SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu siang (11/7/26), menggelar ritual wilujengan Suran Tahun Be1960 (2026 M), di objek wisata religi Kahyangan, di kawasan hutan Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Ini menjadi ritual Hajad Dalem Wilujengan dari Raja PB XIV Purbaya.
Ritual adat ini, mengambil di Tanggal 25 Sura Tahun Be 1960 Kurup Asopon, digelar di Sela Payung objek wisata spiritual Kahyangan yang berlokasi di hutan wilayah Dusun Bangunsari RT 01/RW 09, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, terletak sekitar 43 Kilometer arah tenggara Ibukota Kabupaten Wonogiri. Acara ini diikuti sekitar 100 orang dari keluarga keraton, yakni para gusti dan sentana dalem, para abdi dalem serta tokoh adat. Juga melibatkan Abdi Dalem Kanca Kaji dan Abdi Dalem Pamethakan yang biasa bertugas sebagai juru doa dan mengamini setiap upacara adat atau keagamaan Keraton Kasunan Surakarta.
Hadir dalam kegiatan tersebut, GKR Prameswari PB XIII, GKR Alit Rumbai Rahmania, KGPH Adipati Drs Dipokusumo MSi bersama para gusti dan para sentana dan abdi dalem. Ritual wilujengan Suran Keraton Surakarta ini, dipandu langsung oleh Juru Kunci (Kuncen) Objek Wisata Spiritual Kahyangan, Mas Ngabehi (MNg) Warto Hargo Surakso. Kuncen objek wisata religi Kahyangan, mendapatkan kekancingan pengangkatan sebagai abdi dalem dari Kasultanan Yogyakarta.
Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo melalui Kasi Humas Pores AKP Anom Prabowo, menyatakan, untuk pengamanan jalannya ritual wilujengan di Kahyangan, telah diturunkan personel Polsek Tirtomoyo bersama Koramil 07 Tirtomoyo. Pengamanan dipimpin oleh Kapolsek Tirtomoyo Iptu Yuni Tri Suwarno Putra. Ini merupakan bentuk pelayanan Polri, agar kegiatan adat dan budaya dapat berlangsung dengan aman, tertib dan khidmat.
Acara ritual wilujengan Suran di petilasan pertapaan Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati) ini, diawali dengan prosesi kedatangan rombongan keraton sejak dari area parkir kendaraan berjalan kaki menuju ke Sela Payung, dengan melewati Sela Bethek dan Sela Tangkep. Di Sela Payung, diadakan ritual wilujengan menurut tata adat keraton.
Selesai wilujengan di Sela Payung, para abdi dalem melanjutkan jalan kaki naik ke bagian atas, untuk mengadakan ritual larung sesaji di Kedhung Pasiraman. Yakni lubuk Kali (sungai) Kahyangan yang dulu digunakan bertapa Panembahan Senapati.
Rendezvous
Pasiraman Kahyangan dikenal sakral, karena menjadi tempat perjumpaan (rendezvous) Panembahan Senapati dengan Ratu Kidul. Diwarnai dengan kesanggupan Ratu Kidul membantu Panembahan Senapati menjadi raja di Tanah Jawa.
Untuk diketahui, sebagai objek wisata religi, Kahyangan Dlepih berada di kawasan hutan yang di tengahnya mengalir Kali Kahyangan yang merupakan hulu dari Kali Wiroko (salah satu anak Sungai Bengawan Solo). Sepanjang tahun, airnya mengalir tanpa kering.
Tempat yang jauh dari pemukiman warga tersebut, diyakini dulu pernah dipakai sebagai tempat bertapa Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati). Itu dilakukan, sebagai upaya untuk mendapatkan anugerah wahyu raja. Yang itu terkabul, karena di kemudian hari Panembahan Senapati menjadi tokoh pendiri Dinasti Mataram Islam Tanah Jawa.
Sebagai petilasan pertapaan Panembahan Senapati yang menjadi cikal bakal Raja Mataram Islam di Tanah Jawa, setiap sewindu (8 tahun) sekali, yakni bertepatan dengan datangnya Tahun Dal, Ngarso Dalem Raja Kasultanan Yogyakarta, rutin mengadakan ritual labuhan ke Kahyangan.
Mengapa Keraton Kasunan Yogyakarta juga mengadakan ritual labuhan ke Kahyangan ? Ini erat kaitannya dengan kesepakatan bersejarah Perjanjian Giyanti Tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut, membagi Kerajaan Mataram Islam Tanah Jawa menjadi dua kekuasaan. Yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Ini dilakukan, demi mengakhiri perang suksesi Tanah Jawa dan menandai pecahnya kerajaan Mataram Islam menjadi dua.(Bambang Pur)













