blank

JEPARA (SUARABARU.ID) – Di sebuah sudut kota, semangat besar tumbuh dari diri seorang remaja bernama Muhammad Barkar Einar Effendi atau yang akrab dipanggil Baba. Lahir di Jepara pada 24 Oktober 2012, Baba kini duduk di bangku kelas 7 SMP Walisongo Pecangaan setelah lulus dari SD Semai Jepara tahun 2025.

Di balik kesehariannya sebagai pelajar biasa, tersimpan perjuangan luar biasa yang menginspirasi banyak orang. Baba merupakan anak berkebutuhan khusus penyandang disleksia dengan komorbid dispraksia atau gangguan fokus, serta memiliki kemampuan logika matematika dan linguistik yang rendah.

blank
Baba yang berada di Laskar Jepara FA yang akan melaju ke putaran nasional pada Juli mendatang. Foto: Dok. Pribadi.

Namun keterbatasan tersebut tidak membuatnya berhenti berkembang. Justru dari tantangan itulah Baba menemukan jalan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya melalui sepak bola dan seni musik.

Perjalanan Baba di dunia musik dimulai sejak kelas 1 SD. Awalnya, ia mengikuti les musik bukan karena ketertarikan pribadi, melainkan sebagai terapi untuk membantu meningkatkan fokus dan konsentrasinya. Namun kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus membuat musik menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Karena sudah dilakukan sejak kecil secara continue, akhirnya musik jadi tidak asing lagi dan sekarang semakin menikmati,” ungkap Dwi Elin, Bundanya.

Dari berbagai alat musik, drum menjadi instrumen yang paling disukai Baba. Salah satu lagu favorit yang sering dimainkan adalah “Cinta Ini Membunuhku” milik D’Masiv. Lagu itu pernah ia tampilkan bersama Jepara Drum Squad dalam sebuah sesi ngejam bersama.

Momen tersebut menjadi pengalaman berharga karena untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar tepat dalam mengikuti ketukan drum setelah bertahun-tahun berlatih.

Selain musik, kecintaan Baba terhadap sepak bola mulai tumbuh saat duduk di kelas 5 SD. Kesukaannya muncul dari kebiasaannya bermain bola bersama anak-anak di sekitar rumah serta kecintaannya terhadap klub favoritnya, Persijap Jepara.

Saat kelas 6 SD, Baba mulai serius menekuni olahraga tersebut dengan bergabung di ekstrakurikuler futsal sekolah. Banyak orang menganggap usia 12 tahun sudah terlambat untuk mulai belajar sepak bola karena teman-teman seusianya telah lebih dulu bergabung di sekolah sepak bola sejak kecil. Namun anggapan itu tidak mematahkan semangat Baba.

Ia terus berlatih dengan tekun hingga mampu mencetak beberapa gol penting yang mengantarkan timnya meraih kemenangan. Semangatnya semakin besar ketika pada 6 Oktober 2024 ia memutuskan bergabung dengan SSB PPERSIP Pecangaan. Latihan yang semakin intens membuat kemampuannya berkembang pesat.

Pada April 2025, Baba kembali mengambil langkah besar dengan bergabung bersama Laskar Jepara Football Academy. Kesempatan itu membawanya masuk dalam skuad Persijap Junior U-13 pada ajang Piala Soeratin. Meski perjalanan tim harus terhenti di babak 16 besar, pengalaman tersebut menjadi pencapaian membanggakan bagi Baba.

Dalam waktu satu tahun, Baba bersama timnya berhasil menorehkan sejumlah prestasi, di antaranya Juara 1 Futsal tingkat kabupaten bersama Tim SD Semai dalam ajang yang diadakan SMPUT Bumi Kartini, Juara 2 Futsal tingkat kabupaten dalam turnamen MTs Masalikil Huda, Juara 2 Junior Premier League bersama Laskar Jepara Football Academy, serta Juara 1 Liga Top Skor bersama Laskar Jepara FA yang akan melaju ke putaran nasional pada Juli mendatang.

Ketika ditanya tentang perasaannya saat memenangkan pertandingan, Baba menjawab singkat namun penuh makna, “Sangat bahagia dan bangga.” Ujarnya sumringah.

Di balik keberhasilannya, terdapat sosok keluarga yang selalu memberikan dukungan penuh. Baba mengaku Bunda dan seluruh keluarganya menjadi penyemangat terbesar dalam perjalanan hidupnya, terutama saat menjalani latihan dan menghadapi berbagai kesulitan.

“Bunda selalu memberi semangat dan menemani saat latihan. Itu membuat semangat,” katanya.

Meski latihan dan pertandingan sering membuat tubuhnya lelah, Baba tetap menikmati setiap proses yang dijalani. Baginya, rasa capek seolah terbayar dengan kebahagiaan saat bermain bola dan bermusik.

Perjalanan Baba membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Dengan dukungan keluarga, ketekunan, dan semangat pantang menyerah, seorang anak berkebutuhan khusus mampu menunjukkan prestasi yang membanggakan di bidang olahraga dan musik.

Dari lapangan bola hingga dentuman drum, Baba terus melangkah membawa mimpi-mimpinya. Ia menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi hebat ketika diberi kesempatan, dukungan, dan ruang untuk berkembang.

Septiana Wibowo