JEPARA (SUARABARU.ID) – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Fokus Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara menggelar diskusi bertajuk “Mozaik: Potongan Cerita dalam Satu Makna” di Lapangan Depan Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) Unisnu Jepara, Sabtu (11/7/2026) sore.
Talk show yang dimoderatori oleh Salman Al-Faritsi dimulai pukul 15.30 WIB, menghadirkan budayawan Hadi Priyanto sebagai narasumber utama dengan tema pelestarian budaya ukir Jepara.
Acara dibuka oleh Pembina LPM Fokus, Khoirul Muslimin, S.Sos.I., M.I.Kom yang dalam sambutannya, ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penikmat informasi, tetapi juga aktif mendokumentasikan berbagai gagasan dan peristiwa melalui tulisan.

“Menulislah, jangan hanya disimpan agar karya kalian tidak sia-sia. LPM Fokus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menulis, menyampaikan gagasan, serta mengabadikan berbagai cerita yang layak diketahui publik,” pesannya.
Hadi Priyanto dalam paparannya menyoroti tantangan besar yang dihadapi seni ukir Jepara, terutama berkaitan upah pengukir yang relatif rendah jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang lain hingga minimnya regenerasi pengukir di Jepara. ”Sekolah harus mampu menanamkan benih minat, perhatian dan cinta ukir,” ujarnya

Menurutnya, ukiran bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan identitas budaya yang telah mengangkat nama Jepara hingga mancanegara dan bahkan telah mensejahterakan masyarakat hingga sampai pada kondisi sekarang.
Namun ia mengingatkan, keberlangsungan seni ukir sangat bergantung pada hadirnya generasi penerus yang memiliki kemauan untuk belajar dan mencintai warisan leluhurnya. “Tanpa regenerasi yang kuat, budaya ukir dikhawatirkan akan kehilangan ruh dan perlahan ditinggalkan,” ujarnya
“Kebudayaan ukir harus memiliki penerus. Warisan ini tidak boleh berhenti pada generasi sekarang, tetapi harus terus hidup melalui anak-anak muda yang mau belajar, berkarya, dan menjaga identitas Jepara,” ujar Hadi di hadapan peserta diskusi.
Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap Lembaga Pers Mahasiswa Fokus yang telah memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian seni ukir baik melalui film dokumenter maupun majalah. “Ini merupakan bagian penting dari proses intelektual mahasiswa. Melalui tulisan dan film, gagasan dapat terus hidup, menjadi dokumentasi sejarah, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Diskusi berlangsung interaktif dengan mendatangkan undangan dari Paguyuban Pengukur Perempuan R.A. Kartini dan Sungging Prabangkara yang juga turut mengisi stand pameran ukir pada pameran.
Acara ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan secara simbolis oleh Muhammad Zidan Zakiyul Wildan perwakilan dari LPM Fokus kepada Hadi Priyanto.
Melalui kegiatan Mozaik, LPM Fokus berharap mahasiswa semakin terdorong untuk menulis, mengkritisi persoalan sosial dan budaya, serta ikut berkontribusi dalam menjaga identitas Jepara melalui karya-karya jurnalistik yang berkualitas.
Septiana W.













