Oleh : Dyna Mulia Safitri, Nimasayu Gyzka Satyaningtyas, Theresia Kania Anindita, dan Grace Octavia Kurniawan
AH, “cuma satu”. Kalimat itu mungkin tak pernah benar-benar terucap. Namun, hampir setiap hari kita memikirkannya.
Satu puntung rokok dijentikkan ke pinggir jalan. Satu struk belanja terlepas dari genggaman. Satu sobekan plastik permen terbawa angin. Tak ada yang berhenti. Tak ada yang merasa bersalah. Karena ukurannya terlalu kecil untuk dianggap penting.
Pagi berlalu seperti biasa. Orang-orang berangkat bekerja, anak-anak berjalan menuju sekolah, dan petugas kebersihan sibuk mengangkut tumpukan sampah yang terlihat. Sementara itu, benda-benda kecil di sudut trotoar tetap tertinggal nyaris tak terlihat, namun selalu ada. Lalu hujan turun.
Air membawa puntung rokok, sobekan plastik, dan struk belanja menuju saluran drainase. Sedikit demi sedikit, benda-benda kecil itu saling menumpuk, menghambat aliran air hingga akhirnya jalanan berubah menjadi genangan.
Sering kali kita menyalahkan hujan. Padahal hujan hanya membawa sesuatu yang sejak awal kita biarkan. Perhatian kita sering tertuju pada gunungan sampah yang mudah terlihat.
Padahal, ancaman terbesar justru kerap datang dari benda-benda kecil yang dianggap sepele. Puntung rokok, sedotan plastik, bungkus permen, atau tutup botol mungkin tampak ringan. Namun ketika ribuan orang melakukan hal yang sama setiap hari, dampaknya tidak lagi kecil.
Bayangkan sebuah tabung kaca transparan berdiri di tengah kota. Di dalamnya bukan kasur bekas atau tumpukan botol plastik, melainkan ribuan puntung rokok, sobekan plastik, sedotan, dan struk belanja yang dipungut hanya dari satu ruas jalan dalam waktu dua jam.
Di bawahnya hanya tertulis satu kalimat sederhana:
“Semua ini berasal dari benda yang dianggap tidak berarti.”
Tak ada ajakan. Tak ada ceramah. Hanya kenyataan yang berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Mungkin memang perubahan tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Kadang, ia lahir dari keputusan sederhana, tidak menjentikkan puntung rokok ke jalan, menyimpan struk hingga menemukan tempat sampah, atau memungut satu bungkus permen yang tertinggal di trotoar.
Karena pada akhirnya, kota tidak berubah akibat satu sampah yang dibuang sembarangan. Kota berubah ketika ribuan orang terus berkata, “Ah, cuma satu.”
#YangKecilDampaknyaBesar.
Semua memang berawal dari “cuma satu”. Satu puntung rokok, satu sobekan plastik, atau satu struk belanja yang dianggap tak berarti.
Pertanyaannya, apakah “cuma satu” itu akan berhenti di tangan kita, atau justru tumbuh menjadi beban bagi semua? Karena setiap kota yang bersih tidak lahir dari tindakan yang luar biasa, melainkan dari keputusan-keputusan kecil untuk peduli.**













