blank
Kepala DLH Kab. Jepara Rini Patmini dan staf bersama delegasi Aisyiah Jepara. Foto: Kusnitah

JEPARA (SUARABARUID)  – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara menerima audiensi strategis dari Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Jepara pada Selasa (7/7/2026) siang. Pertemuan yang berlangsung hangat di Aula Informasi dan Ruang Rapat DLH Jepara ini menjadi momentum penting dalam membangun kolaborasi multi-pihak  guna mengatasi darurat sampah di Bumi Kartini.

Kehadiran rombongan PDA Jepara disambut langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup   Jepara,  Rini Patmini. Dalam pertemuan tersebut,  Kadis didampingi oleh jajaran strategisnya  termasuk  Ninik  Kustini staf  bidang Pengelolaan Sampah juga Staf bidang pengendalian pencemaran dan pemeliharaan lingkungan hidup Nur  Muanjari serta memperkenalkan  pengelola kompos  Catur dan  Nasirin.

Dalam sesi perkenalan yang dipimpin oleh  Khumaidah wakil kepala bagian koordinator Majelis , jajaran tokoh perempuan Aisyiyah Jepara yang turut hadir antara lain  Bendara Aisyiyah  Daerah Sugiarti, Majelis Kesejahteraan Sosial  Erna,  Diana dari Majelis Ekonomi , dan Ketua LLHPB PDA Jepara Kusnitah.

Kontribusi Nyata Aisyiyah dalam Pembangunan Jepara

Sebagai salah satu organisasi perempuan terbesar, PDA Jepara memaparkan besarnya potensi dan bakti nyata yang telah mereka lakukan dalam mendukung program pemerintah. Saat ini, Aisyiyah dan Muhammadiyah di Jepara bergerak  melalui 7 majelis dan 3 lembaga. Kontribusi riil tersebut mencakup pengelolaan 3 Panti Asuhan, 52 TK dan PAUD, 20 Tempat Penitipan Anak (TPA) jenjang pendidikan pendidikan, serta 3 rumah sakit di sektor kesehatan.

Potensi jaringan yang luas ini diharapkan dapat bersinergi erat dengan DLH Jepara, terutama dalam menyukseskan peringatan hari-hari besar lingkungan hidup serta gerakan sosial kemasyarakatan lainnya.

blank
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara Rini Patmini saat menerima audiensi strategis dari Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Jepara pada Selasa (7/7/2026) siang.

Apresiasi DLH: “Acara Muhammadiyah-Aisyiyah Selesai, Sampah Langsung Bersih

Kepala DLH Jepara,  Kadis Rini, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada kultur kepedulian lingkungan yang tertanam kuat di warga Muhammadiyah dan Aisyiyah.

“Kami sangat mengapresiasi. Sudah terbukti di setiap acara besar Muhammadiyah dan Aisyiyah, begitu acara selesai, lokasi langsung bersih dari sampah. Ini adalah bukti nyata kesadaran lingkungan yang luar biasa,” ujar  Rini.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas penyesuaian waktu rapat karena adanya agenda mendadak bersama Inspektorat di ruang pusat. Bagi DLH, silaturahmi ini merupakan kebanggaan besar di tengah upaya dinas melakukan safari stakeholder ke berbagai organisasi kemasyarakatan.

 

Tantangan Nyata: 450 Ton Sampah Per Hari dan Program Prabowo

Selanjutnya Rini Patmini  mengungkapkan bahwa tantangan pengelolaan sampah di Jepara saat ini sangat berat. Secara statistik, setiap individu di Jepara menghasilkan rata-rata 0,57 kg sampah per hari, yang jika diakumulasikan mencapai total 450 ton sampah per hari. Kondisi ini diperparah oleh pola hidup masyarakat yang masih memproduksi sampah tanpa pemilahan yang matang.

Menghadapi tantangan ini, DLH Jepara tengah bersiap menyelaraskan langkah dengan Program Presiden Prabowo terkait pengolahan sampah. Rini menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Perlu keterlibatan multi-pihak (pentahelix) yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, media, hingga organisasi seperti Aisyiyah agar urusan yang berat ini menjadi mudah.

“Kami berharap kehadiran dan peran serta Aisyiyah bisa dikolaborasikan. Kita ingin Perjanjian Kerja Sama (PKS) ke depan bisa lebih ‘greget’ dan langsung menyentuh akar rumput,” tambahnya.

Dari Edukasi hingga Praktik Pilah Sampah di Sekolah dan Panti

Sebagai langkah konkret jangka pendek, DLH Jepara meminta PDA Aisyiyah untuk segera menyusun draf program kolaborasi. DLH juga mendorong agar setiap pertemuan atau kajian Aisyiyah ke depan bisa langsung diselingi dengan praktik pilah sampah, sehingga tidak berhenti di tataran teori atau sosialisasi saja.

Gerakan ini diharapkan dapat disuntikkan ke seluruh lembaga pendidikan di bawah payung Aisyiyah-Muhammadiyah, serta lembaga sosial seperti Panti Asuhan Waluyo Utomo

Hadepe – Kusnitah