blank

Oleh : Dr Shohibul Itmam

Pembukaan Munas-Konbes semalam secara seremonial berjalan teduh penuh riang gembira serta penuh nuansa khidmat dengan wajah para kyai dan ulama se-Indonesia yang nampak  penuh  harapan terhadap masa depan NU dan NKRI.

Sambutan demi sambutan dari fungsionaris PBNU, Gus Yahya selaku ketua umum, KH. Miftahul Ahyar selaku Rais Am, hingga pembacaan doa diakhir penutupan oleh pengasuh pesantren Al Falah Ploso, KH. Nurul Huda Jazuli secara tertib menambah suasana Munas-Konbes semakin optimis, fokus dan terarah menuju kejayaan NU untuk peradaban dunia.

Dalam kondisi yang serba meriah dan ceriah tersebut menjadi sedikit terkesan berubah saat pandangan penulis tertuju pada jajaran Syuriah PWNU Jawa Tengah. Perubahan suasana yang  sedikit berubah kesannya tersebut antara lain adanya  sederetan pertanyaan penulis kenapa ID card sebagai tanda peserta Munas tidak tersemat dalam leher jajaran Syuriah tersebut.

Pertanyaan ini sedikit  bertambah serius saat menyadari transit awal  kedatangan jajaran Syuriah Jawa Tengah yang disediakan panitia ternyata bertempat di kecamatan Pare yang lumayan jauh dari lokasi Munas-Konbes sehingga jajaran Syuriah sepakat untuk pindah tempat lokasi menuju kecamatan Semen yang lebih dekat dengan lokasi Munas-Konbes.

Pergumulan Munas-Konbes Ploso Kediri

Munas-Konbes di Ploso Kediri saat ini bisa dibilang  merupakan puncak pergumulan dari respon terhadap gejolak Jam’iyyah NU yang terjadi selama enam bulan terakhir dengan dinamikanya seperti asumsi umum yang berkembang di kalangan publik. Pergumulan tersebut sedang mencari jalan yang saling mempengaruhi untuk kepentingan kelompok tertentu hingga kepentingan lintas negara dalam berbagai sidang komisi yang digelar.

Sejumlah persoalan seperti tambang di PBNU, sistem administrasi digdaya, munculnya PBNU versi Kramat dan PBNU versi Sultan serta dinamika ishlah dari Jombang, Lirboyo hingga keterlibatan PWNU Jawa Tengah dan DIY Yogyakarta beberapa waktu lalu tentu  masih melekat di benak para peserta Munas-Konbes yang menambah suasana Munas-Konbes saat ini semakin  terasa khusuk dan “mendebarkan”.

Pergumulan kepentingan yang terasa dalam Munas-Konbes Ploso saat ini merupakan  indikator kuat kemana arah visi-misi muktamar PBNU yang direncanakan Agustus mendatang. Sebuah pergumulan tarik ulur kepentingan relasi kuasa yang saling menghegemoni.

Sejumlah kyai Syuriah yang tidak mendapatkan ID card serta penempatan transit yang lumayan jauh dari lokasi Munas-Konbes tersebut   dipahami sebagai bagian dari upaya halus untuk mengurangi peran Syuriah khususnya dari Jawa Tengah dan DIY dalam keterlibatannya sebagai peserta pada Munas-Konbes tersebut.

Munas-Konbes Ploso Kediri dan Menakar arah Muktamar PBNU

Saat sidang pleno II Gus Yahya menyampaikan materi kondisi NU dari masa ke masa tanpa didampingi Gus Ipul di atas panggung selaku sekjend PBNU. Saat dikonfirmasi seorang peserta ternyata Gus Ipul mengaku memang tidak diminta mendampingi Gus Yahya. Sehingga Gus Ipul duduk dibarisan bersama peserta dengan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk membangun jejaring serta mendekatkan komunikasinya dengan peserta Munas-Konbes.

Dari gambaran peristiwa yang terjadi pada Munas-Konbes saat ini mulai proses awal  pembukaan hingga selesai komisi-komisi nampak menemukan kejelasan arah baru Munas-Konbes ini menuju muktamar yang lebih siap dalam mementingkan visi misi keummatan masa depan. NU didorong dan harus kembali kepada jalur muassisnya sebagai gerakan Khidmah dan pengabdian kepada ummat.

Fenomena yang juga nampak lebih jelas adalah redupnya animo multi kepentingan kelompok tertentu yang awalnya semangat untuk mempermainkan NU dengan cara fulgar egaliter berubah dan cenderung mengarah pada menjadikan Munas-Konbes ke ranah yang lebih sesuai dengan rintisan ulama pendiri NU serta sesuai dasar perkum Jam’iyyah dan Qanun Asasi.

Sejumlah kelompok yang berkepentingan dan berusaha memanfaatkan NU untuk politik praktis mulai berfikir serius dengan mengerutkan dahinya dengan komitmen baru yang progresif sehingga muncul kebulatan tekad dan algoritma bahwa hanya kader NU yang serius berhidmah di NU yang akan bisa membesarkan NU dan diharapkan masa depanya. Kader yang tidak selaras dengan tujuan muassis selamanya tidak akan berhasil dengan dalam meraih tujuanya.

Melalui analisa terhadap fenomena dan dinamika yang terjadi saat ini, maka banyak perspektif yang bisa ditemukan dengan berharap semoga arah muktamar PBNU yang direncanakan bulan Agustus mendatang benar-benar bisa  mencerminkan visi misi NU yang sesuai prinsip Jam’iyyah, perkumpulan  seeta Qanun Asasi sebagaimana yang telah digariskan para pendiri NU khususnya Mbah KH. Hasyim Asy’ari. (#)