<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kopi muria Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/kopi-muria/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jun 2025 12:28:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>kopi muria Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bupati Kudus Usulkan Rebranding “Kopi Muria” Jadi “Kopi Kudus” agar Lebih Mendunia</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/06/13/berita-kopi-rebranding-kopi-muria-menjadi-kopi-kudus</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2025 12:26:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[bupati kudus]]></category>
		<category><![CDATA[festival ekonomi kreatif kudus]]></category>
		<category><![CDATA[festival ekraf kudus]]></category>
		<category><![CDATA[industri kopi lokal]]></category>
		<category><![CDATA[kopi arabika kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kopi daerah unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[kopi gunung muria]]></category>
		<category><![CDATA[kopi indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kopi khas kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kopi kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kopi lereng muria]]></category>
		<category><![CDATA[kopi muria]]></category>
		<category><![CDATA[kopi nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[kopi robusta kudus]]></category>
		<category><![CDATA[petani kopi kudus]]></category>
		<category><![CDATA[rebranding kopi muria]]></category>
		<category><![CDATA[samani intakoris]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kopi muria]]></category>
		<category><![CDATA[sidji coffee]]></category>
		<category><![CDATA[valerie yudistira pramudya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=479008</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Dalam upaya memperkuat identitas daerah sekaligus mengangkat potensi lokal ke panggung global, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengusulkan agar brand Kopi Muria diubah menjadi Kopi Kudus. Usulan ini ia sampaikan saat mengunjungi stand kopi Muria dalam acara Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus di Balai Jagong Wergu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/13/berita-kopi-rebranding-kopi-muria-menjadi-kopi-kudus">Bupati Kudus Usulkan Rebranding “Kopi Muria” Jadi “Kopi Kudus” agar Lebih Mendunia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID)</strong> – Dalam upaya memperkuat identitas daerah sekaligus mengangkat potensi lokal ke panggung global, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengusulkan agar brand Kopi Muria diubah menjadi Kopi Kudus. Usulan ini ia sampaikan saat mengunjungi stand kopi Muria dalam acara Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus di Balai Jagong Wergu Wetan, Jumat (13/6/2025) petang.</p>
<p>Menurut Bupati, nama “Muria” tidak eksklusif milik Kudus karena juga mencakup wilayah Kabupaten Pati dan Jepara. Oleh karena itu, ia menilai bahwa nama “Kopi Kudus” akan memberikan identitas yang lebih spesifik dan kuat, sekaligus memperkuat posisi Kudus sebagai daerah penghasil kopi unggulan.</p>
<p>“Kalau saya kepenginnya jangan Kopi Muria, tapi Kopi Kudus,” ujar Bupati Sam’ani seusai mencicipi kopi di stand pameran. “Karena Muria itu juga milik Pati dan Jepara,” tambahnya.</p>
<h5><strong>Dukungan dari DPRD dan Pelaku Industri Kreatif</strong></h5>
<p>Usulan rebranding ini mendapat sambutan positif dari Ketua Ekonomi Kreatif (KEK) sekaligus anggota Komisi A DPRD Kabupaten Kudus, Valerie Yudistira Pramudya. Valerie yang juga dikenal sebagai pemilik Sidji Coffee, salah satu coffee shop terkemuka di Kudus, menyatakan dukungannya secara penuh.</p>
<p>“Saya sangat mendukung usulan dari Pak Bupati. Ini langkah strategis agar kopi dari Kudus punya identitas yang lebih kuat di pasar nasional maupun internasional,” ujar Valerie.</p>
<p>Ia menambahkan bahwa langkah rebranding ini akan dikawal dengan melibatkan para petani dan pengusaha kopi lokal yang selama ini telah membesarkan nama kopi Muria.</p>
<h5><strong>Warisan Kopi dari Lereng Gunung Muria</strong></h5>
<p>Kopi Muria sendiri merupakan warisan sejarah dari masa kolonial Belanda, yang mulai dikembangkan sejak tahun 1825 di lereng Gunung Muria, khususnya di Desa Colo, Lau, dan Japan di Kecamatan Dawe, Kudus.</p>
<p>Produksi kopi ini bermula dari kebijakan tanam paksa yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johannes Graaf Van Den Bosch, dan sejak itu berkembang menjadi komoditas unggulan dengan cita rasa khas dan kualitas premium.</p>
<p>Sebagian besar lahan kopi di Kudus ditanami jenis robusta, meskipun terdapat pula jenis arabika. Kekayaan rasa kopi ini merupakan hasil dari tanah subur dan kondisi geografis Gunung Muria yang ideal untuk budidaya kopi berkualitas tinggi.</p>
<h5><strong>Luas Areal dan Produksi Kopi Kudus</strong></h5>
<p>Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, luas lahan kopi di Kabupaten Kudus mencapai sekitar 778 hektar, dengan jenis kopi robusta mendominasi sekitar 561,85 hektar, dan arabika sekitar 7,35 hektar.</p>
<p>Dua kecamatan yang menjadi pusat produksi kopi adalah Gebog dan Dawe. Di Kecamatan Dawe sendiri, luas lahan kopi mencapai 640,15 hektar. Beberapa desa penghasil kopi lainnya antara lain Desa Japan: 75 hektar,  Desa Kajar 19 hektar Desa Kuwukan 15 hektar, Dukuh Waringin hektar</p>
<p>Seiring perkembangan industri kopi lokal, Kopi Muria yang dulunya hanya dijual dalam bentuk green bean ke tengkulak, kini telah mengalami transformasi besar. Produk kopi kini diolah secara modern, dikemas secara menarik, dan dijual dengan nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi, baik di pasar lokal maupun nasional.</p>
<h5><strong>Apakah “Kopi Kudus” Akan Menjadi Nama Baru?</strong></h5>
<p>Proses rebranding tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan konsensus dari para pemangku kepentingan mulai dari petani, pelaku industri kreatif, pemerintah daerah, hingga konsumen. Namun demikian, wacana ini membuka peluang besar bagi Kudus untuk mempertegas identitasnya di peta kopi nasional dan global.</p>
<p>Dengan potensi sejarah, kualitas cita rasa, serta dukungan pemerintah dan komunitas, rebranding menjadi Kopi Kudus bisa menjadi langkah strategis untuk membawa kopi lokal naik kelas.</p>
<p><strong>Ali Bustomi</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/13/berita-kopi-rebranding-kopi-muria-menjadi-kopi-kudus">Bupati Kudus Usulkan Rebranding “Kopi Muria” Jadi “Kopi Kudus” agar Lebih Mendunia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wiwit Kopi, Petani Kudus Belum Nikmati Sedapnya Harga Kopi Muria</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/06/24/wiwit-kopi-petani-kudus-belum-nikmati-sedapnya-harga-kopi-muria</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2022 02:08:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kopi muria]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Wiwit kopi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=260479</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Petani kopi di lereng Pegunungan Muria menggelar acara wiwit kopi sebagai penanda mulainya panen raya, Kamis (23/6) sore. Hanya sayangnya, saat ini petani masih belum bisa menikmati sedapnya harga jual kopi sebagaimana sedapnya aroma kopi Muria. Tradisi wiwit kopi di kawasan lereng Pegunungan Muria tahun ini digelar secara sederhana. Puluhan petani yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/06/24/wiwit-kopi-petani-kudus-belum-nikmati-sedapnya-harga-kopi-muria">Wiwit Kopi, Petani Kudus Belum Nikmati Sedapnya Harga Kopi Muria</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID)</strong> – Petani kopi di lereng Pegunungan Muria menggelar acara wiwit kopi sebagai penanda mulainya panen raya, Kamis (23/6) sore. Hanya sayangnya, saat ini petani masih belum bisa menikmati sedapnya harga jual kopi sebagaimana sedapnya aroma kopi Muria.</p>
<p>Tradisi wiwit kopi di kawasan lereng Pegunungan Muria tahun ini digelar secara sederhana. Puluhan petani yang tergabung dalam kelompok tani Kopi Desa Colo, hanya menggelar selamatan di sekitaran kebun kopi yang lokasinya berada di atas pegunungan Muria.</p>
<p>“Tradisi ini digelar sebelum panen raya, jadi masing-masing petani dengan keluarganya membawa ambengan (bekal) dari rumah. Kemudian kami berdoa bersama dan makan bersama di tengah perkebunan,” kata Ketua Kelompok Tani kopi Desa Colo, Purbo Wiyanto</p>
<p>Walau terkesan sederhana, tradisi yang terus digelar setiap tahun itu menyimpan makna yang mendalam bagi para petani di sana.</p>
<p>Usai memanjatkan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, mereka lalu menyantap semacam bekal pakem yang berisi nasi, ayam, telur, tahu, tempe, dan kuluban yang mereka bawa dari rumah secara beramai-ramai.</p>
<p>&#8220;Meski sederhana, namun selametan ini sebagai wujud rasa syukur petani kopi atas panen yang ada tahun ini,&#8221;paparnya</p>
<h4><strong>Sedapnya harga kopi</strong></h4>
<p>Sementara, menghadapi panen raya ini, petani belum bisa merasakan harga yang memuaskan. Harga tahun ini cenderung belum beranjak di angka Rp 25 ribu per kilogram untuk green bean.</p>
<p>Padahal, harga kopi Muria pernah mengalami kejayaan saat menembus angka Rp 40 ribu per kilogram.</p>
<p>“Menjelang panen raya ini juga harganya masih di kisaran ini, di tahun kemarin sempat ada permintaan kenaikan namun tahun ini stabil kembali,” ucap Purbo.</p>
<p>Bahkan, sebagian petani kopi Muria masih menjual hasil panennya dalam bentuk brongkol kopi yang dijual ke pengepul dengan harga yang jauh lebih rendah yakni Rp 500 ribu per kuintal alias Rp 5 ribu per kilogram.</p>
<p>Sebagian brongkol kopi sendiri, dibeli oleh pengepul dari Kabupaten Wonosobo maupun Temanggung dan sebagiannya lagi dijual di koperasi kopi milik para petani kopi di Desa tersebut.</p>
<p>“Saat ini kan mereka menjualnya terserah ya mau dijual ke mana, ya memang rata-rata ke daerah Wonosobo dan Temanggung,” ucapnya.</p>
<p><strong>Ali Bustomi</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/06/24/wiwit-kopi-petani-kudus-belum-nikmati-sedapnya-harga-kopi-muria">Wiwit Kopi, Petani Kudus Belum Nikmati Sedapnya Harga Kopi Muria</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Festival Kopi Muria, Meracik Cita Rasa di Sejuknya Alam Pegunungan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/10/16/festival-kopi-muria-meracik-cita-rasa-di-sejuknya-alam-pegunungan</link>
					<comments>https://suarabaru.id/2021/10/16/festival-kopi-muria-meracik-cita-rasa-di-sejuknya-alam-pegunungan#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2021 07:30:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kopi muria]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=204709</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Dinas Kebudayaan dan Kebudayaan Kabupaten Kudus menggelar Festival Kopi Muria yang digelar di Pijar Park, Desa Kajar, Kecamatan Dawe selama dua hari Sabtu-Minggu (16-17/10). Festival ini bertujuan untuk terus mempromosikan kopi Muria sebagai salah satu produk andalan Kabupaten Kudus. Selama dua hari, puluhan barista lokal hingga luar daerah akan bersaing meracik dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/10/16/festival-kopi-muria-meracik-cita-rasa-di-sejuknya-alam-pegunungan">Festival Kopi Muria, Meracik Cita Rasa di Sejuknya Alam Pegunungan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID)</strong> – Dinas Kebudayaan dan Kebudayaan Kabupaten Kudus menggelar Festival Kopi Muria yang digelar di Pijar Park, Desa Kajar, Kecamatan Dawe selama dua hari Sabtu-Minggu (16-17/10).</p>
<p>Festival ini bertujuan untuk terus mempromosikan kopi Muria sebagai salah satu produk andalan Kabupaten Kudus.</p>
<p>Selama dua hari, puluhan barista lokal hingga luar daerah akan bersaing meracik dan menyeduh kopi di sejuknya rerimbunan pohon pinus yang ada di wana wisata Pijar Park. Mereka akan berlomba dalam ajang kompetisi barista seperti cupi tasters, latte art, hingga manual brewing dengan bahan dasar kopi Muria.</p>
<p>Masyarakat umum pun bisa menyaksikan aksi para barista ini meracik dan menyajikan kopi. Melalui ajang ini, masyarakat bisa mendapatkan edukasi tentang kopi yang tak hanya sekedar minuman tapi juga merupakan potensi ekonomi kreatif</p>
<p>Bupati Kudus Hartopo yang hadir dalam pembukaan Festival Kopi Muria ini menyampaikan, potensi kopi Muria telah terkenal sejak zaman kolonial Belanda. Namun, pengembangan dan inovasi harus terus dilakukan agar potensi ini bisa menjadi daya tarik unggulan bagi pariwisata di Kabupaten Kudus.</p>
<p>”Bisa dibilang ini salah satu inovasi jangka panjang. Dengan festival ini bisa ajang studi banding para barista lokal dengan barista luar daerah. Sehingga bisa terus berinovasi dengan mengangkat potensi kopi lokal,” katanya.</p>
<p>Hartopo menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Kudus akan terus berkomitmen mendukung pengembangan kopi Muria ini mulai dari sektor hulu hingga hilir. Pendampingan petani kopi hingga promosi kopi Muria ke luar daerah akan terus dilakukan agar produk andalan Kudus ini memiliki nilai tawar yang lebih tinggi.</p>
<p>&#8220;Upaya ini otomatis akan mengangkat Kudus sebagai penghasil kopi Muria menjadi kawasan agrowisata, sehingga dapat tercapai eco tourism,&#8221; katanya.</p>
<figure id="attachment_204711" aria-describedby="caption-attachment-204711" style="width: 681px" class="wp-caption aligncenter"><img class="size-full wp-image-204711" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-16-at-14.25.34.jpeg" alt="" width="681" height="383" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-16-at-14.25.34.jpeg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-16-at-14.25.34-400x225.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-16-at-14.25.34-150x84.jpeg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-204711" class="wp-caption-text">Bupati Kudus Hartopo memukul kentongan untuk menandai dibukanya Festival Kopi Muria. foto:Suarabaru.id</figcaption></figure>
<p>Sementara, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus mengatakan setiap kopi memiliki keunikan dalam pengelolaan serta penyajiannya. Melalui festival ini diharapkan akan menggeliatkan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang potensi kopi Muria. Apalagi, para petani kopi saat ini semakin semangat untuk menghasilkan biji kopi dengan kualitas terbaik.</p>
<p>“Ini untuk meningkatkan promosi kopi yang ada di lereng Muria. Selain itu, juga untuk pemulihan ekonomi nasional dengan mengangkat potensi kearifan lokal yang ada,” ungkapnya.</p>
<p>Sejarah kopi dari Muria memang sangat panjang, diawali tahun 1825 ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes Graaf Van Den Bosch menerapkan peraturan tanam paksa di seluruh Jawa. Saat itulah, kopi mulai ditanam di lahan yang berada di lereng pegunungan Muria utamanya di wilayah Desa Colo dan Japan, Kecamatan Dawe yang memiliki ketinggian mulai dari 800 mdpl.</p>
<figure id="attachment_204711" aria-describedby="caption-attachment-204711" style="width: 400px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-204711" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-16-at-14.25.34-400x225.jpeg" alt="" width="400" height="225" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-16-at-14.25.34-400x225.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-16-at-14.25.34-150x84.jpeg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-16-at-14.25.34.jpeg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><figcaption id="caption-attachment-204711" class="wp-caption-text">Bupati Kudus Hartopo memukul kentongan untuk menandai dibukanya Festival Kopi Muria. foto:Suarabaru.id</figcaption></figure>
<p>Keberadaan kopi Muria terus menjadi penopang hidup masyarakat wilayah setempat. Rasa kopi Muria mantap, berbeda dari kopi daerah lain, menjadikan kopi Muria ditanam turun-temurun dan menjadi sebagai salah satu minuman favorit, termasuk sebagian yang dikirim ke Belanda.</p>
<p>Dengan sebagian besar berjenis Robusta, kopi Muria memiliki cita rasa khas yang berbeda dari daerah lain. Aroma kopi Muria wangi dan ada rasa rempah-rempah serta akar-akaran.</p>
<p>Hanya sayangnya, selama ini, kopi Muria masih diolah secara tradisional bahkan dijual dalam keadaan biji kopi basah kepada para tengkulak. Baru sekitar satu dekade ini, upaya pengembangan kopi Muria terus dilakukan terutama setelah munculnya pengusaha-pengusaha lokal yang mulai menjual kopi Muria olahan.</p>
<p><strong>Tm-Ab</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/10/16/festival-kopi-muria-meracik-cita-rasa-di-sejuknya-alam-pegunungan">Festival Kopi Muria, Meracik Cita Rasa di Sejuknya Alam Pegunungan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suarabaru.id/2021/10/16/festival-kopi-muria-meracik-cita-rasa-di-sejuknya-alam-pegunungan/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejak Mutiara Hitam dari Lereng Gunung Muria</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/02/07/jejak-mutiara-hitam-dari-lereng-gunung-muria</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2021 23:47:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak Mutiara Hitam dari Lereng Gunung Muria]]></category>
		<category><![CDATA[kopi muria]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=145860</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul Buku : Kopi Muria: Memotret Perjalanan Mutiara Hitam dari Pegunungan Muria Penyusun   : Afthonul Afif, Ade Achmad Ismail, Islakhul Muttaqin Tahun : 2020 Penerbit : Parist Tebal : x+164 ISBN : 978-602-0864-74-7 DIBUKA dengan kisah rasa penasaran seorang tokoh petani kopi bernama, Triyanto Sutardjo. Kebiasaannya setiap hari meminum kopi dan dari kopi pula keluarganya [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/02/07/jejak-mutiara-hitam-dari-lereng-gunung-muria">Jejak Mutiara Hitam dari Lereng Gunung Muria</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Judul Buku : Kopi Muria: Memotret Perjalanan Mutiara Hitam dari Pegunungan Muria</strong><br />
<strong>Penyusun   : Afthonul Afif, Ade Achmad Ismail, Islakhul Muttaqin</strong><br />
<strong>Tahun : 2020</strong><br />
<strong>Penerbit : Parist</strong><br />
<strong>Tebal : x+164</strong><br />
<strong>ISBN : 978-602-0864-74-7</strong></p>
<p><strong>DIBUKA</strong> dengan kisah rasa penasaran seorang tokoh petani kopi bernama, Triyanto Sutardjo.</p>
<p>Kebiasaannya setiap hari meminum kopi dan dari kopi pula keluarganya dapat mengangkat kehidupan ekonomi keluarga, namun ia tidak tahu menahu sejak kapan kopi Muria di tanam.</p>
<p>Hal inilah yang membuat motivasinya untuk napak tilas sejarah Kopi Muria dimulai.</p>
<p>Semangat dalam napak tilas kopi Muria tidak semudah membalikkan telapak tangan.</p>
<p>Sutardjo dan tim sadar kekurangan sumber ilmiah dari mana dan kapan kopi Muria ditanam.</p>
<p>Sumber awal yang ditemukan hanya dari cerita-cerita masyarakat sekitar saja (Oral history).</p>
<p>Secara historis, yang membawa kopi pertama kali ke Tanah Jawa adalah bangsa Eropa, khususnya Belanda.</p>
<p>Pada tahun 1696, bangsa Belada membawa kopi dari Malabar, India, ke Jawa, dan menanamnya di Kedawung, kawasan perkebunan yang terletak di dekat Batavia.</p>
<p>Namun upaya ini gagal karena tanaman Kopi banyak mengalami kerusakan karena gempa bumi dan banjir.</p>
<p>Upaya kedua dilakukan Belanda di tahun 1699 dengan mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar.</p>
<p>Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan di Jawa di kirim ke Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam.</p>
<p>Hasilnya menggembirakan, kopi dari Jawa memiliki kualitas yang sangat baik.</p>
<p>Berkat hasil ini, bibit kopi ini kemudian ditanam di seluruh perkebunan yang dikembangkan oleh Belanda di Nusantara, seperti di Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor, dan pulau-pulau lainnya.</p>
<p>Pegunungan Muria di saat itu masih merupakan kawasan yang terpisah dengan pulau Jawa.</p>
<p>Kok bisa? Menurut catatan De Graff dan Pigeaud dalam buku Kerajaan-kerajaan Islam Pertama di Jawa (1991) disebutkan bahwa terdapat selat yang memisahkan antara pulau Muria dan pulau Jawa yang waktu dipisahkan dengan sungai Lusi dan Tuntang yang bermuara di bagian utara Pulau Jawa.</p>
<p>Posisi sampai sekarang, terjadi penyatuan antara pulau Muria dengan pulau Jawa karena terjadinya proses sedimentasi pada sungai Lusi dan Tuntang yang cukup tinggi.</p>
<p>Dari hal ini, wajar saja jika Jepara sangat terkenal dengan bandar pelabuhan dan pusat perdagangan di masa itu.</p>
<p>Kopi Jawa pertama kali dijual di pelelangan umum Amsterdam di tahun 1720, dilakukan oleh VOC yang mengekspor kopi dari Jawa ke Eropa senilai 116.587 poundsterling.</p>
<p>Kopi yang pertama dijual adalah Arabika, atau orang-orang Eropa menyebutnya Java Preanger (karena pada masa itu perkebunan kopi banyak ditanam di daerah Priangan) dan menjadi perkebunan kopi terbesar di dunia setelah Arab dan Ethiopia. Kualitas dan rasa yang konsisten ini menjadikan kuantitas ekspornya mencapai 60 Ton/tahun pada 1720.</p>
<p>Namun, satu abad kemudian produksi kopi di Jawa mengalami penurunan produksi yang luar biasa.</p>
<p>Hal ini di tengarai mewabahnya filantropi atau beberapa penyakit dan parasit yang menyerang tanaman kopi Arabika. S. Oestreich-Janzen dalam Chemistry of Coffee, Reference Module in Chemistry, Molecular Sciences and Chemical Engginering (2013).</p>
<p>Bagi pembaca yang menyukai karya Fiksi, silahkan baca Novel “Babad Kopi Parahyangan” karya Evi Sri Rezeki, novel tersebut secara benang merah mengangkat Priangan sebagai salah satu sentral budidaya kopi di Nusantara pada zaman kolonial.</p>
<p>Anjloknya kopi Arabika karena terkena wabah. Pemerintah Belanda di tahun 1888-1903 mengimpor benih kopi Liberika yang awalnya dipandang lebih tahan dari serangan hama karat daun.</p>
<p>Benih kopi yang di datangkan langsung dari Liberia ini ditanam di perkebunan dataran rendah atau di lahan bekas Arabika yang terserang hama.</p>
<p>Hingga penghabisan tahun 1888 kopi Liberika ditanam di enam Karesidenan di Jawa, Pasuruan, Probolinggo, Semarang, Besuki, Priangan, Tegal dan sedikit wilayah di Lampung.</p>
<p>Berbeda dengan pendahulunya, kopi Liberika tidak menghasilkan produksi buah kopi, hal ini diperparah dengan banyaknya pohon Liberika yang terkena hama.</p>
<p>Demi mengatasi produksi kopi di tanah jajahannya, Belanda di tahun 1900 memperkenalkan jenis kopi baru untuk mengganti kedua kopi seniornya tadi.</p>
<p>Kopi yang pertama kali dibudidayakan di Belgia di tahun 1898 bernama Robusta ini terbukti lebih kuat terhadap penyakit dan memiliki persyaratan ekologis minimal dalam hal ketinggian dan suhu.</p>
<p>Hasil riset ini juga mencerahkan saya, salah satunya adalah istilah Kopi Jawa adalah sebutan dari Kopi Arabika yang di adaptasi dari istilah &#8221;A Cup of Java&#8221;.</p>
<p>Sementara untuk Liberika, masyarakat pada umumnya menyebutnya sebagai “Kopi Nongko” disebut demikian karena selain bentuk pohonnya mirip pohon nangka, terutama daunnya yang menghasilkan ciri khas tersendiri.</p>
<p><strong>Sosok Ratu Wilhelmina bagi Penduduk Colo</strong></p>
<p>Beberapa sumber mengatakan jika sosok Ratu Belanda yang menampuk kekuasaan sekak usia belia ini terbilang perempuan yang mengedepankan pola kepimpinan kapitalis sebagai panglima.</p>
<p>Namun kisah itu berbeda bagi warga lereng Gunung Muria, terutama desa Colo.</p>
<p>Hal tersebut menurut penuturan Mbah Yoto yang dianggap sebagai orang paling paham tentang asal muasal kopi.</p>
<p>Jasa Ratu Wilhelmina dikenang di Hindia Belanda karena menerapkan sistim Politik Etis.</p>
<p>Hal ini dipicu karena saat itu kebijakan ekonomi Belanda mengacu pada sistim kapitalisme barat melalui komersialisasi, moneter, dan komoditas barang.</p>
<p>Sistim ini kemudian didukung dengan kebijakan pajak tanah, sistem perkebunan, perbankan, perindustrian, perdagangan dan pelayaran.</p>
<p>Sistem ini yang kemudian membuat rakyat Hindia Belanda mengalami kemerosotan tajam dalam kesejahteraan.</p>
<p>Kebijakan politik etis mencuat saat politisi dan intelektual Belanda, C. Th. Van Deventer membuat tulisan yang berjudul &#8221;Een Eereschlud&#8221; (Hutang Kehormatan), yang dimuat di majalah De Gids (1898).</p>
<p>Dalam tulisannya, Van Deventer mengatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda telah mengeksploitasi wilayah jajahannya untuk membangun negeri mereka dan memperoleh keuntungan yang besar.</p>
<p>Hal ini yang kemudian sudah sewajarnya pihak kerajaan untuk membayar hutang budi ke rakyat yang mereka jajah.</p>
<p>Di sisi lain, kekuatan tulisan seseorang sangat berdampak luar biasa.</p>
<p>Kita mengenal Multatuli dengan novelnya, Max Havelar. Jauh ke depan kita mengenal sosok Soekarno, esai-esainya yang provokatif membuat rakyat Hindia Belanda pada waktu itu tergerak melalukan perlawanan.</p>
<p>Namun, berkat esai-esainya tersebut membuat dirinya mendapatkan pula tiket ke hotel prodeo yang dingin dan sepi itu.</p>
<p>Desakan dari dalam dan luar negeri yang terjadi di masa kepemimpinan Wilhelmina membuat awal abad 20 Hindia Belanda menyambut wajah baru.</p>
<p>Lewat Alexander W.F Idenburg yang ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1909-1916) menerapkan tiga program pokok politik etis: Irigasi, Edukasi dan Transmigrasi. Hindia Belanda mulai bergerak dari wajah lamanya, pembangunan infrastruktur mulai diperhatikan dengan adanya jalur kereta api Jawa-Madura.</p>
<p>Di Colo sendiri, dampak dari kebijakan tersebut tampak dengan pembangunan jalan di kawasan hutan. Hal ini senada dengan hasil produksi kopi Colo karena mudahnya akses menuju kota.</p>
<p>Demi menghormati jasa Sang Ratu, setiap tanggal 31 Agustus yang bertepatan dengan ulang tahunnya masyarakat Colo mengadakan Slametan untuk mendoakan keselamatan dan kesehatan Sang Ratu.</p>
<p><strong>Hutan adalah Amanah, Menjaganya adalah Ibadah</strong></p>
<p>Gunung Muria terbentang dari Jepara hingga Pati. Di dalamnya terdapat desa-desa hutan.</p>
<p>Banyak pohon yang ditanam salah satunya Kopi dan Palawija. Di Desa Colo sendiri sudah terdapat semboyan adat &#8221;Hutan adalah amanah, menjaganya adalah ibadah&#8221;.</p>
<p>Kearifan lokal ini masih terjaga sampai sekarang. Masyarakat boleh menanam namun tidak diperkenankan melebihi pagar hutan, ini sudah syarat mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat.</p>
<p>Pagar gunung di kawasan Muria sebagian besar ditumbuhi pohon Mranak, jenis pohon yang sekarang ini termasuk tanaman dilindungi karena jumlahnya yang merosot seiring pembalakan liar yang terjadi di masa awal Reformasi 1998.</p>
<p>Demi menjaga kelestarian, tanaman kopi hanya boleh ditanam di luar pagar gunung tersebut.</p>
<p>Pada tahun 1910 pemerintah kolonial menghapuskan program tanam paksa dan menetapkan kawasan lereng Muria sebagai kawasan hutan.</p>
<p>Sepuluh tahun berselang, para petani yang sebelumnya memiliki lahan milik pemerintah diberikan wewenang untuk mengelola asal mau untuk merawatnya tanpa harus membagi hasil panen mereka ke Pemerintah kolonial.</p>
<p>Peralihan lahan ini terbilang mulus tanpa gangguan karena masyarakat Colo tidak pernah bersitegang dengan Pemerintah Kolonial.</p>
<p>Bahkan, mereka banyak menerima manfaat dari sisi ekonomi dan budidaya berkat edukasi yang Pemerintah Kolonial lakukan ke masyarakat selama program tanam paksa berlangsung.</p>
<p>Memasuki periode pendudukan Jepang, tanaman kopi sudah tidak menjadi perhatian utama. Fokus utamanya adalah ketersediaan bahan pangan untuk bala tentara.</p>
<p>Masyarakat dipaksa beralih ke tanaman pangan seperti jagung dan padi.</p>
<p>Masyarakat Colo dikerahkan untuk membuka akses jalan ke hutan dan membuat gua-gua persembunyian.</p>
<p>Hal ini membuat banyak pohon kopi yang menjadi korban pembukaan lahan dan banyak lahan kopi telantar karena masyarakat Colo dipaksa untuk menanam jagung dan palawija yang dilakukan oleh Sangyobu (Departemen Ekonomi) dan Zoosen Kyo Ku (Departemen Perkapalan).</p>
<p>Selepas Indonesia merdeka, terjadi proses pengambil alihan secara besar-besaran hutan-hutan di Jawa dan Madura oleh negara.</p>
<p>Berdasarkan PP No. 26 Tahun 1952 Jawatan kehutanan diberikan wewenang untuk menguasai dan mengelola tanah-tanah negara yang ditetapkan sebagai kawasan hutan.</p>
<p>Kebijakan ini juga dilertegas dengan diterbitkannya PP No. 8 Tahun 1953 tentang Penguasaan Tanah-tanah Negara.</p>
<p>Meski periode ini negara secara legal telah menerbitkan sejumlah peraturan yang menetapkan kawasan hutan di Indonesia selain hutan adat dikuasai oleh negara.</p>
<p>Dalam praktiknya tidak sedikit usaha-usaha pemanfaatan hutan masih dilakukan oleh Masyarakat, tidak terkecuali Masyarakat Colo.</p>
<p>Mungkin ini yang menjadi faktor utama kawasan Colo masih banyak ditemukan pohon Kopi.</p>
<p><strong>Perjalanan sebuah Kopi, Perjalanan tentang Budaya</strong></p>
<p>Banyak orang mengenal Kudus sebagai Kota Kretek, mengingat adanya Pabrik Rokok Djarum yang usianya hampir menyamai negeri ini.</p>
<p>Lebih tua lagi, orang akan mengidentikkan Kota Kudus dengan salah satu Wali dari Wali Songo, yakni Sunan Muria, yang makamnya berada di gunung Muria.</p>
<p>Lewat buku ini, pembaca di ajak mengenal lebih jauh bahwa Kota Kudus bukan hanya kretek, makam wali, jenang dan kota santri. Ada sisi budaya yang ingin para peneliti ungkapkan pada buku ini.</p>
<p>Dari perjalanan penjajahan Belanda, politik etis cetusan Ratu Wilhelmina, konflik lahan dengan BTI dan Perhutani tentang pengelolaan kawasan hutan menjadikan banyak sejarah yang tak terungkap.</p>
<p>Kopi Muria mengalami fase tua, namanya mungkin tak setenar Kopi Mandailing, Kopi Gayo, Kopi Bajawa dll.</p>
<p>Namun, bagi peneliti sangat penting menyampaikan hal ini. Jika memiliki kesempatan, saya ingin berkunjung ke warung kopi &#8221;Ruangopi Tastyco&#8221;, usaha warung kopi pioner di lereng Muria dalam hal produksi dan pemasarannya yang modern.</p>
<p><strong>Kearifan Lokal itu Bernama: Wiwit Kopi</strong></p>
<p>Jika teman-teman sudah tandas membaca Buku Agama Jawa karangan Clifford Geertz, pembaca akan temukan bagaimana masyarakat Jawa masih mempercayai tradisi Slametan sebagai ritual informal namun dalam praktiknya memegang peranan penting hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.</p>
<p>Begitu juga yang masyarakat Colo lakukan dengan kearifan lokalnya bertajuk Wiwit Kopi.</p>
<p>Tradisi ini dilaksanakan menjelang masa tanam kopi, pemilik kebun akan menyiapkan makanan berupa: nasi putih, jajan pasar, umbo rampe dan tidak lupa seperangkat bunga sepasang beserta kemenyan.</p>
<p>Ritual dipimpin seorang sesepuh desa, diawali dengan mempersilahkan semua hadirin untuk duduk melingkar dan bersama-sama membaca doa.</p>
<p>Setelah selesai, sesepuh desa akan mengambil beberapa bagian dari hidangan dan ditemani pemilik lahan menebarkannya ke beberapa pohon kopi seraya berdoa meminta ke dayang desa dan Tuhan YME semoga diberikan panen yang melimpah dan berkah bagi keluarga.</p>
<p><strong>Mencari Parijoto, kok malah dikasih bibit Kopi</strong></p>
<p>Kisah menarik dari saudara kembar dari Colo, Kudus, bernama Kusnan dan Kusnin. Pertemuan beliau dengan kopi bermula saat tahun 2008 bertandang ke Banaran, Semarang untuk mencari bibit Parijoto.</p>
<p>Sesampainya di sana, mereka malah diberikan bibit kopi secara cuma – cuma.</p>
<p>Tak tanggung-tanggung pula, mereka menerima 300 bibit kopi. Selepas kembali dari Semarang, mereka sempat bingung karena bibit kopi yang ia dapatkan adalah Kopi Arabika.</p>
<p>Menurut beberapa teman-teman beliau, Kopi Arabika hanya bisa ditanam pada ketinggian minimal 1.000 mdpl. Hal tersebut juga senada dengan petani kopi di kampungnya yang mayoritas menanam Kopi Robusta.</p>
<p>Dua tahun kemudian, pohon kopi tersebut berbuah. Meski saat itu belum memiliki produktivitas yang maksimal, Kusnan dan Kusni tetap mempertahankan untuk menanam Kopi Arabika.</p>
<p>Kisah si kembar ini menyiratkan pesan ke semua orang, apa pun profesinya untuk tekun belajar dan tidak mudah putus asa mendalami pekerjaan yang kita lakukan, karena menjadi ahli tu membutuhkan proses, dan Ketika sudah menjadi ahli, uang yang akan mencari kita.</p>
<p><strong>Jasono: Antara Keahlian dan Bisnis</strong></p>
<p>Namanya sudah dikenal luas di seantero lereng Muria dan Karesidenan Pati sebagai juru Stek. Keahliannya ini mengantarkannya dapat membeli sapi dan lahan yang kemudian ia sulap menjadi kebun kopi.</p>
<p>Ia tidak perlu bekerja lagi sebagai buruh serabutan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Ia kini menjadi tuan atas tanahnya sendiri, tuan atas dirinya sendiri.</p>
<p>Begitulah kiranya saya menceritakan secara singkat sosok Jasono. Dari keahliannya itu pula, kini ia tidak lagi menerima jasa Stek per pohon, melainkan sistim borongan Stek per lahan.</p>
<p>Selain itu, ketekunannya dalam membudidayakan Kopi juga mengantarkannya menjadi juragan Kopi yang cukup diperhitungkan di Kota Kretek.</p>
<p><strong>Merawat Kopi, Seperti Halnya Merawat Anak Sendiri</strong></p>
<p>Ada banyak alasan mengapa saya menyukai buku ini. Di antaranya kunjungan peneliti ke rumah Kang Ali Ma&#8217;ruf.</p>
<p>Seorang pemuda minorside yang memilih membaktikan hidupnya bukan hanya berdagang, melainkan mempertahankan sejarah dan mengedukasikannya ke masyarakat lewat proses budi daya dan penjualan Kopi Liberika atau Kopi Nongko yang ia geluti.</p>
<p>Keinginan belajar yang kuat membuat sosok Ali Ma&#8217;ruf menjadi pionir di Desa Tempur Kabupaten Jepara sebagai petani kopi petik merah.</p>
<p>Kini, berkat ketekunannya itu membuat namanya kian melambung, sebagai petani dan pemilik kedai kopi.<br />
***</p>
<p>Pada pengantar buku ini, penyusunan buku berawal dari ketidaksengajaan para peneliti yang bertemu dengan orang-orang dengan gagasan yang sama.</p>
<p>Hal ini wajib kita apresiasi karena berhasil mengangkat tema lokalitas.</p>
<p>Secara garis besar, buku ini menyuguhkan informasi bagaimana para petani kopi di lereng Muria membudidayakan kopi serta memasarkannya.</p>
<p>Pembaca juga di ajak flashback ke belakang asal muasal pohon kopi masuk ke Jawa dan Indonesia secara umum.</p>
<p>Terakhir, saya yakin pembaca tidak akan kecewa karena buku ini bukan saja berisi kumpulan reportase.</p>
<p>Pembaca akan di ajak bermanja-manja dengan koleksi foto ciamik yang menyuguhkan mata dan diajak semakin dekat dengan para penulis dan petani.</p>
<p><strong>Peresensi</strong>.</p>
<p><strong><em>Ali Ahsan Al Haris</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/02/07/jejak-mutiara-hitam-dari-lereng-gunung-muria">Jejak Mutiara Hitam dari Lereng Gunung Muria</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>