berargumen dengan rasionalitas, bahwa Ancelotti membuktikan mampu mengeksplorasi talenta-talenta Negeri Samba yang bermain untuk Real Madrid, yakni Vinicius Junior dan Rodrygo Goes.</p>
<p>Kontrak Don Carlo dengan Madrid baru akan berakhir Juni 2024. Klub Spanyol itu tak senang dengan rencana CBF. Sedangkan Presiden CBF Ednaldo Rodrigues memahami posisi Ancelotti yang belum memberi respons karena masih terikat dengan Los Blancos.</p>
<p>Seperti dikutip sejumlah media, Ednalno menuturkan, banyak pemain yang menyukai Carlo Ancelotti. Mereka yang dilatih menceritakan, Don Carlo adalah pelatih ideal, sementara yang lain menyatakan ingin dilatih karena dia adalah orang yang tepat. Presiden CBF pun percaya, Ancelotti merupakan figur yang sempurna untuk Selecao.</p>
<p>Saat ini, kursi panas itu sedang kosong. Tite diberhentikan pasca-Piala Dunia 2022. Untuk sementara timnas diserahkan kepada pelatih Tim U20 Mano Menezes.</p>
<p><strong>“Santapan” Media</strong><br />
Dalam sejarah panjang tradisi sepak bola di negeri lima kali juara dunia itu, tak mudah mendapat kepercayaan sebagai pelatih. Selain reputasi, juga kesiapan untuk menjadi “santapan” media, karena <em>mindset</em> publik tergambar dari tuntutan “hanya mau Piala Dunia”.</p>
<p>Sosok pelatih selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Setia pada pakem kultural <em>jogo bonito</em>, atau berani mengusung cara bermain pragmatis. Sepak bola Negeri Samba itu kental dengan kultur <em>jeitinho</em>, yakni transformasi sikap keseharian yang “tidak tahu apa yang akan dilakukan kemudian”, bergerak lebih menuruti naluri. Dan, ketika naluri berindah-indah lebih larut dalam sikap bersepak bola, yang mengemuka adalah pikiran “jangan mendapatkan kemenangan dengan cara yang biasa-biasa saja”.</p>
<p>Pelatih yang sukses memadukan pragmatisme dengan keindahan irama tarian samba adalah Carlos Alberto Perreira yang menjuarai Piala Dunia 1994, dan Felipe Scolari pemenang 2002. Keduanya belajar dari kegagalan menyedihkan Sebastiao Lazaroni di Piala Dunia 1990 ketika memilih total jalur pragmatis. Sedangkan Tele Santana, ideolog sepak bola indah, gagal pada 1982 dan 1986 walaupun Brazil dengan Zico, Socrates, dan Falcao dikenang sebagai “tim artistik sepanjang masa”.</p>
<p>Tite sebenarnya bersikap seperti Big Phil, namun keseimbangan yang dia usung di Rusia 2018 dan Qatar 2022 tak membuahkan trofi. Dan, inikah yang menyulut ketidaksabaran otoritas sepak bola Brazil dengan mendatangkan pelatih mancanegara? Langkah ini pasti kontroversial lantaran mengisyaratkan ketidakpercayaan kepada aset-aset ideolog sepak bola Brazil, dan ini belum pernah terjadi dalam sejarah Selecao.</p>
<p>Dan, bukankah ide ini adalah eksperimen besar bagi Brazil? Ketika para tokoh “dewan syura” gagal memberi sentuhan berkualifikasi trofi dunia, Don Carlo menjadi pilihan jalan tengah, apakah ”ajarannya” bakal merasuk melewati transformasi batas-batas kultur dan ideologi&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/01/ketika-tanah-suci-sepak-bola-butuh-sentuhan-ulama-manca">Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Brazil, Merana dalam Pesona</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/11/brazil-merana-dalam-pesona</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2022 00:56:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Carlos Alberto Parreira]]></category>
		<category><![CDATA[Casemiro]]></category>
		<category><![CDATA[Claudio Coutinho]]></category>
		<category><![CDATA[Mario Zagallo]]></category>
		<category><![CDATA[Neymar]]></category>
		<category><![CDATA[Paqueta]]></category>
		<category><![CDATA[Raphinha]]></category>
		<category><![CDATA[Richarlison]]></category>
		<category><![CDATA[Rodrygo]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tele Santana]]></category>
		<category><![CDATA[Vinicus Junior]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=299465</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS QATAR 2022, bagi Brazil adalah ekspresi rasa yang kontras. Baru saja mereka menari-nari riang merayakan kemenangan atas Korea Selatan di fase 16 besar. Selang tiga hari kemudian, ruang ganti pemain menjadi lembah air mata. Potret seperti ini mewarnai penampilan Selecao di sejumlah Piala Dunia, kecuali ketika berjaya pada 1958, 1962, 1970, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/11/brazil-merana-dalam-pesona">Brazil, Merana dalam Pesona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-299477 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-11-07-at-20.18.13-1.jpeg" alt="" width="150" height="190" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-11-07-at-20.18.13-1.jpeg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-11-07-at-20.18.13-1-118x150.jpeg 118w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" />QATAR</strong> 2022, bagi Brazil adalah ekspresi rasa yang kontras. Baru saja mereka menari-nari riang merayakan kemenangan atas Korea Selatan di fase 16 besar. Selang tiga hari kemudian, ruang ganti pemain menjadi lembah air mata.</p>
<p>Potret seperti ini mewarnai penampilan Selecao di sejumlah Piala Dunia, kecuali ketika berjaya pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.</p>
<p>Dalam wajah budaya sepak bola, boleh jadi Pasukan Samba mewakili ingar bingar karnaval yang &#8212; rupanya &#8212; rentan petaka. Bukankah realitasnya, dalam wajah permainan sepak bola, Brazil adalah pesona yang tak jarang merana sedalam-dalamnya?</p>
<p>Apa yang kita simpulkan dari Brazil 1978, 1982, 1986, 1998, 2014, dan 2018? Dan, kini bahkan mereka seperti menggarami luka di tengah buncah kegempitaan yang semula dibayangkan tak tertahan, ruap keyakinan yang bagai tak tersentuh oleh kenyataan.</p>
<p>Brazil datang ke Qatar sebagai tim mewah racikan Abdenor Leonardo Bacchi alias Tite. Mereka sekumpulan pesepak bola pilihan yang tak sembarang negara memiliki; para penari yang dalam budaya karnaval sulit untuk tidak &#8220;<em>intrance</em>&#8221; dalam riuh rendah genderang Samba.</p>
<p>Para artis bola Brazil tak hanya mahir mengelola si kulit bundar dan mengombinasikannya dengan tradisi keindahan gerak, yang tak henti menyetiai filosofi jogo bonito. Mereka sigap bersikap, &#8220;Menang dengan cara tidak indah, apalah artinya?&#8221;.</p>
<p>Apakah hanya persoalan &#8220;musim&#8221; atau siklus yang membuat Brazil lagi-lagi diterpa &#8220;penderitaan sepak bola&#8221; dalam Piala Dunia kali ini?</p>
<p>Sungguh, kawan. Cobalah kaurasakan di ujung laga perempat final itu: betapa Neymar Junior dkk diselimuti nestapa di balik sukacita Kroasia.</p>
<p>Tak kaubayangkankah: mendominasi pertandingan, tetapi &#8220;kesaktian&#8221; Dominik Livakovic mereduksi semua bentuk ikhtiar eksekusi Richarlison dkk. Dia menjadi pementah semua rasa. Pori-pori kulitnya mengendus, mendeteksi semua arah tendangan Neymar, Casemiro, Paqueta, Richarlison, Raphinha, Vinicus Junior, Rodrygo, dan semua penari Brazil.</p>
<p><strong>Kebahagiaan Bersepak Bola</strong><br />
Tite sang arsitek adalah titik waktu bagi Selecao, yang seperti &#8220;berubah-ubah&#8221; aura dalam menyikapi filosofi. Dialah yang oleh Cesar Luis Menotti, empat tahun silam, sempat dipuji memberi keleluasaan bagi kembalinya ekspresi naluri kebahagiaan bersepak bola.</p>
<p>Dalam buku <em>Sepotong Mimpi dari Rusia</em> (2018) saya menulis, Menotti menyebut Tite menerapkan cara bertahan yang berbeda, dengan mengorganisasinya secara kolektif. Dengan memberi keleluasaan kepada para pemain untuk berekspresi, apakah itu berarti tutup buku bagi perdebatan tentang urgensi sepak bola indah jogo bonito?</p>
<p>Tim nasional Negeri Samba, terutama menjelang Piala Dunia, nyaris selalu diantar dengan perdebatan: bagaimana seharusnya Brazil bermain?</p>
<p>Harus berindah-indah karena itu mengalir sebagai kultur dan &#8220;ideologi&#8221;, atau memilih pragmatis demi pemenangan trofi?</p>
<p>Brazil punya sederet tokoh yang memihak jogo bonito: dari Mario Zagallo, Tele Santana, Claudio Coutinho, Carlos Alberto Parreira, lalu kini Tite.</p>
<p>Mereka berbeda filosofi dari Sebastiao Lazaroni, atau Carlos Dunga. Luis Felipe Scolari memilih moderat dengan akar pragmatis, dan nyatanya dia mampu mengantar Ronaldo Luis Nazario dkk juara pada 2002.</p>
<p>Scolari tegas menyatakan, jogo bonito telah mati. Namun nyatanya, dengan artis-artis Samba seperti Ronaldo, Ronaldinho, Rivaldo, Cafu, Kleberson, dan Kaka, Big Phil tak mampu &#8220;membunuh&#8221; sepak bola indah. Tim karyanya tetaplah elok, karena naluri &#8220;f<em>utebolarte</em>&#8221; yang bermakna pembebasan. Sepak bola, di negeri penghasil kopi terbesar di dunia itu, adalah jalan pembebasan dari ketertekanan sosial &#8211; politik &#8211; ekonomi.</p>
<p>Bagaimana mungkin mengikat para aktor sepak bola Samba yang dijiwai kultur jeitinho?</p>
<p>Jeitinho adalah budaya yang membentuk naluri orang Brazil dalam memperjuangkan survivalitas. Ketika menghadapi kondisi tak terduga, sulit, atau pelik, mereka dituntut kreatif, inovatif, imajinatif, dan fleksibel. Atau yang digambarkan oleh legenda Socrates, &#8220;Kami tidak pernah tahu apa yang akan kami lakukan 15 menit ke depan&#8230;&#8221;</p>
<p>Cara berpikir itukah yang melahirkan sejumlah genius dengan imajinasi petualangannya?</p>
<p>Tele Santana mengkreasi Tim Samba yang cantik &#8220;merak ati&#8221; pada 1982 dan 1986, walaupun tim itu gagal memuncaki Piala Dunia. Media banyak menyebut Santana sebagai &#8220;romantik terakhir dalam sepak bola nasional Brazil&#8221;.</p>
<p><strong>Tite, Kurang Apa?</strong><br />
Lalu, kurang apakah Tite? Tak cukupkah kemewahan yang dia dapatkan dengan pasukan yang sarat pemain &#8220;sakti&#8221; dan &#8220;seni&#8221;?</p>
<p>Faktanya, kesaktian Neymar dkk luruh di hadapan Dominik Livakovic, dan keindahan Brazil terhenti di 8 besar, persis tragedi 1986 yang juga kalah dalam drama penalti.</p>
<p>Adu penalti membuat Selecao merana dalam magnet pesona, justru pada saat orang-orang masih meyakini Brazil sebagai pusat segalanya dalam sepak bola.</p>
<p>Kali ini, Pasukan Samba harus mengemas mimpi menjadi juara kali keenam. Bagaimanapun, ada catatan yang mereka tinggalkan. Semuram apa pun, sepedih apa pun&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/11/brazil-merana-dalam-pesona">Brazil, Merana dalam Pesona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>