<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jeporonan Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/jeporonan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Apr 2026 04:29:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Jeporonan Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pendaftaran Siswa Baru Dibuka, SD Negeri 3 Kawak Siapkan Program Unggulan Berbasis Pembentukan Karakter</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/22/pendaftaran-siswa-baru-dibuka-sd-negeri-3-kawak-siapkan-program-unggulan-berbasis-pembentukan-karakter</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 15:13:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=555554</guid>

					<description><![CDATA[<p>JEPARA (SUARABARU.ID) — Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027 di SDN Kawak 3, Pakisaji, Jepara resmi dibuka sejak 1 April 2026 dan akan berlangsung hingga 18 Juli 2026. Tahun ini, sekolah menyiapkan kuota sebanyak 28 siswa baru dengan mekanisme pendaftaran yang memadukan sistem daring (online) dan layanan pendaftaran langsung di sekolah guna memberikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/22/pendaftaran-siswa-baru-dibuka-sd-negeri-3-kawak-siapkan-program-unggulan-berbasis-pembentukan-karakter">Pendaftaran Siswa Baru Dibuka, SD Negeri 3 Kawak Siapkan Program Unggulan Berbasis Pembentukan Karakter</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JEPARA (SUARABARU.ID) —</strong> Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027 di SDN Kawak 3, Pakisaji, Jepara resmi dibuka sejak 1 April 2026 dan akan berlangsung hingga 18 Juli 2026.</p>
<p>Tahun ini, sekolah menyiapkan kuota sebanyak 28 siswa baru dengan mekanisme pendaftaran yang memadukan sistem daring (online) dan layanan pendaftaran langsung di sekolah guna memberikan kemudahan bagi masyarakat.</p>
<p>Umrotin, M.Pd. Kepala sekolah SDN 3 Kawak saat ditemui di sekolah menjelaskan, sistem penerimaan tahun ini dirancang lebih terbuka, fleksibel, dan menjangkau seluruh calon peserta didik, baik yang mendaftar secara digital maupun datang langsung bersama orang tua ke sekolah.</p>
<figure id="attachment_555556" aria-describedby="caption-attachment-555556" style="width: 339px" class="wp-caption alignnone"><img class="size-medium wp-image-555556" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-14-at-12.43.29-339x400.jpeg" alt="" width="339" height="400" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-14-at-12.43.29-339x400.jpeg 339w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-14-at-12.43.29-127x150.jpeg 127w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-14-at-12.43.29.jpeg 577w" sizes="(max-width: 339px) 100vw, 339px" /><figcaption id="caption-attachment-555556" class="wp-caption-text">Foto bersama Guru dan Kepala Sekolah SDN 3 Kawak, PakisAji, Jepara. Foto: Panitia SPMB SDN 3 Kawak.</figcaption></figure>
<p>“Pendaftaran dilakukan secara online dan juga bisa datang langsung ke sekolah. Kami ingin memastikan seluruh masyarakat mendapatkan akses yang sama untuk mendaftarkan putra-putrinya,” ujarnya.</p>
<p>Model pelayanan ganda ini menjadi salah satu strategi untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang beragam, terutama bagi wali murid yang masih membutuhkan pendampingan administratif secara langsung.</p>
<p>Dalam proses penerimaan tahun ini, sekolah membuka seluruh jalur penerimaan yang tersedia, mulai jalur zonasi, prestasi, afirmasi, hingga perpindahan orang tua. Dengan membuka seluruh jalur, sekolah berharap proses seleksi dapat menjangkau berbagai latar belakang calon peserta didik secara adil dan proporsional.</p>
<p>Adapun persyaratan pendaftaran yang harus dilengkapi meliputi:</p>
<ul>
<li>Fotokopi Ijazah</li>
<li>Kartu Keluarga (KK)</li>
<li>Akta Kelahiran</li>
<li>Serta dokumen pendukung seperti KIS/KIP bagi yang memiliki.</li>
</ul>
<p>Selain persyaratan administratif, calon siswa juga mengikuti seleksi dasar berupa pemeriksaan sehat jasmani dan rohani. Seleksi ini bukan dimaksudkan sebagai penghalang, melainkan memastikan kesiapan peserta didik mengikuti proses pembelajaran di lingkungan sekolah.</p>
<p>Rudi, salah satu Panitia SPMB sekaligus guru kelas di SDN 3 Kawak menegaskan bahwa transparansi penerimaan dijaga dengan prinsip sederhana namun tegas, selama kuota masih tersedia, calon peserta didik baru masih dapat diterima sesuai mekanisme yang berlaku.</p>
<p>“Prinsip kami terbuka. Selama kuota tersedia, kesempatan mendaftar tetap ada. Ini bagian dari komitmen agar proses berjalan adil dan transparan,” jelasnya.</p>
<p><strong>Pendaftar Meningkat, Kepercayaan Masyarakat Bertambah</strong></p>
<p>Menariknya, menurut data sekolah, tercatat adanya peningkatan jumlah pendaftar dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini dinilai sebagai indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan.</p>
<p>Daya tarik itu tidak lepas dari sejumlah program unggulan yang selama ini menjadi identitas sekolah. Selain menekankan pendidikan akademik dan karakter, sekolah juga menawarkan pembinaan keterampilan dan minat bakat melalui berbagai program khas.</p>
<p>&#8220;Salah satu yang menjadi perhatian adalah program Seni Ukir yang menjadi unggulan sekolah, yang memberi ruang bagi siswa mengenal warisan budaya lokal sejak dini. Program ini menjadi nilai tambah karena menghubungkan pendidikan dengan identitas budaya daerah,&#8221; terang Umrotin, M.Pd,.</p>
<p>Ia juga menambahkan bahwa dalam bidang non-akademik, sekolah juga memiliki kegiatan ekstrakurikuler marcing band dan atletik yang terus dikembangkan untuk mendukung pembinaan prestasi siswa.</p>
<p>Sementara pada pendidikan karakter dan keagamaan, sekolah memperkuat pembelajaran melalui program Tahfidz Al-Qur’an Juz 30 serta pembiasaan karakter berakhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pihak sekolah, kombinasi antara budaya, prestasi, religiusitas, dan pembentukan karakter menjadi fondasi penting yang banyak diminati calon wali murid.<strong> </strong></p>
<p>Lebih dari sekadar membuka penerimaan siswa baru, siswa baru diharapkan mampu beradaptasi dengan sistem pembelajaran baru, memiliki semangat belajar yang tinggi, disiplin mengerjakan tugas, dan berupaya meraih prestasi sesuai potensi masing-masing.</p>
<p>Dalam aspek sosial, siswa diharapkan mampu berinteraksi dengan baik, menghormati guru, staf, dan teman sebaya, serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan bakat dan minat.</p>
<p>Sementara dari sisi karakter, sekolah menekankan pentingnya integritas, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, serta tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan kreatif.</p>
<p>Bagi masyarakat yang berminat, pendaftaran masih dibuka hingga 18 Juli 2026 melalui layanan online maupun langsung di sekolah, Jl.Sekuro-Guyangan km 3,5 Desa Kawak RT 4/1.</p>
<p>Melalui PPDB tahun ini, sekolah tidak hanya membuka pintu bagi siswa baru, tetapi juga menawarkan ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang berilmu, berkarakter, dan berdaya saing.</p>
<p><strong>Septiana W.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/22/pendaftaran-siswa-baru-dibuka-sd-negeri-3-kawak-siapkan-program-unggulan-berbasis-pembentukan-karakter">Pendaftaran Siswa Baru Dibuka, SD Negeri 3 Kawak Siapkan Program Unggulan Berbasis Pembentukan Karakter</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kapan Bada Apem?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/16/kapan-bada-apem</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 08:22:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=554313</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dening Sulismanto Sasi Sawal wis meh entek. Telung dina meneh mlebu Apit. Ana sing ngarani Dulkangidah. Kanggone Ki Juru, sasi Apit padha karo sasi-sasi liyane. Mulane, bareng Kemisan crita nek jebul sasi Apit wis dienteni, Ki Juru nglegakake takon, sapa reti Kemisan ape duwe kajat gedhe. “Ora ana kajat. Lali taye nek Apit iku ana [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/16/kapan-bada-apem">Kapan Bada Apem?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dening Sulismanto</em></p>
<p>Sasi Sawal wis meh entek. Telung dina meneh mlebu Apit. Ana sing ngarani Dulkangidah.</p>
<p>Kanggone Ki Juru, sasi Apit padha karo sasi-sasi liyane. Mulane, bareng Kemisan crita nek jebul sasi Apit wis dienteni, Ki Juru nglegakake takon, sapa reti Kemisan ape duwe kajat gedhe.</p>
<p>“Ora ana kajat. Lali taye nek Apit iku ana bada apem?”</p>
<p>Ukara saklimah iku wis ndadekake Ki Juru mudheng. Mesthi wae Kemisan seneng bakal weruh rasane apem conthong meneh, sawise setaun kepungkur. Rasane khas merga ana ganda godhong gedhang, saka conthong sing digawe nyithak nalika apeme dikukusake. Nek ra conthong ya apem bunder bakaran. Apem jinis iki biyasane dipangan karo juruh gula abang.</p>
<p>Pancen, neng kampunge wong loro iku, ana tradhisi bada apem saben Jemuwah Wage sasi Apit. Pas bada apem, kabeh warga milih gawe apem conthong utawa bakaran.</p>
<p>Neng sasi-sasi liyane, upama entuk apem, biyasane irisan. Dadi suguhan utawa brekat neng gone wong ndegawe utawa nyambat. Apem jinis iki dicithak neng loyang nalika dikukusake pas dimangsak. Mengko nek wis mateng, diadhemake, lagek diiris-iris. Kejaba ora ngandhut teges bada, rasane beda, ora kaya apem conthong lan bakaran.</p>
<p>“Iya teka, Ki, seneng perkara bakal mangan apem conthong. Nanging kanggoku sing luwih nyengsemake iku swasanane kok. Nek cara omongane cah saiki,<em> atmosfer</em> bada apem iku lo,” celathune Kemisan</p>
<p>Ki Juru ngandel wae. Merga pancen nek urusan panganan, Kemisan ora patia seneng mangan mberah. Apa sing jare <em>wisata kuliner</em> ya ora tau. Nanging nek perkara tradhisi, Kemisan ngêmênaké.</p>
<p>Babagan iki, ndelalah wong loro padha. Ki Juru karo Kemisan padha-padha ra menangi pitutur saka leluhur lan para sepuh sing biyen dipundhi neng kampunge. Dadine wong loro ora reti, geneya neng kampunge ana bada apem; apa sebabe umume sing digawe apem conthong lan bakaran; geneya kudu dina Jemuwah Wage sasi Apit; lan geneya sumba sing kanggo ngehi warna ora ana pathokane, wernane oleh apa wae saksenenge sing gawe.</p>
<p>Golek tulisan sing nyejarahake bada apem iku ya ora nemu. Loro karone maklum le ora ana tulisan sejarah, merga bada apem sing kaya neng kampunge iku wae, ora dileksanane neng kabeh kampung.</p>
<p>Tujune saiki jaman medhia sosial. Sawetara taun keri-keri iki, <em>postingan </em>bada apem viral, FYP neng medsose warga kampung liya. Sing asale ora duwe bada apem, wis angger melu. Saiki, bada apem Jemuwah Wage sasi Apit, saya separan-paran.</p>
<p>Neng panemune Ki Juru karo Kemisan, kuwi pratandha nek olehe dha bada apem, ora prelu golek pawadan sing ndakik-ndakik. Minangka wong Jawa sing labuh marang tradhisi! Iku wis cukup.</p>
<p>“Biyen simbah-simbah gawe, ya melu gawe. Tradhisi aja nganti ilang,” jare Kemisan.</p>
<p>Menawa wae, neng kampung sing asale ra duwe bada apem, banjur melu bada, pawadane ya padha.</p>
<p>Kuwi beda banget karo upamane, tradhisi apem neng kraton. Kabeh sarwa nganggo paugeran. “Lha wong umure priyayi sing njladreni wae ana aturane kok,” jare Kemisan.</p>
<p>“Suk meneh, ah,” jawabe nalika Ki Juru takon tuladha paugeran tradhisi apem neng kraton.</p>
<p>Kanggone Kemisan, kasunyatan nek anggone dha bada apem Jemuwah Wage sasi Apit kuwi mung merga labuh marang tradhisi, ora dadi ngapa. Wong barang apik wae kok. Tegese, ing wawasan kang sarwa winates iku, ana maneka kautaman sing dilestarekake.</p>
<p>“Mbuh iku kautaman guyub, seneng weweh, nguri-uri budaya, bombong dadi wong Jawa, srana kanggo kumpul terus donga bareng-bareng, lan maneka kautaman liyane,” unine Kemisan.</p>
<p>“Ngono temenan tah mblithuki, si?” Ki Juru entha-entha takon.</p>
<p>“Nek ra ngandel, erohi iki tanggal pira? Kalender nasional 16 April 2026. Lha neng penanggalan Jawa, Kemis Pon, 27 Sawal 1959, ra? Mengko esuk wis Jemuwah Wage, tapi isih tanggal 28 Sawal lo. Tegese, Apit taun iki ora ana Jemuwah Wage ra? Anane Jemuwah Wage meneh iku, suk Besar. Apa terus dha ora bada apem? <em>Ndahipun, ah</em>” Kemisan nggenahake.</p>
<p>Ki Juru manthuk. Nek ana taun kaya ngene iki, nyatane wong sadesane mamula dha gawe bada apem. Eman-eman nek tradhisi badan apem ilang setaun.</p>
<p>Terus kapan? Beda-beda. Karek dha sarujuk dina apa karo tangga-tanggane. Ana sing nggendholi pasaran, ndhug sing penting Wage. Nek sarujuk Kemis Wage, ya suk Kemis Wage. Nek sarujuk dina liyane, ya dina liyane. Ana sing nggendholi sasine, Apit, dinane sembarang.</p>
<p>Sing kulina selametan bareng neng prapatan, le gawe barikan angger disarujuki kapan. Sing kulina neng langgar, ana sing angger manut karo ngendikane imame. Mulane, upama jamaah mushola kene bada apem dina iki, warga prapatan kene isa dina liyane. Dene jamaah mushola RT liyane sing janjane pepetan, isa wae le bada apem suk kapan-kapan meneh.</p>
<p>“Lha sidane awake dhewe bada kapan iki ndhungan?” Ki Juru sing beneran durung krungu rancangan bada apem ndhok kampunge, sek temenanan le takon.</p>
<p>“Engko esuk mumpung Jemuwah Wage.”</p>
<p>“Tapi isih Sawal, lo?” Ki Juru gugup.</p>
<p>“Hambuh, dha selak kudu kok. Lek ndelalah Pak Dhukuh ngolehi?”</p>
<p>“Iku temenan? Nganti sasine Apit wae ora digendholi?”</p>
<p>“Temenan, ya. Kandhani dha selak kudu kok”</p>
<p>Blass.</p>
<p>Ki Juru sanalika ninggalake Kemisan, selak ape caturan karo garwane, lah gage-gage nga tuku glepung ge nggawe apem.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/16/kapan-bada-apem">Kapan Bada Apem?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nggintes Perajin Batik lan Lurik</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/28/nggintes-perajin-batik-lan-lurik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2026 03:33:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=541724</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dening Sulismanto &#160; “Kowe rak ndhung ra sida nganyari klambimu suk Kemis? Ewuh ah karo penjahitmu, ah. Tiwas diselakna tek malah ra sida kanggo.” Sek temenanan Kemisan takon kancane. Cara wong mbutgawe, sek ngongkok. Entuk pitakon ngono, kancane Kemisan sing pegawe iku malah bingung, ra reti karepe. Isa-isane, Kemisan ngarani nek klambi bathik sing lagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/28/nggintes-perajin-batik-lan-lurik">Nggintes Perajin Batik lan Lurik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Dening Sulismanto</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kowe rak <em>ndhung</em> ra sida nganyari klambimu suk Kemis? Ewuh ah karo penjahitmu, ah. Tiwas diselakna tek malah ra sida kanggo.”</p>
<p>Sek temenanan Kemisan takon kancane. Cara wong mbutgawe, sek <em>ngongkok</em>.</p>
<p>Entuk pitakon ngono, kancane Kemisan sing pegawe iku malah bingung, ra reti karepe. Isa-isane, Kemisan ngarani nek klambi bathik sing lagi dijikuk iku, bakal ra sida dienggo. Kamangka, suk Kemis ya pancen bathik iku sing bakal dienggo ngantor. Idhep-idhep nganyari bathik neng taun anyar.</p>
<p>Telung dina kepungkur, Kemisan pancen dijak kancane iku, <em>njikuk</em> jahitan ring gone penjahit langganane. Mulane Kemisan banjur reti, nek jebul kancane sek nggelak penjahite, njaluk mori bathike didadekake ndhisik lah isa dienggo suk Kemis. Penjahite ya manut, wong pancen wis suwe langganan ndandakake <em>ndhok</em> kono.</p>
<p>Weruh kancane bingung, Kemisan banjur njelasake karepe.</p>
<p>“Jaremu kae, bathik iku rak klambi kanggo ngantor si? Unimu ape bokenggo suk Kemis. Lha, <em>kane</em> iki ana aturan anyar ngono kok. Saiki nek Kemis nganggone sragam Korpri. FYP (<em>for your page</em>) <em>ndhok</em> Tiktokku, <em>trending</em> separan-paran, lo. Mosok kowe sing pegawe malah durung reti?”</p>
<p>Kancane Kemisan pancen lagi ra patia mbukak ratmaya (medhia sosial).  Mung merga ditakoni Kemisan wae, iki banjur mbukak FB-ne. Jebul pancen ana <em>konten</em> sing dikarepake Kemisan: mbagas Surat Edaran (SE) saka Kepala BKN (Badan Kepegawaian Negara). SE iki ngatur sragam pegawe bebadan (instansi) pamarentah: kementerian, lembaga, lan pamarentah dhaerah.</p>
<p>Neng dhaerahe Kemisan, suwene iki dina Kemis pegawe kabupaten nganggo busana bathik. Lha neng SE Kepala BKN iku, sragam dina Kemis diatur nganggo Korpri.</p>
<p>Sawisa sedhela buka FB, kancane Kemisan wis nemu konten sing dikarepake. “Oh iki, tah. Engko digoleki SE-ne, ana tenan tah ora. Tapi upama bener wis ana SE-ne, ya tetap wae suk Kemis aku nganggo bathik&#8230;”</p>
<p>Durung sek lebar omongane kancane, Kemisan gage-gage nyela. “Kok isa? Mosok pegawe oleh ora manut aturan? Ha nek cara aku, si, alung mamula kaya aturan sragam saiki. Rak teka sakake karo pengusaha bathik taye.”</p>
<p>“Iya, iya! Suk Kemis aku mamula nganggo bathik. Iki <em>thik</em> kowe kaya kudu muring-muring si? Omonganku aja bok sela dhisik tah, dakkandhani.”</p>
<p>“Iya-iya,” jawabe Kemisan.</p>
<p>Kancane Kemisan banjur nggenahake. Kepala BKN pancen wenang karo SE sragam pegawe. Nanging ora banjur sanalika diterapake. Isih ana menteri, pimpinan bebadan (lembaga), lan Pejabat Pembina Kepegawaian Dhaerah sing wenang gawe SE sabanjure, senajan dhasare ya SE Kepala BKN. Pejabat Pembina Kepegawaian Dhaerah kuwi, neng provinsi: gubernur, neng kabupaten: bupati, neng kutha: walikota.</p>
<p>“Oh dadine owah-owahan sragam kerjamu iki isih nunggu SE Bupati?” pitakone Kemisan.</p>
<p>Kancane durung sek jawab, Kemisan wis mrekutuk maneh. “Nek ngono ya padha wae. Bakale nek wis ana SE anyar saka bupati, nek Kemis pegawe mamula salin sragam Kopri, wis ora bathik maneh. Terus nek Selasa salin coklat khaki, ora nganggo tenun maneh. Bok sek mesakna <em>perajin</em> cilik-cilik sing gawe bathik karo tenun si.”</p>
<p>“Mesakna piye tah?” kancane takon karepe Kemisan.</p>
<p>Jare Kemisan, kabeh uwong ngerti nek perajin iki wis makna wong cilik. Malah mberah sing mung kanggo samben. Olehe nyukupi urip lan butuhe, tetep saka bayaran saka penggaweyan liya. Nek dibandhing pengusaha pabrik tekstil, perajin-perajin iki ra ana apa-apane. Upama ana pengusaha tekstil sing pengin nggintes perajin bathik mbuh tenun, bebasan <em>angel mijet wohing ranti</em>.</p>
<p>Cara padha-padha mbelani, sing duwe wenang ngatur sragam pegawe kudune milih belani wong-wong cilik ngene iki. Nek <em>hari kerja</em> ape dientekna nggo sragaman bahan tekstil kabeh, dalan rejekine <em>perajin</em> lurik (tenun) karo bathik saka pegawe sansaya entek. Kamangka, nalika nganggo sragam bathik lan tenun wae, ana pegawe sing mamula nganggo klambi saka mori tekstil, mung corake wae sing kaya bathik lan kaya lurik. Ketoke bathik, sawangane tenun lan lurik, nanging nyatane, kuwi tekstil.</p>
<p>Kemisan angen-angen, upama wae <em>mberah</em> menteri, kepala lembaga, lan kepala daerah sing gelem <em>diskresi</em>. SE Kepala BKN ora sek ditut kabeh. Iku amrih perajin bathik lan tenun ora  dikurangi dalan rejekine.</p>
<p>“Cara neng dhaerahe dhewe ya alung mamula kaya saiki ah. Nek dina Selasa ra usah salin coklat khaki, nek Kemis ra usah salin Korpri. Tetap tenun karo bathik,” jare Kemisan.</p>
<p>“Oh, nek karepmu ngono, ya muga-muga kasembadan. Mbiyen tau ana kok, gubernur sing ora anut SE sragam saka Menteri Dalam Negeri. Merga gubernur mau milih mbelani perajin cilik. Ora sek <em>mbalela</em>, tapi ancen ora kabeh SE sragam saka menteri mau ditut. Soale ngurangi dina nganggo sragam bathik mbuh lurik ngono lo,” jare kancane Kemisan.</p>
<p>“Jebul ngono? Nek ngono ya  muga-muga bupati, walikota, lan gubernur sing gelem <em>diskresi </em>ya mberah,” Kemisan mungkasi omongane.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bhausastra Dialek Jeparanan</strong></p>
<p>ngongkok : mempeng</p>
<p>njikuk : njupuk</p>
<p>kane : nyatane</p>
<p>ndhung : darung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/28/nggintes-perajin-batik-lan-lurik">Nggintes Perajin Batik lan Lurik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pandhawa Ngantor Néng Karang Kadhêmpêl</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/09/pandhawa-ngantor-neng-karang-kadhempel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2026 09:03:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=538545</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dening Sulismanto Senajan adoh saka kraton, kawula alit neng Dhukuh Karang Kadhempel tansah cedhak ratu. Dudu merga kerep tinimbalan sowan ring Ngamarta, tapi sawalike, Prabu Puntadewa sing asring tedhak mrana. Ana kalane, Puntadewa ngantor ring Karang Kadhempel karo adhi-adhine para Pandhawa: Werkudara, Janaka, Nakula, lan Sadewa. Minangka warga Karang Kadhempel, Kang Wayang bombong ratune cedhak [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/09/pandhawa-ngantor-neng-karang-kadhempel">Pandhawa Ngantor Néng Karang Kadhêmpêl</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Dening Sulismanto</strong></em></p>
<p>Senajan adoh saka kraton, kawula alit neng Dhukuh Karang Kadhempel tansah cedhak ratu. Dudu merga kerep tinimbalan sowan ring Ngamarta, tapi sawalike, Prabu Puntadewa sing asring tedhak mrana. Ana kalane, Puntadewa <em>ngantor</em> ring Karang Kadhempel karo adhi-adhine para Pandhawa: Werkudara, Janaka, Nakula, lan Sadewa.</p>
<p>Minangka warga Karang Kadhempel, Kang Wayang bombong ratune cedhak kawula, adil, lan wicaksana. Saking bombonge, kepara dadi <em>engkek </em>nalika ketemu kanca sing isa dipameri, yaiku padha-padha kawula dasih, nanging dadi warga karang pradesan sing kebawah negara Ngastina.</p>
<p>“Ora kaya ratu srakah Prabu Duryudana ra? Gustimu iku lo, dadi ratu mung waton ngendhih dhampar wae kok, adoh saka kawula. Wengis sisan.<em> Ndahipun</em> ah nek sek gelem <em>ngantor</em> neng desa,” jare Kang Wayang nalika <em>ngengkeki</em> kanca-kancane saka desa-desa sebrang.</p>
<p>Nata Ngamarta: Prabu Puntadewa pancen ratu wicaksana. Saindhenging jagat krungu, kaya ngapa Puntadewa ngasta bawat paprentahan negara Ngamarta. Kawit <em>bebadra</em> babat alas Wanamarta nganti dadi praja Ngamarta, Prabu Puntadewa lan para satriya adhi-adhine, tansah nyawiji karo kawula dasih.</p>
<p>Punggawa, nayaka, lan sentana praja Ngamarta uga dijak cedhak marang kawula. Anggone asring tedhak ring Karang Kadempel lan nyawiji karo kawula, minangka upaya amrih krungu sambate rakyat Ngamarta. Senajan drajate ratu, Puntadewa ora isin ngangsu kaweruh lan jaluk pitutur saka kawula alit.</p>
<p>Saking le emoh <em>kemlipa</em>, Prabu Duryudana ngangkat warga sing drajate <em>aceplik</em> minangka <em>panakawan</em>. Pawongan mau yaiku Semar saanak-anake: Gareng, Petruk, lan Bagong. Semar asring dijaluki pitutur lan panimbang anggone ngasta <em>bawat</em> <em>paprentahan</em> negara Ngamarta.</p>
<p>Kanthi cara ngono, Wanamarta, alas gawat kliwat jalma mara jalma kepati merga asale dadi panggone bangsa alus jim lan raseksa, kasil dibangun dadi praja kamanungsan aran Ngamarta. Sabanjure, Ngamarta dadi negara sing panjang punjung, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.</p>
<p>Ing jagat kasunyatan, Kemisan beja dadi warga Jepara. Saiki, dheweke mrangguli kasunyatan kaya ing jagat pewayangan mau. Kanthi program unggulan “Bupati Ngantor Di Desa”, wis puluhan desa neng Jepara dirawuhi bupati Witiarso Utomo, Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar, jangkep karo para punggawa, nayaka, lan sentana praja Kabupaten Jepara.</p>
<p>Krasa beja, ana kalane program iki diomong nalika padha jagong.</p>
<p>“Punggawa, nayaka, karo sentana praja iku apa tah? Aku kok ora tau krungu neng pamarintah dhaerah ana ukara ngono,” pitakone kancane.</p>
<p>“Ha nek saiki ya sekretaris daerah, staf ahli, asisten, nganti para pimpinan bebadan dhaerah iku ah. Kaya kepala dinas, kepala badan, kepala bagian, nganti camat barang iku,” jawabe Kemisan.</p>
<p>Direktur BUMD, pimpinan bebadan kaya Baznas, KONI, lan sapanunggalane uga ana. Anggota DPRD sa-daerah pemilihan dirawuhake. Mulane Bupati Ngantor di Desa malah luwih saka cerita pewayangan, nalika Prabu Puntadewa utawa utusane, tedhak ring Karang Kadhempel.</p>
<p>Butuh krungu tetimbangane “panakawan”, sambate kawula alit, lan niti priksa kahanan karang pradesan kaya sing dilakoni Pandhawa nalika tedhak Karang Kadhempel, pancen dadi perangan karya sajrone Bupati Ngantor Di Desa.</p>
<p>“Nanging kejaba kuwi, ana maneka pakaryan bebadan pamarintah dhaerah sing dina melu boyongan neng desa. Mula, warga isa entuk maneka bantuan, layanan kesehatan, administrasi kependudukan, lan macem-macem,” jlentrehe Kemisan.</p>
<p>Mbuh pirang dina sadurunge Bupati Ngantor Di Desa, wis ana pejabat Jepara sing blusukan ring desa sing bakal dirawuhi. Arane PIC (<em>personal in charge</em>), penanggung jawab lan paraga sing disampiri pakaryan niti priksa maneka kahanan. Tuladhane, apa wae kebutuhan pembangunan neng desa nganti sumber daya sing isa direkadaya supaya dadi tambahan sumber kemakmuran masarakat. Ora mung kemakmuran neng desa iku, nanging uga desa-desa sakupenge. Sabare niti priksa, PIC banjur andum karya karo bebadan dhaerah liyane, supaya padha bisa mrantasi karya gumantung <em>tupoksi</em>-ne dhewe-dhewe.</p>
<p>“Sajrone Bupati Ngantor Di Desa, arah pembangunan desa utawa kecamatan siji lan sijine, ora digebyah uyah. Beda-beda gumantung sumber daya sing ana, arane <em>pembangunan tematik wilayah</em>,” tambahe.</p>
<p>Kanthi cara ngono, nalika Bupati Ngantor Di Desa dileksanani, bupati mundhut tetimbangan tambahan  saka para “Semar”, kaya petinggi, sesepuh-pinisepuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, RT-RW, lan liya-liyane. Kabeh rembug ditimbang, banjur paring arahan, mratelakake pakaryan sing sacandhake kudu dilakoni pamarintah desa nganti perangkat daerah. Kabeh mau amrih kasile pembangunan tumuju Jepara Mulus, visi pembangunan Kabupaten Jepara.</p>
<p>Putusan arah pembangunan ing Bupati Ngantor Di Desa, diugemi lan dileksanani tenan. “Merga anggota DPRD sa-daerah pemilihan uga rawuh, eksekutif lan legislatif padha-padha olehe ngawal putusan mau,” jare Kemisan.</p>
<p>Wis puluhan desa neng Jepara sing dirawuhi. Kari ngenteni, desa-desa liya bakal dadi “Karang Kadhempel-Karang Kadhempel” sacandhake.</p>
<p><strong>Bhausastra Dialek Jeparanan</strong></p>
<p>engkek: umuk</p>
<p>ngengkeki: umuk srana pamer</p>
<p>ndahipun: mokal, ora bakal</p>
<p>bebadra: wiwit bebakal, babat alas</p>
<p>kemlipa: kemewat, gumedhe, sok rumangsa bisa</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/09/pandhawa-ngantor-neng-karang-kadhempel">Pandhawa Ngantor Néng Karang Kadhêmpêl</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Orog-orog, Ora Mung Duweke Wong Jepara</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/07/orog-orog-ora-mung-duweke-wong-jepara</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2026 05:09:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=538124</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dening Sulismanto Suwene iki, Kemisan umuk nalika ana omongan perkara orog-orog. Rumangsane, panganan sing tulisane uga kerep diawiti nganggo aksara h (dadi horog-horog) iku, anane ndhok Jepara ênthok. Mung duweke wong Jepara. Pikire Kemisan, olahan pati aren iku malah isa dadi jatidhirine Kabupaten Jepara ing babagan panganan. Apa sing dipikir Kemisan iku pancen jumbuh karo [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/07/orog-orog-ora-mung-duweke-wong-jepara">Orog-orog, Ora Mung Duweke Wong Jepara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Dening Sulismanto</em></strong></p>
<p>Suwene iki, Kemisan umuk nalika ana omongan perkara orog-orog. Rumangsane, panganan sing tulisane uga kerep diawiti nganggo aksara <em>h</em> (dadi <em>horog-horog)</em> iku, anane ndhok Jepara <em>ênthok</em>. Mung duweke wong Jepara. Pikire Kemisan, olahan pati aren iku malah isa dadi <em>jatidhirine</em> Kabupaten Jepara ing babagan panganan.</p>
<p>Apa sing dipikir Kemisan iku pancen jumbuh karo kasunyatan. Sajeg jumleg, Kemisan ra tau weruh orog-orog <em>ndhok</em> kana-kana. Goleka sek kepiye wae, ra isa nemu. Nanging nek <em>ndhok</em> Jepara, golekane sek <em>kepinuk</em>. <em>Sasate</em> ra usah golek, merga saben pasar ana. Saben kudu, karek <em>nga</em> ring pasar, terus tuku.</p>
<p><em>Ndhok</em> pasar tradhisional, sing adol umume ibu-ibu. Le dodol pinarak dhingklik ngadhep <em>dhunak</em> ditutupi tebok. Orog-oroge didhasarake neng dhuwur tebok, ditata karo janganan lan mangkok isi bumbu kacang. Lawuhe, sate kikil bumbu <em>blondho</em>.</p>
<p>Sing jajan karek milih, tuku orog-orog <em>lawaran</em> isa, jangkep karo janganan bumbu kacang ya isa. Le ngedoli, <em>ditunum</em> godhong jati. Regane murah. Nek orog-orog ênthok, <em>sak tum</em> isa rong ewu repiyah. Senajan murah, ra usah ditakokake rasane. Wis makna sedhep. Nek pengin luwih sedhep ya sisan karo lawuhe, sate kikil bumbu <em>blondho</em> mau. Sak sunduk paling ya ora lunga saka sewu-rong ewu repiyah kok.</p>
<p>Nek olehe tuku orog-orog neng warung <em>ndhok</em> pasar wisata, regane isa limang ewu. Luwih ya isa wae, merga pancen olehe nyuguhake beda. Piringan upamane. Porsine ya luwih <em>mberah</em> tinimbang sing <em>tunuman</em> saka pasar tradhisional.</p>
<p>Balik ring ibu-ibu sing dodol orog-orog neng pasar-pasar tradhisional mau. Ana bakul orog-orog sing sisan <em>cawis</em> lonthong. Carane ngedol lonthong, kaya orog-orog mau. Lonthong irisan diwehi janganan, digebyur bumbu kacang, banjur <em>ditunum</em> godhong jati.</p>
<p>Ben sing tuku duwe pilihan jajanan liya, bakul orog-orog ya <em>mberah</em> sing sisan <em>cawis</em> puthu, alu-alu, lan bubur ireng. Bubur ireng irisan iki ana sing ngarani oyol-oyol. Bedane, nek orog-orog utawa lonthong diwehi <em>topping</em> janganan bumbu kacang. Tapi nek puthu, alu-alu, lan bubur ireng, <em>topping</em>-e parutan klapa. Supaya mirasa, parutan klapane diwuwuri uyah, ana kalane sisan ditambahi gula putih sithik.</p>
<p>Ana kahanan liya sing saya nguwatake pikirane Kemisan, nek orog-orog isa dadi <em>jatidhiri </em>Kabupaten Jepara ing babagan panganan. <em>Ndhok</em> kampunge, nalika ana sing gawe selametan, <em>makna</em> ana <em>tunuman</em> orog-orog ning nggon jajan pasar.</p>
<p>Malah nek wis <em>dicawisake</em> neng meja bakso, <em>orog-orog</em> ndadekake warung-warung bakso <em>ndhok</em> Jepara duwe ciri <em>khas</em>. <em>Angg</em><em>êr</em> jajan bakso kok neng mejane ana <em>cawisan</em> orog-orog, wis makna, iku ndhok Jepara. <em>Ndhok</em> dhaerah liya ora ana. Ra perduli bakul baksone saka ngendi. Bakso Malang, Bakso Wonogiri, Bakso Sala, lan mbuh dijenengi bakso ngendi wae, nek le adol ndhok Jepara, lumrahe, <em>cawis</em> orog-orog ndhok dhuwur mejane wong jajan.</p>
<p>Ndhok warung-warung bakso ngene iki, orog-oroge <em>lawaran</em>. <em>Dicawisake</em> <em>tunuman</em> <em>ndhok</em> godhong jati. Ana kalane diwadhahi plastik bening. Nalika pesenan wis disuguhake, wong sing jajan karek <em>ngesok</em> orog-oroge ring mangkok: ring <em>kuah</em> bakso. Rasane malah saya seger, saya <em>maregi</em> sisan.</p>
<p>Siji meneh sing ra isa dibantah. Sasi Oktober wingi, orog-orog (horog-horog) ditetepake minangka Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dening Menteri Kebudayaan RI. Kekancingan iki ditampa Kabupaten Jepara, bareng karo limang perangan kabudayan liya, yaiku batik Jepara, tradhisi Baratan Kalinyamatan, Memeden Gadhu, Pindang Serani, lan Ukir Kaligrafi Jepara. Kabeh dadi WBTB-ne Jepara.</p>
<p>Mulane Kemisan bener-bener ra trima. Dina iki, kancane sing <em>lagek</em> mulih saka paran, crita nek dheweke bar mangan orog-orog nalika sanja neng salah suwijine dhaerah liya.</p>
<p>“Kaya Mitro sih, kowe. Nek ngomong <em>nggedebus</em>,” bantahe Kemisan.</p>
<p>Mbuh piye awite, ndhok kampunge Kemisan, nek ana wong sing gawene <em>mblithuki</em>, diundang Mitro.</p>
<p>“Mulane tah, nek dolan iku sing <em>srodok</em> adoh barang, lah reti  kana-kana. Nyatakna dhewe tah. Nek dolanmu ngulon, goleka ndhok Indramayu. Nek ngetan, Banyuwangi,” bantahe kancane karo ndudohake HP-ne ring Kemisan.</p>
<p>Pancen ana foto kancane jajan panganan, sing uga diarani orog-orog utawa horog-horog mau.</p>
<p>“Bedane ngene lo. Orog-orog Jepara, digawe saka pati aren. Warnane putih semu bening utawa semu klawu. Lha nek sing diarani orog-orog ndhok kana-kana, digawe saka glepung beras, diuleni karo banyu gula abang banjur didang. Nek wis adhem diparut, didang maneh pol mateng. Banjur disuguhake karo parutan klapa. Warnane coklat kaya thiwul,” jlentrehe kancane.</p>
<p>Kemisan lega. “Owalah, sing padha mung jenenge. Tapi wujud lan bahane bener-bener beda. Nek ngono ya tetap wae orog-orog saka pati aren dadi <em>jatidhiri</em> panganan Jepara, ah,” Kemisan manteb.</p>
<p>Eman sithik, sajrone <em>Bhausatra Jawa</em>-ne Poerwadarminta (1939), salah siji tegese tembung <em>orog-orog </em>malah <em>panganan bngs thiwul</em>. Tinulis ndhok kaca 454.</p>
<p>“Ah, <em>ndahneya</em> nek biyen ana wong Jepara sing melu nulis bhausastra,” pikirane Kemisan nglembara.</p>
<p>Upama ngono, isa wae salah sijine teges tembung <em>orog-orog</em>  ya pancen <em>panganan olahan pati aren sing anane mung neng Jepara.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bhausastra Dialek Jeparanan</strong></p>
<p>jatidhiri: identitas (Ind)</p>
<p>ndhok: neng, ana ing, ning</p>
<p>kepinuk: penak banget</p>
<p>sasate: sasat, meh padha</p>
<p>nga: poc. lunga</p>
<p>dhunak: wadhah/tenggok saka pring</p>
<p>blondho: kenthelan santen sing diklentik</p>
<p>lawar, lawaran: wantahan, tanpa wuwuhan/tambahan apa-apa</p>
<p>tunum, tum, ditunum: salah siji cara mbungkus nganggo godhong</p>
<p>mberah: akeh</p>
<p>cawih, nyawisi: cepak, nyepaki, nyamektakake</p>
<p>khas: kang mligi</p>
<p>anggêr: yen, nalika</p>
<p>kuah: duduh</p>
<p>maregi: njalari wareg</p>
<p>lagèk: lagi</p>
<p>nggedebus: banget apus-apusan, gumedhe omongane</p>
<p>mblithuki: ngapusi</p>
<p>ndahnéya: kaya ngapa banget endahe</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/07/orog-orog-ora-mung-duweke-wong-jepara">Orog-orog, Ora Mung Duweke Wong Jepara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sekolah Numpak Montor</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/12/29/sekolah-numpak-montor</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2025 04:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=536773</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dening Sulismanto Seminggu iki, kancane Kemisan rak tau kawanen. Malah sing dina apa kae, persis kaya dina iki: anggone ngenteni jam kerja setengah jam luwih. Merga ijik isuk wis tutug, isa linggah-linggih dhisik ndhok blabak. Biyasane, ra ketang sepisan mbuh ping pindho sajrone seminggu, mesthi ana dina dheweke meh telat. Olehe tug ngebrak sek ngepas [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/29/sekolah-numpak-montor">Sekolah Numpak Montor</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Dening</em> <em>Sulismanto</em></strong></p>
<p>Seminggu iki, kancane Kemisan <em>rak</em> tau kawanen. Malah sing dina apa kae, persis kaya dina iki: anggone ngenteni jam kerja setengah jam luwih. Merga <em>ijik</em> isuk wis tutug, isa linggah-linggih dhisik <em>ndhok</em> <em>blabak</em>.</p>
<p>Biyasane, ra ketang sepisan mbuh ping pindho sajrone seminggu, mesthi ana dina dheweke meh telat. Olehe tug <em>ngebrak</em> sek ngepas jam kerja. Tutug, langsung <em>mbutgawe.</em></p>
<p>“<em>Dungaren</em> wis nem dina <em>ngedhur </em>lehmu tutug isa esuk terus,” aloke Kemisan.</p>
<p>“Lha kowe rak reti <em>taye</em> nek seminggu iki cah sekolah libur? Dalan rak <em>ndhung</em> sepi, si. Dadi lehku montoran ya kepenak. Isa mlaku cepet,” jawabe kancane.</p>
<p>Kemisan sing asale ora <em>nglegewa</em> kahanan banjur kelingan. Pancen, seminggu kepungkur, cah sekolah dha tampa rapot. Bar iku terus liburan semester. Ndelalah mbarengi libur lan <em>cuti bersama</em> Natal. Mulane dalan terus sepi. Upama ana cah sragaman sekolah numpak montor, paling ya siji &#8211; loro. Mbuh cah-cah mau dha duwe ayahan apa neng sekolahan, nalika kancane dha libur.</p>
<p>“Ha iya, babagan cah sekolah montoran, <em>ndhok</em> kene iku pancen sek ngene kok. Apa maneh kok sing wis SMA, lha wong cah SMP–MTs wae dha gawa montor dhewe kok. Ngono kok diolehi,” sambunge Kemisan semu mrotes, tapi mbuh sapa sing diprotes.</p>
<p>Kemisan banjur kaya mbandhing-mbandhingake. Jarene, <em>ndhok</em> sawetara kutha neng <em>bawah</em> kidul, meh ra ana cah sekolah numpak montor dhewe. Iku jumbuh karo nyatane, <em>nek</em> cah sekolah umume dha durung duwe SIM. Merga pancen umure durung 17 taun. <em>Nek</em> ana sing montoran, umume sragaman SMA/SMK/MA, sing <em>nawane</em> wis kelas dhuwur, <em>ndhung</em> pancen wis isa duwe SIM.</p>
<p>Neng kuthane Kemisan, angger wayah mangkat sekolah, dalan kebak <em>b</em><em>èr</em>. Senajan ora sithik sing diterake wong tuwane, montor neng dalan tetep wae paling <em>mberah</em> ditumpaki cah sekolah. Merga dalane kebak, isane mlaku ya pancen alon lan ati-ati tenan. Wong <em>mbutgawe</em> kepeksa mangkat luwih gasik lah ora keri.</p>
<p>“Ha <em>nek</em> iku si teka ra apa-apa. Mung butuh wektu pirang menit luwih longgar wae. Sing tak pikir iku malah nek gene-gene neng dalan kok. Cah semono iku <em>kan</em> pancen lagek mempeng-mempenge, si. Nyetang wis angger nyetang, muntir gas <em>sak kempute</em>. Rak duwe teori numpak montor blas, tapi <em>kemlipa</em>, angger ngeeebut wae. Nek gene-gene? Sing tuna lo ora mung awake dhewe, tapi uga wong liya. Bok teka lah <em>umbal</em> tah. Dalane lah longgar ngono lo,” gremenge.</p>
<p>Jare Kemisan, apike cah semono aja diolehi numpak montor dhewe. Nek perlu dioprasi, lah wis ora dibaleni.</p>
<p>Weruh Kemisan kaya durung ape mandheg olehe ngomong, kancane kepeksa nyelani. Kuwatire, nek kadhung rerasan, Kemisan ra mandheg-mandheg.</p>
<p>“Ngene iki, lo, sing marai kepeksa ngomongake babagan sing kudune ora diomong. Lehmu mbandhing-mbandhingake iku lo, sek kaya tau weruh kutha kana-kana dhewe,” celathune kancane, banjur njlentrehake kahanan dhaerahe sing ora isa dibandhingake karo kana-kana.</p>
<p>Senajan kaya diwelehake, Kemisan ngrungokake nganti lebar. Pungkasane, dheweke ngerti nek cah sekolah montoran <em>ndhok</em> dhaerahe, jebul ra isa nek <em>ndhung</em> ujug-ujug dipenging.</p>
<p><em>Ndhok</em> kana-kana, isa wae cah umuran SMP/MTs dipenging numpak montor dhewe.  Mangkat sekolah isa dipeksa <em>umbal</em>. “Lha wong sistem transportasi publike wis temata kok. Ing saben jurusan, montor umbalan pirang-pirang. Nek sing siji bar lewat, ora let suwe, mburine wis ana meneh. Lha nek <em>ndhok</em> kene, sing ana umbalan ngendi wae? Bis sing mlaku <em>ndhok</em> jalur utama wae <em>sitok</em> &#8211; loro kok. Jalur cilik-cilik lo malah wis mberah sing mati angkutane,” ngono sing dirungokake Kemisan.</p>
<p>Mulane nek ana cah sekolah sing dipeksa umbal ndhok dalan liyane jalur utama, isa tutug sekolahan senajan telat wae wis beja. Isa wae ra bakal tutug sekolahan.</p>
<p><em>Ndeloki</em> kahanan ngene iki, mesthi wae, sing ape ngoprasi rak bakal tega. Nek meksa oprasi lalu lintas, sing isa tuk sekolahan, paling-paling ya mung sing diterake wing tuwane. Kamangka ora kabeh wong tuwa kober. Dha repot karo penggaweyane dhewe-dhewe. Mosok bocah dijarake ra duwe <em>masa depan?</em> Mosok sekolah-sekolahan kon tutup merga ra duwe murid?</p>
<p>Mulane, neng dalan-dalan sing pancen ra ana umbalane, sing penting bocah dituturi sing bener. Nek numpak montor sing ati-ati. Nganggo helem lan peranti keamanan liyane sing jangkep. Kurmat karo petugas lan <em>pengendara</em> liya neng dalan, lah padha-padha selamet. Lha jenenge wae isih bocah, ya teka ra usah bosen nuturi. Neng sekolahan dituturi wong tuwane, neng omah dibaleni wong tuwane.</p>
<p>“Wis ayo ngawiti <em>mbutgawe</em>. Wis ape jam wolu iki lo,” tembung pungkasane kancane ngiringi anggone Kemisan manthuk-manthuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bausastra Dialek Jepara</strong></p>
<p><strong>rak </strong>: ora.</p>
<p><strong>ijik</strong> : isih.</p>
<p><strong>ndhok </strong>: neng, ana ing, ning.</p>
<p><strong>blabak</strong> : peranti undhagi (tukang kayu), sikile dhuwur sing buri.</p>
<p><strong><em>brak, ngebrak</em></strong><em> : </em>papan panggon nukang.</p>
<p><strong>mbutgawe</strong> : nyambut gawe.</p>
<p><strong>dungaren : </strong>kadingaren.</p>
<p><strong>ngedhur</strong> : nuli-nuli, tanpa mandheg.</p>
<p><strong>taye</strong> : tah piye.</p>
<p><strong>ndhung</strong><em> : darung, kedarung.</em></p>
<p><strong>nglegewa</strong> : nguninga, nggatekake.</p>
<p><strong>mberah</strong> : akeh.</p>
<p><strong>nek</strong> : yen</p>
<p><strong>nawane</strong> : menawa</p>
<p><strong>kemput </strong>: tekan ing pungkasan.</p>
<p><strong>umbal</strong> : numpang, nyewa tetunggangan nalika lelungan.</p>
<p><strong>kemlipa </strong>: rumangsa duwe kabisan luwih saka kasunyatane</p>
<p><strong>sitok </strong>: siji<strong>  </strong></p>
<p><strong>ndelok : </strong>nyawang, nonton.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/29/sekolah-numpak-montor">Sekolah Numpak Montor</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lawuh MBG</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/12/23/lawuh-mbg</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2025 15:49:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=536000</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dening Sulismanto&#8221; “Lha mau lawuhe apa?” Kemisan nyacak takon maneh ring bocah sing lewat ngarep omahe, nalika dha mulih sekolah. Mbuh wis ping pira iki olehe nakoni bocah-bocah perkara jatah mangan saka program MBG: Makan Bergizi Gratis. Kaya olehe mbêdhèk, bocah sing semaur ora ana sing nyebut iwak. Kamangka iku sing dienteni. Kawit gek ingenane, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/23/lawuh-mbg">Lawuh MBG</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong><em>Dening Sulismanto&#8221;</em></strong></p>
<p>“Lha mau lawuhe apa?”</p>
<p>Kemisan nyacak takon maneh ring bocah sing lewat ngarep omahe, nalika <em>dha</em> mulih sekolah. Mbuh wis ping pira iki olehe nakoni bocah-bocah perkara jatah mangan saka program MBG: Makan Bergizi Gratis.</p>
<p>Kaya olehe mbêdhèk, bocah sing semaur ora ana sing nyebut <em>iwak</em>. Kamangka iku sing dienteni. Kawit gek <em>ingenane</em>, nalika ngawiti takon cah sekolah perkara MBG, dheweke kaya ra tau krungu <em>nek</em> lawuhe nganggo iwak.</p>
<p><em>Ndhok</em> desane, ana sekolahan sing wis patang sasi entuk MBG. Lawuhe iwak <em>nawane</em> lagek ping pindho: bandeng presto sepisan, lele goreng sepisan. Senajan sadesa, SD <em>sandhing</em> omahe sing oleh jatah MBG saka SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) liya, durung tau entuk lawuh iwak blas. SD iki lan sekolahan-sekolahan liya sing sak-SPPG, ndelalah durung ana sesasi melu entuk jatah MBG.</p>
<p>Dhisik kae, nalika lagek pisan pindho takon ring cah SD <em>sandhing</em> omahe, Kemisan ra duwe pikiran apa-apa. Ya mung pengin ngerti wae. Tapi bareng bola-bali takon kok ra tau krungu lawuhe iwak, Kemisan banjur niteni. Pitakone sing keri dhewe iki, nggo nyatakake, apa bener, jatah MBG <em>ndhok</em> sekolahan iku mau pancen meh ra tau entuk lawuh iwak. Lha kok <em>temenan</em>.</p>
<p>“<em>Sakjane</em> iku pancen <em>temenan</em>, <em>tah</em> ndelalah pas lawuhe iwak, <em>pas</em> aku ra takon <em>si, ndhe</em>?” pikirane Kemisan.</p>
<p>Suwijine dina, Kemisan nganti <em>nyacak</em> takon ring kanca-kancane <em>mbutgawe</em>. Jebul umume padha. Lawuh iwak kapetung paling arang.</p>
<p>“Ya teka ana <em>si</em>, sing jare meh seminggu sepisan entuk lawuh iwak, senajan ndelalahe lele terus. Nanging <em>nawane</em> ya lagek sekolahan iku. Lha wong padha-padha <em>ndhok</em> kutha, sekolahan liya sing ora sak-SPPG ya jare padha wae arang entuk lawuh iwak kok,” unine Kemisan nalika wis sapejagong karo Ki Juru.</p>
<p>Suwene crita olehe jawaban saka kanca-kancane ring Ki Juru, <em>dememenge </em>Kemisan ra mandheg-mandheg. “Nek ra ayam goreng, ya ayam karage, ayam katsu, teriyaki, ayam kuah bawang putih, bestik, bakso,” ngono anggone <em>mrekutuk </em>nirokake jawabane bocah-bocah saben takon lawuh MBG.</p>
<p>Ki Juru sing krungu gremenge Kemisan nganti gumun. Isa-isane, wong iku nganti apal jeneng maneka olahan ayam lan daging. Kabeh mau, merga kejaba endhog, ya loro kuwi sumber protein hewani sing meh saben dina disuguhake neng menu MBG-ne cah sekolah <em>ndhok</em> <em>sandhing</em> omahe.</p>
<p>“Sing beja ya sing entuk saka SPPG ngendi iku mau ah. Ayam asring, daging tau, endhog biyasa, iwak ya <em>sasate</em> meh saben minggu sepisan,” jlentrehe Kemisan, mbaleni omongane perkara ana SPPG sing gelem ngehi lawuh iwak, sing selang-selinge meh padha karo sumber protein jinis liya.</p>
<p>Ki Juru mudheng geneya Kemisan <em>ndememeng</em>. SPPG sing arang, kepara meh ra tau ngehi lawuh iwak teka ora salah. Wong endhog, daging, lan ayam padha wae sumber protein kok. Nanging kanggo dhaerah kaya Jepara sing garis kisike wae 80 kilometer luwih, kenapa kok mberah SPPG sing kepetung arang ngehi lawuh iwak.</p>
<p>“Iya, pancen nek pas mangan, bocah luwih repot wong iwak iku ana êriné. Tapi rak ya, teka isa diatur si? Upamane cah kelas gedhe dimangsakna sembarang, wong wis isa ngopesi iwak, terus kelas cilik diirisna iwak sing resik saka êri,” unine Kemisan. Ndhok kampunge, balung iwak pancen diarani êri.</p>
<p>Kanggone Kemisan, eman yen  <em>potensi</em> iwak ora di-<em>optimal</em>-ake. Kudune isa digawe selang-seling. Saora-orane anggone ngolah iwak nggo lawuh, padha karo endhog, ayam, lan daging. Kepara luwih asring iwak ya malah apik.</p>
<p>Nek iku iwak segara, wong miyang melu entuk berkah saka program MBG. Saora-orane, iwake luwih payu. Sokur-sokur mundhak rega sithik. Lha nek iku iwak dharat, ya bisa <em>marai</em> wong sing duwe usaha ngingoni iwak, melu ngrasakna dhuwit MBG. Usahane isa saya maju.</p>
<p>“Lha nek liyane iwak? Sing duwe usaha lo biyasane wong sugih-sugih. Perusahaan-perusahaan gedhe malahan. Ngono iku upama iwak melu digawe selang-seling, rak <em>ndhung</em> isa pahda-padha entuk rejeki si?” jarene.</p>
<p>“Durung meneh nek nggatekake dhawuhe Pak Presidhen kanggo nyegah inflasi sing ngiringi Natal lan Taun baru, rak ya malah apik to, nek nganggo iwak? Wong ra tau ana critane, iwak dadi panjurung utama inflasi pangan kok. Nek endhong, daging, karo ayam? Wis bola-bali,” Kemisan ra meneng-meneng, sajak <em>engkek</em> pamer wawasan.</p>
<p>Apa maneh saiki sing dirumati MBG <em>ndhok</em> kampunge kaya lagek cah sekolah. Kemisan ngeling-eling apa sing tau diwaca neng artikel kesehatan. Kanggo kesehatan jangka panjang lan kepinteran, iwak paling cocok. Apa maneh nek iwak segara.</p>
<p>Iwak saka usaha <em>perikanan </em>dharat, padha wae <em>gathuk</em>. Merga uga ngandhut gizi layak senajan nek dibandhing iwak segara rada kalah kandhutan omega-3, yodium, lan vitamin D-ne. Sajrone tulisan kesehatan, omega-3 jare apik kanggo perkembangan pikiran, <em>fokus</em> sinau, lan kesehatan jantung.</p>
<p>Padha-padha sumber protein, ayam lan endhog menang <em>praktise.</em> Dene daging sapi mbuh kebo, apik kanggo nyegah anemia. Kemisan rada kudu ndakwa nek SPPG sing keset ngehi lawuh iwak, mung golek <em>praktis</em>-e mau.</p>
<p>“Ngene iki, nyata ra, nek iwak duwe keunggulan minangka lawuh MBG. Ha kok malah paling arang disuguhake iku piye <em>tah</em>? Bok teka saora-orane padha <em>tah</em>, gentenan karo endhog, ayam, lan daging. Bener ta ora Ki?” kandhane Kemisan.</p>
<p>Ki Juru sing kawit mau <em>mberah</em> menenge, kepeksa nyambungi. Sepisan, nanging kaya emoh kalah dawa karo <em>dememenge</em> Kemisan.</p>
<p>“Tak kandhani, ya. Saben dina iku, kabeh SPPG gawe laporan suguhan ring Satgas MBG kabupaten. Kabeh menu ditulis. Mesthine palaporan iki mendhuwur terus nganti tekan BGN (Badan Gizi Nasional). Saiki iku, luwih penting ngratakake <em>layanan</em> MBG dhisik. Sakabupaten, sing entuk MBG lo, lagek sewidak persen. Malah ana kecamatan sing blas durung entuk. Kok kuwatirmu sek ngono iku lo ngapa <em>tah</em>? Bakale nek wis rata lo, ditata kabeh,” jlentrehe Ki Juru.</p>
<p><strong><em>Penulis: warga Jepara. Tau dadi penyiar radio kanthi jeneng siyaran Indra Sadewa.</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/23/lawuh-mbg">Lawuh MBG</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merajut Ingatan Kolektif: Forum TBM Jepara dan Disparbud Gelar Wicara Literasi Budaya dalam Rangkaian SEMURIA 2025</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/12/17/merajut-ingatan-kolektif-forum-tbm-jepara-dan-disparbud-gelar-wicara-literasi-budaya-dalam-rangkaian-semuria-2025</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2025 05:11:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=534717</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belum lama ini, dalam upaya memperkuat identitas daerah dan melestarikan sejarah lokal, Pengurus Daerah (PD) Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Jepara bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara menggelar acara Gelar Wicara Idaroh Literasi pada Kamis (11/12). Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian acara Semarak Museum RA Kartini Jepara (SEMURIA) dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/17/merajut-ingatan-kolektif-forum-tbm-jepara-dan-disparbud-gelar-wicara-literasi-budaya-dalam-rangkaian-semuria-2025">Merajut Ingatan Kolektif: Forum TBM Jepara dan Disparbud Gelar Wicara Literasi Budaya dalam Rangkaian SEMURIA 2025</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Belum lama ini, dalam upaya memperkuat identitas daerah dan melestarikan sejarah lokal, Pengurus Daerah (PD) Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Jepara bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara menggelar acara Gelar Wicara Idaroh Literasi pada Kamis (11/12).</p>
<p>Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian acara Semarak Museum RA Kartini Jepara (SEMURIA) dan Pameran Obyek Pemajuan Kebudayaan ini diselenggarakan di Gedung Museum RA Kartini (Pendopo Kabupaten Jepara) Selama dua hari, Kamis dan Jumat 11-12 Desember 2025.</p>
<figure id="attachment_534720" aria-describedby="caption-attachment-534720" style="width: 400px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-534720" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-19.39.25_656d10de-400x184.jpg" alt="" width="400" height="184" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-19.39.25_656d10de-400x184.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-19.39.25_656d10de-150x69.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-19.39.25_656d10de.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><figcaption id="caption-attachment-534720" class="wp-caption-text">Tari Bugis dari Sanggar Sipakak Ingek Karimunjawa. Foto Septiana W.</figcaption></figure>
<p>Mengusung tema “Merajut Ingatan Kolektif Masyarakat Bersama Museum Kartini Jepara”, gelar wicara yang bertujuan membuka ruang dialog lintas perspektif ini mempertemukan museum sebagai institusi artefak pelestari, pegiat sejarah sebagai penjaga narasi, serta TBM sebagai garda terdepan literasi akar rumput dan pelestari sastra lisan.</p>
<p>Muhammad Ali Burhan, S.H Ketua PD Forum TBM Jepara menyampaikan bahwa pelestarian sejarah tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya Museum memiliki peran vital sebagai ruang edukasi dan dokumentasi. Namun, di akar rumput, TBM dan komunitas sejarah memiliki peran strategis dalam merawat sastra lisan dan ingatan kolektif warga.</p>
<p>“Pada kesempatan ini kami berharap masyarakat dan pemerintah dapat bersinergi pada visi misi yang selaras dalam merawat ingatan kolektif tidak hanya soal Kartini saja namun berbagai elemen lokal seperti sejarah tutur, permainan tradisional, seni tradisional serta artefak-artefak peninggalan yang ada di Jepara.” Terang Lia Supardianik saat diskusi.</p>
<p>Gelaran wicara yang dimoderatori oleh Avis Nur mufida ini membahas Peran Museum yang dipaparkan oleh Lia Supardianik, S.Sos, M.H. dari Museum Kartini Jepara. Jepara di Mata Nusantara dan Global oleh Peneliti Sejarah dan Budaya Ali Romdhoni, M.A., Ph.D. Pentingnya Aktivitas Pegiat Sejarah Disampaikan oleh M. Dalhar, S.S. Pemerhati Sejarah Jepara. Hingga Peran TBM dalam Pelestarian Sastra Lisan oleh Ketua Forum TBM Jepara Muhammad Ali Burhan, S.H.</p>
<p>Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengelola TBM se-Jepara, pegiat literasi dan sejarah, komunitas budaya, guru, pelajar, Mahasiswa, hingga masyarakat umum pemerhati budaya Jepara.</p>
<p><strong>“</strong>Melalui kegiatan Semuria dan Gelar Wicara ini, diharapkan tercipta sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah, komunitas, dan akademisi. Hasil diskusi ini nantinya akan didokumentasikan sebagai rekomendasi penyimpanan memori kolektif Jepara, sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam memajukan kebudayaan daerah.” Pungkas Burhan dalam diskusi.</p>
<p>Septiana Wibowo</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/17/merajut-ingatan-kolektif-forum-tbm-jepara-dan-disparbud-gelar-wicara-literasi-budaya-dalam-rangkaian-semuria-2025">Merajut Ingatan Kolektif: Forum TBM Jepara dan Disparbud Gelar Wicara Literasi Budaya dalam Rangkaian SEMURIA 2025</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warisan Bathik Kartini</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/10/02/warisan-bathik-kartini</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2025 05:06:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jepara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=499287</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dening Sulismanto* Saben ana sing nyebut Ibu Kartini, wong Indonesia umume padha: eling lelabuhan ing babagan emansipasi. Ha piye maneh? Wong pancen perkara kuwi sing mesthi dirembug ing pengetan Hari Kartini, saben tanggal 21 April. Nanging perjuwangan sing isa diwarisi saka Ibu Kartini pirang-pirang. Kalebu apa sing dadi pengetan dina iki: 2 Oktober, yaiku Hari [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/10/02/warisan-bathik-kartini">Warisan Bathik Kartini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dening Sulismanto*</em></p>
<p>Saben ana sing nyebut Ibu Kartini, wong Indonesia umume padha: eling lelabuhan ing babagan emansipasi. Ha piye maneh? Wong pancen perkara kuwi sing mesthi dirembug ing pengetan Hari Kartini, saben tanggal 21 April. Nanging perjuwangan sing isa diwarisi saka Ibu Kartini pirang-pirang. Kalebu apa sing dadi pengetan dina iki: 2 Oktober, yaiku Hari Batik Nasional.</p>
<p>Satemene, kautaman perkara bathik, uga dadi warisan saka Ibu Kartini. Kahanan iki isa disurasa saka layang-layang sing dikirim marang kanca-kancane ing Nederlan (Walanda). Crita perkara seni lan budaya sing jaman semana ngrembaka neng Jawa nanging ora isa dadi dalan pangan, akeh ditulis dening Ibu Kartini ing layang-layang mau. Ibu Kartini prihatin, ingatase bangsa bumiputra isa ngasilake karya seni lan maneka piranti sing apik, lha kok uripe tansah ing keprihatinan. Padha ora “weruh dalan” dol-tinuku kanthi rega sing apik, sing makmuarake.</p>
<p>Ibu Kartini ora mung ngudarasa. Nanging banjur budidaya, piye carané seni, utamané ukiran lan bathik saka Jawa, isa dadi srana kanggo nguwataké perekonomian masarakat. Bocah-bocah wadon digladhi mbathik ndhok pendhapa kadipaten. Asilé dijikuk sing apik, ditulis lan dicritakaké ring kanca-kancane, nganti pejabat ing Walanda. Tulisan sing irah-irahane “<em>Handschrift Japara”</em> kuwi dikirim tekan Nederlan, kanggo ngenalaké bathik Jepara ing mancanegara. Ora mung bathik, nanging uga ukir, lan maneka prodhuk kerajinan masarakat.</p>
<p>Ibu Kartini uga ngimpun bathik, ukiran, lan maneka kerajinan gaweyane bangsa Jawa, banjur dikirim neng “Pameran Karya Wanita: ing Den Haag taun 1898. Bangsa Eropah banjur weruh, jebul batik lan ukir saka Jepara apik-apik. Malah kepara duwe daya seni lan ekonomi sing kuwat. Saka kono, Ibu Kartini kasil bukak dalan “ekspor”. Ana pesenan pirang-pirang saka <em>Oost en West</em>, bebadan perdagangan Eropah. Para perajin ngawiti oleh asil ekonomi, merga dibagehi rega sing layak dening Ibu Kartini. Ibu Kartini mung mundhut bea kanggo ganti bot repote nyukupi pesenan.</p>
<p>Saiki, luwih saka 125 taun sawise Ibu Kartini mbukak dalan ekspor, bathik Jepara sing wis tau kaya ilang-ilanga, ngrembaka maneh. Perajin bathik Jepara, sing umume manunggal ing Paguyuban Batik Biyung Pralada, ngasilake maneka corak bathik saka gagasané Ibu Kartini lan adhi-adhine: Kardinah lan Roekmini. Ana motif parang para, lung-lungan, sida arum, kembang setaman, nganti motif wayangan Lung Bima Kurda, Sekar Jagat Bumi Kartini, gapura Mantingan, lan liya-liyane. Kabeh dadi pralambang pangajabe para perajin bathik, muga-muga bathik Jepara saya kuncara saindenging jagat.</p>
<p>Sedina sadurunge pengetan Hari Batik Nasional taun iki, Pamarentah Kabupaten Jepara nerapake paugeran sragam anyar. Iya, diwiwiti 1 Oktober 2025. Kekancingane aran Surat Edaran Bupati Jepara Nomor 025/2977 Tahun 2025 tentang Pekaian Dinas Pegawai ASN di Lingkungan Kabupaten Jepara.</p>
<p>Sajrone surat edaraniku,  ana aturan ASN nganggo PDH (pakaian dinas harian) bathik Jepara. Cetha, bathik Jepara. Nganti ditegesake, nek bathik sing dienggo kudu mujudake karya UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) Jepara. Corake bebas, digunakake ing dinas Kemis, Jemuwah, Setu, lan nalika pengetan Hari Batik Nasional.</p>
<p>Wis samesthine, bebadan sajrone Pamarintah Kabupaten Jepara, mbuh kuwi sing jenenge Dinas, Badan, Sekretariat, Rumah Sakit, Puskesmas, Sekolah, lan mbuh apa maneh liyane, ngugemi paugeran iki. Nggunakake bathik Jepara. Ora mung nyukupi tembung “batik”, nanging bener-bener bathik Jepara.</p>
<p>Kuwi minangka srana sing dipilih pamarintah dhaerah kanggo jaga lan ngrembakaké warisan bathik Jepara. Nek bebadan pamarintah dhaerah ngugemi tenanan, bebadan swasta lan masarakat isa nulad (nyonto). Semono uga bebadan pamarentah pusat lan provinsi sing ana ing Jepara. Kanthi ngono, UMKM bathik Jepara sansaya ngrembaka, banjut ngasilake apa sing jenenge <em>multiplier effect</em> ekonomi, sing bakal gawe Jepara sansaya reja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>*Penulis adalah ASN Pemkab Jepara di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Jepara. Mantan penyiar radio dengan nama udara Indra Sadewa.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/10/02/warisan-bathik-kartini">Warisan Bathik Kartini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kopi Pait lan Kopi Manis: Pitutur Kanggo Awakku Dhewe</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/06/22/kopi-pait-lan-kopi-manis-pitutur-kanggo-awakku-dhewe</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hadi Priyanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2025 23:14:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Jeporonan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=480376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Nurul Hidayati Sak wetara dina kepungkur, aku ketemu kanca lawas sing wis suwe ora ketemu. Sakwise rembugan soal kabar kulawarga, kerjaan, lan kahanan jaman saiki, obrolan terus nggelinding mlebu bab sing wis akrab karo saben uwong: kopi. Kancaku crita yen saben esuk ora iso miwiti kegiatan nek durung ngombe kopi. Senengé kopi manis, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/22/kopi-pait-lan-kopi-manis-pitutur-kanggo-awakku-dhewe">Kopi Pait lan Kopi Manis: Pitutur Kanggo Awakku Dhewe</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Nurul Hidayati</p>
<p>Sak wetara dina kepungkur, aku ketemu kanca lawas sing wis suwe ora ketemu. Sakwise rembugan soal kabar kulawarga, kerjaan, lan kahanan jaman saiki, obrolan terus nggelinding mlebu bab sing wis akrab karo saben uwong: kopi. Kancaku crita yen saben esuk ora iso miwiti kegiatan nek durung ngombe kopi.</p>
<p>Senengé kopi manis, krimeré ora sethithik, ditambahi gula nganti rong sendhok teh. Rong sendhok teh kuwi ukuran umum sing biasané dienggo wong-wong nek nggawe kopi sak cangkir. Kanggo lidahku sing wis biasa karo rasa kopi pahit, rasa manisé krasa kebacut, nganti nutupi rasa asli kopiné. Nanging saben wong mesthi nduwé selera dhéwé-dhéwé, mung wae nek saben dina ngombe kopi manis kaya ngono, awak iso protes tanpa didelok sekedhik.</p>
<p>Aku mung mesem. Aku dhewe dudu wong sing saben dina ngombe kopi. Nanging nek kadang-kadang ngombe, aku luwih seneng kopi pahit sing polos, tanpa gula, tanpa tambahan pemanis liya. Aku percaya rasa pahit iku malah bisa ngelingke, ora mung nguripke pikiran nanging uga ngajari makna kesederhanaan.</p>
<p>Ora ana niat ngajari utawa sok ngerti, tulisan iki mung kanggo ngendhakake isi pikiranku. Pitutur kanggo awakku dhewe, supaya ora lali karo urip sing kudu dijaga keseimbangane. Kadang ngelmu ora perlu saka sekolah dhuwur, cukup saka pengalaman lan rasa sing wis tau diuripi. Meski aku dudu songko latar belakang kesehatan, nanging pengalaman pribadi sing tak alami ndadekake aku luwih ngati-ati lan rumangsa perlu ngelingke, paling ora kanggo awakku dhewe, lan menawa ana sing krasa manfaaté, ya alhamdulillah.</p>
<p>Wektu semana aku tau ngalami lelara sing ora cetha asalé. Rasane awak abot, pundhak gampang linu, sikil pegel sanajan mung mlaku sithik. Awakku krasa saya abot, saben mlaku rasa kaya nggawa beban. Lemué ora mung katon, nanging uga krasa neng pundhak lan sikil. Turu ora nyenyak. Aku nggoleki sebabé, nganti ngerti nek asupan gula neng awakku wis kebacut akeh. Saben dina mangan panganan manis, ngombe es teh legi, jajan cemilan sing kadar gulane ndhuwur. Mula ora kaget nek awak protes.</p>
<p>Wektu kuwi aku rumangsa pentingé ngendhaleni apa sing mlebu neng awak. Wong kadang mung ngukur rasa saka lambé, nanging ora ndelok jero awak. Aku wiwit ngurangi kabeh sing manis-manis. Sak ngethok jumlah gula, rasane awak saya entheng, turu luwih legan, lan sing paling kerasa, semangat urip bali kaya biyen.</p>
<p>Kopi, miturutku, bisa dadi gambarane urip. Rasa manis lan pahit koyo loro sisi saka siji kahanan. Yen kebacut manis, malah bisa nglarani. Yen kakehan pahit, ya iso ndadekke ati gela. Ning nek diatur, disuguhake kanthi pas, rasa kuwi iso dadi sumber semangat. Mula aku saiki luwih milih kopi pahit. Ora mung amarga rasa, nanging amarga aku ngerti luwih aman kanggo awakku.</p>
<p>Nanging ya ora kabeh masalah mung ana ing rasa. Ngombe kopi ya kudu ati-ati. Seneng karo kopi pahit ora ateges iso ngombe sak karepe. Kafein sing kakehan isa ngrusak irama turu, nambah deg-degan, lan saben ngombe kopi, kudu dibarengi ngombe banyu putih sing akeh, ben ginjal tetep aman. Awak butuh cairan netral kanggo njaga keseimbangan ing njero awak, ora mung rasa-rasa sing nyenengake lambé.</p>
<p>Ana pitutur lawas sing ngendika, &#8220;sedhep kuwi nek pas.&#8221; Kuwi uga berlaku kanggo kopi lan rasa-rasa urip liyane. Ora kudu kebacut, ora kudu nyeret rasa mung kanggo nyenengke sedhela, nanging kudu mikir nganti jero. Awak iki titipan, dudu duwek dewe. Mula kudu dijaga, dirumat, digatekake saben dina. Aja nganti awake dewe ngelakoni sing disenengi, nanging ndilalah malah nglarani.</p>
<p>Sakwise ngobrol karo kancaku wingi, aku dadi luwih eling. Kaya ana swara cilik ing njero ati sing nyeluk supaya luwih ati-ati karo apa sing tak pilih. Urip iki cendhak, nanging yen diuripke kanthi eling lan waspada, iso luwih awet rasa syukuré. Aku ora nuntut awake dadi sempurna, mung pengin luwih waras mikir lan luwih resik ngrasakake.</p>
<p>Aku dhewe saiki luwih resik mikir. Ngombe kopi ora kudu saben dina, nanging nek kadang-kadang ngombe, pilih sing sederhana. Ora perlu tambahan sing aneh-aneh, cukup rasa asli. Minangka ganti manis, cukup aku tulis sebaris doa: muga awak tetep sehat, ati tetep waras, lan urip tetep seimbang.</p>
<p>Urip ki ora mung soal rasa sing enak. Kadang rasa pahit kuwi sing nyadarke. Kaya kopi pahit sing saiki tak senengi, ora mung menehi rasa, nanging uga ngelingke, manawa ora kabeh sing legi kuwi becik. Yen bisa eling lan waspada, urip iso luwih cetha arahe.(*)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/22/kopi-pait-lan-kopi-manis-pitutur-kanggo-awakku-dhewe">Kopi Pait lan Kopi Manis: Pitutur Kanggo Awakku Dhewe</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>