blank
Pementasan Teater Meteor saat acara Pelepasan SIswa Kelas IX. Foto: RS.

Oleh: Rahmat Siswoko, S.Pd

Di sebuah ruang kelas yang mulai lengang selepas bel pulang berbunyi, suara tawa dan teriakan justru terdengar semakin ramai. Beberapa siswa berjalan perlahan dengan ekspresi sedih, sementara yang lain berteriak lantang seolah sedang marah.

Di sudut ruangan, seorang pelatih sesekali menghentikan adegan, lalu memberi arahan tentang intonasi, gestur, hingga cara menghidupkan emosi. Begitulah suasana latihan Teater Meteor, kegiatan ekstrakurikuler yang telah menjadi bagian dari denyut kehidupan SMP Negeri 2 Welahan selama seperempat abad.

Bagi sebagian orang, teater mungkin hanya dipandang sebagai hiburan. Namun bagi puluhan siswa di sekolah itu, panggung adalah ruang belajar yang tak mereka temukan di dalam buku pelajaran. Di sanalah mereka belajar berbicara, bekerja sama, mengelola emosi, hingga berani tampil di depan banyak orang.

Tahun 2026 menjadi penanda perjalanan panjang dari Teater Meteor. Kelompok teater yang berdiri pada 16 Juli 2001 itu genap berusia 25 tahun. Yang sejak awal berdiri, kelompok tersebut dibina oleh Rahmat Siswoko, guru yang hingga kini masih setia menjaga api kesenian di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, Teater bukan sekadar bermain peran. Di dalamnya anak-anak belajar menghargai proses, disiplin, kerja sama, dan keberanian menyampaikan gagasan.

Di tengah semakin populernya media sosial dan hiburan digital, mempertahankan eksistensi teater di lingkungan sekolah bukan perkara mudah. Dibandingkan seni musik atau tari, teater memang tidak selalu menjadi pilihan utama siswa. Namun Teater Meteor membuktikan bahwa seni peran masih memiliki tempat di hati generasi muda.

“Saat ini sekitar 30 siswa aktif menjadi anggota. Setiap Selasa siang, setelah kegiatan belajar selesai, mereka berkumpul untuk berlatih. Tidak ada jalan pintas menuju sebuah pementasan. Semua dimulai dari latihan vokal, olah tubuh, penghayatan karakter, improvisasi, hingga membangun chemistry antarpemain.” Ujar Guru Pembina Teater tersebut.

Setiap tahun, Teater Meteor setidaknya dua kali naik panggung. Penampilan mereka menjadi bagian dari acara pelepasan siswa kelas IX dan Masa Orientasi Sekolah (MOS). Di hadapan ratusan penonton, para siswa menyampaikan cerita yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral.

“Latihan-latihan dan pementasa yang terkadang melelahkan. Namun justru dari proses itulah karakter mereka terbentuk.” Terang Rahmad Siswoko.

Selama 25 tahun, berbagai lakon telah dipentaskan. Mulai dari kisah klasik Romeo dan Juliet, Saijah dan Adinda, Sampek Ing Tay, hingga cerita rakyat seperti Timun Mas dan Bawang Merah Bawang Putih. Mereka juga membawakan naskah-naskah modern seperti Kuldesak dan Kisah Mama Matre.

Panggung mereka pun tak hanya berada di lingkungan sekolah. Teater Meteor pernah tampil di Lapangan Bogoran Welahan hingga GOR Takraw Welahan, membawa karya anak-anak SMP kepada masyarakat yang lebih luas.

Namun, warisan terbesar Teater Meteor bukanlah jumlah pementasan yang telah digelar. Warisan itu hidup dalam diri para alumninya.

Salah satunya adalah EN Arief Aulia, yang kini menjadi pelatih teater di SMA Negeri Pecangaan. Namanya juga dikenal sebagai kreator wayang rotan yang pernah mendapat perhatian hingga diundang oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Ganjar Pranowo.

Alumni lainnya, Novianto Nugroho, kini menjadi pelatih teater di SMA Negeri Welahan. Banyak lulusan Teater Meteor yang kemudian melanjutkan kecintaannya terhadap seni peran ketika memasuki jenjang SMA maupun SMK.

Hal itu menjadi bukti bahwa ekstrakurikuler ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan ruang kaderisasi seniman muda.

Meski demikian, perjalanan Teater Meteor belum sepenuhnya mulus. Hingga kini, belum tersedia kompetisi atau festival teater tingkat SMP di Kabupaten Jepara. Ajang yang ada baru diperuntukkan bagi siswa SMA. Kondisi tersebut membuat ruang apresiasi bagi kelompok teater tingkat SMP masih sangat terbatas.

Meski tanpa kompetisi, semangat mereka tak pernah surut. Sebab bagi Rahmat Siswoko, tujuan utama teater bukanlah mengejar piala.

“Yang lebih penting adalah proses membentuk pribadi yang percaya diri, kreatif, dan mampu bekerja sama.”

Di atas panggung, seorang siswa mungkin hanya memerankan seorang raja, petani, atau tokoh dalam dongeng selama beberapa menit. Namun setelah tirai ditutup, mereka turun dari panggung membawa bekal yang jauh lebih berharga: keberanian berbicara, kemampuan memahami orang lain, dan keyakinan terhadap dirinya sendiri.

Selama 25 tahun terakhir, Teater Meteor telah membuktikan bahwa sebuah panggung sederhana di sudut sekolah mampu melahirkan cerita-cerita besar. Bukan hanya cerita yang dimainkan dalam sebuah lakon, tetapi juga cerita tentang anak-anak yang menemukan jati dirinya melalui seni.

Dan selama lampu panggung itu masih dinyalakan setiap Selasa siang di SMP Negeri 2 Welahan, Teater Meteor akan terus menjadi rumah bagi mimpi-mimpi kecil yang suatu hari nanti tumbuh menjadi karya besar.

Penulis adalah Guru SMPN 2 Welahan Jepara dan Guru Pembina Teater Meteor.