SEMARANG (SUARABARU.ID)– Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM), yang tergabung dalam Komunitas RonaKarya, memperkenalkan budaya batik melalui kegiatan menggambar wajah, di area Car Free Day (CFD) Simpanglima Semarang, dan Jalan Baru Undip, Minggu (7/6/2026).
Dalam kegiatan yang didampingi langsung dosen pembimbing Ayang Fitrianti SS MIKom ini, sejumlah ratusan warga yang tengah beraktivitas di lokasi, berpartisipasi aktif dalam kegiatan itu. Di antara mereka mengekspresikan diri lewat menggambar wajah di atas kertas karton.
Ketua Pelaksana, Almira Lathiifa mengatakan, kegiatan Kampanye RonaKarya itu merupakan bagian dari program kampanye budaya, yang dirancang untuk mendekatkan nilai-nilai batik kepada masyarakat umum, secara kreatif dan interaktif.
BACA JUGA: Tim PKM USM Beri Pelatihan Pemasangan Pipa Resapan Horisontal
Kegiatan berlangsung sepanjang hari, dengan konsep yang sederhana namun bermakna. Setiap pengunjung diajak menggambar ekspresi wajah mereka sendiri, di atas selembar kertas karton.
Media gambar wajah dipilih, sebagai simbol keberanian mengekspresikan identitas diri, yang secara filosofis selaras dengan semangat batik, sebagai media komunikasi budaya yang penuh makna dan karakter.
”Para mahasiswa Ilkom USM berperan sebagai fasilitator yang mendampingi, menjelaskan makna kampanye, sekaligus membangun obrolan santai tentang pentingnya melestarikan batik kepada setiap peserta,” ujarnya.
BACA JUGA: Fakultas Teknik USM Gelar Kuliah Umum Geoteknik
Menurutnya, antusiasme warga menjadi bukti nyata, pendekatan kreatif dalam kampanye budaya mampu menembus berbagai kalangan. Tidak hanya anak muda, para orang tua dan keluarga yang sedang berolahraga pagi di CFD Simpanglima, juga ikut berhenti sejenak dan bergabung dalam kegiatan.
Salah satu pengunjung CFD Simpanglima, Kelvin, memberikan apresiasi pada kegiatan ini. ”Saya mengapresiasi tim RonaKarya, yang telah bekerja keras mengadakan kampanye batik ke masyarakat,” puji Kelvin.
Kampanye RonaKarya sendiri mengusung tagline ‘Berbudaya, Berwarna, Berkarya’. Melalui pendekatan yang inklusif dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat, kampanye ini berupaya menanamkan kesadaran, batik bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan relevan di tengah dinamika zaman.
”Dengan semangat yang ditunjukkan ratusan peserta di CFD Simpanglima dan Jalan Baru Undip, kampanye RonaKarya membuktikan, pesan budaya ketika disampaikan dengan cara yang hangat, interaktif, dan membumi, mampu menjangkau hati siapa pun yang menemuinya,” ungkap dia.
Riyan













