<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Murid Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/murid/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Apr 2026 06:36:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Murid Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pendidikan Kita: Berlari di Tempat atau Melompat Jauh?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/27/pendidikan-kita-berlari-di-tempat-atau-melompat-jauh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 06:36:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Gerak cepat]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[hardiknas]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Peradapan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=556406</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr NAN Murniati MPd SETIAP kali kalender mendekati angka 2 Mei, gempita Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) mulai terasa. Spanduk bertuliskan tema-tema optimis bertebaran, upacara bendera dipersiapkan, dan pidato mengenai kemajuan pendidikan disusun dengan rapi. Kita merayakan warisan Ki Hajar Dewantara dengan penuh khidmat. Namun, di tengah seremonial tahunan yang megah itu, sebuah pertanyaan eksistensial [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/27/pendidikan-kita-berlari-di-tempat-atau-melompat-jauh">Pendidikan Kita: Berlari di Tempat atau Melompat Jauh?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Dr NAN Murniati MPd</strong></p>
<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-556409 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-27-at-13.34.47-1.jpeg" alt="" width="150" height="191" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-27-at-13.34.47-1.jpeg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-27-at-13.34.47-1-118x150.jpeg 118w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" />SETIAP</strong> kali kalender mendekati angka 2 Mei, gempita Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) mulai terasa. Spanduk bertuliskan tema-tema optimis bertebaran, upacara bendera dipersiapkan, dan pidato mengenai kemajuan pendidikan disusun dengan rapi. Kita merayakan warisan Ki Hajar Dewantara dengan penuh khidmat.</p>
<p>Namun, di tengah seremonial tahunan yang megah itu, sebuah pertanyaan eksistensial seharusnya mengetuk kesadaran setiap pemangku kepentingan: Apakah sistim pendidikan kita benar-benar sedang melompat jauh menuju masa depan, atau jangan-jangan kita hanya sedang berlari kencang di atas mesin treadmill?</p>
<p>Analogi treadmill atau berlari di tempat menggambarkan kondisi di mana energi dikeluarkan secara masif, keringat bercucuran, dan nafas terengah-engah, namun posisi fisik tidak bergeser satu sentimeter pun dari titik semula. Dalam konteks pendidikan Indonesia, kita melihat kesibukan yang luar biasa.</p>
<p>Guru-guru terjebak dalam labirin administrasi, kurikulum berganti rupa dalam waktu singkat, dan platform-platform digital baru terus diperkenalkan. Namun, jika kita melihat kualitas literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir kritis siswa secara substansial, seringkali angkanya masih bergerak di zona yang sama selama satu dekade terakhir. Apakah kesibukan administratif kita telah teralienasi dari esensi mendidik yang sesungguhnya?</p>
<p>Penyebab utama dari fenomena &#8220;berlari di tempat&#8221; adalah dominasi formalitas di atas substansi. Selama bertahun-tahun, keberhasilan pendidikan seringkali diukur dari kelengkapan dokumen administratif.</p>
<p>Guru, yang seharusnya menjadi seniman di ruang kelas dan dirigen inspirasi bagi muridnya, justru bertransformasi menjadi juru tulis bagi birokrasi. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi aplikasi, menyusun laporan kinerja, dan memenuhi beban administrasi lainnya, yang belum tentu berkorelasi langsung dengan kualitas pemahaman siswa di kelas.</p>
<p>Ketika seorang pendidik lebih mencemaskan &#8220;keteraturan dokumen&#8221; daripada &#8220;keterbukaan mata muridnya&#8221; saat menerima pelajaran, saat itulah kita mulai berlari di tempat. Kita menciptakan ilusi kemajuan melalui data digital dan grafik laporan yang tampak hijau, namun di akar rumput, ruang-ruang kelas kita masih sunyi dari diskusi nalar yang mendalam.</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>* * * * *</strong></span></p>
<p>Kita sibuk memperbaiki &#8220;wadah&#8221; tanpa pernah benar-benar mencicipi dan meningkatkan kualitas &#8220;isi&#8221; dari pendidikan itu sendiri.</p>
<p>Di sisi lain, dunia di luar pagar sekolah tidak sedang berlari di tempat; ia sedang melakukan lompatan kuantum. Revolusi Industri 4.0 yang belum usai kini sudah disambung dengan gelombang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yang mendisrupsi segala lini kehidupan. Cara manusia bekerja, berkomunikasi, hingga memecahkan masalah telah berubah secara radikal dalam lima tahun terakhir. Pekerjaan-pekerjaan yang dulu dianggap aman kini mulai tergantikan oleh algoritma.</p>
<p>Jika pendidikan kita masih mempertahankan pola pikir abad ke-20 -di mana sekolah hanya berfungsi sebagai pabrik kepatuhan dan pusat penghafalan fakta- maka kita tidak hanya sedang berlari di tempat, kita sedang mengalami regresi relatif. Melompat jauh berarti berani mempertanyakan relevansi materi yang diajarkan. Apakah kita masih mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi &#8220;kamus berjalan&#8221; di era di mana mesin pencari bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik? Ataukah kita sudah mulai mengajarkan mereka cara bertanya, cara memvalidasi informasi, dan cara menciptakan solusi dari tumpukan data yang ada?</p>
<p>Untuk melakukan lompatan jauh, kita perlu kembali ke akar filosofis Ki Hajar Dewantara yang seringkali hanya kita kutip tanpa benar-benar kita resapi. Beliau menegaskan bahwa pendidikan harus selaras dengan &#8220;kodrat alam&#8221; dan &#8220;kodrat zaman&#8221;. Kodrat zaman hari ini menuntut manusia yang adaptif, kolaboratif, dan memiliki ketahanan mental yang kuat.</p>
<p>Lompatan jauh dimulai ketika kita memberikan kemerdekaan yang sesungguhnya kepada guru dan siswa. Merdeka bukan berarti bebas tanpa arah, melainkan otonomi untuk mengeksplorasi potensi sesuai dengan konteks lokal dan keunikan individu. Pendidikan yang melompat adalah pendidikan yang berani merayakan keragaman bakat.</p>
<p>Kita tidak bisa mengharapkan sebuah bangsa melompat jauh jika sistim pendidikannya masih menyeragamkan semua anak melalui standar ujian yang kaku, seolah-olah semua ikan harus dinilai dari kemampuannya memanjat pohon.</p>
<p>Guru harus diberikan ruang untuk menjadi &#8220;Maestro&#8221;. Seorang maestro tidak bekerja berdasarkan instruksi teknis yang kaku, melainkan berdasarkan visi dan rasa. Ketika guru mampu mengorkestrasi teknologi, kreativitas, dan empati dalam satu harmoni pembelajaran, saat itulah mesin pendidikan kita mulai bergerak maju meninggalkan tempatnya semula.</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>* * * * *</strong></span></p>
<p>Syarat mutlak untuk melompat adalah kelenturan. Sebuah benda yang kaku akan patah saat dipaksa melompat tinggi. Sistim pendidikan kita perlu bertransformasi dari sistim yang kaku dan tersentralisasi menjadi sistim yang lentur dan organik. Budaya inovasi harus tumbuh dari bawah, bukan sekadar instruksi dari atas.</p>
<p>Sekolah harus menjadi laboratorium kehidupan, di mana kegagalan dalam bereksperimen dianggap sebagai bagian dari proses belajar, bukan aib yang menurunkan nilai akreditasi.</p>
<p>Kita juga perlu mendefinisikan ulang makna keberhasilan. Lompatan jauh pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak siswa yang lulus dengan nilai sempurna, melainkan seberapa banyak lulusan yang mampu bertahan dan berkontribusi di tengah ketidakpastian dunia.</p>
<p>Kita membutuhkan generasi yang memiliki &#8220;Kedaulatan Rasa&#8221; dan &#8220;Kemerdekaan Berpikir&#8221;, generasi yang tidak mudah dipicu oleh provokasi karena memiliki nalar kritis, dan tidak mudah menyerah karena memiliki empati dan karakter yang kokoh.</p>
<p>Hardiknas tahun ini seharusnya menjadi garis start baru. Kita harus berhenti merasa puas dengan pergerakan yang hanya bersifat kosmetik. Berhenti merasa telah maju hanya karena kita telah mendigitalkan birokrasi, jika cara berpikir kita masih birokratis.</p>
<p>Lompatan itu tidak akan terjadi secara otomatis; ia membutuhkan keberanian politik, keberanian pedagogis, dan yang paling penting, keberanian moral untuk mengakui kekurangan kita sendiri.</p>
<p>Pendidikan kita memiliki aset yang luar biasa: jutaan anak muda yang haus akan ilmu dan ribuan guru di pelosok negeri yang tetap menyalakan pelita meski dalam keterbatasan. Energi ini tidak boleh habis hanya untuk berlari di atas treadmill kebijakan yang berputar-putar. Mari kita lepaskan beban-beban yang menghambat, arahkan pandangan jauh ke depan, dan lakukan lompatan besar itu.</p>
<p>Sebab, jika kita hanya terus berlari di tempat, suatu saat kita akan kehabisan nafas tanpa pernah sampai ke tujuan. Namun, jika kita berani melompat, meskipun dengan risiko terjatuh, kita setidaknya telah mencoba untuk terbang dan menyambut masa depan dengan kepala tegak.</p>
<p>Pendidikan bukan tentang seberapa cepat kita bergerak, tapi tentang sejauh mana kita telah berpindah menuju peradaban yang lebih mulia.</p>
<p><strong>&#8212;</strong> <em>Penulis adalah Dosen Manajemen Pendidikan S2 Upgris Bidang Keahlian Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan</em><strong> &#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/27/pendidikan-kita-berlari-di-tempat-atau-melompat-jauh">Pendidikan Kita: Berlari di Tempat atau Melompat Jauh?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggagas Humanity Punishment</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/06/18/menggagas-humanity-punishment</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2025 01:33:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#hukuman]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Humanity Punishment]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Suktan Agung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=479692</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Nuridin &#38; Ira Alia Maerani BEBERAPA waktu lalu ramai di media massa, berita tentang seorang guru yang dilaporkan polisi, karena memberikan hukuman kepada siswanya. Atas kejadian itu simpati pun mengalir kepada guru tersebut, karena sesungguhnya guru sedang menjalankan tugas dan fungsinya, amanahnya untuk mendisiplinkan siswa, termasuk untuk memberikan efek baik ketika siswa melakukan pelanggaran. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/18/menggagas-humanity-punishment">Menggagas Humanity Punishment</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Nuridin &amp; Ira Alia Maerani</strong></span></p>
<p><strong>BEBERAPA</strong> waktu lalu ramai di media massa, berita tentang seorang guru yang dilaporkan polisi, karena memberikan hukuman kepada siswanya. Atas kejadian itu simpati pun mengalir kepada guru tersebut, karena sesungguhnya guru sedang menjalankan tugas dan fungsinya, amanahnya untuk mendisiplinkan siswa, termasuk untuk memberikan efek baik ketika siswa melakukan pelanggaran.</p>
<p>Meskipun pada akhirnya guru tersebut dibebaskan, tetapi tetap saja menyisakan satu pertanyaan mendasar. Apakah <em>punishment</em> atau hukuman yang diberikan oleh guru, masih diperlukan di dalam pendidikan? Atau sebaliknya, apakah memberikan hukuman atau <em>punishment</em> efektif untuk mendidik siswa-siswi?</p>
<p>Tentu saja menjawab pertanyaan tersebut tidak sederhana kita membalikkan telapak tangan. Bagaimanapun, mendidik adalah ikhtiar yang kompleks dan melibatkan seluruh potensi manusia. Mendidik tidak saja mencerdaskan akal, tetapi juga menstabilkan emosi serta memperkuat spiritual atau rohaniah siswa. Mendidik juga membangun ikatan batin emosional yang kuat antara pendidik dengan siswa, karena bagaimanapun mendidik dengan penuh kasih sayang sangat dibutuhkan di dalam membangun karakter siswa.</p>
<p>Meskipun demikian, di dalam prosesnya siswa kadang melakukan kesalahan atau pelanggaran. Pada posisi ini, tentu saja seorang guru tidak akan membiarkan dan menjadikan siswanya terus-menerus melakukan pelanggaran atau kesalahan yang sama, atau bahkan melakukan kesalahan yang berbeda.</p>
<p>Oleh karena itu, di dalam pendidikan dikenal dengan <em>reward and punishment</em> (hukuman dan ganjaran). Pemberian<em> reward</em> atau ganjaran atau penghargaan, diberikan kepada siswa yang memiliki prestasi atau siswa yang telah berhasil menyelesaikan suatu tugas, yang memungkinkan dia mendapatkan penghargaan tersebut.</p>
<p>Sebaliknya, <em>punishment</em> atau hukuman diberikan kepada siswa yang melakukan kesalahan dan pelanggaran, atau hal lain yang melanggar tata tertib sekolah atau tata krama yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat. Sewajarnya, <em>reward and punishment</em> ini akan berjalan beriringan, jika memang dikehendaki kedisiplinan karakter siswa terbentuk dengan baik.</p>
<p>Meskipun demikian muncul satu pertanyaan, bagaimana punishment diberikan oleh guru sehingga tidak menyisakan luka batin atau luka fisik, yang justru akan menjadikan siswa memiliki trauma atas hukuman yang diberikan tersebut.</p>
<p>Agar hukuman yang diberikan oleh guru tidak menyisakan luka batin maupun luka fisik dan menimbulkan trauma yang panjang, tentu harus dilakukan pendekatan-pendekatan humanistik atau kemanusiaan, di dalam menjalankan proses pendidikan, terutama dalam memberikan hukuman.</p>
<p>Hukuman yang ramah atau bisa juga diistilahkan <em>humanity punishment</em>, akan memberikan dampak positif, ketika hukuman itu diberikan dengan pendekatan-pendekatan kasih sayang, yang justru akan menyadarkan siswa. Model hukuman yang mendidik melalui pendekatan kemanusiaan ini diperlukan, karena bagaimanapun siswa akan berkembang sesuai dengan psikisnya, termasuk siswa akan menyadari kesalahannya, jika diingatkan dengan cara-cara yang baik, serta dihukum dengan cara yang baik pula.</p>
<p><strong>Humanity Punishment</strong><br />
<em>Punishment</em> atau hukuman, adalah sebagai lawan dari <em>reward</em>. Setiap orang tahu dari pengalaman sendiri, bahwa manusia cenderung untuk mengulangi tingkah laku yang dapat menghasilkan reward, dan menjauhi tingkah laku yang akan mendatangkan punishment (hukuman).</p>
<p>Dengan demikian <em>punishment</em> adalah proses yang memperlemah atau menekan perilaku. Sehingga sebuah perilaku yang diikuti dengan <em>punishment</em>, cenderung akan melemah dan tidak akan diulangi lagi oleh peserta didik.</p>
<p><em>Punishment</em> adalah metode pembelajaran interaktif, antara guru dan siswa yang menerapkan sistem pemberian hukuman bagi siswa yang tidak aktif atau tidak benar dalam menjawab soal latihan. Hukuman yang dipilih pun, tentunya yang bersifat mendidik. Misalnya, hukuman menghafal materi pelajaran tertentu, membaca surat-surat pendek dalam Alquran dan menghafalkannya, menghafal perkalian matematika, atau membuat karya tulis (mengarang) dengan tema yang ditentukan oleh guru.</p>
<p>Hukuman (<em>punishment</em>) ini diterapkan, sebagai cara untuk mengarahkan tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku secara umum. Dalam hal ini, hukuman diberikan ketika sebuah tingkah laku yang tidak diharapkan ditampilkan oleh orang yang bersangkutan, atau orang yang bersangkutan tidak memberikan respons atau tidak menampilkan sebuah tingkah laku yang diharapkan.</p>
<p><em>Punishment</em> yang ramah, sangat diperlukan di dalam proses pendidikan, karena menempatkan individu peserta didik, pada posisi yang tidak teraniaya. Pendekatan kasih sayang sangat diperlukan di dalam memberikan <em>punishment</em> kepada peserta didik.</p>
<p>Maka <em>humanity punishment</em> adalah pemberian hukuman yang mendasarkan pada keramahan yang tidak menimbulkan luka fisik maupun psikis, bagi individu yang melakukan tindakan yang dianggap melanggar dari norma atau ketentuan dan tata tertib yang berlaku. Dan agar tidak mengulanginya kembali di waktu mendatang.</p>
<p>Dalam konteks pendidikan, maka <em>humanity punishment</em> merupakan salah satu alat untuk mengingatkan siswa tentang kekeliruan yang dilakukan, dan memotivasinya dengan membimbing, mengarahkan, dan menanamkan nilai moral dalam kehidupan siswa.</p>
<p>Pelatihan model <em>humanity punishment</em> ini diberikan kepada para guru SD Islam Sultan Agung 01 Semarang, dalam rangka melakukan pengabdian masyarakat belum lama berselang. Para guru yang merupakan orang tua bagi murid-muridnya di sekolah, menempati peran sentral dalam membentuk karakter anak didik.</p>
<p>Para guru menjadi <em>role model</em> dalam proses pendidikan dan pembiasaan sehari-hari. Termasuk dalam hal memberikan <em>reward and punishment</em>, sehingga diharapkan akan tumbuh rasa percaya diri, kepeduliaan, tanggung jawab, empati dan simpati dalam proses edukasi berbasis nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p>&#8212; <strong>Dr H Nuridin SAg MPd</strong> (<em>Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unissula</em>) &amp; <strong>Dr Hj Ira Alia Maerani SH MH</strong> (<em>Dosen Fakultas Hukum Unissula</em>) &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/18/menggagas-humanity-punishment">Menggagas Humanity Punishment</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Murid Pelaku Pembacokan Guru di Kebonagung Demak Ditangkap</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/09/26/murid-pelaku-pembacokan-guru-di-kebonagung-demak-ditangkap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2023 09:27:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[back]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[MA Yasua]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=370212</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEMAK (SUARABARU.ID) &#8211; Kurang dari 24 Jam, Unit Resmob Satreskrim Polres Demak berhasil mengamankan seorang siswa berinisial MAR (17), pelaku pembacokan gurunya sendiri Ali Fatkur Rohman (41), di dalam kelas pada Senin kemarin (25/9/2023). Peristiwa menghebohkan tersebut terjadi di sebuah Madrasah Aliyah, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak kisaran pukul 09.30 WIB, saat guru tersebut masih mengajar [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/09/26/murid-pelaku-pembacokan-guru-di-kebonagung-demak-ditangkap">Murid Pelaku Pembacokan Guru di Kebonagung Demak Ditangkap</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEMAK (SUARABARU.ID)</strong> &#8211; Kurang dari 24 Jam, Unit Resmob Satreskrim Polres Demak berhasil mengamankan seorang siswa berinisial MAR (17), pelaku pembacokan gurunya sendiri Ali Fatkur Rohman (41), di dalam kelas pada Senin kemarin (25/9/2023).</p>
<p>Peristiwa menghebohkan tersebut terjadi di sebuah Madrasah Aliyah, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak kisaran pukul 09.30 WIB, saat guru tersebut masih mengajar di dalam kelas.</p>
<p>MAR, siswa kelas IX di sekolah itu, tiba-tiba masuk kelas dan langsung membacok korban, yang mengarah ke bagian leher dan lengan kiri menggunakan sabit.</p>
<p>&#8220;Setelah melakukan penganiayaan, pelaku membuang barang bukti dan melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor,&#8221; kata Kapolres Demak AKBP Muhammad Purbaya, melalui Kasat Reskrim AKP Winardi saat konferensi pers di Mapolres Demak, Selasa (26/9/2023).</p>
<figure id="attachment_370221" aria-describedby="caption-attachment-370221" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="wp-image-370221 size-full" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/IMG_20230926_155723.jpg" alt="" width="681" height="424" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/IMG_20230926_155723.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/IMG_20230926_155723-400x249.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/IMG_20230926_155723-150x93.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-370221" class="wp-caption-text">Kasat Reskrim AKP Winardi, mewakili Kapolres Demak AKBP Muhammad Purbaya, didampingi Kapolsek Kebonagung AKP Suwondo, memberikan keterangan saat konferensi pers di Mapolres Demak, Selasa (26/9/2023). Foto : Dok Humas Polres Demak</figcaption></figure>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/09/25/seorang-guru-dibacok-muridnya-di-grobogan-saat-awasi-ujian-tengah-semester">Seorang Guru Dibacok Muridnya di Demak Saat Awasi Ujian Tengah Semester</a></strong></span></p>
<p>Motif dari tindakan pelaku, lanjutnya, didasari oleh ketidakpuasan terhadap kebijakan korban yang melarang pelaku mengikuti ujian tengah semester (UTS), lantaran belum menyelesaikan tugas persyaratan kenaikan kelas, dengan batas akhir pada Sabtu 23 September 2023.</p>
<p>&#8220;Pelaku melakukan tindakan penganiayaan setelah sakit hati atas keputusan korban yang melarangnya mengikuti UTS,&#8221; ungkap AKP Winardi.</p>
<p>Dikatakan pula oleh AKP Winardi, setelah kejadian tersebut, polisi melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap pelaku di sebuah rumah kosong, yang berada di Desa Rowosari, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.</p>
<p>Polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 1 buah sabit dengan panjang 40 cm, baju seragam sekolah serta sebuah sepeda motor Honda Supra X milik pelaku.</p>
<p>&#8220;Kurang dari 24 jam, aparat gabungan dari unit Resmob dan Polsek Kebonagung, Polres Demak berhasil menangkap pelaku,&#8221; terangnya.</p>
<p>Atas kejadian tersebut, pelaku di jerat Pasal 355 ayat 1 Subsidair Pasal 354 ayat 1 lebih Subsidair Pasal 353 ayat 2 KUHPidana, dipenjara selama &#8211; lamanya 12 tahun.</p>
<p>&#8220;Pelaku masih di bawah umur, sehingga dalam proses penyidikan kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Sedang korban, imbuh Winardi, saat ini korban masih mendapat perawatan serius di RS Kariadi Kota Semarang, akibat perbuatan muridnya itu.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, menurut informasi dari keluarga korban, perkembangan korban sangat baik, setelah di rujuk di RS Kariadi Semarang, korban saat ini sudah dapat diajak komunikasi,&#8221; pungkasnya.</p>
<p><strong>Absa</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/09/26/murid-pelaku-pembacokan-guru-di-kebonagung-demak-ditangkap">Murid Pelaku Pembacokan Guru di Kebonagung Demak Ditangkap</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Budaya Positif Sekolah Bentuk Karakter Peserta Didik</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/02/12/budaya-positif-sekolah-bentuk-karakter-peserta-didik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ning Suparningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2023 03:17:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Bentuk]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya positif]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Ki Hajar Dewantoro]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<category><![CDATA[peserta didik]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=314807</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Sri Wahyuningsih, S,Pd SEMARANG (SUARABARU.ID) &#8211; Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid, supaya mampu berkembang menjadi pribadi yang kritis, berkarakter baik, dan penuh tanggung jawab. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya. Karena mereka mendasarkan tindakannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/02/12/budaya-positif-sekolah-bentuk-karakter-peserta-didik">Budaya Positif Sekolah Bentuk Karakter Peserta Didik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Sri Wahyuningsih, S,Pd</p>
<p><strong>SEMARANG (SUARABARU.ID)</strong> &#8211; Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid, supaya mampu berkembang menjadi pribadi yang kritis, berkarakter baik, dan penuh tanggung jawab.</p>
<p>Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya. Karena mereka mendasarkan tindakannya pada nilai-nilai kebijakan universal.</p>
<p>Dalam hal ini, Ki Hajar Dewantoro menyatakan, “&#8230;pertanggunggjawaban itulah selalu menjadi sisihannya hak atau kewajiban dari seseorang yang pegang kekuasaan atau pimpinan dalam umumnya.</p>
<p>Artinya tidak lain adalah orang tadi harus mempertanggungjawabkan dirinya, serta tertibnya laku diri dari segala hak dan kewajibannya. (Ki Hajar Dewantoro, pemikiran konsepsi, keteladanan, sikap merdeka, cekatan kelima, 2013, halaman 469).</p>
<p>Jadi, budaya positif merupakan salah satu cara penerapan disiplin yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dalam melakukan budaya positif tanpa hadiah, ancaman maupun hukuman. Budaya positif membuat anak memahami dan mengerti dalam melakukan perbaikan tanpa paksaan dari manapun.</p>
<p>Sedangkan Deal Peterson (1999) mendefinisikan, budaya sekolah merupakan tradisi dan kebiasaan keseharian yang dibangun dalam jangka waktu lama oleh guru, murid, orangtua dan staf administrasi yang bekerja sama dalam menghadapi berbagai macam krisis dan pencapaian.</p>
<p>Contoh budaya sekolah yang sudah diterapkan di sekolah adalah senyum, salam, sapa, sopan, santun, apel pagi, bahkan kegiatan ajang pencarian bakat melalui kegiatan apresiasi siswa.</p>
<p>Tentunya dalam menerapkan budaya positif sekolah harus memperhatikan kodrat anak, terutama kodrat alam dan kodrat zaman yang harus berpihak kepada peserta didik. Budaya berdoa sebelum dan sesudah selesai pelajaran, bahkan ada sekolah yang sudah menerapkan sholat dzuhur berjamaah dan pembiasaan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.</p>
<p>Kegiatan pembiasaan tersebut merupakan salah satu bentuk penerapan profil pelajar pancasila dimensi beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Kegiatan ini harus secara “Continue” dilaksanakan disekolah.</p>
<p>Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan penting. Guru harus dapat memahami budaya positif yang dilakukan peserta didik, baik di kelas maupun di sekolah. Selain itu pemahaman akan budaya positif juga diperlukan, karena guru sebagai pamong yang diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang berkarakter.</p>
<p>Menurut Perpres No 87 tahun 2017 mengeluarkan peraturan tentang penguatan pendidikan karakter. Peraturan ini dibuat dengan pertimbangan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya dan menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai-nilai luhur, kearifan lokal dan budi pekerti.</p>
<p>Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa karakter adalah nilai yang sudah tertanam dan melekat pada diri peserta didik dan merupakan identitas. Oleh karena itu karakter tidak bisa terbentuk secara tiba-tiba dan membutuhkan proses yang lama.</p>
<p>Adapun cara menumbuhkan budaya positif disekolah antara lain:</p>
<p>1. Membuat kesepakatan kelas dan melaksanakan dengan penuh tanggungjawab</p>
<p>2. Membangun komunikasi dengan orangtua peserta didik, untuk mendapatkan informasi tentang penerapan budaya positif di rumah</p>
<p>3. Membangun kerja sama kepada rekan sejawat dan orangtua dalam bentuk kontrol, sebagai konsistensi budaya positif yang telah dilakukan peserta didik</p>
<p>4. Melibatkan peserta didik dalam setiap kegiatan sekolah, yang bertujuan untuk mengembangkan budaya positif, seperti apel pagi, senam sehat, sholat berjamaah, apresiasi siswa dan kegiatan lainnya</p>
<p>Mari kita ciptakan budaya positif di lingkungan sekolah, agar terbentuk dan tertanam nilai-nilai karakter profil pelajar pancasila, sebagaimana yang diharapkan oleh semua pihak.</p>
<p>Penulis: Sri Wahyuningsih, S,Pd<br />
Guru SDN Sendangmulyo 02<br />
Korsatpen Tembalang Kota Semarang</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/02/12/budaya-positif-sekolah-bentuk-karakter-peserta-didik">Budaya Positif Sekolah Bentuk Karakter Peserta Didik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>