Enam penyaji terbaik dari event bergengsi wisata budaya tersebut, dibedakan dalam dua kategori. Yakni masing-masing tiga juara terbaik untuk kategori tingkat kecamatan dan tiga juara terbaik untuk kategori pelajar.
Pemenang tingkat Kecamatan diraih oleh Bregodho Turonggo Mudho dari Kecamatan Arjosari, Ronthek Bumbung Kamulyan dari Kecamatan Pringkuku, dan Bregodho Bumi Wates dari Kecamatan Donorojo.
Ogoh-ogoh
Kontingen Kecamatan Donorojo yang tampil terakhir, hadir di gelaran FRP 2026 dengan menyertakan beragam asesories keindahan angkasa. Ada langit dengan awan dan matahari yang jadi maskot utamanya. Peserta lain, ada menyertakan patung monster Buta Kala ukuran raksasa layaknya patung Ogoh-ogoh dalam pestatahunan Hari Raya Galungan di Pulau Dewata.
Tampilnya beragam tari-tarian dengan beragam atribut dan aneka skenario, menambah daya pikat FRP sebagai event wisata budaya yang masuk agenda KEN di Tanah Air. Para peserta juga melengkapi beragam instrumen seperti drum, gamelan, rebana dan bedug serta alat perkusi lainnya, untuk memperkaya irama nada. Utamanya untuk memperkaya bunyi-bunyian disamping dari tetabuhan pada instrumen baku kentongan bambu.
Selain kemegahan seni budaya, penyelenggaraan festival ini turut memberikan dampak positif bagi roda perekonomian. Kehadiran fasilitas seperti gubug bambu dan Pasar Krempyeng dilaporkan berhasil meningkatkan omzet para pelaku UMKM lokal secara signifikan.
Mewakili Bupati Pacitan Indrata Nur Bayu Aji, Wakil Bupati Gagarin Sumrambah, menyampaikan apresiasi sajian seni budaya dari FRP. Disebutkan, telah terjadi perkembangan yang signifikan pada tampilan FRP. Bukan sekadar irama dari kentongan bambu yang sederhana untuk kegiatan ronda, tapi telah berkembang menjadi pertunjukan seni yang spesifik dan sekaligus menjadi identitas kebanggaan daerah.(Bambang Pur)













