<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnal Metafisika Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/opini/jurnal-metafisika/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Aug 2025 00:26:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Jurnal Metafisika Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mengenali Pelet, Benarkah Ia Ada? (2 Habis)</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/08/13/mengenali-pelet-benarkah-ia-ada-2-habis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2025 00:26:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=489967</guid>

					<description><![CDATA[<p>ISTILAH pelet tidak selalu dikaitkan urusan percintaan. Di Jawa Tengah, pelet  diartikan motif pada warangka keris. Di sekitar Gunung Muria, pelet digunakan untuk sebutan orang yang berprofesi sebagai penculik anak-anak. Di Banyuwangi, pelet diartikan memikat burung dengan getah pohon. Pada dekade 90-an, mulai marak istilah pelet, yang diidentikkan dengan “memikat hati”. Ketika itu, kalangan paranormal [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/08/13/mengenali-pelet-benarkah-ia-ada-2-habis">Mengenali Pelet, Benarkah Ia Ada? (2 Habis)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-487580" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/metafisika-logo-masruri-4.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/metafisika-logo-masruri-4.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/metafisika-logo-masruri-4-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/metafisika-logo-masruri-4-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>ISTILAH</strong> pelet tidak selalu dikaitkan urusan percintaan. Di Jawa Tengah, pelet  diartikan motif pada warangka keris. Di sekitar Gunung Muria, pelet digunakan untuk sebutan orang yang berprofesi sebagai penculik anak-anak. Di Banyuwangi, pelet diartikan memikat burung dengan getah pohon. Pada dekade 90-an, mulai marak istilah pelet, yang diidentikkan dengan “memikat hati”.</p>
<p>Ketika itu, kalangan paranormal mulai menunjukkan eksistensi profesiny melalui media. Mereka mengeksploitasi jasa seputar pelet iklan-iklannya yang terkadang disajikan dengan bahasa yang bombastis. Jika menilik istilah pelet, banyak kalangan meyakini, istilah itu terinspirasi nama tokoh Nini Pelet dalam legenda Gunung Ceremai, Kuningan, Jawa Barat.</p>
<p>Perempuan tersebut dikenal hebat, khususnya dibidang percintaan. Nini Pelet adalah tokoh yang merebut kitab “Mantra Asmara” ciptaan tokoh sakti Ki Buyut Mangun Tapa. Salah satu dari isi kitabnya ajian “jaran guyang” yang dikenal ampuh untuk mengikat hati lawan jenis. Ajian itu masih dipelajari sebagian orang, khususnya  kalangan paranormal.</p>
<p>Sementara itu, Ki Buyut Manguntapa, pencipta ajian “Jaran Guyang” itu-dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Indramayu, Jawa Barat. Masyarakat sekitar makam itu meyakini disitu sering muncul harimau siluman yang dipercayai sebagai peliharaan Ki Buyut. Konon, harimau itu sering muncul tengah malam, khususnya  malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi.</p>
<p><strong>Kisah Baridin, Suratminah</strong></p>
<p>Di tanah Pasundan-khususnya daerah sekitar Cirebon dikenal banyak menyimpan ilmu pelet. Selain Ki Buyut Mangun Tapa dan Nini Pelet yang kisahnya diangkat ke layar lebar, dikenal cerita asmara “sampai mati” dari Baridin yang dikisahkan terjadi pada masa kolonial Belanda.</p>
<p>Cerita yang dipopulerkan maestro tarling Cirebonan, pimpinan H. Abdul Adjib ini melengenda. Dikisahkan, Baridin itu anak janda miskin asal Desa Jagapura, Gegesik, Cirebon. Baridin jatuh cinta kepada gadis yang tercantik di wilayah Cirebon, bernama Suratminah. Gadis itu putri tunggal duda kaya bernama Bapak Dam, seorang bandar gabah (padi) yang terkenal kaya raya.</p>
<p>Selain kaya, Bapak Dam juga dikenal temperamental. Ketika Mbok Wangsih-Ibu Baridin-datang untuk melamar ke orangtua Suratminah, perempuan itu justru menerima penghinaan dengan kata-kata yang pedas. Lamaran janda miskin itu dianggap Bapak Dam sebagai penghinaan terhadap statusnya sebagai keluarga terpandang.</p>
<p>Mbok Wangsih pun dihina Bapak Dam. Barang-barang yang dibawa saat melamar, pisang muli (pisang emas), kendhi, dan tempayan, dirusak oleh tuan rumah. Mendengar berita itu, Baridin sakit hati. Dia lalu belajar ilmu pelet “jaran guyang” kepada sahabatnya bernama Gemblung.</p>
<p>Untuk menguasai ilmu pelet itu, dia harus puasa ngebleng (tanpa buka jsahur) selama 40 hari 40 malam. Dan karena dendamnya atas perlakuan Bapak Dam terhadap Ibunya, dan Baridin bersumpah tidak akan pernah ada makanan menyentuh tenggorokannya sebelum Suratminah gila karena pengaruh peletnya.</p>
<p>Dengan tirakat itu, Baridin agar Suratminah datang dan mengemis cintanya. Hingga hari yang ke-39, Baridin belum melihat tirakatnya berhasil. Semula, dia hampir putus asa. Ternyata, pada hari yang yang ke-40, Suratminah mendatanginya yang saat itu sedang di sawah. Anak petani miskin itu telanjur sakit hati akibat penghinaan yang dilakukan ayah Suratminah terhadap ibunya.</p>
<p>Cinta yang pernah diharapkan sudah berubah menjadi dendam membara. Ketika kedatangan Suratminah ditolak oleh Baridin, gadis itu berkata, jika tidak dinikahi  Baridin, dia rela mati. Namun, Bapak Dam malu karenai anaknya mendatangi Baridin. Dia mengejar Suratminah dan menarik anaknya.</p>
<p>Suratminah terjatuh dan meninggal mendadak di depan Baridin.  Melihat itu, Baridin menyesal, bahkan tak lama kemudian, dia menyusul mati karena cintanya kepada Suratminah. Ajian jaran guyang yang dipelajari disetiap wilayah, walau yang versinya berbeda-beda. Ada ajian jaran guyang versi Cirebon, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Banyuwangi), dan Bali. Bahkan, tanah Papua pun mengenal ajian pelet ini.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/07/30/mengenali-pelet-benarkah-ia-ada">Mengenali Pelet, Benarkah Ia Ada?</a></strong></span></p>
<p>Setiap Ajian mantra dan laku batinnya berbeda walau tujuannya sama-sama untuk memikat hati. Ajian jaran guyang versi Cirebon (yang digunakan Baridin) aslinya disertai dengan melakukan puasa ngebleng  atau tidak makan minum 40 hari 40 malam. Tentunya, kalau ukuran zaman sekarang, hal itu termasuk tirakay yang berlebihan.</p>
<p>Padahal, jika reaksinya sudah tampak, tirakatnya sudah boleh dihentikan meski belum genap 40 hari. Dalam kisah Baridin, yang melakukan tirakat 40 hari 40 malam, itu kalangan pinesepuh di Cirebon meyakini hal itu karena ada alasan tertentu. Termasuk  yang diyakini jika pada hari ketujuh (seminggu setelah tirakat), Suratminah itu sudah terpengaruh pelet yang dikirim Baridin.</p>
<p>Saat Suratminah masih bertahan dengan rasa malu karena dia menolak Baridin dan juga mengingat statusnya sebagai anak orang terpandang. Sebagai perempuan tercantik di wilayah Cirebon, tentu saja logis jika berpikir 100 kali untuk mendatangi lelaki dari kalangan miskin yang sehari-hari di sawah. Nggak level, kata anak zaman sekarang.</p>
<p><strong>Menolak Secara Halus</strong></p>
<p>Namun, ketika Suratminah sudah tidak kuat menahan pelet yang sudah merasuk jiwa raganya, dia tidak mampu mengendalikan diri. Dia lalu mencari Baridin, namun tidak bertemu. Pada saat bersamaan, Baridin menganggap tirakatnya belum berhasil sehingga dia meneruskan tirakatnya hingga 40 hari 40 malam.</p>
<p>Tragisnya, pertemuan keduanya berujung dengan kematian di kedua pihak. Masyarakat Cirebon dan sekitarnya, dan kita semua, bisa mengambil hikmah kisah Baridin dan Suratminah. Yaitu, jika terpaksa harus menolak cinta lawan jenis, dicintai, sebaiknya wanita atau keluarga menolaknya halus.</p>
<p>Hindari perilaku yang menyebabkan ketersinggungan. Bentuk penolakan yang “kasar” itu menimbulkan sakit hati sehingga pihak yang ditolak cintanya dapat melampiaskan sakit hatinya dengan segala cara, termasuk dengan pelet atau cara mistis lainnya. <strong>Selesai</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/08/13/mengenali-pelet-benarkah-ia-ada-2-habis">Mengenali Pelet, Benarkah Ia Ada? (2 Habis)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenali Pelet, Benarkah Ia Ada?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/07/30/mengenali-pelet-benarkah-ia-ada</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2025 16:51:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=487579</guid>

					<description><![CDATA[<p>BERAWAL menjalani tradisi olah batin (tapa), secara tidak langsung, seseorang mempersiapkan badan rohaninya untuk “kejatuhan” nur atau cahaya langit. Proses ini berlangsung alami, diminta atau tidak, jiwa yang dibersihkan maka Tuhanlah yang mengatur dimana dia harus hidup dan potensi apa yang akan diterimanya. Yang pasti, orang yang menjalani olah batin, tentu jauh dari keinginan awal [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/30/mengenali-pelet-benarkah-ia-ada">Mengenali Pelet, Benarkah Ia Ada?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-487580" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/metafisika-logo-masruri-4.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/metafisika-logo-masruri-4.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/metafisika-logo-masruri-4-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/metafisika-logo-masruri-4-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>BERAWAL </strong>menjalani tradisi olah batin (tapa), secara tidak langsung, seseorang mempersiapkan badan rohaninya untuk “kejatuhan” nur atau cahaya langit. Proses ini berlangsung alami, diminta atau tidak, jiwa yang dibersihkan maka Tuhanlah yang mengatur dimana dia harus hidup dan potensi apa yang akan diterimanya.</p>
<p>Yang pasti, orang yang menjalani olah batin, tentu jauh dari keinginan awal untuk nantinya menjadi paranormal. Contoh tradisi tirakat itu, jika dilihat dari fenomena yang sekarang terjadi, adalah munculnya profesi yang identik dengan dunia supranatural, misalnya layanan jasa paranormal.</p>
<p>Mereka ibarat “tidak sengaja” telah mengasah pisau yang dia sendiri tidak tahu pasti, akan digunakan untuk apa pisau itu. Tirakat ibarat menabung (energi) yang awalnya tidak jelas akan dimanfaatkan untuk kepentingan apa. Proses alamiah ini berbeda dengan mereka yang mengolah batin untuk kepentingan yang sudah diprogam.</p>
<p>Khusus pengasihan, karisma, para pinisepuh Jawa memiliki dua pendapat. Sebagian tidak merestui anaknya mempelajari ilmu itu sebelum dewasa. Sebaliknya, ada yang memilih berpikir positif karena pengasihan itu ilmu yang sesuai tradisi orang Timur yang tidak menyukai konflik terbuka.</p>
<p>Dan pelet dapat dimanfaatkan untuk <em>menang tanpa ngasorake</em>, yaitu menang dengan tanpa menghinakan pihak lain. Karena sifatnya yang meluluhkan hati itu, pelet dapat menjadi sarana menyelesaikan masalah dengan cara yang manusiawi.</p>
<p>Mendengar istilah pelet, asumsi publik akan melayang pada wilayah kegelapan, tentang “memengaruhi” orang lain yang berdampak pada perilaku yang menjadi “tidak wajar”. Antara santet dan pelet bisa dikatakan kakak-beradik. Walau sebagian orang berpendapat, pelet itu sihir kecil (ringan).</p>
<p>Sedangkan sihir besar itu aktivitas magis untuk mencelakai, secara fisik atau mental. Pada umumnya, pelet hanya memengaruhi mental. Tapi, benarkah pelet itu (mutlak) sihir? Nanti dulu. Pelet bersumber dari kekuatan energi yang bisa menjadi kekuatan yang positif atau negatif, tergantung siapa yang menggunakannya.</p>
<p>Posisi pelet seperti itu obat bius. Di tangan orang yang berkompeten memegangnya, dokter, misalnya dalam ukuran yang tepat, menjadi sarana yang membantu sesama dari sisi kemanusiaan. Namun jika bius itu dipegang orang yang tidak berkompeten,  dalam ukuran yang berlebihan, obat itu menjadi alat yang merusak.</p>
<p>Ketika naskah ini dalam persiapan penulisan, salah satu sahabat saya yang guru di sebuah SMK menceritakan, di lembaga pendidikan tempat dia mengajar, pernah dilakukan razia ponsel terhadap siswa di sekolah itu. Dalam operasi itu, tidak ditemukan hal-hal yang tidak baik dalam ponsel siswa.</p>
<p>Namun yang ditemukan itu sejenis jimat dari dalam tas dan dompet beberapa siswa. Bentuknya beragam, ada yang rajah atau tulisan Arab, pusaka kecil, batu akik, dan gulungan rambut panjang (wanita) dan sebagainya.</p>
<p>Saat operasi itu, hal yang lebih mengejutkan itu ditemukan jimat yang diduga sebagai sarana pelet. Benda itu berbentuk boneka wanita yang ditempeli bunga yang diikat kain putih. Hal yang lebih mengejutkan, sebagian dari jimat itu ditemukan dalam tas siswa dari jurusan mesin.</p>
<p>Hal itu menunjukkan, seseorang dengan <em>basic</em> teknologi ternyata tidak menghilangkan sifat asalnya sebagai bangsa timur. Selain jimat milik anak-anak SMK itu, ada kisah lebih tragis yang dialami salah satu politikus dari salah satu partai besar pada masa awal reformasi.</p>
<p>Politikus itu punya gelar berderet dan dikenal sebagai tokoh pendidikan di salah satu provinsi. Namun, saat bertemu dan berkonsultasi dengan saya, terkait jimat yang  dibawanya, yang terjadi justru gelak tawa. Ternyata, dia menyimpan jimat yang disimpan dalam bolpoin dan selalu dibawa ke mana dia pergi.</p>
<p>Benda itu pula yang diyakini ikut terlibat dalam memudahkan urusan politiknya. Setelah saya teliti, jimat itu bagian dari bunga rumput yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Sifat alami dari bunga rumput kering itu bisa bergerak ketika kena air.</p>
<p>Politikus yang juga intelektual itu menganggapnya rumput kering itu sebagai kejaiban. Rumput kering itu oleh sebagian orang sering, diekploitasi sebagai “buluh perindu” yang memiliki kekuatan pelet. Dan ketika saya belum paham “rumput bergoyang” itu, saya sempat menjualkan milik teman kepada teman di negeri seberang.</p>
<p><strong>Kebodohan Berjamaah</strong></p>
<p>Ini suatu kebodohan berjamaah, karena yang menjual, perantara, dan pembelinya sama-sama tidak tahu. Saat itu, saya hanya terpana bawaan alami rumput kering yang dapat bergerak ketika terkena air, sekaligus  terpengaruh  “nama besar” buluh perindu yang sering ekspos media yang senang berita keajaiban.</p>
<p>Seiring perkembangan zaman, urusan pelet (ternyata) mulai melebar ke wilayah  politik. Karena itu, tulisan yang mengupas tuntas tentang  pelet.  Terkait halal-haram jika diperdebatkan untuk “rebutan benar” tentu tidak ada selesainya. Karena yang berkaitan pelet itu dipahami secara <em>text book</em>, apalagi buku yang membahas  metafisika pada umumnya referensinya dari buku yang dijual di kios pedagang kaki lima, tentang mantra dan tirakat.</p>
<p>Teknik penyajian pun sering kali vulgar hingga pembaca tidak mendapatkan informasi secara utuh tentang seputar dunia pelet. Sehingga perlu ada buku yang  menyuguhkan informasi pelet secara utuh. Mulai dari sejarah, cara menangkal yang negatif, mendeteksi gejalanya, dsb.</p>
<p>Yaitu membangkitkan karisma yang positif, mengenal benda yang memiliki energi,  dan sarananya dari sisi agama, budaya dan psikologis yang dilengkapi pemotretan dengan foto aura, uji coba dengan tenaga dalam (prana) dan “mata ketiga” yang melibatkan praktisi reiki dan yoga.</p>
<p>Secara umum, pelet dipahami sebagai cara supranatural yang dilakukan melalui laku batin (tirakat) atau memanfaatkan benda-benda yang memiliki kekuatan magis. Bangsa kita mungkin tidak asing lagi dengan istilah pelet. Dan tentunya, setiap daerah mengenal istilah pelet dengan nama berbeda.</p>
<p>Di Jawa ilmu pelet disebut <em>pengasihan</em> atau <em>ilmu asihan</em>, di Sumatra atau di tanah Melayu, ilmu ini disebut <em>pekasih</em>. Tanah Minang, disebut <em>pitunang</em>, di tanah Batak orang menyebutnya <em>dorma</em>. Di Kalimantan Barat, masyarakat mengenalnya <em>kundang</em>, di Kalimantan Timur disebut <em>pitunduk</em>. <strong><em>Bersambung</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/30/mengenali-pelet-benarkah-ia-ada">Mengenali Pelet, Benarkah Ia Ada?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manusia Kerasukan Setan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/07/23/manusia-kerasukan-setan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2025 01:25:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=486102</guid>

					<description><![CDATA[<p>MANUSIA “kerasukan” setan, itu bukan hanya saat kesurupan. Dalam keseharian, (ketika fisik dalam kondisi segar-bugar), setan itu tetap saja bergentayangan dalam jiwanya, dan mengajak pada hal-hal yang menyimpang dari tuntunan agama. Lalu kapankah setan itu masuk dalam tubuh manusia? Menurut para alim, setan itu dapat memasuki hati manusia setelah manusianya ada hasrat untuk berbuat dosa. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/23/manusia-kerasukan-setan">Manusia Kerasukan Setan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-140438" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/metafisika-logo-masruri-4.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/metafisika-logo-masruri-4.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/metafisika-logo-masruri-4-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/metafisika-logo-masruri-4-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>MANUSIA</strong> “kerasukan” setan, itu bukan hanya saat kesurupan. Dalam keseharian, (ketika fisik dalam kondisi segar-bugar), setan itu tetap saja bergentayangan dalam jiwanya, dan mengajak pada hal-hal yang menyimpang dari tuntunan agama. Lalu kapankah setan itu masuk dalam tubuh manusia?</p>
<p>Menurut para alim, setan itu dapat memasuki hati manusia setelah manusianya ada hasrat untuk berbuat dosa. Dengan kata lain, setan itu masuk dalam hati manusia melalui sifat-sifat buruk yang ada pada manusia itu. Itu berarti, orang yang masih mempertahankan imannya, setan tidak mampu membisikkan godaannya.</p>
<p>“Sesungguhnya engkau tidak berkuasa atas hamba-hamba-Ku” (QS 15:42). Dalam bahasa yang lebih sedernaha, setan hanya mau mengganggu bagi orang yang dapat atau mampu diganggu. Setan identik dengan nafsu-nafsu rendah, maka barangsiapa menundukannnya, maka dia menjadi raja, dan siapa mengikutinya, maka dia menjadi budak tawanannya.</p>
<p>Dalam sebuah kisah, suatu saat setan berkeinginan tobat dan keinginan itu diutarakan kepada Nabi Musa AS untuk menyampaikannya pada Allah. Allah pun memberikan syarat agar tobatnya diterima, agar setan bersujud kepada kuburan Adam AS. Mendengar syarat itu, setan marah karena kesombongannya.</p>
<p><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/07/09/gendam-dan-hipnotis-i">Gendam dan Hipnotis – I</a></strong></p>
<p>“Bagaimana aku bersujud kepadanya ketika dia sudah mati, sedangkan selagi hidup  aku tidak sudi melakukannya,” kata setan.</p>
<p>Melihat Musa AS sudah berkenan membantu menyampaikan pesan kepada Allah, setan pun memberi nasihat yang akan menyelamatkan Musa dan manusia pada umumnya dari gangguan setan. “Ingatlah aku dalam tiga keadaan. Pasti aku tidak akan mencelakakanmu,” kata setan.</p>
<p>“Pertama, ingatlah ketika kamu marah, aku berada dalam ruh dan matamu, aku bergerak bersama aliran darahmu. Kedua, dalam medan perjuangan, aku ingatkan kamu dengan keadaan anak istri hingga semangat juangmu melemah. Ketiga, jauhi berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, karena saya akan berperan sebagai utusan dia kepadamu dan utusanmu kepadanya.”</p>
<p>Disimpulkan, pintu setan itu dapat timbul karena sifat marah, pengecut atau menipisnya semangat amar makruf nahi munkar, juga akibat dari pergaulan bebas yang pada zaman akhir ini oleh sebagian besar masyarakat kita dianggap hal yang lumrah.</p>
<p>Menurut Imam Fahrur Rozi, ada tiga pintu utama masuknya setan dalam tubuh manusia, yaitu: Ghadab, syahwat dan hawa. Dalam psikologi Islam, ketiganya menunjukkan faktor yang menggerakkan segala aktivitas manusia. Dalam psikologi modern, ketiganya &#8211;<em>Ghadab</em>, syahwat dan hawa- disebut <em>primary drives</em> atau <em>motives</em>.</p>
<p>Dalam psikologi Islam, ghadab yang berarti marah, adalah kecenderungan untuk mengungguli, menyerang dan mengalahkan pihak lain. Dari ghadab melahirkan sifat ujub (bangga diri) dan takabur (sombong). Adapun syahwat adalah kecenderungan untuk menuruti segala keinginan kenikmatan sensual: makan , minum, hiburan, seks dsb.</p>
<p>Syahwat ini melahirkan sifat serakah dan bakhil (pelit). Adapun hawa adalah kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri (egoisme), menonjolkan sifat keakuan. Dari hawa melahirkan sifat menentang kebenaran yang datang dari Allah. Dari ghadab, syahwat dan hawa ini melahirkan sifat-sifat: Ujub, takabur, rakus, bakhil, kufur dan bid’ah.</p>
<p><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/07/16/gendam-dan-hipnotis-2-habis">Gendam dan Hipnotis (2 Habis)</a></strong></p>
<p>Jika keenam sifat itu digabungkan dan atau ada dalam kepribadian manusia, maka lahirlah dengki, yaitu sifat yang merupakan gabungan dari berbagai kejahatan. Ghadab dapat menghilangkan akal sehat. Karena itu, kita dilarang mengambil suatu keputusan disaat sedang marah, karena hampir dipastikan apa yang diputuskan itu diluar nalar sehat.</p>
<p>Sedangkan syahwat disebut sifat yang paling menonjol dari hawa nafsu. Ia menyebar ke seluruh berbagai organ tubuh. Syahwatnya mata, melihat. Syahwatnya telinga mendengarkan, syahwatnya hidung mencium, syahwatnya badan menyentuh dsb. Dan secara umum, tunduknya seseorang pada nafsu rendahnya, hanya menghasilkan kepuasan sesaat dan menyebabkan penderitaan dan penyelasan di kemudian hari.</p>
<p>Penyebab gangguan jiwa itu biang utamanya karena diturutinya nafsu-nafsu rendah. Para ahli hikmah menyebutkan, diantara sifat yang dihasilkan karena diturutinya nafsu-nafsu rendah itu sifat : Cemas, sedih, lemah, malas, pengecut, bakhil, beban (hutang) dan ditindas orang lain, karena hilangnya harga diri. Dan sifat ini dapat datang pada waktu yang singkat maupun dalam waktu yang lama.</p>
<p>Sifat cemas, sedih, lemah, malas, pengecut dan sebagainya itu dari pandangan rohani, adalah sifat yang menyebabkan keruhnya hati dan secara fisik dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Orang melakukan kesalahan kepada sesama manusia, mencuri misalnya, dia dihinggapi rasa cemas karena kejaran hamba hukum atau orang yang menjadi korbannya.</p>
<p>Dari cemas menyebabkan sifat lemah dan tertindasnya hak-hak pribadi. Diibaratkan, setiap manusia sengaja berbuat kesalahan kepada sesamanya, berarti dia membuat lobang bagi dirinya. Artinya, semakin banyak dan dalamnya lobang, semakin besar kesempatan untuk mengubur dirinya.</p>
<p>Dari cemas akibat dosa, memengaruhi ketenangan batin. Tidur tidak nyenyak, makan tidak enak. Akibatnya? Kesehatan fisik dan psikis pun terganggu. Jantung mudah berdebar, tekanan darah tidak normal, nafsu makan pun terganggu, akibatnya kesehatan fisik dan psikis pun terganggu.</p>
<p>Orang yang banyak melakukan kesalahan kepada sesama, atau yang tidak dapat menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya,  sulit baginya mendapatkan penghargaan dan ketenangan batin. Untuk terhindar dari penyakit cemas.</p>
<p>Para ahli hikmah mengajarkan doa yang bersumber dari Nabi SAW. “Allahumma inni a’udzu blka minal hammi wal khazani wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa a’udzu bika minal jubni wal bukhli wa a’udzu bika min ghalabatid- daini wa qahrir rijaali.”</p>
<p>Artinya : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kebakhilan. Aku berlindung kepada-Mu dari utang yang banyak dan penindasan dari orang-orang besar.</p>
<p><strong><em>Masruri, penulis buku praktisi metafisika tinggal di Sirahan Cluwak Pati</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/23/manusia-kerasukan-setan">Manusia Kerasukan Setan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gendam dan Hipnotis (2 Habis)</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/07/16/gendam-dan-hipnotis-2-habis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2025 02:42:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=484645</guid>

					<description><![CDATA[<p>KEKUATAN pandangan mata pada masa sekarang dikenal dengan hypnotis.  Yang perlu digarisbawahi, istilah “hypnotism” dalam catatan kaki Al-Qur’an terjemah itu bukan dari arti teks Al-Qur’an, melainkan dari “catatan kaki” oleh tim penerjemah Departemen Agama Republik Indonesia. Maksudnya untuk lebih mempermudah pemahaman arti atau tafsir dari ayat tersebut, karena di Indonesia, terutamanya pada kalangan bawah, istilah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/16/gendam-dan-hipnotis-2-habis">Gendam dan Hipnotis (2 Habis)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-175192" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>KEKUATAN</strong> pandangan mata pada masa sekarang dikenal dengan hypnotis.  Yang perlu digarisbawahi, istilah “hypnotism” dalam catatan kaki Al-Qur’an terjemah itu bukan dari arti teks Al-Qur’an, melainkan dari “catatan kaki” oleh tim penerjemah Departemen Agama Republik Indonesia.</p>
<p>Maksudnya untuk lebih mempermudah pemahaman arti atau tafsir dari ayat tersebut, karena di Indonesia, terutamanya pada kalangan bawah, istilah hipnotis itu sudah telanjur akrab di telinga masyarakat dari berbagai kalangan.</p>
<p><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/07/09/gendam-dan-hipnotis-i">Gendam dan Hipnotis – I</a></strong></p>
<p>Fenomena semacam “hipnotis” atau disebut dengan ilmu kekuatan mata itu  terdapat dalam tafsir Alquran Surat Alqalam 51: “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu (Muhammad) dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Alquran &#8230;”</p>
<p><strong>Berbagai Tafsir</strong></p>
<p>Peristiwa itu dapat disimak dalam berbagai tafsir. Di antaranya, Tafsir Jalalain oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, dalam kalimat: Dengan pandangan yang kuat, hingga hampir memingsankan dan menjatuhkan dari tempatmu, tetapi Allah menolong. Dalam tafsir Jalalain tidak disebut secara tegas istilah “hipnotis”.</p>
<p>Melainkan dengan kalimat : “Yang dimaksud memandang itu bukanlah pandangan kagum, melainkan pandangan tajam memancarkan kebencian yang disertai dengan kekuatan semacam sihir yang pada zaman Nabi Muhammad SAW ilmu “ketajaman mata” itu banyak dikuasai Bani As’ad.</p>
<p>Untuk memiliki ilmu tersebut, mereka puasa tiga hari sehingga dapat memiliki kekuatan magis hingga dapat menidurkan dan membuat hewan atau manusia menjadi kaku bahkan sampai meninggal. Tafsir Al-Munir oleh Syaikh Nawawi Al- Bantani, juga Tafsir Shawi oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Misri, juga Tafsir Mukmin oleh Syaikh Abdul Wadud &#8211; Libanon .</p>
<p>Menurut Syaikh Ahmad, surat ke-51 dari surat al-qalam itu oleh bani Asad memiliki dua bagian fungsi. Pada bagian awal yang berbunyi wa iy-yakadul-ladziina kafaru layuz likuunaka bi absaarihim lammaa sami ‘uz-zikra wa yaquuluuna innahuu lamajnuun, kalimat ini sering disalahgunakan untuk sarana metafisis yang  merusak, yaitu praktik sihir.</p>
<p>Dan pada surat bagian yang akhir digunakan untuk penangkal sihir, yaitu pada kalimat: <em>Wa maa huwa ilia zikrul lil- ‘alamiin</em> yang artinya, dan Alquran itu tidak lain hanya peringatan bagi seluruh umat dapat digunakan sebagai penangkal sihir dengan cara dibaca sebagai doa atau ditulis dalam bentuk <em>wifiq</em> atau rajah.</p>
<p>Sebenarnya, agama itu tidak mengajarkan ilmu yang merusak seperti sihir, santet, dan sebagainya. Namun ada yang  menciptakan “teknologi batin” mengambil inspirasi dari ayat-ayat dan itu selalu ada pada setiap zaman. Dalam hal ini, agama menolak sihir karena masuk kategori dosa besar.</p>
<p>Penggunaan istilah hipnotis dalam “catatan kaki”  jika dilihat dari sisi keilmuan hipnosis modern menjadi tidak tepat karena yang dilakukan orang-orang kafir dari bani As’ad kepada Nabi Muhammad saw, praktiknya berbeda dengan hipnotis modern. Dalam tafsir dijelaskan, ilmu “kekuatan mata” itu dapat memengaruhi Nabi saat beliau sedang membaca Al-Qur’an.</p>
<p>Nabi sempat terpengaruh namun Tuhan menyelamatkan. Kejadian itu lebih tepat disebut dengan istilah magis, ilmu hitam, atau gendam menurut zaman sekarang. Walau kita ketahui, tidak semua jenis ilmu gendam itu beraliran hitam. Karena selain yang hitam, ada juga gendam beraliran putih, diantaranya ilmu yang dikuasai bani Asad itu memiliki banyak kersamaan dengan ilmu gendam jika dilihat dari proses belajar dan fungsinya.</p>
<p>Yaitu sama-sama dimulai dengan laku tradisional (puasa, membaca, dan menulis rajah atau <em>wifiq</em>) dan dapat diaktualisasikan ketika sasaran (subjek) dalam keadaan diam (pasif). Untuk mengetahui tentang perbedaan antara ilmu yang dikuasai bani Asad dengan hipnotis ilmiah yang banyak dipelajari khalayak umum.</p>
<p><strong>Aktivasi Hipnotis</strong></p>
<p>Penguasaan hipnosis diaktifkan dari melalui (puasa, baca mantra), pendekatan metafsik, teknik dan skill yang bereaksi terhadap subjek dan bereaksi terhadap target yang respons atau mau tidak fokus, yang menolak dan ingin menerima hipnosis untuk sekali, termasuk dari jarak jauh tanpa kepentingan terapi atau peningkatan melalui komunikasi verbal atau nonverbal.</p>
<p>Cara kerjanya lebih memanfaatkan berproses melalui “energi lembut” : sugesti verbal (saran, perintah) maupun kekuatan pikiran (mind power) dan hal sugesti nonverbal (gerakan, ekspresi), dll. yang masih diyakini sebagai supranatural. Jika mengikuti kaidah yang benar, mestinya ada perbedaan antara hipnotis dan gendam.</p>
<p>Namun karena buku ini lebih membahas masalah gendam, maka istilah mana yang benar itu biarlah dibahas pihak lain yang lebih memahami hipnotis modern. Saya memilih menggunakan istilah yang sudah telanjur akrab ditelinga kalangan awam, karena melalui buku ini saya “menyapa” kalangan menengah ke bawah, dengan bahasa yang mudah dipahami mereka.</p>
<p>Kalangan ini yang lebih penting diberi tambahan wawasan, karena merekalah yang lebih rawan berkitan penipuan bermodus gendam. Dalam sejarahnya, kata hipnotis dan hipnotisme ini dikenalkan dokter bedah Skotlandia bernama James Braid sekitar tahun 1841, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Hipnotis Modern.</p>
<p>Hipnotis adalah teknik memengaruhi orang lain secara sengaja agar masuk kedalam kondisi menyerupai tidur. Seseorang yang terhipnotis bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dan dapat menerima sugesti (perintah atau saran) dengan tanpa perlawanan. Teknik ini sering untuk menjelajahi alam bawah sadar hipnotis disebut sebagai western style dengan kekuatan verbal (saran atau perintah).</p>
<p>Sedangkan gendam disebut sebagai <em>eastern style</em>, termasuk hipnosis tradisional yang lebih tertumpu pada kekuatan “aku batin” seseorang. Kalau berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada perbedaan antara keilmuan dan pelakunya. Istilah hipnosis adalah kondisi mirip-mirip tidur karena sugesti atau saran. Pada taraf permulaan orang itu dibawah pengaruh yang memberikan sugesti.</p>
<p>Pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali. Sedangkan “hipnotis” membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis. Apa yang tertuang dalam kamus sebenarnya masih layak untuk dikoreksi, karena kondisi hipnosis yang sesungguhnya hanya sebatas beralihnya pikiran sadar (conscius mind) ke pikiran bawah sadar (subconscius mind), dan bukan amnesia secara total.</p>
<p>Proses kerja hipnotis dengan gendam itu berbeda. Hipnotis hanya mampu memengaruhi orang yang respons dan mau dihipnotis, misalnya untuk pertunjukan atau untuk penyembuhan (hinoterapi). Sedangkan gendam diprogram dapat memengaruhi orang yang menolak saran. <strong><em>HABIS</em></strong></p>
<p><strong><em>Masruri, penulis buku praktisi metafisikan tinggal di Sirahan Cluwak Pati</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/16/gendam-dan-hipnotis-2-habis">Gendam dan Hipnotis (2 Habis)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gendam dan Hipnotis &#8211; I</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/07/09/gendam-dan-hipnotis-i</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2025 09:47:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=483061</guid>

					<description><![CDATA[<p>KETIKA saya harus menulis naskah buku tentang gendam, ingatan saya melayang pada peristiwa tahun 1995. Ketika anak saya yang saat itu berusia tiga tahun ada masalah dengan nafsu makannya, oleh tetangga disarankan agar anak dibawa ke seorang tetangga yang mampu “mendekatkan” anak dengan nasi dan lauk. Antara percaya dan tidak percaya, setelah anak saya ditiup [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/09/gendam-dan-hipnotis-i">Gendam dan Hipnotis &#8211; I</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-175192" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>KETIKA</strong> saya harus menulis naskah buku tentang gendam, ingatan saya melayang pada peristiwa tahun 1995. Ketika anak saya yang saat itu berusia tiga tahun ada masalah dengan nafsu makannya, oleh tetangga disarankan agar anak dibawa ke seorang tetangga yang mampu “mendekatkan” anak dengan nasi dan lauk.</p>
<p>Antara percaya dan tidak percaya, setelah anak saya ditiup ubun-ubunnya dan diberi makan telur ayam kampung yang sudah dibacakan doa, anak saya menjadi lahap makannya. Yang pasti setelah itu, obat tetes untuk memicu nafsu makan sudah tidak lagi diperlukan.</p>
<p>Dalam kehidupan masyarakat tradisional, fenomena “memengaruhi” secara nonverbal itu sangat akrab. Melalui teknik komunikasi yang karena rumus ilmiahnya belum ketemu, hingga dianggap sebagai keajaiban. Teknik komunikasi “magis” itu masih dikuasai beberapa orang.</p>
<p>Selain memengaruhi balita agar doyan makan, ada juga yang disebut sapih. Yaitu agar balita menghentikan menyusu ibunya. Atau ketika seorang ibu terpaksa harus ke luar negeri menjadi TKW, agar anaknya tidak rewel karena kangen ibunya, untuk sementara, jalinan kasih sayang antara anak dengan ibunya itu dapat “diputus”.</p>
<p>Kemudian saatnya nanti ibunya kembali ke Indonesia, jalinan itu bisa diaktifkan lagi. Terlepas apakah cara itu manusiawi atau tidak, saya memandang teknik memengaruhi pikiran ala tradisional itu ada dan terbukti. Dari sisi yang positif, gendam, misalnya, sernestinya tidak hanya dikaitkan dengan kasus kejahatan di jalanan, tetapi perlu dilihat sisi positifnya juga.</p>
<p>Misalnya, kasus sapih, sirep atau menidurkan bayi rewel, orang histeris, kalap, melunakkan hati yang keras agar nasihat mudah diterima, dan sebagainya. Sebagian orang memilih menjaga jarak dengan apa yang disebut gendam karena pengaruh media. Misalnya, penipuan di jalanan dieksploitasi sebagai gendam.</p>
<p>Kemudian tayangan televisi tentang gendam juga lebih menampilkan adegan orang berlatih gendam melalui “pemujaan” di tempat-tempat angker.  Sedangkan metode penggalian energi melalui jalur religi tidak pernah diekspos. Saya mungkin temasuk orang yang tidak perlu malu mengakui dan meyakini adanya kemudahan-kemudahan yang bisa didapatkan melalui metode gendam, yang oleh sebagian orang dianggap tidak ilmiah.</p>
<p>Dibandingkan orang yang ingin menjaga reputasinya sehingga harus sembunyi-sembunyi ketika berurusan dengan hal yang dianggap tidak ilmiah itu, saya justru menghargai dua ilmuwan Indonesia, Amin Rais dan Mahfud MD.</p>
<p>Dalam buku Autobiografinya, Amien mengaku memiliki “doa ampuh” yang sudah berkali-kali diyakini menjadi penyebab datangnya pertolongan-Nya, terutama pada saat-saat kritis. Pengakuan yang sama ditutarakan Pak Mahfud MD dalam salah satu acara di televisi.</p>
<p>Ketika orang mengidentikkan gendam dengan klenik atau takhayul, saya justru memandang gendam itu sebagai dampak atau upah dari aktivitas doa. Argumentasinya, dapat disimak dalam buku-buku yang saya tulis. Yaitu, apa yang didapatkan seseorang yang rutin berdoa (repitisi) walau dalam keadaan lapang (tidak ada bahaya).</p>
<p>Jika dianalisis secara jernih berarti dia sudah “menabung” energi yang jika dilakukan rutin, menyebabkan munculnya energi-energi kemudahan. Guyonannya, karena energi dengan stoknya aman itu menyebabkan persoalan yang semestinya mudah menjadi lebih mudah.</p>
<p>Karena dengan berdoa kepada Tuhan, ingat (zikir) atau dalam istilah kejawen, menyebabkan Tuhan akan mengingat kita. Maka,  semakin banyak ingat (zikir) itu, semakin banyak  pertolongan Tuhan kepada kita. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.</p>
<p><strong>Hipnotis dan Gendam </strong></p>
<p>SALAH kaprah dalam penggunaan istilah “hipnotis” bukan terjadi di kalangan orang awam. Hal itu juga terjadi di kalangan media (cetak, elektronik). Penulisan atau penayangan berita tindak kejahatan atau penipuan di jalanan, media menggunakan istilah hipnotis.</p>
<p>Itu dapat dimaklumi, karena media menggunakan bahasa yang sudah telanjur akrab ditelinga, agar berita yang disampaikan  mudah dipahami pembaca atau pemirsanya. Untuk membedakan arti hipnosis, hipnotis, dan gendam perlu waktu. Bahkan saya pernah minta redaksi media untuk mempertimbangkan penggunaan istilah hipnotis untuk penipuan dijalanan.</p>
<p>Itu karena berdampak merugikan praktisi hipnosis, karena orang awam menduga, mereka itu pelaku ilmu hitam. Sedangkan sihir dalam bahasa agama dimaknai berbeda dengan istilah sihir dalam bahasa media. Dalam bahasa agama, sihir adalah kemampuan luar biasa yang dimiliki orang-orang kafir.</p>
<p>Dalam bahasa media, sihir digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang mengagumkan. Misalnya, penampilan artis terkenal itu mampu menyihir penonton. Jika bahasa media itu dipahami dari bahasa agama, tentu saja tidak nyambung.</p>
<p><strong>Dari Catatan Kaki</strong></p>
<p>Untuk menggambarkan penggunaan istilah “hipnotis” itu merugikan pihak tertentu, pernah ketika saya bertamu ke kediaman tokoh agama. Saya diterima  putranya yang masih belajar di lembaga pendidikan keagamaan. Saat berbincang, kami membahas tentang supranatural.</p>
<p>Dari perbincangan itu, putra tuan rumah mengetahui, selain sebagai penulis buku-buku tentang supranatural, saya juga praktisi hipnotis. Apa reaksinya? “Haa, Anda pelatih hipnotis?” dia keheranan dan menunjukkan ekspresi kurang bersahabat.  Sesaat kemudian dia mengambil kitab dalam buffet.</p>
<p>Setelah itu menemui saya lagi dan membawa kitab klasik yang salah satu bagiannya membahas ilmu sihir “kekuatan mata” yang pada zaman kenabian dulu sudah dikenal. Dia menjelaskan, hipnotis itu ilmu sihir dan hukumnya haram dipelajari karena berdasarkan informasi yang dia peroleh, untuk menguasai ilmu hipnotis itu dengan latihan kekuatan mata.</p>
<p>Di antaranya memandang api lilin, titik hitam, matahari, terkadang disertai membaca “mantra-mantra” atau afirmasi tertentu untuk membangkitkan auto sugestinya. Karena tidak ingin “ceramah di panggung orang lain”, saya memilih diam. Apa pun yang dikatakan, saya iyakan seolah menyetujui pendapatnya.</p>
<p>Dalam pengertian awam, hipnotis dipahami sebagai kekuatan magis yang dapat membuat orang tunduk dan kehilangan kesadarannya, sehingga berujung pada tindak kejahatan. Di Indonesia, kesan negatif melekat pada kalimat “hipnotis” itu ketika Departemen Agama Republik Indonesia menulis “catatan kaki” dalam tafsir Alquran pada surat Alqalam : 51.</p>
<p>Menurut kebiasaan yang terjadi di Arab, seseorang dapat membinasakan binatang atau manusia dengan pandangannya yang tajam. Hal itu hendak dilakukan kepada Nabi Muhammad SAW. Tetapi Allah memeliharanya hingga terhindar dari bahaya, seperti yaang dijanjikan dalam surah al-Maidah ayat 67. <strong><em>Bersambung</em></strong></p>
<p><strong><em>Masruri penulis buku dan praktisi metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/09/gendam-dan-hipnotis-i">Gendam dan Hipnotis &#8211; I</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fenomena Ilmu Kebal – II</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/07/01/fenomena-ilmu-kebal-ii</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2025 16:43:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=481964</guid>

					<description><![CDATA[<p>TIDAK semua ilmu kebal memiliki karakter mau dan bisa diajak “bercanda.” Menurut pengamatan saya, sebagian dari ilmu kebal itu tampak “keajaiban”-nya ketika terdesak bahaya.  Ilmu kebal itu sulit dirumuskan seperti ilmu pasti. Ilmu kebal itu antara ada dan tiada. Sekitar 15 tahun lalu, datang dua tamu (pembaca buku) dari Kalimantan. Keduanya mengaku kelahiran Demak dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/01/fenomena-ilmu-kebal-ii">Fenomena Ilmu Kebal – II</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-154208" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/03/metafisika-logo-masruri.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/03/metafisika-logo-masruri.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/03/metafisika-logo-masruri-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/03/metafisika-logo-masruri-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>TIDAK</strong> semua ilmu kebal memiliki karakter mau dan bisa diajak “bercanda.” Menurut pengamatan saya, sebagian dari ilmu kebal itu tampak “keajaiban”-nya ketika terdesak bahaya.  Ilmu kebal itu sulit dirumuskan seperti ilmu pasti. Ilmu kebal itu antara ada dan tiada.</p>
<p>Sekitar 15 tahun lalu, datang dua tamu (pembaca buku) dari Kalimantan. Keduanya mengaku kelahiran Demak dan Jepara. Mereka datang ke kediaman saya bukan untuk belajar ilmu kebal, melainkan silaturahmi dalam kapasitas sebagai pembaca buku. Kedua tamu itu mempunyai pengalaman unik berkaitan ilmu kebal.</p>
<p>Rikan -bukan nama sebenarnya- salah satu dari tamu  mengaku pernah berguru ilmu kebal disuatu daerah yang terkenal dengan ilmu kebalnya.  Karena melegendanya, jika ilmunya saya tulis, hampir dipastikan semua peyakin ilmu kebal itu mengenalnya. Pada saat berguru ilmu, langsung dicoba gurunya dengan dibabat senjata tajam.</p>
<p>Sedangkan temannya yang bernama Bambang, mengaku tidak pernah secara khusus belajar ilmu kebal, tetapi dia pernah silaturahmi ke kediaman kiai di Temanggung dan disaran mengamalkan Surat At-Taubah: 128 – 129. Dikalangan ahli hikmah, laqadjaa-akum itu memang favorit dan banyak diamalkan sebagai doa untuk kekuatan lahir batin.</p>
<p>Tetapi, tradisi yang berlaku di kalangan ilmu hikmah, amalan itu tidak disebut untuk  ilmu kebal atau untuk jenis kesaktian yang lain.  Pengalaman yang dialami Rikan dan Bambang itu menyiratkan betapa kehebatan ilmu itu tidak dapat dipastikan keaajaibannya. Intinya, keampuhan ilmu kebal itu tidak mampu mengalahkan ilmu selamat.</p>
<p>Terbukti, ilmu kebal yang dikuasai Rikan, setelah diisi gurunya diyakinkan dengan uji coba, namun tidak berfungsi disaat ada bahaya. Sebaliknya, amalan doa perlindungan atau wirid yang diamalkan secara rutin oleh Bambang itu justru bereaksi saat diperlukan. Ternyata, ilmu apapun tidak dapat dipastikan.</p>
<p>Semua terjadi atas kehendak Allah. Saat mereka berkunjung ke kediaman saya, dari bekas lukanya, tampak jelas luka yang dialami Rikan. Sabetan clurit tembus dari pipi kiri hingga pipi kanan, nadi tangan kanan putus dan beberapa luka pada dada dan bagian pinggangnya.</p>
<p>Sedangkan Bambang yang mengamalkan ilmu selamat, malah selamat karena dia tidak tersentuh senjata tajam walau yang mengeroyoknya tujuh orang. Kedua tamu itu memiliki pengalaman tragis antara hidup &#8211; mati. Ketika  menambang emas di Kalimantan, tiba-tiba dikepung delapan kawanan pemalak dan semuanya bersenjata tajam jenis clurit dan golok.</p>
<p>Merasa pernah belajar ilmu kebal, Rikan mencoba melawan. Hingga terjadi perkelahian di kedua belah pihak yang sama-sama bersenjata tajam. Awalnya Rikan mengambil inisiatif menyerang kepala perampok terlebih dulu. Namun beberapa kali sabetan cluritnya tidak membuat kepala perampok terluka. Ternyata, kepala rampoknya memiliki ilmu kebal juga.</p>
<p>Dalam kondisi gugup, Rikan membaca mantra ilmu kebalnya, dan itu menyebabkan ilmu kebal kepala rampok itu luntur. Bersamaan dengan itu Rikan pun terluka. Kedua orang berilmu kebal itu sama-sama kehilangan fungsi ilmu kebalnya. Dalam perkelahian itu, kepala perampok meninggal, sedangkan Rikan ke Rumah Sakit di Jawa Tengah, karena luka yang dialaminya serius.</p>
<p>Yang unik, saat perkelahian antara Rikan dengan kepala rampok. Bambang yang justru menjadi sasaran keroyokan kawanan perampok lainnya berjumlah tujuh orang dan semuanya bersenjata tajam. Anehnya, beberapa sabetan senjata tajam yang diarahkan ke tubuhnya seperti menerpa angin. Dia tidak merasakan satu pun senjata lawan dapat mengenai tubuhnya.</p>
<p>Bambang mengatakan, dua ayat terakhir surat At-Taubah itu secara rutin dibaca sebagai doa perlindungan tujuh kali ulangan pada pagi dan petang (usai salat subuh dan maghrib). Jika kemudian yang muncul itu “keajaiban” semacam ilmu lembu sekilan, dia tidak mengetahuinya karena Guru yang mengijazahkan ilmu itu hanya mengatakan, untuk keselamatan.</p>
<p><strong>Guru Kebal Terluka</strong></p>
<p>Masih terkait ilmu kebal, suatu saat guru ilmu kebal yang sudah mempunyai banyak murid di berbagai negara, oleh warga diminta mengamankan tetangga yang mengamuk dengan senjata tajam. Tetapi guru ilmu kebal itu terluka. Dalam upaya pengamanan itu, beberapa sabetan senjata tajam hanya mampu merobek baju guru.</p>
<p>Namun, ketika ayunan pisau itu mengenai bagian kepala, guru kebal itu terluka bahkan darahnya  mengucur dari bagian kepala. Selain peristiwa naas yang dialami guru yang akan meringkus orang depresi seperti cerita diatas, salah satu guru muda (masih tetangga saya) pernah mengalami luka saat uji coba di hadapan dua calon muridnya.</p>
<p>Untuk meyakinkan ilmu yang diajarkan itu dapat dibuat uji coba (tidak harus disaat  bahaya) dia mengambil golok panjang yang biasa digunakan untuk menguji kekebalan murid-muridnya. Dengan sekuat tenaga, bagian ujung golok panjang itu dihujamkan tiga kali pada lengannya.</p>
<p>Namun pada sabetan ketiga, tangannya luka dan berdarah. Selanjutnya dua orang yang akan berguru itu mengurungkan niatnya. Kisah lebih tragis pernah dialami guru ilmu kebal yang lain. Saat mengendarai kendaraan pribadi bersama murid-murid seniornya.</p>
<p>Dalam perjalanan mendatangi panggilan gemblengan massal di Cirebon, kendaraan yang ditumpangi ditabrak bus.</p>
<p>Guru dan sebagian murid ada yang masuk rumah sakit karena ada beberapa yang terluka, namun ada beberapa yang mulus, dalam arti tidak sakit dan atau terluka. Timbul pertanyaan, berarti ilmu metafisika tidak dapat dipastikan “keampuhan-nya! Begini, kegagalan dalam uji coba itu sangat mungkin terjadi. Saya dan beberapa teman juga pernah terluka. Dan biasanya, “kecelakaan” itu</p>
<p>dianggap hal yang biasa untuk lebih hati pada ujicoba pada berikutnya. <strong><em>Tamat</em></strong></p>
<p><strong><em>Masruri, penulis buku praktisi metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/01/fenomena-ilmu-kebal-ii">Fenomena Ilmu Kebal – II</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fenomena Ilmu Kebal &#8211; I</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/06/25/fenomena-ilmu-kebal-i</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2025 10:35:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=481012</guid>

					<description><![CDATA[<p>ILMU kesaktian adalah bagian dari sejarah masa lalu saya. Pada tahun 1981 hingga 1995 saya familier dengan ilmu itu, hingga kemudian mencapai titik jenuh ketika mulai memasuki dunia baru sebagai kolomnis di sebuah harian di Jawa Tengah, juga menulis buku-buku metafisika. Ketika media mulai memosisikan saya sebagal “pengamat masalah metafisika” maka secara tidak langsung saya [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/25/fenomena-ilmu-kebal-i">Fenomena Ilmu Kebal &#8211; I</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-175192" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>ILMU </strong>kesaktian adalah bagian dari sejarah masa lalu saya. Pada tahun 1981 hingga 1995 saya familier dengan ilmu itu, hingga kemudian mencapai titik jenuh ketika mulai memasuki dunia baru sebagai kolomnis di sebuah harian di Jawa Tengah, juga menulis buku-buku metafisika.</p>
<p>Ketika media mulai memosisikan saya sebagal “pengamat masalah metafisika” maka secara tidak langsung saya dituntut untuk berpikir lebih rasional dalam menyikapi berbagai fenomena yang mistis atau sekadar terkesan mistis. Berbeda dengan pelaku mistik yang lebih mengedepankan “otak percaya” tanpa analisis, seorang pengamat dituntut lebih mengedepankan logika dan analisisnya.</p>
<p>Sudah pasti, otak pengamat itu menjadi tidak akan nyambung dengan otak pelaku ilmu. Misalnya, bagaimana seseorang mampu melakukan demo ilmu kebal, misalnya, jika logikanya masih diaktifkan? Pengalaman mistis itu jarang atau bahkan mustahil terjadi pada seseorang yang masih berpikir dengan hukum sebab akibat.</p>
<p>Untuk melakukan demo ilmu kebal, misalnya, seseorang tidak mungkin berpikir tentang tajamnya pisau yang digunakan, tipisnya kulit manusia, juga kuat dan kerasnya sabetan golok. Karena itu, orang yang sudah mengoleksi puluhan ilmu kebal sekalipun, dia tidak akan berhasil melakukan demo ilmu selagi logikanya masih diaktifkan.</p>
<p>Bertambahnya referensi tentang ilmu perlindungan (ilmu kebal dan siker pagar gaib) ini justru saya alami ketika saya memasuki dunia menulis. Seiring dengan perkembangan waktu, seorang penulis ternyata merangkap sebagai “kolektor” berbagai ilmu. Hal itu karena kedekatannya dengan para pakar ilmu metafisika.</p>
<p>Seorang pakar atau “suhu” yang biasanya berat melepas ilmu kepada murid atau klien-nya, ketika berhadapan dengan penulis, sikapnya pun lebih breh weh atau ringan dalam berbagi. Bahkan seorang penulis sering diposisikan sebagai EO (event organizer), “duta besar” atau “menteri luar negeri”.</p>
<p><strong>Nonaktifkan Logika</strong></p>
<p>Walau secara keilmuan, referensi saya bertambah, namun saya sebagai seorang “pelaku” mistis sudah tidak lagi. Dalam hal ilmu kebal, saya sudah tidak berani melakukan demo ilmu kebal. Karena untuk melakukan “kegilaan” macam itu logika harus diistirahatkan.</p>
<p>Dia mengatakan, jika ada 40 orang saling bergandeng tangan dengannya, maka yang orang yang paling ujung (walau tidak punya ilmu kebal) bisa ikut kebal. Dan itu boleh dicoba dengan senjata tajam. Bahkan andaikan dia membaca mantra dari “Asmak Malaikat” itu dan ada orang lain mendengar, maka selama 40 hari orang tersebut dapat “kecipratan” ilmu dan menjadi kebal.</p>
<p>Selanjutnya, sang guru muda itu mengambil golok panjang yang biasa digunakan untuk menguji orang-orang yang sudah diisinya. Untuk membuktikan bahwa golok itu benar-benar tajam, diangkatlah setinggi satu meter lalu dijatuhkan pada balok kayu. Ujung golok itu menancap masuk ke dalam kayu.</p>
<p>Ketajaman dari golok yang digunakan menguji kekebalan kulitnya itu dengan bahasa penggambaran, saat bagian tajam digosok dengan ibu jari, terdengar suara kriiss&#8230; kriiss&#8230;! Merasa dapat pengalaman baru, Anam pun segera pulang. Sesampai di rumah, ayahnya heran melihat wajah anaknya yang sumringah tidak seperti biasanya.</p>
<p>Ketika Anam ditanya ada kabar apa? Anam menceritakan bahwa ia barusan diisi ilmu kebal secara gratis, dan uji cobanya luar biasa! Ayah Anam yang sudah pa ham kebiasaan anaknya main di rumah siapa dan siapa saja “gerombolan” yang terlibat dalam urusan yang begituan di sekitar rumah saya, kemudian meminta anaknya membuktikan keampuhan ilmunya.</p>
<p>Awalnya Anam mencari golok. Namun karena yang dicari tidak ketemu, dia menggunakan silet. Didepan Ayahnya, Anam memperagakan ilmu kebalnya. Berawal dari goresan pelan lalu makin kuat dan lebih kuat lagi, ternyata tidak mampu merobek kulitnya. Melihat hal itu, Ayah Anam masih meledek anaknya bahwa silet itu kan benda kecil.</p>
<p>Anam yang telanjur semangat menunjukkan ilmu kebalnya, lalu pinjam gergaji milik tukang kayu yang saat itu sedang merenovasi dapurnya. Untuk yang kedua kalinya, Anam dapat membuktikan kekebalannya dengan menggergaji tangan kirinya, dan uji coba berhenti ketika Ayahnya merasa ngeri dan memintanya untuk menghentikan uji coba ilmu secara gila-gilaan itu.</p>
<p>Dalam uji coba dengan gergaji itu kulit Anam tidak terluka, tetapi kulit tipis bagian luar tetap mengelupas. Kegilaan Anam tidak sampai disitu. Karena yakin dengan apa kata gurunya bahwa 40 orang saling bergandeng tangan saja bisa menjadi kebal semua, maka ia pun melakukan uji coba terhadap teman sebayanya.</p>
<p>Teman itu dipegang dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya beberapa kali menyabetkan golok tajam ke bagian tubuhnya. Walau uji coba itu berlangsung mulus, kali ini Anam kena masalah karena temannya mengadu kepada ayahnya yang kemudian mendatangi rumah keluarga Anam, dan protes apa yang dilakukan terhadap anaknya itu.</p>
<p>Bermain-main dengan ilmu kebal yang dialami Anam dan temannya itu berlangsung sekitar delapan bulan, dan berhenti ketika suatu hari Anam mendapat bocoran informasi dari saya bahwa guru muda yang mengisi ilmu kebal kepadanya itu baru tingkat III, dan dalam tradisi di aliran Asmak Malaikat belum saatnya untuk mengisi secara sempurna.</p>
<p>Setelah mendengar informasi tentang sang guru yang belum tuntas (khatam) itu,  Anam pun mulai ragu dengan ilmu kebalnya. Dia mulai dihinggapi perasaan ragu hingga akhirnya memilih melepas ilmunya setelah dia melakukan uji coba dengan cara yang lebih ringan. Yaitu menusukkan jarum pada kulit, dan jarum itu menembus kulitnya, Anam pun terluka.</p>
<p>Tentang ilmu kebal, Anam memosisikan saya sebagai orang yang pertama mendorongnya masuk dunia itu, dan saya pulalah yang kemudian “merusak” pikirannya, hingga berakhirlah kekebalan yang sudah dialami sekitar delapan bulan itu.  Namun demikian, apa yang terjadi pada Anam itu masih beruntung.</p>
<p>Karena aktivitas berkebal-ria itu berakhir hanya dengan tusukan jarum kecil. Andai uji coba itu dengan berondongan senapan AK-47, hampir bisa dipastikan tidak akan pernah terjadi buku ini beredar dan hadir di hadapan Anda.</p>
<p><strong><em>Masruri, penulis buku praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan Cluwak Pati </em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/25/fenomena-ilmu-kebal-i">Fenomena Ilmu Kebal &#8211; I</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anda Tidak Percaya Ilmu Metafisika?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/01/25/anda-tidak-percaya-ilmu-metafisika</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jan 2025 22:29:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=275815</guid>

					<description><![CDATA[<p>SAYA pernah kedatangan tamu yang mengatakan tidak percaya pada ilmu-ilmu metafisik, dan dia ingin saya memberikan argumentasi yang dapat mematahkan keyakinannya. Saya lalu berkisah tentang sahabat saya di tetangga desa yang suka usil. Dia pernah pura-pura sakit lalu minta dipanggilkan dukun kampung untuk mengobatinya, dan setelah dukunnya pulang lalu ditertawai. Apalagi jika dukunnya saat mengobati [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/25/anda-tidak-percaya-ilmu-metafisika">Anda Tidak Percaya Ilmu Metafisika?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-175192" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>SAYA </strong>pernah kedatangan tamu yang mengatakan tidak percaya pada ilmu-ilmu metafisik, dan dia ingin saya memberikan argumentasi yang dapat mematahkan keyakinannya.</p>
<p>Saya lalu berkisah tentang sahabat saya di tetangga desa yang suka usil. Dia pernah pura-pura sakit lalu minta dipanggilkan dukun kampung untuk mengobatinya, dan setelah dukunnya pulang lalu ditertawai.</p>
<p>Apalagi jika dukunnya saat mengobati itu mengaku sakitnya karena diganggu jin, setan, santet, dsb, itu bisa menjadi bahan bercanda berseri di warung kopi.</p>
<p>Suatu hari sahabat itu sakit sungguhan. Perutnya melilit hingga dia berteriak-teriak. Kebetulan saat itu saya diberi tahu ada orang yang biasa mengobati orang sakit. Saya dan kawan-kawan lalu mengundang untuk mengobatinya.</p>
<p>Sayangnya, setelah diobati dan sembuh, kebiasaan bercandanya datang lagi. Sudah tidak berterima kasih, malah yang mengobati itu diejek.  Dia bilang sembuhnya itu karena kebetulan, karena sudah waktunya sembuh.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2022/02/25/metafisika-riil-atau-hoaks-tulisan-pertama-dari-dua-seri">Metafisika, Riil atau Hoaks? Tulisan Pertama dari Dua Seri</a></strong></span></p>
<p>Mendengar itu, yang mengobati tersinggung. Dia lalu mengambil sisa air dalam gelas–sisa yang diminum yang diobati-lalu bergegas ke halaman rumah. Saya dan beberapa teman mengikutinya.</p>
<p>Dia menghadap kiblat. Sesaat dia tampak membaca mantra, setelah itu dia berkata: &#8220;Kembalilah kau wahai penyakit&#8221;.  Air itu dibuat berkumur lalu disemburkan ke atas sambil meloncat.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/25/anda-tidak-percaya-ilmu-metafisika">Anda Tidak Percaya Ilmu Metafisika?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wirid dan Doa dalam Keterdesakan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/01/17/wirid-dan-doa-dalam-keterdesakan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jan 2025 11:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=455947</guid>

					<description><![CDATA[<p>SESAMPAI di atas bangunan tertinggi itu, Meir berdoa kepada Allah dengan khusyuk. “Ya Allah, daripada hamba berbuat maksiat lebih baik aku terjun dari sini.” Tanpa pikir panjang, Meir langsung meloncat. Dan ketika kakinya akan menyentuh tanah, Allah mengirimkan malaikat untuk menyelamatkannya. Kisah ini aneh bin ajaib, karena tidak ada refrensi yang mengatakan, Meir itu tercatat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/17/wirid-dan-doa-dalam-keterdesakan">Wirid dan Doa dalam Keterdesakan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-175192" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>SESAMPAI </strong>di atas bangunan tertinggi itu, Meir berdoa kepada Allah dengan khusyuk. “Ya Allah, daripada hamba berbuat maksiat lebih baik aku terjun dari sini.” Tanpa pikir panjang, Meir langsung meloncat. Dan ketika kakinya akan menyentuh tanah, Allah mengirimkan malaikat untuk menyelamatkannya.</p>
<p>Kisah ini aneh bin ajaib, karena tidak ada refrensi yang mengatakan, Meir itu tercatat sebagai anggota perguruan tenaga dalam, ilmu hikmah, dsb. Menunjukkan, keajaiban itu bukan “milik” mereka yang secara khusus mengolah batinnya. Baik itu melalui olah batin (<em>riyadhah</em>) atau metode lain yang bersifat fisik.</p>
<p>Jadi, hakikat dari keajaiban itu karena kuasa Tuhan yang Mahamelindungi, yang prosesnya tidak dapat  dipastikan waktu dan dalam suasananya. Karena keajaiban itu fenomena yang belum sepenuhnya terungkap. Karena keajaiban tidak selamanya hanya untuk orang-orang yang secara intens mengasah sisi batinnya.</p>
<p>Orang awam sekalipun, suatu saat bisa mengalami peristiwa ajaib, seperti kisah pemuda bernama Meir. Karena kekuatan itu bukan dari manusia, melainkan dari Zat Yang Mahakuasa, yang tidak bisa kondisikan, namun bisa diusahakan. Dan itu tidak bisa kita paksa, namun bisa diminta.</p>
<p>Tentang kekuatan dan keajaiban itu milik-Nya. Tradisi yang lazim dilakukan sebagian dari ahli hikmah, agar kita sering ditolong pada saat-saat yang diperlukan, bahaya atau kesulitan, maka sering-seringlah melakukan <em>riyadhah </em>(olah batin).  Dalam hadis Qudsi, mengingat Allah dikala suka (aman), menyebabkan Allah akan mengingat kita dikala susah (bahaya).</p>
<p>Dengan demikian, maka aktivitas zikir, wirid dan segala yang bertujuan mengingat Allah, berarti dia menabung energi supranatural. Namun pengertian zikir itu tidak terbatas pada zikir lisan saja. Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah mengklasifikasikan zikir itu terbagi dalam tiga bagian.</p>
<p>Yaitu zikir jali, zikir khafi dan zikir hakiki. Zikir jali adalah zikirnya lisan berupa puji-pujian kepada-Nya. Zikir ini bisa diucapkan tanpa disertai ingatan hati. Zikir ini zikir jali ada yang terikat dengan waktu seperti menjelang  tidur, makan atau bepergian. Ada yang tidak terikat waktu dan jumlah seperti puji-pujian kepada Allah berupa kalimat : Subhanallah, Alhamdulillah, La Ilaha illallah dan Allahu Akbar.</p>
<p>Sedangkan zikir khafi adalah zikir sirri (rahasia) dengan menghilangkan perasaan bosan. Sedang zikir yang paling sempurna adalah zikir hakiki, yaitu zikirnya seluruh anggota badan dalam memelihara apa yang dilarang dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.</p>
<p>Kesimpulannya, kesempurnaan zikir adalah keselarasan antara mulut, hati dan tindakan. Dan kita bisa melihat kisah tentang Meir, pemuda tampan penjaja roti. Zikir-nya diaktualisasikan dalam perilaku, rasa takutnya menyebabkan dia memilih terjun dari atas gedung istana daripada mengikuti ajakan tuan putri untuk berbuat zina.</p>
<p>Ketika Meir mengingat Allah, Allah pun mengingat hamba-Nya. Tuhan yang Mahapenolong kemudian mengutus malaikat untuk menyelamatkan Meir. Walau secara logika, kenekatan itu dapat menyebabkan fatal. Para ahli hikmah memiliki beragam cara mengingat-Nya, kuncinya beramal saleh agar timbangan amal baiknya lebih berat dan dibandingkan amal buruknya.</p>
<p>Dan itu bisa dilakukan dengan zikir, <em>riyadhah</em> atau oleh batin dengan membaca apapun yang menyebabkan dia selalu ingat dengan Tuhan. Apakah itu zikir asmaul husna sembilan tersebut di atas bemilai zikir atau riyadhah? Sudah tentu ukurannya ada pada hati mereka yang mengamalkannya.</p>
<p>Riyadhah pada umumnya lebih condong untuk tujuan dunia, sehingga sebagian kalangan mendifinisikan antara zikir dan <em>riyadhah</em> itu memiliki nilai yang berbeda. Zikir dilakukan secara ikhlas dengan tanpa mengharap sesuatu dari Allah selain Ridha-Nya.  Sedangkan riyadhah seringnya dilakukan untuk imbalan pahala dunia.</p>
<p>Dengan demikian apakah <em>riyadhah</em> tidak memiliki nilai ibadah? Sedangkan riyadhah adalah berdoa kepada Allah. Dan apapun bentuk dari doa, itu memiliki nilai ibadah. “Maka wajib atas kamu beribadah kepada Allah dengan doa” (Hadis riwayat Hakim).</p>
<p><em>Riyadhah</em> adalah upaya batin dan sekaligus berdoa pada saat lapang. Karena mengingat Allah dikala suka menyebabkan Allah mengingat kita dikala susah. Dan upaya itu termasuk amal yang baik dan mulia. Dan tidak ada sesuatu yang lebih mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdoa kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang.</p>
<p>Doa dapat menolak niat jahat mereka yang berniat jahat dan mempermudah urusan muamalah, baik urusan rezeki ataupun urusan yang lain. “Allah yang melepaskan kamu dari bencana-bencana yang disebabkan oleh musuh-musuhmu dan Dia pulalah yang mencurahkan rizki kepada kamu sekalian.” (Hadis Abu Ya’la).</p>
<p><strong>Ikhlas</strong></p>
<p>Sebagai orang yang berkecimpung di lingkungan tenaga dalam, saya meyakini sepenuhnya bahwa apapun bentuk ingat (zikir) seseorang sepanjang bermuara pada Allah SWT tetap memiliki &#8216;imbalan. Sehingga, diprogramkan atau tidak, dihajatkan atau tidak, zikir ataupun wirid tetap memiliki (baca: menyimpan) imbalan.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/17/wirid-dan-doa-dalam-keterdesakan">Wirid dan Doa dalam Keterdesakan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wirid dan Doa dalam Keterdesakan &#8211; I</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/01/11/wirid-dan-doa-dalam-keterdesakan-i</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jan 2025 17:21:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jurnal Metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=455774</guid>

					<description><![CDATA[<p>DI kalangan santri istilah wirid bukan sesuatu yang asing. Menurut pengertian umum wirid atau wiridan itu bacaan yang biasanya dilakukan sesudah salat. Dan itu bisa berupa ayat-ayat tertentu dari Alquran atau dari zikir ma&#8217;tsur. Wirid dari madli wa-ro-da mempunyai makna beragam, sesuai  konteksnya. Ada yang mengatikan: air mengalir dari sumbernya dan belum sampai muara, pasukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/11/wirid-dan-doa-dalam-keterdesakan-i">Wirid dan Doa dalam Keterdesakan &#8211; I</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-175192" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg" alt="" width="604" height="175" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri.jpg 604w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-400x116.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/06/metafisika-logo-masruri-150x43.jpg 150w" sizes="(max-width: 604px) 100vw, 604px" /></p>
<p><strong>DI</strong> kalangan santri istilah wirid bukan sesuatu yang asing. Menurut pengertian umum wirid atau wiridan itu bacaan yang biasanya dilakukan sesudah salat. Dan itu bisa berupa ayat-ayat tertentu dari Alquran atau dari zikir ma&#8217;tsur.</p>
<p>Wirid dari <em>madli wa-ro-da</em> mempunyai makna beragam, sesuai  konteksnya. Ada yang mengatikan: air mengalir dari sumbernya dan belum sampai muara, pasukan tentara yang berbaris, kumpulan burung-burung unta atau hewan yang hidup berkelompok yang datang dari satu arah menuju arah lain.</p>
<p>Bahkan ada yang mengartikan: demam, sebagaian dari malam, dan bagian dari Alquran. Kecenderungan kita mengistilahkan adalah apa yang kita baca sesudah salat dengan wirid atau wiridan dan dari pengartiannya yang disebut bagian dari Alquran. <em>Alawrood</em> bentuk jamak dari <em>alwird</em> yang berarti sebagian dari Alquran.</p>
<p>Arti dari wirid, kebanyakan dari kita adalah merangkum ayat-ayat tertentu dari Alquran menjadi susunan yang tidak beraturan yang selalu dibaca pada waktu tertentu.</p>
<p>Atau membaca satu ayat panjang yang pada sebagiannya disisipkan doa hingga seolah yang kita baca itu ayat panjang. Atau merangkai beberapa ayat atau surat yang tidak berurutan.</p>
<p>Wirid adalah pembacaan sebagian dari Alquran, misalnya sepersepuluhnya, seperlimanya atau berapa saja dikehendaki. Wirid itu lafal-lafal, bisa berupa zikir atau ayat Alquran, misalnya ayat Kursy yang selalu dibaca rutin pada waktu tertentu, agar mendapat perlindungan dari Allah dari apa yang tidak kita inginkan menimpa dirinya.</p>
<p>Biasanya dilakukan setelah mendapat ijazah (perkenan, pembolehan) dari Guru. Letak kekuatan wirid terletak pada kerutinan mengamalkannya. Ibarat, jika dalam sekali wirid itu menghimpun setitik keberkahan, jika itu dilakukan secara rutin, setiap hari, bulan, tahun dan windu, maka cadangan energi yang dihimpun itu menjadi tabungan bagi diri dan lingkungannya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/11/wirid-dan-doa-dalam-keterdesakan-i">Wirid dan Doa dalam Keterdesakan &#8211; I</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>