Oleh: Syafri Samsudin
JEPARA (SUARABARU.ID)- Di bawah rindangnya pepohonan yang tumbuh di perbukitan Danareja, atau yang lebih akrab di telinga warga lokal sebagai Loji Gunung, sisa-sisa tembok Fort Japara XVI berdiri bisu. Kawasan yang kini bersanding dengan Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharma ini menyimpan fragmen sejarah kolonial yang perlahan-lahan runtuh termakan waktu.

Di sudut pemakaman yang kini dikelilingi pemakaman umum, sebuah struktur makam bergaya Eropa kuno tampak mengenaskan. Atap pelindungnya runtuh, pilar-pilarnya sompek, dan tanaman liar merayap bebas menutup permukaan semen yang mengelupas .
Beberapa waktu lalu, komunitas pegiat sejarah sempat mengira kompleks makam berbentuk mausoleum ini adalah peristirahatan terakhir seorang warga keturunan Tionghoa. Spekulasi tersebut bukan tanpa alasan; sebuah batu nisan yang telah rusak di sana hanya menyisakan deretan huruf pudar bertuliskan “Wang Nio”. Namun, sebuah penyelidikan kolaboratif berbasis arsip digital dan pencocokan epigrafi koran kuno berhasil memecahkan teka-teki tersebut.
Sosok di balik nama itu adalah Njo Wang Nio, seorang perempuan Tionghoa yang wafat pada 6 Januari 1930 dalam usia 67 tahun setelah menderita sakit yang cukup lama. Ia bukanlah warga biasa. Njo Wang Nio adalah istri sah dari salah satu pejabat kolonial paling berpengaruh dan paling dihormati di pesisir utara Jawa: Salomon Gerardus (S.G.) Ginsel.
Membongkar Arsip Kematian di Ujung Abad Kolonial
Penemuan jati diri Njo Wang Nio bermula dari penelusuran koran legendaris berbahasa Belanda, De Locomotief. Pada edisi 9 Januari 1930, sebuah iklan duka cita yang diterbitkan di Jepara mengonfirmasi kepergian Njo Wang Nio. Iklan tersebut ditandatangani langsung oleh suaminya, S.G. Ginsel, beserta anak-anak mereka, W.F.H. Ginsel dan M.M. Ginsel, serta menantunya, A.N. Chevallier.
Tak lama setelah kehilangan sang istri, tepatnya pada tanggal 23 Maret 1930, S.G. Ginsel menyusul ke alam keabadian dalam usia 73 tahun. Kabar kematian “De oude heer Ginsel” (Tuan Ginsel Tua) seketika menjadi berita utama di surat kabar Hindia Belanda.

Berdasarkan potongan berita duka yang ditemukan, jasad S.G. Ginsel dikebumikan tepat di sebelah makam istrinya di dekat benteng tua Jepara (nabij het oude fort van Japara). Upacara pemakaman mewah tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, dengan pidato penghormatan terakhir yang menyentuh dari Asisten Residen Jepara saat itu, Th. C. Leeuwendal.
Kiprah S.G. Ginsel: Sang “Bapak” bagi Karimunjawa
Siapakah sebenarnya S.G. Ginsel? Lahir di Amboina (Ambon) pada tanggal 23 Juli 1857, Ginsel meniti karirnya dari level bawah dalam birokrasi sipil pemerintah kolonial. Rekam jejaknya di Jepara bermula ketika ia bertugas sebagai panitera (griffier) di Pengadilan Negeri (Landraad) Jepara selama puluhan tahun.
Di sinilah ia mulai membangun reputasi yang sangat baik di mata penduduk lokal maupun komunitas Tionghoa di lereng Gunung Muria karena pembawaannya yang adil dan bijaksana.
Puncak karirnya terjadi ketika ia dipromosikan menjadi pengawas pemerintahan (posthouder) di Kepulauan Karimunjawa sebuah pos administratif yang terisolasi dan rawan di utara Laut Jawa. Selama lebih dari 30 tahun kepemimpinannya di Karimunjawa, Ginsel berhasil menorehkan prestasi gemilang.
Ia dikenal berhasil mendirikan sistem pemungutan pajak yang teratur (belasting-inning) dan memprakarsai berdirinya bank-bank desa (desa-banken) untuk menyelamatkan ekonomi para nelayan lokal dari cengkeraman rentenir.
Pemerintah kolonial begitu mengapresiasi dedikasinya hingga menganugerahinya gelar pribadi sebagai penguasa sipil (civiel gezaghebber) serta penghargaan bintang jasa Ridder in de Orde van Oranje-Nassau (Ksatria Ordo Oranje-Nassau) dari Kerajaan Belanda . Ketika pensiun pada tahun 1925 setelah mengabdi selama setengah abad penuh (1875–1925), ia dianugerahi bonus pensiun (gratificatie) fantastis sebesar 2.500 gulden.
Tragedi Kerkhof yang Tergusur
Temuan mausoleum Ginsel dan Njo Wang Nio membawa kita pada narasi yang lebih kelam: nasib lunta dari kompleks pemakaman Eropa kuno (Kerkhof) di Loji Gunung. Dokumentasi foto udara tahun 1930 memperlihatkan bahwa area di sekitar Benteng Jepara dahulunya merupakan hamparan pemakaman Kristen Eropa yang tertata rapi .
Namun, pasca-kemerdekaan, dinamika tata kota dan kebutuhan alih fungsi lahan mendesak keberadaan makam-makam kolonial ini. Sebagian besar kompleks Kerkhof digusur guna mendirikan Taman Makam Pahlawan Giri Dharma dan perluasan tempat pemakaman umum warga.
Besarnya arus pembongkaran membuat hampir seluruh makam Belanda lenyap tak berbekas, menyisakan hanya dua makam Eropa saja yang masih berdiri tegak di tengah kepungan makam baru Salah satu makam yang tersisa adalah mausoleum S.G. Ginsel dan Njo Wang Nio.
(Penulis adalah Pegiat dan Pemerhati Sejarah dan Kebudayaan Jepara)













