<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Antologi Puisi Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/antologi-puisi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Apr 2023 03:23:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Antologi Puisi Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 03:23:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Amir Machmud]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=329043</guid>

					<description><![CDATA[<p>Amir Machmud NS Malam Seribu Bulan (1) ingin kujemput Lailatulkadar di setiap jendela hidupku kusapa dengan sederas zikir kurengkuh dengan sebening pikir sesejuk ini mengalir udara dinihari sehening angin yang seolah berhenti selembut tarhim menelusup langit ingin kuraih Lailatulkadar di setiap waktu kupanggil dengan serak sunyi takbir kupeluk dengan riuh detak hati &#8220;takdirmu belum tiba,&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan">Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;">Amir Machmud NS</span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (1)</strong></span></p>
<p>ingin kujemput Lailatulkadar di setiap jendela hidupku<br />
kusapa dengan sederas zikir<br />
kurengkuh dengan sebening pikir</p>
<p>sesejuk ini mengalir udara dinihari<br />
sehening angin yang seolah berhenti<br />
selembut tarhim menelusup langit</p>
<p>ingin kuraih Lailatulkadar di setiap waktu<br />
kupanggil dengan serak sunyi takbir<br />
kupeluk dengan riuh detak hati</p>
<p>&#8220;takdirmu belum tiba,&#8221; nuraniku berbisik<br />
: lipatkanlah sujud<br />
bersama dedaun yang takzim menjura<br />
bersama gemintang redup mengerlap<br />
bersama bulan yang menunduk berjeda</p>
<p>&#8220;ikatlah malam dengan syahdu syukur,&#8221; getar itu menyapa<br />
o, belum cukupkah rupanya syukurku<br />
tak kulihat malaikat yang bertafakur<br />
bersenyum damai meninggalkan bumi</p>
<p>jendela-jendela kubiarkan terbuka<br />
biarlah menangkap desir yang mengalir<br />
sejernih ini menyatu dengan teduh langit<br />
selembut ini menyiram tubuh gemetar<br />
membahasakan ketakjuban.<br />
(2023)</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><span style="font-family: georgia, palatino, serif;">Amir Machmud NS</span></span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (2)</strong></span></p>
<p>sepuitis ini semesta berjaga<br />
menunggu malam seribu bulan<br />
di relung hening mensyahdukan<br />
di ujung dinihari menghanyutkan<br />
di lipatan hati merindukan</p>
<p>seelok ini rasa meronta<br />
menanti malam seribu bulan<br />
menyemburatkan cahaya cinta<br />
mengendapkan geletar rasa<br />
tafakur menggayuh jalan utama</p>
<p>tak kulepas menatap langit<br />
dalam jiwa yang menciut<br />
di haribaan kuasa-Nya</p>
<p>: malaikat, engkaukah yang tiba?<br />
(2023)</p>
<p><span style="font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;">Amir Machmud NS</span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (3)</strong></span></p>
<p>cahaya takkan kau temui kasat mata<br />
ia akan memukim di rongga rasa<br />
andai datang menjadi karuniamu</p>
<p>sepoi lembut takkan kau rasakan membelai kulitmu<br />
ia akan mengalir di pori-pori hidup<br />
andai kau terpilih mendapatkannya</p>
<p>elok semesta takkan menjadi bius konser nurani<br />
ia akan menyatu dalam laku<br />
andai kau terguyur kesaksian syahdunya.<br />
(2023)</p>
<p><img loading="lazy" class="wp-image-316608 size-thumbnail alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-123x150.jpg" alt="" width="123" height="150" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-123x150.jpg 123w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-327x400.jpg 327w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir.jpg 392w" sizes="(max-width: 123px) 100vw, 123px" />&#8212;<em> Amir Machmud NS; wartawan dan penyair. Dia telah menerbitkan enam antologi tunggal puisi. Juga masuk dalam sejumlah antologi bersama. Puisi-puisinya tersebar di berbagai media.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan">Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mencintai Candi, Menyampaikan Pesan Keberagaman</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/06/14/mencintai-candi-menyampaikan-pesan-keberagaman</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2022 06:25:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya Gunadharma]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=258300</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS SEJUMLAH teman bertanya, perasaan apa yang mengemuka ketika puisi-puisi dari dua antologi saya, Percakapan dengan Candi dan Dari Peradaban Gunadarma dibaca oleh para tokoh nasional dan penyair? Pada malam 12 Juni kemarin, panggung budaya bertajuk “Purnama Puisi di Atas Awan” digelar di lantai 10 Gedung Menara Prof Muladi, kampus Universitas Semarang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/06/14/mencintai-candi-menyampaikan-pesan-keberagaman">Mencintai Candi, Menyampaikan Pesan Keberagaman</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<figure id="attachment_258306" aria-describedby="caption-attachment-258306" style="width: 150px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-258306" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-08-at-06.07.47.jpg" alt="" width="150" height="200" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-08-at-06.07.47.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-08-at-06.07.47-113x150.jpg 113w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /><figcaption id="caption-attachment-258306" class="wp-caption-text">Foto: sb</figcaption></figure>
<p><strong>SEJUMLAH</strong> teman bertanya, perasaan apa yang mengemuka ketika puisi-puisi dari dua antologi saya, <em>Percakapan dengan Candi</em> dan <em>Dari Peradaban Gunadarma</em> dibaca oleh para tokoh nasional dan penyair?</p>
<p>Pada malam 12 Juni kemarin, panggung budaya bertajuk “Purnama Puisi di Atas Awan” digelar di lantai 10 Gedung Menara Prof Muladi, kampus Universitas Semarang (USM). Sayang, lantaran hujan deras yang mengguyur Kota Semarang, parade puisi bernuansa bulan purnama itu urung dipanggungkan di amfiteater <em>rooftop</em> Menara USM. Padahal, telah disiapkan panggung megah beraksen stupa-stupa Borobudur, untuk menghadirkan suasana “nyata” percandian.</p>
<p>Tentu perasaan saya tak tergambarkan. Sebagai penulis dua antologi itu, “merinding” rasanya menunggui pembacaan puisi-puisi saya oleh para tokoh dengan tafsir dan gaya masing-masing.</p>
<p>Saya patut memberi respek khusus kepada anggota Pembina YAU Ir Soeharsojo IPU dan Rektor Dr Supari Priambodo yang mengawal terselenggaranya panggung budaya ini.</p>
<p><strong>Riset dan Ziarah</strong></p>
<figure id="attachment_258308" aria-describedby="caption-attachment-258308" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="wp-image-258308 size-full" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.10.jpeg" alt="" width="681" height="330" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.10.jpeg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.10-400x194.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.10-150x73.jpeg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-258308" class="wp-caption-text">Budi Maryono dan Sinoeng N Rachmadi. Foto: sb</figcaption></figure>
<p>Pada 2021, dua puisi dari <em>Percakapan dengan Candi</em> sempat saya “perkenalkan” dalam momen Hari Puisi Sedunia di Taman Budaya Raden Saleh yang diadakan oleh Dewan Kesenian Semarang. Selebihnya, puisi-puisi candi itu tersaji di kanal sastra sejumlah media kolega saya.</p>
<p>Maka, “Purnama Puisi” di USM itu terasa istimewa, karena sejumlah tokoh &#8212; kecuali Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Sudharto PH yang membacakan karyanya sendiri &#8211;, dan beberapa penyair malam itu membacanya.</p>
<p>Antologi pertama &#8212; terbit 2021 &#8212; saya kerjakan cukup lama, dengan riset kecil-kecilan dan ketekunan menziarahi candi-candi. Ketika menyiapkan buku itu, saya banyak berdiskusi dengan sastrawan Semarang Handry TM dan penyair Kepulauan Riau, Ramon Damora. Kedua sahabat itu memberi prolog dan <em>endorsement</em> untuk antologi <em>Percakapan dengan Candi</em>.</p>
<p>Handry juga memberi sentuhan untuk antologi <em>Dari Peradaban Gunadarma</em> dengan <em>endorsement</em>-nya, bersama catatan kecil Gubernur Ganjar Pranowo yang dikenal gigih dalam pengembangan pariwisata di semesta Borobudur.</p>
<figure id="attachment_258309" aria-describedby="caption-attachment-258309" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="wp-image-258309 size-full" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.11.jpeg" alt="" width="681" height="341" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.11.jpeg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.11-400x200.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.11-150x75.jpeg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-258309" class="wp-caption-text">Dini Inayati dan Honi Havana. Foto: sb</figcaption></figure>
<p>Pandangan yang berkualitas “prolog” dan “epilog” secara tidak langsung juga saya dapatkan dari sahabat saya, budayawan Sragen, Sri Busono; dan secara tak terduga &#8212; dalam acara di USM kemarin &#8212; dari Komandan Kodim Semarang Honi Havana.</p>
<p>Mas Busono menuangkan kesan dalam unggahan WA-nya selepas acara, “Ketika mas Amir membaca, seolah-olah saya melihat sedang menulis kata demi kata. Itu yang saya nikmati, karena pilihan kosa kata yang sering saya anggap ‘dancuk’, kok bisa-bisanya ketemu ‘ukara’(kata) itu. Lebih-lebih ketika saya belajar menulis sendiri, rasanya saya tahu betapa melimpahnya sumber kata-kata mas Amir&#8230;”</p>
<p>Honi Havana lain lagi. “Mas Tentara” yang saya kenal sejak Perayaan Hari Pers Nasional 9 Februari 2022 itu “bertaut rasa” dalam pandangan soal kebhinekaan. Dia dikenal aktif mengampanyekan esensi keberagaman ke berbagai ruang publik.</p>
<p>Dia merasakan puisi-puisi candi saya menyuarakan hakikat sikap keberagaman. Betapa peradaban masa silam yang gemilang di Medang Mataram telah mengenal pentingnya makna toleransi, dari contoh relasi antara wangsa Sanjaya dan wangsa Syailendra dalam wujud hubungan antara Rakai Pikatan dan Pramodyawardhani.</p>
<p>“Itu kesan yang saya tangkap dari puisi-puisi candi di antara pesan lain tentang kebijaksanaan, dan pentingnya memahami sejarah,” kata Honi.</p>
<p><strong>Pesan Eksotika</strong></p>
<figure id="attachment_258310" aria-describedby="caption-attachment-258310" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="wp-image-258310 size-full" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.09-3.jpeg" alt="" width="681" height="333" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.09-3.jpeg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.09-3-400x196.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/WhatsApp-Image-2022-06-14-at-13.20.09-3-150x73.jpeg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-258310" class="wp-caption-text">Widiyartono R dan Amir Machmud NS. Foto: sb</figcaption></figure>
<p>Dalam 53 puisi dan 57 puisi dua antologi itu, saya menitipkan pesan eksotika keberagaman lewat bait-bait yang lahir dari ziarah mahakarya leluhur itu dengan penghayatan mata batin dan mata hati. Juga bagaimana menyelaraskan pesan-pesan peradaban dari bebatu dan relief yang tertatah dalam guratan estetikanya.</p>
<p>Saya tak akan berhenti. Sebagai ungkapan cinta yang mengalir dari mahakarya peradaban itu, sedang saya siapkan antologi berikutnya: <em>Candi, Kopi, dan Pagi</em>.</p>
<p>Malam itu, ketika membaca puisi “Cahaya Gunadarma” sebagai karya terbaru, saya meletakkan kekaguman dan penghormatan kepada arsitek Candi Borobudur itu dalam realitas sejarah yang dia “tatah” sebagai karya agung untuk Nusantara, hingga hari ini dan ke depan. Bahkan menaklukkan dunia&#8230;</p>
<p>Simaklah ini,<em> //dia tak sedang menyulam bangunan/ dia menatah sejarah/ mengusung swarga indah/ dengan mata batin merangkai marwah/ tak sekadar pertaruhan wangsa-wangsa</em></p>
<p><em>// dengan cara apa Gunadarma menguasai cahaya/ yang dia pancarkan dari jiwa jinalaya/ matanya waskita menembus masa/ melewati lorong-lorong peristiwa/ dia temukan titik sejarah/ yang kelak menaklukkan dunia&#8230;//</em></p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan suarabaru, penyair yang menulis puisi-puisi candi, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/06/14/mencintai-candi-menyampaikan-pesan-keberagaman">Mencintai Candi, Menyampaikan Pesan Keberagaman</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buku Puisi &#8216;Tembang Kegelisahan&#8217; Amir Machmud NS, Pengeja Kesunyian.</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/01/04/buku-puisi-tembang-kegelisahan-amir-machmud-ns-pengeja-kesunyian</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2021 10:48:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[amir machmud ns]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[buku puisi]]></category>
		<category><![CDATA[ketua pwi jateng]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[susastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=137302</guid>

					<description><![CDATA[<p>PEMIKIRAN adiluhung dilahirkan dari keheningan paling subtil. Demikian pernah dinubuatkan Thomas A Edison. Pepaknya, dia mengatakan,&#8221;The best thinking has been done in solitude. The worst has been done in turmoil&#8220;. Singkatnya, Edison ingin mengatakan, kesunyian, keheningan, sunyi yang menyembunyikan bunyi adalah inti dari pemikiran adi. Mungkin karena itulah, dalam dunia Islam, sholat Tahajud dilakukan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/01/04/buku-puisi-tembang-kegelisahan-amir-machmud-ns-pengeja-kesunyian">Buku Puisi &#8216;Tembang Kegelisahan&#8217; Amir Machmud NS, Pengeja Kesunyian.</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PEMIKIRAN</strong> adiluhung dilahirkan dari keheningan paling subtil. Demikian pernah dinubuatkan Thomas A Edison. Pepaknya, dia mengatakan,&#8221;<em>The best thinking has been done in solitude. The worst has been done in turmoil</em>&#8220;.</p>
<figure id="attachment_137304" aria-describedby="caption-attachment-137304" style="width: 201px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" class=" wp-image-137304" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/amir-m.jpg" alt="" width="201" height="259" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/amir-m.jpg 529w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/amir-m-311x400.jpg 311w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/amir-m-117x150.jpg 117w" sizes="(max-width: 201px) 100vw, 201px" /><figcaption id="caption-attachment-137304" class="wp-caption-text">Amir Machmud NS, selain sebagai kolumnis bola, dia juga seorang penyair, bahkan penulis cerpen. Foto: wied</figcaption></figure>
<p>Singkatnya, Edison ingin mengatakan, kesunyian, keheningan, sunyi yang menyembunyikan bunyi adalah inti dari pemikiran adi. Mungkin karena itulah, dalam dunia Islam, sholat Tahajud dilakukan di malam sepertiga ketiga, yang dipercaya sebagai rumahnya keheningan.</p>
<p>Tampaknya, semangat itulah yang ada dan terbaca dalam buku Tembang Kegelisahan, Puisi-Puisi Amir Machmud NS, 2020 terbitan Penerbit Mimbar Media Utama.</p>
<p>Buku setebal XII + 108 halaman, ini tidak hanya akan mengajak pembacanya berpakansi ke rumah dan halaman bermain &#8220;aku lirik&#8221; dan &#8220;aku pengarang&#8221; yang hanya berjarak sebenang.</p>
<p>Lebih dari itu, pembaca juga dirayu dengan cara paling biru dan syahdu masuk ke dunia kesunyian aku pengarang. Dengan cara gilang-gemilang.</p>
<p>Bahkan dari mula, dalam kata pengantarnya, wartawan senior yang kadung dicitrakan sebagai pengkaji dunia sepak bola, itu mendaku secara terang-benderang; &#8220;memaknai puisi sebagai ziarah sunyi. Yang mengalir mencari pembebasan ungkapan. Yang memancar mencari ungkapan-ungkapan pembahasaan perasaan. Menemukan sunyi adalah puisi. Menghayati ketemaraman adalah puisi. Menikmati cahaya adalah juga puisi&#8221;. (hal iii).</p>
<p>Meski setelah kita membaca separuh halaman buku saja, sejatinya si empunya nama, sudah ketahuan bukan sembarang persona. Dapat dimasukkan dalam barisan, &#8220;manusia yang berupaya untuk selesai dengan dirinya sendiri&#8221;. Berikhtiar menjadi suhud dalam bahasa filsafati.</p>
<p>Dengan mengajak kita (?) mengeja alih ba ta kesepian, untuk kemudian membahasakannya dalam puisi yang berisi. Kita dapat berdebat tentang bentuk puisi buku ini. Meski sebagai anak sekolahan (sastra), saya sejatinya malah paling wegah beradu pikiran tentang bentuk.</p>
<p>Karena bentuk adalah nisbi. Saya lebih bergairah dan riang mendongeng tentang isi! (Ini bukan contoh yang ideal). Karena isi mengayakan, mematangkan, menggembleng, untuk kemudian mendalamkan dan memaksa kita menjadi dewasa. Seiring usia.</p>
<p>Saya nukil sepetil saja pendapat Handry TM. Menurut penekun sastra yang teruji, itu 68 puisi di antalogi Tembang Kegelisahan, ini secara bentuk juga apik sekali &#8212; semoga pembacaan saya atas catatan mas HTM tidak keliru (<em>cmiaw; correct me if am wrong</em>).</p>
<p>Karena kata, diksi, majas juga Innuiendo (sindiran yang merendahkan) rapi di sana.</p>
<p>Persajakannya tertata, indah. Bahkan beberapa puisi, imajis dan pilu. Akhirnya HTM menabalkan buku ini sebagai <em>epitaph</em> (tulisan di batu nisan) kesunyian. Nanti akan saya tanyakan langsung jika bersiborok nasib dengan mas HTM ihwal maksud batu nisan kesunyian, itu.</p>
<p>Saya menggarami lautan, kalau berbicara tentang bentuk dengan mas HTM. Tidak, tidak. Saya lebih suka masuk ke rumah isi (puisi). Yang membebaskan, melepaskan, mendalamkan dan membuat kita &#8220;kenyang&#8221;.</p>
<p>Saya tidak akan menimbang mas Amir sebagai penyair yang sedang bermain dengan bahasa via penggunaan metafora, simile, dan purwakanti, misalnya. Juga menelisiknya dengan perangkat sastra apa pun yang digunakan, seperti aliterasi dan asonansi, yang membantunya memahat bahasa puisi. Juga pisau analisis kiwari lainnya.</p>
<p>Juga metode yang digunakan penyair galibnya dalam membuat mahakaryanya. Dari Berima (teknik puisi yang paling jelas digunakan). Pengulangan (melibatkan pengulangan baris atau kata beberapa kali dalam puisi),<em> onomatopoeia</em>, aliterasi, <em>assonance</em>, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Meski sayangnya, atas nama unggah ungguh, ketidakpercayaan diri, atau apa pun namanya, mas Amir malah pagi-pagi sekali dengan kerendahan hati mengatakan, buku puisinya ini bukan karya sastrawi. &#8220;Saya tidak berani mengklaimnya sebagai karya sastra, melainkan tafsir belaka&#8221;. (hall iv).</p>
<p>Tidak mengapa. Jagoan memang begitu, tidak senang mendaku-daku. Penilaian dari <em>liyan</em>. <em>Lakon mah</em> tenang-tenang aja. Meminjam bahasa bang Tardji ( Sutardji Calzoum Bachri), seseorang menjadi penyair jika seseorang lainnya menyebutnya penyair. Sesederhana itu saja. Bahwa syairnya memenuhi kaidah sastra atau belum. Itu dua hal yang berbeda.  Intinya, mas Amir, via buku puisinya ini, ingin mengajak kita (?) menyelami puisinya. Yang ngga mau diajak berenang untuk kemudian menyelami puisi, juga tidak mengapa. Sekedar keceh, untuk kemudian ciprat-cipratan puisi juga tak mengapa. Yang penting <em>happy </em>dan sentosa.</p>
<p>Karena sepemahaman saya yang tidak seberapa ini. Manusia adalah inti dari puisi. Hakikat manusia berada dalam puisi. Dalam puisi kita mengungkapkan sesuatu yang substansial milik diri kita sendiri, dan kita menemukan kembali sesuatu yang substansial dari diri kita sendiri.</p>
<p>Jadi, sekali lagi saya tidak akan berbicara tentang bentuk puisi. Dengan <em>imagery</em>-nya, aliterasinya,</p>
<p>dan perangkat puitisnya. Serta ini, yang dipercaya menjadi kunci utama puisi, yaitu ritme dan penekanan baris berdasarkan ketukan suku kata. Serta penggunaan diksi yang tepat dan ekonomis, misalnya.</p>
<p>Saya memilih mendatangi, dan kalau dan diperkanan masuk ke rumahnya,     malah akan membebaskan puisi dengan segala perkara bentuknya. Tidak harus mengikuti struktur formal. Apalagi harus bersetia dengan blok bangunan dasar puisi, yaitu syair yang dikenal sebagai stanza.</p>
<p>Karena sekeyakinan saya. Sebagaimana jodoh dalam segala hal. Puisi adalah perkara cocok-cocokan. Terkadang saya merasa berjodoh dengan puisi Subagio Sastrowardoyo, Chairil Anwar, WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, juga Wiji Thukul.</p>
<p>Tapi dalam banyak puisi lain, puisi sejumlah nama kanon di atas, seperti memunggungi saya. Saya mencoba menyapa untuk kali kedua, ketiga dan seterusnya, &#8220;ngga kena&#8221; juga. Tidak ada klik. Jadi, ya sudah, belum berjodoh kita. Tapi sangat bisa jadi, berjodoh dengan kawan kita lainnya.</p>
<p>Fenomena di atas adalah hal yang lumrah. Cantik menurut kita belum tentu apik menurut kawan sepersajakan kita. Demikian sebaliknya. <em>Vice Versa</em>.</p>
<p>Demikian halnya dengan sejumlah puisi mas Amir. Dalam beberapa sajak saya mendapatkan kedalaman, juga persamaan frekwensi. Seperti dalam puisi berjudul Kutoreh Puisi Lalu Kulepas Sukma Untuk Terbang Menemukan-Mu; //pun andai Kau beri keniscayaan untuk menemui haribaan itu puisiku menggurit keyakinan betapa takkan mampu takkan ada kekuatan apa pun bagiku untuk berani selancang itu menatap</p>
<p>Mu&#8230;//. (8).</p>
<p>Juga pada puisi berjudul Taubat; // Kaupikir mudah menyalin gelisah/menjadi maqam istiqamah//.</p>
<p>Lalu juga pada sejumlah puisi berisi lainnya, seperti Tembang Kegelisahan, Dalam Juz Demi Juz, dan Cahaya Tak Berarti Terang.</p>
<p>Mohon izin saya kutipkan petikan puisi Cahaya Tak Berarti Terang; //tanda-tanda pasti ada/isyarat yang meminta kau baca/agar mata menjadi matahati/agar telinga menjadi nurani/agar tatapan memancarkan kearifan/ agar kata-kata kau kemas menjadi kebajikan//. (12).</p>
<p>Atau di puisi berjudul Yang Meminggir; //tak guna kau memutar takdir/ yang tak mungkin dipaksa menyingkir//. (17).</p>
<p>Serta ini, puisi yang menurut subyektifitas saya semangatnya serupa Ahasveros. Petualang sejati, yang dikutuk untuk hidup dan tinggal di perjalanan, selamanya, berjudul Dia Nyalakan Api Sesal; // Lelaki itu telah menyalakan api sesal/ dan tak akan memadamkannya/ di sepanjang sesal sisa hidupnya//. (21).</p>
<p>Baru membaca separuh halaman buku puisi ini saja, jika tilikannya pada isi, sudah sangat mengenyangkan saya. Kalau saya teruskan, malah bisa mabok saya dibuatnya. Maka, sebagaimana makan, membaca puisi juga secukupnya. Berhentilah sebelum kenyang. Karena akan membuat Anda tuan dan puan, terlalu menjadi bijaksana, nantinya. Jika terlalu banyak bergaul dengan puisi seperti ini. Semua yang terlalu, menurut para tetua, tidak baik. Meski tidak melanggar apapun.</p>
<p>Karenanya, saya berani menyarankan buku puisi ini, sebagai bahagian dari koleksi buku puisi di rak buku Anda wahai tuan dan puan.</p>
<p>Karena di buku puisi ini, puisi tidak berhenti pada maqom sebagai satu bentuk ekspresi, saja. Lebih dari itu, via kedalamannya, penerimaannya, juga kebesaran jiwanya, buku puisi ini memungkinkan dirinya mengeluarkan perasaan dan pikiran aku pengarang tentang suatu subjek.</p>
<p>Dengan membacanya, niscaya akan   mendorong kita (?) untuk terhubung dan menemukan makna dalam pengalaman aku pengarang. Benar. Di tangan mas Amir, Puisi dapat berdampak positif pada pembelajaran sosial dan emosional. Meski, belum atau tidak menawarkan cara baru dalam mendekati puisi. <em>Same all story</em>.</p>
<p>Sebelum saya sudahi, simaklah bagaimana dengan tersiratnya puisi berjudul Yang Membedakan Hanya&#8230; bernarasi. Yang sejatinya liriknya menohok rezim mana yang ditimbang aku pengarang, mulai berjalan di luar trek semestinya;</p>
<p>//yang membedakan hanya karena kau takut hilang kemewahan sesungguhnya kita sama: manusia/ yang membedakan hanya karena kau tak mau membayangkan akhirat sesunggunya kita sama: hamba/ yang membedakan hanya karena kau tega memenggal hak sesama sesungguhnya kita sama: bangsa/yang membedakan hanya karena kau reIa menepikan nurani sesungguhnya kita sama: hidup/ yang membedakan hanya karena kau punya kuasa sesungguhnya kita sama: Iemah/ lalu mengapa mati-matian unjuk kuasa/ Ialu mengapa enteng menafikan hak mereka/ lalu mengapa mudah memerkarakan sesama/ laIu mengapa seoIah-olah kau bakal berjaya selamanya?/ yang membedakan karena kau berhak menafsirkan dan kami hanya menjadi objek tafsiryang tak berhak melawan//. (24). Demikian. (G20).</p>
<p><strong>Benny Benke</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/01/04/buku-puisi-tembang-kegelisahan-amir-machmud-ns-pengeja-kesunyian">Buku Puisi &#8216;Tembang Kegelisahan&#8217; Amir Machmud NS, Pengeja Kesunyian.</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apresiasi para Sastrawan pada Antologi Puisi Pandemi Karya Perempuan Akademisi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2020/09/27/apresiasi-para-sastrawan-pada-antologi-puisi-pandemi-karya-perempuan-akademisi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2020 13:11:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Semarang Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Frida Kusumastuti]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=116051</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID)&#8211; Pandemi covid-19 telah melahirkan banyak perbincangan melalui webinar berbagai seminar, dialog, dan diskusi. Lalu para dosen perempuan dari 15 Perguruan Tinggi, kemudian membahas pandemi dari sisi yang berbeda. Yaitu menuangkan dalam bentuk puisi, dan diterbitkan menjadi Antologi Corpus Puisi Pandemi: Merajut Kata, Ilmu, dan Hati. &#8221;Gagasan ini tidak terlepas dari peran media sosial. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2020/09/27/apresiasi-para-sastrawan-pada-antologi-puisi-pandemi-karya-perempuan-akademisi">Apresiasi para Sastrawan pada Antologi Puisi Pandemi Karya Perempuan Akademisi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Pandemi covid-19 telah melahirkan banyak perbincangan melalui webinar berbagai seminar, dialog, dan diskusi. Lalu para dosen<br />
perempuan dari 15 Perguruan Tinggi, kemudian membahas pandemi dari sisi yang berbeda. Yaitu menuangkan dalam bentuk puisi, dan diterbitkan menjadi Antologi Corpus Puisi Pandemi: Merajut Kata, Ilmu, dan Hati.</p>
<p>&#8221;Gagasan ini tidak terlepas dari peran media sosial. Lalu kita rayakan sosial media dengan sesuatu yang positif. Saat itu saya membaca potongan puisi Frida Kusumastuti di laman sosial medianya. Lalu terbetik untuk melakukan kolaborasi bersama teman-teman di Japelidi, tempat kami bertemu pada awalnya,&#8221; tutur Lestari Nurhajati, dari London School of Public Relations University (LSPR) sebagai penggagas antologi, dalam keterangannya.</p>
<p>Sebanyak 18 penulis yang berlatar belakang Akademisi Ilmu Komunikasi ini, telah mengumpulkan sebanyak 142 judul puisi. Puisi-puisi itu ditulis dalam kurun waktu Juni-Juli 2020. Melalui proses kurasi oleh Kurniawan Junaedi dari Kurator Indonesia, kumpulan puisi itu kemudian diluncurkan secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (26/9/2020).</p>
<p><strong>BACA JUGA : <a href="https://suarabaru.id/2020/09/27/bikin-rekor-luar-biasa-uin-walisongo-raih-penghargaan-muri/">Bikin Rekor Luar Biasa, UIN Walisongo Raih Penghargaan Muri</a></strong></p>
<p>Peluncuran yang dikemas menarik ini, juga menghadirkan dua sastrawan besar Jose Rizal Manua dan Yvonne de Fretes, dalam diskusi yang diikuti sekitar 100 orang itu.</p>
<p>Jose Rizal Manua yang pernah menerima berbagai penghargaan di tingkat Asia-Pasific maupun dunia, sebagai baik sebagai sutradara maupun sebagai penampil (Theater Best Perfomance), juga memberikan apresiasinya.</p>
<p>&#8221;Puisi-puisinya luar biasa, karena ditulis dari sumber yang dihadapi ibu-ibu. Saya memberi penghargaan yang tinggi kepada 18 penulis wanita ini. Pada hakekatnya, semua orang pernah menulis puisi, terutama saat jatuh cinta. Puisi sebenarnya dekat dengan keseharian kita. Tetapi puisi-puisi dalam Corpus tetap ada sentuhan seni,&#8221; puji Jose Riza</p>
<p>Dalam sesi diskusi, Eka Budianta menyetujui pernyataan Jose Rizal. Budianta menambahkan, ada tiga kepekaan, yaitu kepekaan pada tempat, waktu, dan pada peristiwa.</p>
<p>&#8221;Kepekaan waktu memberi puisi sebagai keabadian. Dan saat ini waktu yang penting adalah pandemi,&#8221; tutur Budianta.</p>
<p>Begitu pula dengan Yvonne de Fretes, mantan wartawan, seorang penulis aktif di majalah <em>Horizon</em>, serta pernah aktif dalam berbagai komunitas literasi dan sastra menyatakan, dunia sastra jarang dilirik orang.</p>
<figure id="attachment_116055" aria-describedby="caption-attachment-116055" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-116055" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2020/09/WhatsApp-Image-2020-09-27-at-18.44.19-e1601212154174.jpeg" alt="" width="600" height="450" /><figcaption id="caption-attachment-116055" class="wp-caption-text">Foto: dok/ist</figcaption></figure>
<p><strong>Literasi Digital</strong><br />
&#8221;Tentu para penulis perempuan ini bisa melakukannya melalui proses kreatif yang luar biasa. Bisa dimana saja, di tengah kesibukan sehari-hari,&#8221; sanjung Yvonne.</p>
<p>Selain diskusi, peluncuran antologi puisi ini juga menampilkan cerita dari Novi Kurnia dari UGM, selaku Koordinator Japelidi, juga penampilan live baca puisi oleh Liliek Budiastuti Wiratmo (Undip), Fitria W Roosinda (Ubhara Surabaya).</p>
<p>Kegiatan ini semakin menarik, dengan parade pembacaan puisi secara daring oleh Lintang Ratri dari Undip, Roro Retno Wulan (Telkom University Bandung), dan Gilang Desti Parahita (UGM).</p>
<p>Acara dengan moderator Monika Sri Yuliarti dari UNS dan MC Made Dwi Adnjani (Unissula Semarang) terasa istimewa, karena dalam kegiatan itu, seluruh pelaksanaan IT dilakukan sendiri oleh para penulis. Sebagai koordinator IT adalah Yenni Siswantini dari Binus Jakarta dan Soraya Fadhal (Universitas Al Azhar Indonesia).</p>
<p>Dalam Antologi Corpus Puisi Pandemi: Merajut Kata, Ilmu, dan Hati itu, berisi beberapa karya dari 18 akademisi perempuan dari 15 PT. Mereka mewakili Universitas Padjajaran, Universitas Muhammadiyah Malang, Ubhara Surabaya, UNS, Undip, Unissula Semarang, UGM, Atmajaya Yogyakarta, Universitas Langlang Buana, Telkom University, Unisba, Binus Jakarta, UNTA Jakarta, Universitas Al Azhar Indonesia, dan LSPR Jakarta.</p>
<p>&#8221;Kami ingin sejenak terlepas dari rutinitas sebagai Dosen Ilmu Komunikasi, namun tetap memasukkan nuansa ilmu komunikasi dalam puisi-puisi kami. Terutama sebagai upaya mengisi konten positif di ruang-ruang digital,&#8221; terang Frida Kusumastuti, salah satu penggagas dari UMM, yang menyebutkan, kegiatan ini sebagai bagian dari kampanye literasi digital.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2020/09/27/apresiasi-para-sastrawan-pada-antologi-puisi-pandemi-karya-perempuan-akademisi">Apresiasi para Sastrawan pada Antologi Puisi Pandemi Karya Perempuan Akademisi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>