blank
Lapas Semarang kembangkan bibit sayuran dan hortikultura. Foto: Dok/Lapas

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang terus mengembangkan program ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian warga binaan (narapidana) melalui budidaya pertanian berkelanjutan (sustainable farming).

Kali ini, Lapas Semarang melaksanakan kegiatan pindah tanam berbagai komoditas hortikultura di area green house Lapas, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Lapas Kelas I Semarang dengan Kementerian Pertanian melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kota Semarang untuk meningkatkan keterampilan pertanian, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.

Adapun tanaman yang dipindahkan dari area persemaian ke media tanam diantaranya cabai, sawi bakso, sawi pagoda, tomat, cabai keriting, kubis, dan bunga kol. Masing-masing jenis tanaman berjumlah 100 bibit dengan usia rata-rata antara dua minggu hingga satu bulan.

Proses pindah tanam dilakukan secara bertahap dengan memindahkan bibit ke dalam polybag dan raised bed yang telah disiapkan sebelumnya.

Media tanam yang digunakan merupakan campuran pupuk, sekam, tanah, serta dolomit atau kapur pertanian yang diolah hingga merata, guna mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.

Dalam kegiatan juga melibatkan pengawasan staf bidang kegiatan kerja dan warga binaan yang mengikuti program pembinaan kemandirian di bidang pertanian.

Mereka diberikan pemahaman mengenai teknik budidaya tanaman hortikultura, mulai dari tahap persemaian, pengolahan media tanam, pemeliharaan, hingga proses panen.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari menyebut, kegiatan pertanian ini tidak hanya bertujuan menghasilkan produk pangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan pembentukan keterampilan bagi warga binaan.

“Melalui program pertanian berkelanjutan ini, kami ingin memberikan bekal keterampilan kepada narapidana. Mereka tidak hanya belajar menanam, tetapi juga memahami proses budidaya yang baik dan berkelanjutan sehingga dapat menjadi modal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Tohari.

Selain menjadi bagian dari pembinaan kemandirian, kegiatan ini juga mendukung pemanfaatan lahan produktif di lingkungan Lapas, serta memperkuat sinergi dengan berbagai instansi dalam pengembangan program ketahanan pangan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat kemandirian, meningkatkan keterampilan warga binaan, serta mendukung terciptanya pertanian yang produktif dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Ning S