blank
Narasumber dan peserta Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) bagi para petinggi desa se-Kecamatan Pakisaji. Foto: Panitia

JEPARA (SUARABARU.ID)-Orientasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) bagi para petinggi desa se-Kecamatan Pakisaji menjadi momentum untuk mempercepat perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat masyarakat. Kegiatan yang digelar di Pendopo Kecamatan Pakisaji, Senin (23/6/2026), itu diikuti para petinggi desa, bidan desa, kader kesehatan, serta pemangku kepentingan lainnya sebagai bagian dari percepatan pencapaian indikator Kabupaten STBM.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Pakisaji Muhammad Shodiq, SE., MM., Ketua Tim Kerja Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Retno Kusbandiyah, SKM., dan Kepala Puskesmas Pakisaji dr. Megarini Hesti Aries.

blank
Camat Pakisaji Muhammad Shodiq, SE., MM. saat memberi sambutan. Foto: Panitia

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Hadi Sarwoko, SKM., S.Kep., MMKes., MM., melalui pesan WhatsApp kepada awak media, kegiatan orientasi STBM merupakan tindak lanjut Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor KL.01.04/C.VI/1516/2026 tentang percepatan pelaksanaan dan pencapaian indikator Kabupaten/Kota Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Tahun 2026.

Menurut Hadi, pemerintah daerah menargetkan seluruh kecamatan di Jepara bergerak bersama mempercepat verifikasi STBM sehingga target nasional dapat tercapai. “STBM bukan sekadar pembangunan sarana sanitasi, tetapi merupakan gerakan perubahan perilaku masyarakat secara menyeluruh. Seluruh pemerintah desa diharapkan menjadi motor penggerak agar masyarakat mampu menerapkan lima pilar STBM secara berkelanjutan,” ujarnya.

blank
Narasumber lain dari Dinas Kesehatan Asrori

Ia menjelaskan, hingga pertengahan tahun 2026 baru dua kecamatan di Kabupaten Jepara yang telah berhasil menjalani verifikasi STBM, yakni Kecamatan Keling dan Donorojo. Sementara itu, masih terdapat 14 kecamatan yang harus bekerja keras mengejar target.

Di Kecamatan Pakisaji sendiri, dari delapan desa yang ada, baru Desa Mambak yang telah berhasil diverifikasi sebagai Desa STBM. Secara keseluruhan, dari 195 desa dan kelurahan di Kabupaten Jepara, sebanyak 79 desa telah mengikuti proses verifikasi, dengan 72 desa dinyatakan lolos memenuhi indikator STBM.

blank

Ketua Tim Kerja Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Retno Kusbandiyah, SKM.,

Camat Pakisaji Muhammad Shodiq mengatakan keberhasilan STBM tidak ditentukan oleh banyaknya pembangunan fisik, melainkan keberhasilan mengubah perilaku masyarakat.
“Perubahan perilaku tidak bisa dilakukan secara instan. Kita harus sabar, telaten, terus mendampingi masyarakat. Mengubah kebiasaan hidup seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu pemerintah desa memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa STBM dibangun melalui lima pilar utama, yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PSRT), serta Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga (PLCRT). Kelima pilar tersebut menjadi satu kesatuan dalam membangun masyarakat yang sehat sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

Ketua Tim Kerja Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Retno Kusbandiyah, SKM., menjelaskan bahwa orientasi ini bertujuan menyamakan persepsi seluruh pemangku kepentingan mengenai arah baru penyelenggaraan STBM sesuai pedoman terbaru Kementerian Kesehatan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan STBM hanya dapat dicapai apabila tiga strategi utama dijalankan secara bersamaan, yakni menciptakan lingkungan yang kondusif melalui dukungan kebijakan dan komitmen pemerintah, meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap sanitasi melalui edukasi dan pemicuan, serta memastikan tersedianya akses layanan sanitasi yang mudah dijangkau masyarakat. Ketiga strategi tersebut merupakan satu kesatuan yang saling menopang sehingga perubahan perilaku dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Pakisaji dr. Megarini Hesti Aries menegaskan bahwa keberhasilan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya jumlah penduduk dan timbulan sampah di Kabupaten Jepara dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, jumlah penduduk Jepara pada tahun 2025 mencapai 1.283.687 jiwa dengan estimasi timbulan sampah sebesar 460,51 ton per hari atau sekitar 168.085,30 ton per tahun. Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun 2021 yang tercatat sebanyak 400,08 ton sampah per hari atau 146.028,40 ton per tahun.

“Kenaikan jumlah penduduk berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah dan limbah rumah tangga. Jika tidak diimbangi dengan perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sanitasi, sampah, dan limbah cair rumah tangga, maka risiko gangguan kesehatan dan pencemaran lingkungan akan semakin besar,” ujarnya.

Menurut Megarini, STBM menjadi instrumen penting untuk membangun budaya hidup bersih dan sehat melalui penerapan lima pilar secara konsisten di tingkat keluarga dan masyarakat. Karena itu, Puskesmas Pakisaji berkomitmen melakukan pendampingan secara berkelanjutan kepada pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta warga agar perubahan perilaku dapat terwujud secara nyata.

“Kami siap mendampingi desa-desa di Kecamatan Pakisaji mulai dari proses pemicuan, edukasi, monitoring hingga verifikasi STBM. Harapannya seluruh desa mampu memenuhi indikator STBM sehingga masyarakat hidup lebih sehat, lingkungan lebih bersih, dan kualitas hidup meningkat,” tambahnya.

Narasumber lain dari Dinas Kesehatan Asrori, menjelaskan terdapat tiga strategi utama penyelenggaraan STBM yang harus berjalan secara simultan. Pertama, penciptaan lingkungan yang kondusif, melalui komitmen pemerintah, dukungan kebijakan, pendanaan, peningkatan kapasitas SDM, serta kolaborasi lintas sektor. Kedua, peningkatan kebutuhan sanitasi, yaitu membangun kesadaran masyarakat melalui pemicuan, edukasi kesehatan, promosi higiene, dan pendampingan sehingga masyarakat terdorong membangun sanitasi secara mandiri. Ketiga, peningkatan penyediaan akses sanitasi, yakni memastikan masyarakat mudah memperoleh layanan, teknologi, material, tenaga terampil, hingga pembiayaan sanitasi. Ketiga strategi tersebut digambarkan dalam bentuk segitiga karena tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

“Aspek terpenting dalam STBM bukan membangun jambannya terlebih dahulu, tetapi membangun kesadaran masyarakat. Ketika masyarakat sudah sadar, mereka akan berinisiatif menyediakan sanitasi yang layak secara mandiri. Di sinilah dukungan pemerintah desa, tokoh masyarakat, kader kesehatan, hingga dunia usaha menjadi sangat penting,” jelas Asrori.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti materi dan aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan penerapan STBM di desa masing-masing. Berbagai pengalaman lapangan, mulai dari upaya menghentikan praktik buang air besar sembarangan hingga pengelolaan sampah rumah tangga, menjadi bahan diskusi yang memperkaya pemahaman peserta.

Hadepe = Asrori