WONOSOBO (SUARABARU.ID)-PT Sumber Karya Indonesia (SKI) dan PT Bersama Rancang Karya Indonesia (BRKI) akan membangun Hotel Santika di jalur wisata Dieng, tepatnya di Desa Buntu Kejajar Wonosobo.
Kepala Dinas Penanaman Modal, Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Wonosobo Retno Eko Syafariyati mengatakan investasi sangat membantu pergerakan ekonomi bagi suatu daerah. Ekonomi yang bergerak dapat memicu kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat setempat.
“Investasi di daerah, seperti misalnya di Wonosobo, berupa penanaman modal atau teknologi untuk mengembangkan usaha, bangun fasilitas atau mengolah potensi daerah supaya daerah itu maju dan mendapatkan keuntungan,” tegasnya.
Daerah Wonosobo sendiri, menurut Retno, punya potensi pertanian, pariwisata dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang luar biasa. Potensi tersebut perlu terus dikembangkan. Kolaborasi di tiga sektor tersebut bisa membawa kemajuan ekonomi bagi daerah Wonosobo.
“Maka kami menyambut baik PT SKI dan PT BRKI yang akan menanamkan investasi di sektor pariwisata di Wonosobo. Perusahaan tersebut akan membangun Hotel Santika di jalan menuju tempat wisata Dieng di Desa Buntu Kejajar,” terang Retno saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (9/6/2026) sore.
Saat ini, lanjutnya, pihak investor tengah melakukan proses perijinan. Setelah perijinan selesai proses pembangunan hotel bintang tiga tersebut akan segera dimulai. Hotel Santika yang berbintang 4 nantinya bisa jadi merupakan hotel terbesar di Wonosobo.
“Nilai investasi untuk pembangunan Hotel Santika sebesar Rp 200 miliki. Nanti akan ada 144 kamar, ball room dengan kapasitas 1500 orang dan tempat parkir untuk 150 mobil. Jadi kalo ada event nasional di Wonosobo sudah ada tempat yang representatif,” ujarnya.
Saat ini, Pemkab Wonosobo memang ingin mengoptimalkan potensi yang ada di daerahnya. Di sektor hasil pertanian masih banyak dijual berupa bahan mentah. Maka sekarang perlu pola hilirisasi, menjual produk olahan yang punya nilai tambah dan harus menggandeng para investor.
Sektor Pariwisata

Retno juga menyebut dunia pariwisata hari ini, tidak hanya ingin melihat pemandangan, tetapi ingin merasakan pengalaman mulai dari memetik hasil panen, mengikuti workshop kopi, mencicipi produk lokal, hingga membawa pulang oleh-oleh khas daerah.
“Produk seperti Kopi Dieng dan Carica bukan sekadar komoditas, tetapi identitas daerah yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya. Lebih dari itu, dampak dari modernisasi dan hilirisasi ini sangat nyata,” ungkap dia.
Secara ekonomi, katanya, pendapatan petani berpotensi meningkat 30 sampai 50 persen karena adanya kepastian pasar dan nilai tambah produk. Dari sisi lingkungan, pertanian modern mendorong efisiensi air, penggunaan pupuk organik dan pola tanam yang lebih berkelanjutan.
“Pembangunan ekonomi harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Kalau belum berdampak, lalu apa tujuan utama yang ingin kita capai? Untuk itu, saya mengajak kita semua untuk bergerak bersama,” ajak Retno.
Dia berharap berbagai komunikasi dan penjajakan yang telah terbangun dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama investasi yang nyata. Musti ada langkah nyata, investasi yang tumbuh, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Kepala DPMPTSP Wonosobo yakin, masa depan Wonosobo tidak dibangun oleh satu pihak saja. Dari kebersamaan maka dapat menghadirkan pertanian yang modern, pariwisata yang berkelanjutan, dan ekonomi daerah yang semakin kuat.
Senada, Ketua HIPMI Wonosobo Matranto menyebut daerahnya punya potensi pertanian, pariwisata dan UMKM yang luar biasa. Potensi ekonomi tersebut harus terus dikembangkan untuk memajukan ekonomi daerah dan mensejahterakan masyarakat sekitarnya.
“Kami sebagai pelaku usaha di daerah, berupaya untuk membangun akses ke para penguasa agar para petani, pelaku usaha bidang pariwisata dan UMKM bisa berkolaborasi dengan pengusaha berskala besar guna mendongkrak sektor usaha yang ada di Wonosobo sesuai potensi yang dimiliki,” tandasnya.
Muharno Zarka













