blank
Caption Foto: Pementasan Teater Lentera dengan lakon Jarbuarong di Stadium Budaya Tirtonadi Kabupaten Blora.Foto: Dok. Lentera.

BLORA (SUARABARU.ID) – Lampu panggung meredup. Suara gemuruh ombak bercampur denting musik pelan dibawakan oleh Teater Lentera Jepara, memenuhi sudut Stadium Tirtonadi, Blora, Sabtu malam, (20/06/2026).

Dari balik kabut tipis, sosok-sosok penghuni bawah laut bermunculan. Tubuh mereka bergerak lincah, penuh warna, namun menyimpan kegelisahan. Malam itu, Teater Lentera Jepara tidak sekadar menghadirkan pertunjukan. Mereka menghidupkan dunia bawah laut yang sedang terluka.

Di tengah panggung, nama itu berkali-kali disebut, “Jager Tong”. Mesin penghisap pasir yang dalam lakon digambarkan begitu rakus dan bising. Ia melumat pasir laut, merusak rumah ikan, menghancurkan koloni terumbu karang, sekaligus memaksa para penghuni laut meninggalkan kampung halaman mereka.

Salah satu yang paling terdampak adalah Jarbuarong. Tokoh itu digambarkan sebagai makhluk laut pengembara. Ia terusir dari rumahnya sendiri akibat kerusakan ekosistem. Dalam perjalanan, Jarbuarong bertemu Silago dan Barbaron, dua sahabat yang juga hidup dalam kecemasan karena ancaman makhluk buas bernama tuan Bongkeng.

Meski membawa isu kerusakan lingkungan, pementasan “Jarbuarong” tidak tampil muram. Sutradara sekaligus penulis lakon, Maseko BS, justru memilih pendekatan fantasi agar cerita terasa dekat bagi semua usia.

Kostum warna-warni, gerak tubuh para aktor yang menyerupai biota laut, hingga tata panggung penuh imajinasi membuat pertunjukan terasa seperti dongeng. Namun di balik dunia fantasi itu, terselip pesan yang menohok tentang laut yang perlahan kehilangan kehidupan.

“Kami ingin penonton menikmati dulu ceritanya, tertawa, masuk ke dunia fantasinya. Setelah itu mereka sadar bahwa kerusakan laut adalah persoalan nyata,” kata Maseko sehari setelah pementasan.

Bagi Teater Lentera, panggung bukan sekadar tempat pertunjukan. Ia menjadi ruang percakapan antara seniman dan masyarakat.

Karena itu, pada salah satu adegan, penonton tidak hanya duduk menyaksikan. Beberapa diajak naik ke atas panggung. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa ikut larut menyusun strategi bersama Jarbuarong, Silago, dan Barbaron untuk menghadapi Jager Tong serta tuan Bongkeng.

Tawa pecah ketika penonton mencoba mengikuti improvisasi para aktor. Namun di saat bersamaan, ada kegelisahan yang perlahan tumbuh: bagaimana jika laut benar-benar kehilangan kehidupan seperti dalam cerita itu?

Pimpinan Produksi Rhobi Shani mengatakan, lakon Jarbuarong memang dirancang sebagai pertunjukan keliling yang membawa misi lingkungan sekaligus literasi seni.

“Setelah Blora, rombongan Teater Lentera akan melanjutkan perjalanan ke Banyumas dan Cirebon. Di setiap kota, mereka tidak hanya membawa pertunjukan, tetapi juga membuka lapak buku sastra dan teater,” ujarnya.

Menurut Rhobi, pentas ini bukan sekadar hiburan. Baginya dan teman-teman, ini merupakan ruang seni yang juga menjadi ruang belajar dan ruang bertemu, sambang sambung dengan pelaku seni lainnya.

Perjalanan Teater Lentera mungkin hanya singgah beberapa malam di tiap kota. Namun pesan yang mereka bawa terasa ingin tinggal lebih lama, bahwa laut bukan sekadar latar kehidupan, melainkan rumah yang harus dijaga bersama.

Dan malam itu, di atas panggung sederhana di Blora di sudut Stadium Tirtonadi, laut yang rusak menjelma dongeng yang sulit dilupakan oleh penonton yang datang menyaksikan.

Septiana W