blank
Plt Kepala SDN 2 Mantingan Eli Nuryanti, S.Pd, M.Pd, Ketua Komite Sutarya, Ketua Yayasan Peluk dan para instruktur. Foto: Dok SDN 2 Mantingan

JEPARA (SUARABARU.ID) – Setelah pelestarian alamiah melalui keluarga pengukir mengalami penurunan drastis, kini lembaga pendidikan menjadi ekosistem yang menentukan  dalam nenanamkan minat, perhatian dan rasa cinta anak terhadap seni ukir.  Kendati berat upaya pelestarian ini perlu dilakukan, sebab seni ukir  telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia dan menjadi potensi budaya Jepara .

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto saat menjadi pengisi acara Carving Show di SDN 2 Mantingan Jepara, Minggu 28 Juni 2026. Hadir juga Ketua Komite SDN 2 Mantingan Sutarya dan ketua kegiatan Saefudin. Sementara instruktur ukir dilakukan oleh Arsiti, Ama Rahmawati dan Sutarno.

blank
Ketua Yayasan Peluk Jepara saat menjelaskan tentang budaya dan sejarah seni ukir Jepara. Foto: Dok SDN 2 Mantingan

Kegiatan  ini menurut Plt Kepala SDN 2 Mantingan Eli Nuryanti, S.Pd, M.Pd  adalah bagian dari kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu ( Persami). Kegiatan lainnya antara lain senam, kemah, mencari jejak, pentas seni, jalan sehat serta   Fun Cooking for Kids bekerjasama dengan Omah Bandeng Jepara. “Ini  untuk mengisi waktu agar siswa tetap produktif memanfaatkan waktu di masa liburan,” ujar Eli Nuryanti

blank
Narasumber Fun Cooking for Kids dari Omah Bandeng Jepara.. Foto: Dok

Lebih lanjut Hadi menjelaskan, pelestarian melalui sekolah juga tidak mudah. “Lembaga pendidikan juga menghadapi persoalan pelik mulai waktu dalam kurikulum yang sempit, sarana prasarana hingga keterbatasan guru yang memiliki ketrampilan untuk mengajar seni ukir. Guru yang memiliki ketrampilan mengukir kini dapat dihitung dengan jari,” ujar Hadi Priyanto

blank
Aristi saat memberikan bimbingan kepada peserta. Foto: Dok

Padahal untuk menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap seni ukir harus dilakukan kegiatan secara terus menerus dan terstuktur mulai pengenalan sejarah dan budaya ukir, pembelajaran ketrampilan   dan pengenalan terhadap lingkungan ukir. ”Harapannya melalui kegiatan pembelajaran yang terencana dengan baik mampu  menumbuhkan minat dan rasa cinta  siswa terhadap seni ukir Jepara,” ujar Hadi Priyanto

blank
Ama Rahmawati saat membimbing peserta. Foto: Dok

Hadi Priyanto berharap, di tengah- tengah kendala ini dapat terjalin kerjasama dengan Yayasan Pelestari Ukir Jepara. “ Kami membuka Kelas Pelajar mengukir dan juga membuka kesempatan kepada  sekolah yang ingin membangun kerjasama. Salah satu yaanag telah bekerjasama dengan Yayasan pelestari Ukir Jepara adalah SDN 2 Mantingan, SDN 1 Sukodono dan Unisnu Jepara,” pungkas Hadi Priyanto

Septiana W