blank
Pada Tanggal 8 Sura Tahun Be 1960 lalu, digelar acara Suran prosesi kirab dan ritual pulung langse di petilasan pertapaan Sendang Siwani.(Dok.Ist)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Komunitas spiritual Sendang Siwani, Sabtu (11/7/26), akan menggelar acara Gerget Sura atau Suran Tahun Be 1960 (1448 H/2026 M). Event wisata budaya ini, dimeriahkan pagelaran wayang kulit 11 dalang dan ritual ruwatan massal. Lokasinya di Sendang Siwani, Dusun Matah, Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Acara Suran ini, bertepatan dengan Hari Tumpak Cemengan (Sabtu Wage) Tanggal 25 Sura Tahun Be 1960 Windu Sancaya. Rangkaian acara Greget Sura Sendang Siwani, dimulai Pukul 09.00 sampai Pukul 15.00, menampilkan prosesi kirab budaya kirab pusaka. Kemudian dirangkai dengan pentas seni menyajikan tari kreasi, dilanjutkan dengan pentas 8 dalang cilik dari Sanggar Pamor Pimpinan Seniman Ki Tulus Raharjo SSn.

Delapan dalang cilik, terdiri atas Radheya Sri Rahardjo, Sanggita Nyata Raharja, Archad Al Vino Muhammad Danendra, Fathur Narendra Widhitama, Fawaz Suyarif Ibrahim, Aditya Gandhi Wijaya Kusuma, Arka Agam Adhystha dan Haryo Wisanggeni Hapsoro.

Mulai Pukul 15.00 sampai Pukul 18.00, disajikan wayang ruwatan massal mengambil Lakon Murwakala, oleh Dalang Ki Supomo Degleng dari Wanglu, Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ruwatan massal ini, terbuka untuk umum, yang berminat dapat mendaftarkan ke Juru Kunci Sendang Siwani, Slamet Riyadi, dengan nomor kontak 085 226 362 921,

Berikut mulai Pukul 20.00 sampai dini hari, dipentaskan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ipda Brimob Ki Sri Kuncoro, menyajikan lakon Wisanggeni Gugat. Pentas wayang kulit semalam suntuk ini, akan diawali dengan pegaleran pambuka oleh dalang cilik Fathan Assegaf Putra dari Katasura, Sukoharjo, menampilkan Lakon Brajadenta Mbalela.

Sebelumnya, pada Hari Rabu Pahing (Budha Jenar) Tanggal 8 Sura Tahun Be (24/6/26) yang lalu, di Sendang Siwani digelar ritual Pulung Langse. Yakni penggantian kain mori putih pembungkus batu petilasan pertapaan Pangeran Sambernyawa di Pundhen Sendang Siwani. Acara ini, diawali dengan prosesi kirab, disertai kenduri selamatan dan lantunan Tembang Jawa Kidung Singgah-singgah Kala Singgah, yang dimaknai sebagai sarana tolak balak demi memohon keselamatan. Ini diiringi dengan klenengan seni karawitan yang menyajikan beragam gending Jawa.

Sendang Siwani adalah belik (sumber mata air) yang diyakini sebagai tempat petilasan pertapaan Raden Mas (RM) Said atau Pangeran Sambernyawa, ketika memimpin Perang Sambernyawan.

Tiji Tibeh

Perang Sambernyawan berlangsung selama 16 tahun, tepatnya dimulai dari Tanggal 11 Desember 1749 sampai dengan Bulan Februari 1757. Selama kurun waktu tersebut, RM Said, memimpin perang untuk melawan ketidakadilan keraton dan penjajah Belanda. Perang Sambernyawan dikobarkan dengan semangat jejemblungan (gila-gilaan) pantang menyerah dengan semboyan Tiji Tibeh. Artinya, mati siji mati kabeh mukti sisi mukti kabeh, yakni meninggal satu meninggal semua atau mukti (bahagia) satu bahagia semua.

Perang Sambernyawan dikobarkan dari Ngalroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Memilih Wonogiri, sebagai basis awal dimulainya perang panjang yang tidak terkalahkan. Perang Sambernyawan terkenal sangat sengit, karena harus menghadapi tiga kekuatan sekaligus, yakni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda, Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Kesultanan Yogyakarta.

Julukan atau gelar Sambernyawa diberikan kepada RM Said, oleh Gubernur VOC untuk wilayah Jawa Utara (Pantai Timur Jawa) Nicolas Hartingh. Gelar ini diberikan, karena strategi perangnya dinilai tangguh, yang setiap pertempuran selalu membawa banyak korban kematian bagi musuh-musuhnya.

Semangat perang tanpa kenal menyerah tersebut, berlangsung setelah prajurit RM Said pada mandi air Sendang Siwani. Ritual mandi di Sendang Siwani ini, dilakukan setelah Pangeran Sambernyawa mendapatkan wangsit (ilham) saat bertapa di Sendang Siwani.

Saat bertapa, Pangeran Sambernyawa laksana menyaksikan perkelahian Kerbau Bule (albino) dengan Kerbau Wulung (hitam). Setiap Kerbau Wulung kalah, berusaha gupak (mandi air lumpur) di Sendang Siwani, dan dapat bangkit kekuatannya untuk melanjutkan perkelahian. Berkat air lumpur Sendang Siwani, akhirnya Kerbau Wulung dapat mengalahkan Kerbau Bule. Kata Siwani, berasal dari bahasa Jawa Kuno/Sansekerta, yang memiliki arti pembangkit keberanian.

Perang Sambernyawan baru berakhir setelah ada Perjanjian Salatiga yang dilaksanakan pada Tanggal 17 Maret 1757 di Gedung Pakuwon, Salatiga. Perjanjian itu berisi tentang kesepakatan mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 16 tahun. Kepada Pangeran Sambernyawa, diberikan kekuasaan mendirikan Praja Mangkunegaran. Tokoh pendiri dinasti Mangkungeran Surakarta ini, kemudian bergelar sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Araya (KGPAA) Mangkunegara I.

Sejak itu, Sendang Siwani dipercayai sebagai tempat sakral. Oleh komunitas masyarakat sipiritual, Sendang Siwani sebagai petilasan pertapaan Sambernyawa, dijadikan tempat untuk menjalani laku tirakat. Yakni untuk memohon anugerah kehidupan yang sukses kepada Tuhan Yang Maha Esa.(Bambang Pur)