JEPARA (SUARABARU.ID) – Upaya konkret dalam membentengi karakter siswa pasca kelulusan dilakukan oleh SDN 2 Kuwasen, Jepara. Selama sepuluh hari, terhitung sejak 2 Juni hingga 11 Juni 2026, sebanyak 15 siswa kelas 6 mengikuti kegiatan “Orientasi Mondok” di Pondok Pesantren Babus Salam, Mulyoharjo.
Program tahunan yang telah memasuki tahun ketiga pelaksanaannya ini, resmi dibuka dengan prosesi serah terima santri dari pihak sekolah kepada pengurus pondok pesantren. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SDN 2 Kuwasen, Elmi Dwi Witiani, S.Pd.SD, didampingi guru BTQ, Rif’atun, AH., beserta jajaran staf guru.
Kepala SDN 2 Kuwasen, Elmi Dwi Witiani, menjelaskan bahwa orientasi mondok ini dirancang sebagai langkah preventif agar siswa tidak sekadar menghabiskan waktu dengan aktivitas yang kurang bermanfaat atau “keluyuran” setelah pengumuman kelulusan.
“Kegiatan ini adalah bagian dari komitmen kami dalam menanamkan cinta terhadap agama. Kami berharap anak-anak tidak hanya mendalami ajaran Islam, tetapi mampu mengamalkannya secara kaffah (menyeluruh) sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,” ujar Elmi.

Selama sepuluh hari, para siswa dididik untuk mendalami tata cara ubudiyah yang benar, menanamkan akhlakul karimah, serta melatih kemandirian dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.
Transformasi Karakter
Hasil dari program ini pun mulai menunjukkan dampak positif yang nyata. Elmi mengungkapkan, terdapat perubahan signifikan pada sikap dan perilaku siswa setelah mengikuti rangkaian kegiatan di pesantren.
“Ada perubahan karakter yang sangat positif. Kami berharap kedisiplinan dan nilai-nilai yang didapat selama di pondok ini dapat terus konsisten diterapkan oleh anak-anak, karena hal ini berdampak besar, baik bagi perkembangan pribadi mereka maupun bagi integritas sekolah,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, guru BTQ, Rif’atun, AH., menegaskan bahwa orientasi ini telah menjadi agenda wajib bagi lulusan kelas 6 beragama Islam. Menurutnya, masa transisi setelah kelulusan adalah momentum krusial untuk membentuk rasa tanggung jawab siswa dalam menjalankan syariat Islam.
Kegiatan yang berjalan lancar sejak awal hingga akhir ini ditutup secara resmi pada 11 Juni 2026 melalui prosesi penarikan santri kembali oleh pihak SDN 2 Kuwasen. Sinergi antara dunia pendidikan formal dan pendidikan berbasis pesantren ini diharapkan menjadi model pengembangan karakter yang berkelanjutan, guna mencetak generasi muda Jepara yang religius, mandiri, dan memiliki tanggung jawab moral yang kuat
Hadepe – AY_BSM













