SEMARANG (SUARABARU.ID) – Festival Monumen Ingatan: Risalah Kota resmi dibuka di Kota Semarang. Acara ini berlangsung pada 25–30 Juli 2026 di Edmund Coffee and Meals, Jalan MT Haryono No. 800.
Panitia menghadirkan beragam kegiatan dalam festival ini. Pengunjung dapat menikmati pameran, diseminasi hasil riset, diskusi publik, dan workshop.
Selain itu, ada pula pemutaran film dokumenter hingga bedah kajian sastra. Seluruh acara mengangkat sejarah serta warisan budaya Tionghoa di Semarang.
Program riset Monumen Ingatan menaungi festival ini. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP mendukung penuh kegiatan tersebut. Masyarakat dapat mengikuti seluruh rangkaian acara secara gratis.
Festival Monumen Ingatan Telusuri Sejarah Bongpay
Kurator acara, Philipus Dellian Agus Raharjo, menyebut Semarang sebagai kota multikultural. Kota ini menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis dan budaya sejak lama.
“Salah satu jejak pentingnya adalah keberadaan kawasan pemakaman Tionghoa atau bongpay. Dahulu bongpay tersebar di Cinde, Bergota, Lempongsari, Tandang, Mrican, hingga pinggiran kota,” katanya, Senin (27/7/2026).
Namun, perkembangan kota mengubah fungsi pemakaman tersebut. Sebagian besar kawasan kini menjadi permukiman, area perdagangan, dan fasilitas umum. Alhasil, banyak jejak sejarah perlahan menghilang dari ingatan warga.
Tim peneliti mendokumentasikan kembali keberadaan bongpay tersebut. Mereka menggelar riset sejak akhir 2025 hingga Juni 2026. Riset ini bertujuan menyelamatkan bagian penting dari sejarah Kota Semarang.
Tim menelaah arsip lama, peta Belanda, dan berbagai literatur. Langkah ini membantu mereka melacak lokasi makam yang kini tertutup bangunan perkotaan.
Kurator penyelenggara, Purna Cipta Nugraha, menambahkan bahwa pameran ini membawa perspektif baru.
“Bongpay tidak hanya berfungsi sebagai makam. Keberadaannya menjadi dokumen sejarah yang merekam perjalanan keluarga, budaya, ekonomi, hingga perkembangan Kota Semarang,” tegas Purna.
Rangkaian Festival Monumen Ingatan
Selain pameran “Monumen Ingatan: Risalah Kota”, festival ini menyajikan banyak agenda edukatif.
Panitia membuka festival pada Sabtu (25/7) dengan diseminasi riset Bong Pay Semarang. Sesi ini menghadirkan narasumber seperti Kwa Tong Hay, Philipus Dellian Agus Raharjo, Agni Malagina, dan Transpiosa Riomandha.
Pada Minggu (26/7), acara berlanjut dengan presentasi karya seni “Buah Tangan Tulang Lunak Bandeng Juwana Netherland”.
Selanjutnya, pada Senin (27/7), panitia menggelar sesi Meditasi 4. Diskusi ini mengulas kajian sosiologi sastra bersama pembicara Anita Dewi dan moderator Elfa Fadilah.
Festival juga menyelenggarakan Workshop Menulis Kaligrafi Mandarin pada 27–28 Juli 2026, berlanjut dengan pemutaran film dokumenter Riset Bong Pay Semarang dan diskusi publik pada 29 Juli, serta Workshop Memasak Masakan China yang sekaligus menjadi penutupan festival pada 30 Juli 2026.
Pameran Monumen Ingatan: Risalah Kota sendiri berlangsung selama enam hari, mulai 25 hingga 30 Juli 2026, setiap pukul 11.00–18.00 WIB di lantai 1 dan 2 Edmund Coffee and Meals.
“Penyelenggara berharap festival ini memperluas pemahaman masyarakat tentang sejarah Semarang. Khususnya terkait kontribusi warga Tionghoa dalam membentuk identitas kota dan melestarikan warisan budaya,” tutupnya.













