<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Fabio Capello Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/fabio-capello/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Apr 2026 07:29:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Fabio Capello Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Memulihkan Kultur Salah Satu Kiblat Sepak Bola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/11/memulihkan-kultur-salah-satu-kiblat-sepak-bola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 10:00:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Alessandro Bastoni]]></category>
		<category><![CDATA[Catenaccio]]></category>
		<category><![CDATA[Fabio Capello]]></category>
		<category><![CDATA[Gennaro Gattuso]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dinia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Timnas Italia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=553247</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // kiblat yang terluka/ itukah Italia?/ : ketika genap tiga kali beruntun/ gagal ke perhelatan dunia/ adakah alasan lain/ kecuali reformasi struktural?/ dunia berkembang dinamis/ dan, Italia bagai berhenti berinovasi// (Sajak “Kemuraman Calcio Italia”, 2026) PEMBICARAAN tentang sepak bola Italia &#8212; calcio Italia &#8212; masih terus bergulir. Muncul banyak analisis dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/11/memulihkan-kultur-salah-satu-kiblat-sepak-bola">Memulihkan Kultur Salah Satu Kiblat Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-553249 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x35.webp 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// kiblat yang terluka/ itukah Italia?/ : ketika genap tiga kali beruntun/ gagal ke perhelatan dunia/ adakah alasan lain/ kecuali reformasi struktural?/ dunia berkembang dinamis/ dan, Italia bagai berhenti berinovasi//</em><br />
<strong>(Sajak “Kemuraman Calcio Italia”, 2026)</strong></p>
<p><strong>PEMBICARAAN</strong> tentang sepak bola Italia &#8212; <em>calcio</em> Italia &#8212; masih terus bergulir. Muncul banyak analisis dalam keserbabingungan: apa yang sesungguhnya terjadi? Berbagai dugaan muncul dalam pemetaan: apa yang sejatinya dialami? Sarat saran dalam mendiagnosis persoalan: harus apakah langkah mereka ke depannya?</p>
<p>Ya, karena yang gagal lolos ke Piala Dunia untuk kali ketiga berturut-turut adalah Italia, dari 2018, 2022, hingga 2026. Karena dia adalah tim nasional Italia.</p>
<p>Bukankah dalam sepak bola dunia, setidak-tidaknya tercatat tiga kiblat? Pertama, Brazil. Kedua, Italia. Dan, ketiga Inggris.</p>
<p>Argentina, Spanyol, Prancis, Belanda, Portugal, atau Kroasia memang punya tempat tersendiri, namun Brazil, Italia, dan Inggris menempati kasta yang istimewa.</p>
<p>Brazil disebut-sebut sebagai “tanah suci sepak bola”, tempat olahraga ini menjadi serasa “agama” dalam kehidupan warganya. Sepak bola adalah kultur yang menjadi bagian dari seni dan daya hidup.</p>
<p>Italia menjadi patron skema sepak bola defensif dengan sistem pertahanan gerendel <em>catenaccio</em>-nya. Inggris, yang belakangan punya kompetisi liga terbaik, dikenal dengan pola dasar permainan<em> kick and rush</em>, juga pengembang sepak bola modern yang “khas Inggris Raya”.</p>
<p>Maka, ketika putaran final Piala Dunia tanpa menyertakan satu dari tiga negara tersebut, apalah jadinya? Tentu bakal terasa hambar&#8230;</p>
<p>Dan, inilah realitanya: Piala Dunia 2026 takkan dihadiri Italia, sama dengan dua<em> event</em> sebelumnya, yakni 2022 dan 2018. Dalam tiga kualifikasi selama 12 tahun terakhir, juara dunia empat kali itu tersingkir lewat <em>play off</em> dari Swedia, Makedonia Utara, dan yang terkini: Bosnia Herzegovina.</p>
<p>Kisah personal Alessandro Bastoni juga belum usai. Dia dituding sebagai penyebab kegagalan Italia dalam <em>play off,</em> karena menerima kartu merah pada menit ke-41. Orang berandai-andai, apabila Bastoni tidak diusir, kemungkinan tidak akan ada drama adu penalti karena Italia unggul 1-0.</p>
<p>Bastoni dihujat, keluarganya diteror. Akan tetapi, saran bahwa dia harus berkarier di liga lain di luar negeri rupanya tidak menggoyahkan pemain Inter Milan itu. Daya tahannya cukup tangguh untuk tetap bertahan di Italia.</p>
<p>Ya, inikah paradoks dari <em>calcio</em> Italia yang besar? Inilah muram di langit Liga Serie A yang mendunia?</p>
<p><strong>Tiga Tokoh</strong><br />
Di Piala Dunia nanti, setidak-tidaknya tiga tokoh sepak bola Italia akan hadir mendampingi tim.</p>
<p>Pertama, Carlo Ancelotti. Dia mengarsiteki Brazil. Penunjukan Ancelotti ini adalah sebuah anomali: ketika Brazil yang dikenal dengan tokoh-tokoh bola luar biasa justru memercayakan tim nasional kepada orang Italia, orang Eropa.</p>
<p>Ancelotti adalah simbol puncak dari ketidakberdayaan Brazil memilih calon pelatih Selecao. Ancelotti menjadi pilihan terakhir setelah tidak ada nama lain yang dipertimbangkan dari dalam negeri sendiri.</p>
<p>Nama kedua, kapten tim juara dunia 2006 dan peraih Ballon d’Or 2006 Fabio Cannavaro, yang akan mendampingi Uzbekistan, dan Vincenzo Montella mantan penyerang AS Roma yang mengarsiteki Turki.</p>
<p>Tiga Italiano itu mengisyaratkan, betapa arsitektur <em>calcio</em> masih lekat dan dipercaya. Juga kehebatan sentuhan magis para tokoh di sana. Kita lihat saja nanti seperti apa performa Uzbekistan dan Turki di Piala Dunia.</p>
<p>Apa pun hasil yang diraih ketiga<em> allenatore</em> itu di Piala Dunia 2026, ketiganya menggambarkan produktivitas Negeri Pizza itu dalam melahirkan tokoh-tokoh arsitek sepak bola berpengaruh. Lalu, ketika ketiganya dipercaya untuk membawa tim nasional negara lain berkiprah di Piala Dunia, bagaimana dengan aset sumberdaya pelatih untuk mengarsiteki Gli Azzurri?</p>
<p>Gennaro Gattusso telah gagal, sebelumnya pada 2018 Gian Piero Ventura gagal dalam <em>play off</em> melawan Swedia, lalu pada 2022 Roberto Mancini tersisih melawan Makedonia Utara. Padahal sebelumnya, pada 2020 dia sukses mengantar Squadra Azzurra menjuarai Euro.</p>
<p>Gattusso menjadi pilihan FIGC setelah sebelumnya, Luciano Spalletti meraih hasil buruk di Euro 2024 dan awal Pra-Piala Dunia 2026, antara lain kalah 0-3 dari Norwegia.</p>
<p>Dia bukan pilihan utama, dan suka atau tidak suka, rekam jejak para <em>allenatore</em> mematok keberanian untuk menangani Azzurri setelah nama-nama besar Enzo Bearzot, Arrigo Sacchi, Roberto Mancini, dan Marcello Lippi. Nama-nama lain yang sempat beredar memberi warna adalah Roberto Donadoni, Cesare Prandelli, Gian Piero Ventura, Luigi di Bagio, dan Luciano Spalletti.</p>
<p><strong>Stuktural</strong><br />
Tampaknya, sepak bola Italia butuh perombakan besar. Tiga kali beruntun gagal ke Piala Dunia jelas memperlihatkan ada masalah besar bagi juara dunia empat kali ini. Simaklah apa komentar tokoh sepak bola Italia, Fabio Capello. Dia mendesak Italia untuk melakukan perombakan besar.</p>
<p>“Ada kesalahan struktural. Sejak juara pada 2006, mereka mengalami penurunan drastis dengan tersingkir di fase grup 2010 dan 2014,” kata Capello yang pernah menangani tim nasional Inggris pada 2007-2012.</p>
<p>Gelar juara Piala Eropa 2020 dianggap anomali dan mengaburkan problem besar. Italia masih lambat dalam mengembangkan sepak bolanya, yang mencolok adalah pada infrastruktur dan pengembangan pemain usia muda.</p>
<p>“Ini bukan cuma soal hasil-hasil, ini struktural. Italia perlu menemukan jati dirinya lagi. Kita mesti menyatukan para ahli, menganalisis apa yang terjadi, dan mulai merekonstruksi dari fondasi,” ungkapnya dikutip <em>Football Italia</em> (<em>detik.com</em>, 4 April 2026).</p>
<p>“Akan sangat sulit pulih dari ini, tetapi saya percaya ini akan menjadi awal dari pembaruan sesungguhnya”.</p>
<p>Jika menyimak analisis Capello, apakah ada permasalahan struktural yang membuat Liga Serie A kini tak mampu bersaing dengan Liga Primer, La Liga, Bundesliga, dan Ligue 1?<br />
Sudah sejak awal 1990-an, Liga Italia seperti mandek dalam stagnasi peredaran pemain asing, dan justru tidak melahirkan bintang-bintang muda dari akademi klub-klub. Berbeda dari Liga Primer dan La Liga produktif dengan pemunculan pemain muda.</p>
<p>Liga Champions musim ini bisa menjadi parameter. Tak satu pun klub Italia yang lolos ke fase gugur. Klub-klub elite seperti Inter Milan, AC Milan, Juventus, atau Napoli kini berada di bawah bayang-bayang klub-klub dari liga negara lainnya. Media global juga lebih banyak mem-<em>publish</em> dinamika Liga Primer, La Liga, dan Ligue 1.</p>
<p>Bagaimanapun, ketika tiga kali gagal menuju putaran final Piala Dunia, pastilah ada kemunduran yang dialami.</p>
<p>Apakah dunia rela kehilangan salah satu kiblat yang menjadi ciri khas sepak bola, terutama dengan karakter defensifnya?</p>
<p>Tentu tidak, karena <em>catenaccio</em> identik, sangat identik dengan Italia. Konsep pertahanan gerendel Italia menjadi antitesis dari permainan menyerang yang sekarang banyak dianut di Belanda, Spanyol, dan klub-klub yang berfilososi <em>attacking football</em> dan <em>possession football.</em> Dulu, pada dasawarsa 1990-an, Italia punya <em>trade mark</em> permainan defensif yang menjadi “budaya taktik” bagi klub-klub Serie A-nya.</p>
<p>Apakah budaya sepak bola Italia itu pelan-pelan memudar secara struktural, dan yang menanggung beban adalah transformasi kultural di tim nasional? Dinamika sepak bola Eropa dan dunia, rasanya juga bergerak cepat dengan kebutuhan Italia untuk beradaptasi. Tak bisa selamanya, mereka hanya terlelap menjadi kiblat, dan tidak bergerak untuk berinovasi.</p>
<p>Dengan menyimak pendapat Fabio Capello tentang masalah struktural, saatnya <em>stakeholder</em> sepak bola Italia mengupas semua persoalan yang dirasakan. Masalahnya tidak memusat ke kesalahan Alessandro Bastoni. Dia hanya menjadi bagian dari elemen romantika kegagalan tersebut&#8230;</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Surabaru.Id">Surabaru.Id</a></em><strong> &#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/11/memulihkan-kultur-salah-satu-kiblat-sepak-bola">Memulihkan Kultur Salah Satu Kiblat Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jun 2024 10:00:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[Arrigo Sacchi]]></category>
		<category><![CDATA[Bob Paisley]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Fabio Capello]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=418524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak sembarang juara memiliki/ ia hanya melekat/ pada sebatas yang menekuni/ dengan keyakinan/ dan konfidensi/ juga takdir yang menempatkan/ di maqam apa&#8230;// (Sajak “Carlo Ancelotti”, Juni 2024) DI mana posisi Carlo Ancelotti di antara para legenda, dan genius lapangan bola? Saya takkan ragu menjadikannya leader di tengah kampiun-kampiun yang memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola">Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-418540 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak sembarang juara memiliki/ ia hanya melekat/ pada sebatas yang menekuni/ dengan keyakinan/ dan konfidensi/ juga takdir yang menempatkan/ di maqam apa&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Carlo Ancelotti”, Juni 2024)</strong></p>
<p><strong>DI</strong> mana posisi Carlo Ancelotti di antara para legenda, dan genius lapangan bola?</p>
<p>Saya takkan ragu menjadikannya <em>leader</em> di tengah kampiun-kampiun yang memiliki “maqam” istimewa.</p>
<p>Dengan Bob Paisley, Pep Guardiola, Zinedine Zidane, dan Jose Mourinho dia lewat dan jauh memimpin. Dengan Alex Ferguson, lalu legenda-legenda Italia Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, dia juga jauh di depan.</p>
<p>Italiano kelahiran 1959 itu adalah “pahlawan dalam diam”, yang tak banyak berbla-bla-bla, dan lebih asyik bersama pipa cangklongnya. Dia tak seriuh para taktikus yang memiliki kekhasan karakter dalam mengekspresikan ungkapan hati.</p>
<p>Antara yang seekspresionis kejeniusan Pep, yang terkesan arogan ala Mourinho, yang tak henti berpikir gaya Zidane, yang berwajah “profesor” seperti Vicente del Bosque, yang gelisah mencari solusi ala Ferguson, atau yang bergejolak ala Capello.</p>
<p>Carlo jauh lebih tenang dengan mengesankan wajah <em>cool</em> mendalami setiap referensi pertandingan dengan sikap yang matang. Begitulah ekspresi gelandang elegan AC Milan era 1980-an itu.</p>
<p>Lima gelar Liga Champios untuk dua klub berbeda, yakni Real Madrid (2014, 2022, dan 2024), dan AC Milan (2003, 2007), serta trofi-trofi liga bersama Milan, Madrid, Chelsea, Paris St Germain, dan Bayern Muenchen adalah bukti bahwa racikan Carlo bukan skema biasa. Semua dia hasilkan dari pendekatan eksepsional.</p>
<p>Belum lagi sederet gelar bersama FC Parma dan Milan yang dia bendaharakan dalam perjalanan karier yang penuh liku dan eksperimen.</p>
<p><strong>Dinamisme Calcio</strong><br />
Gelimang trofi Carlo Ancelotti layak menobatkannya sebagai pelatih besar yang pernah ada dalam sejarah sepak bola. Lima kali meraih trofi dengan dua klub berbeda adalah rekor yang belum didekati oleh pelatih mana pun.</p>
<p>Dia juga dikenal sebagai peracik taktik yang sukses mengelola pemain asal Brazil, yang menyebabkan federasi sepak bola negeri itu sempat tergoda dengan ide untuk merekrutnya sebagai arsitek Selecao, pelatih tim nasional pertama dari luar negara yang bertradisi besar sepak bola itu.</p>
<p>Sederhana saja pendekatannya. Dan, itu bisa disimak dari basis pemikiran yang dia tuang dalam kertas kerja untuk studi kepelatihannya di Coverciano, “<em>Il Futuro del Calcio Piu Dinamicita</em>” atau “Masa Depan Sepak Bola: Lebih Banyak Kedinamisannya”.</p>
<p>Dari sejak 1993, Carlo Ancelotti telah bergulat di banyak klub. Dari Reggiana, Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Real Madrid, Bayern Muenchen, Napoli, Everton, dan kembali ke Madrid hingga sekarang.</p>
<p>Mula-mula dia meyakini skema 4-4-2 dengan menolak <em>playmaker</em> ofensif. Maka ia kurang membutuhkan <em>fantasista</em> bertipe Roberto Bggio. Namun sejak mengakomodasi Zidane di Juventus pada 1999, dia mulai mencoba-coba formasi dengan mengutamakan dinamisasi lini tengah.</p>
<p>Apalagi setelah di AC Milan. Dia menjawab kritik sang pemilik, Silvio Berlusconi yang tidak suka timnya berskema defensif. Carlo menemukan formasi “pohon natal” dengan Filippo Inzaghi sebagai tombak penyelinap. Dari lini tengah kreatif ala Rivaldo &#8211; Rui Costa ke duet Clarence Seedorf &#8211; Kaka, ditopang metronom yang jempolan mengatur permainan, Andrea Pirlo.</p>
<p><strong>Pencoba dan Penemu</strong><br />
Tak pelak, Carlo Ancelotti adalah pencoba dan penemu skematika, yang dimulai dari kiprahnya di Parma, Juventus, dan AC Milan.</p>
<p>Lalu apa yang dia lakukan di Real Madrid?</p>
<p>Dia mewarisi tradisi semangat kebesaran klub yang memudahkannya menyuntikkan motivasi. Dia juga sukses menstabillisasi permainan Los Blancos yang boleh dibilang musim ini tak terongrong oleh Barcelona.</p>
<p>“Kompetisi ini memberikan kebahagiaan buat saya sebagai pelatih dan pemain. Saya beruntung bisa bekerja sama di klub terbaik dunia setiap hari,” ungkap Don Carlo seperti dikutip dari situs UEFA.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola">Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Oct 2023 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Arrigo Saccho]]></category>
		<category><![CDATA[Arsene Wenger]]></category>
		<category><![CDATA[Camp Nou]]></category>
		<category><![CDATA[Fabio Capello]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[Rinus Michels]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tele Santana]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=376210</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // raciklah irama serancak orkestrasi bunyi/ ia akan menghasilkan melodi/ suntiklah dengan ideologi/ ia akan menghadirkan kesetiaan/ pada elok rasa dan indah hati/ tunggulah waktu/ yang akan membawa rindu/ mengharu-biru&#8230;// (Sajak “Sepak Bola Indah”, 2023) PERCAYAKAH Anda, sepak bola indah adalah produk kreatif perputaran siklus? Dia romantisme yang tak sembarang ditemui [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta">Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-376216 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// raciklah irama serancak orkestrasi bunyi/ ia akan menghasilkan melodi/ suntiklah dengan ideologi/ ia akan menghadirkan kesetiaan/ pada elok rasa dan indah hati/ tunggulah waktu/ yang akan membawa rindu/ mengharu-biru&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Sepak Bola Indah”, 2023)</strong></p>
<p><strong>PERCAYAKAH</strong> Anda, sepak bola indah adalah produk kreatif perputaran siklus? Dia romantisme yang tak sembarang ditemui pada setiap musim; bahkan dengan kendali para genius yang punya jejak reputasi untuk menyajikan eksotika dari wayang-wayang yang mereka mainkan.</p>
<p>Bukankah kini Pep Guardiola tak sepenuhnya menghadirkan sepak bola seni di Manchester City? “Muridnya”, Xavi Hernandez yang gilang-gemilang mentransformasi <em>tiki-taka</em> saat menukangi Al Sadd di Liga Qatar, belum pula menghasilkan simfoni estetis di Camp Nou, seelok masa emas Barcelona.</p>
<p>Lalu siapa? Juergen Klopp-kah, Mikael Arteta, Eddie Howe, atau nama baru yang mencuat: Roberto De Zerbi?</p>
<p>Pep dengan “pasukan <em>exellent</em>” memang membentuk The Citizens sebagai tim yang siap menguasai Inggris, Eropa, dan dunia. Akan tetapi, setarakah perfeksionitas permainan Kevin de Bruyne dkk dengan keindahan Barcelona pada masa-masa emasnya?</p>
<p>Barca 2007-2012 boleh dibilang sebagai “karya agung sepak bola indah”. Pep sukses meraciknya sebagai padu padan kemampuan para pesepak bola unggul menjadi melodi nan elok “<em>merak ati</em>”.</p>
<p>Masa-masa emas Blaugrana memang bergelimang cahaya bintang. Dengan sederet nama fantastis seperti Ronaldinho, Deco, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Lionel Messi, Sergio Busquets, Carles Puyol, Dani Alves, David Villa, Gerard Pique, Jordi Alba, juga Cesc Fabregas dan Pedro Gonzales, kejayaan itu masih berlanjut ketika sederet pelatih menjadi suksesor, yang berpuncak ke pengulangan <em>treble</em> di era manajer Luis Enrique pada 2014-2015.</p>
<p><strong>City-nya Pep</strong><br />
Pada 2013, Pep mengusung gaya sepak bola indahnya yang posesif &#8212; menekankan dominasi penguasaan bola &#8212; ke Bayern Muenchen, namun tidak maksimal menjadi filosofi yang memberi kejayaan Eropa. Rupanya, ada penghayatan karakter yang tak bisa dipertemukan secara kultural di Bundesliga.</p>
<p>Di Manchester City, sejak 2016, dia membangun tim dengan keleluasaan rekrutmen bintang-bintang yang dia butuhkan. Dan, baru pada musim 2022-2023 menghasilkan trofi Eropa dalam romantisme <em>treble</em> yang akan selalu dikenang dalam kebesaran sejarah klub.</p>
<p>Hanya, apabila ditanya apakah City versi Pep memainkan sepak bola secantik Barcelona produk kejeniusannya, saya memilih menyimpulkan, “Tak semudah itu menjajari performa Barca pada masanya, ketika gairah, keindahan, dan kekuatan filosofi disatukan oleh kejeniusan menjadi ideologi&#8230;”</p>
<p>Maka, ketika City yang seperkasa itu pun tak bisa dibilang menghadirkan eksotika yang artistik, klub mana pula yang menjadi alternatif untuk menyimak aplikasi keindahan skematika di kanvas permainan?</p>
<p>Atau memang sepak bola indah tak bisa dijamin muncul dalam siklus waktu tertentu?</p>
<p>Sejak musim kemarin, dari “pemagangan” di Liga Qatar, Xavi Hernandes membawa Barcelona dalam pemulihan tradisi kemenangan di La Liga, namun “Barca Xavi” masih jauh dari sepak bola merangsang dengan gairah <em>tiki-taka</em>. Padahal sejatinya, filosofi ini melekat dalam penjiwaan pelatih yang berjejuluk “The Puppet Master” itu. Xavi pernah disebut-sebut sebagai sosok yang sangat memahami sepak bola indah itu.</p>
<p>Kalau dulu, Pep membawa Barca dalam sikap “menang saja tak cukup, melainkan harus dengan cara indah”, kini Xavi masih bergerak di level “kulit” – “apa pun, yang penting menang dulu”. <em>Mindset</em> yang agaknya juga ditempuh Pep dalam petualangannya di Liga Primer.</p>
<p>Pendekatan berbeda ditempuh dua pelatih di Liga Primer, yakni Mikael Arteta yang menukangi Arsenal, dan Roberto De Zerbi yang mengarsiteki Brighton Hove and Albion. Arteta membawa Meriam London ke mode bermain rancak nan indah, sedangkan De Zerbi memadukan gairah dan kecepatan bermain The Seagull yang merepotkan konsolidasi setiap lawan.</p>
<p>Di samping Eddie Howe yang mengawal kebangkitan Newcastle United, nama lain yang kini mencuat adalah Ange Pastecoglou. Arsitek asal Australia yang kini membawa Tottenham Hotspur ke pucuk klasemen ini mendoktrin timnya dengan spartanitas permainan menyerang.</p>
<p>Tanpa kapten dan bintangnya, Harry Kane yang hijrah ke Bayern Muenchen, Spurs dia bentuk menjadi kekuatan konsisten dengan permainan cepat, di bawah kepemimpinan Son Heung-min, mesin gol asal Korea yang semakin matang.</p>
<p>Haruskah kita menunggu raihan trofi liga Arsenal bersama Arteta untuk mengklaim kembalinya sepak bola indah? Atau Pep akan memformulasikan City perlahan-perlahan menjadi kekuatan eksotis?</p>
<p>Lalu Barcelona, akankah seniman sekelas Xavi mandek pada kemenangan-kemenangan yang tanpa menyajikan kembali eksepsionalitas cara bermain bola?</p>
<p>Pada akhirnya, elok sepak bola indah adalah kerinduan. Seni cantik menyajikan skema taktik adalah kejeniusan. Pertunjukan karakter para aktor hebat adalah “bahasa ideologis” yang mengalir sebagai darah dalam nadi sepak bola.</p>
<p>Akankah dalam sisa hari-harinya Pep mewujudkan tontonan yang berbeda? Atau musim ini sang penguasa panggung itu adalah Mikael Arteta?</p>
<p>Inilah siklus pergulatan tesis, antitesis, dan sintesis yang menandai perjalanan sepak bola indah sejak Brazil 1970, Belanda 1974, Brazil 1982, Brazil 1986, dan Spanyol 2012.</p>
<p>Catat pula sederet “klub indah” dari Ajax-nya Rinus Michels, Sao Paulo-nya Tele Santana, AC Milan-nya Arrigo Saccho dan Fabio Capello, Arsenal-nya Arsene Wenger, hingga Barcelona-nya Pep Guardiola.</p>
<p>Makin ditunggu, waktu makin membawa rindu mengharu-biru&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta">Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://3.33.146.175/id/">https://3.33.146.175/id/</a>
<a href="https://117.18.0.23/">https://117.18.0.23/</a>
<a href="https://117.18.0.16/">https://117.18.0.16/</a>
<a href="https://117.18.0.24/">https://117.18.0.24/</a>

<a href="https://chinesemedicinenews.com/">https://chinesemedicinenews.com/</a>
<a href="https://revistaenigmas.com/">https://revistaenigmas.com/</a>
<a href="https://topweddinglists.com/">https://topweddinglists.com/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://ayahqq.it.com">https://ayahqq.it.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>
<a href="https://klik66.it.com">https://klik66.it.com</a>
<a href="https://radiofarmacia.org">https://radiofarmacia.org</a>
<a href="https://atendamais.org">https://atendamais.org</a>

<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>

<a href="https://aenfis.com/cloud/pkvgames/">https://aenfis.com/cloud/pkvgames/</a>
<a href="https://aenfis.com/cloud/bandarqq/">https://aenfis.com/cloud/bandarqq/</a>
<a href="https://aenfis.com/cloud/dominoqq/">https://aenfis.com/cloud/dominoqq/</a>
</div>