PURWOREJO (SUARABARU.ID)- Melalui proses dan perjalanan yang tak simple, Nadine Belynda Wardhani dari SMA Negeri 5 Purworejo resmi dinobatkan sebagai Roro Kabupaten Purworejo Tahun 2026, pada malam Grand Final yang berlangsung meriah di Ganeca Convention Hall Purworejo.
Mengaku sebagai sosok sedikit introvert, namun dukungan besar dari sekolah dan keluarga, perlahan menjadikan Nadine tampil percaya diri. Background modelling nyaris nol, Mamanya Ardina Nikke terus memberi spirit dengan mendatangkan instrruktur dari Icon Modelling, lalu mulai belajar make up artist sedikit poles berdandan, jadilah Nadine yang berubah.
Kini baginya semua adalah soal respon and challenge. Menurutnya komunikasi menjadi sesuatu yang penting untuk menyampaikan ide dan gagasan apapun.
“Untungnya saya sedikit banyak belajar dari sedini banget skill berbahasa Inggris di rumah sama adik dan mama, ini setidaknya membantu saat presentasi ide yang ada di kepala! ” katanya kepada SUARABARU.ID saat ditemui di rumahnya kawasan Cangkrep Purworejo.

Berbagai materi mengenai kepariwisataan dan segala yang berhubungan dengan hal unik Purworejo, sedikit demi sedikit dihimpun dimulai dengan grounded research melihat realita di lapangan.
Semua dirangkumnya dalam sebuah hipotesis yang harus dijawab dan diuji.
Garis pantai Kabupaten Purworejo memiliki panjang sekitar 21 kilometer punya potensi positif untuk meretas ide dalam benaknya Pesisir ini membentang di wilayah selatan yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, meliputi tiga kecamatan utama yaitu Grabag, Butuh, dan Purwodadi.
Beberapa destinasi pantai yang sudah eksis dan populer menjadi ikon wisata di wilayah ini meliputi:
Pantai Jatimalang (Ketawangrejo/Jatimalang): Berlokasi di Kecamatan Purwodadi, pantai ini merupakan kawasan wisata paling berkembang dan terdekat dari pusat kota, yang dilengkapi fasilitas kuliner seafood dan patung Dewa Ruci.
Pantai Ketawang: Terletak di Kecamatan Grabag, menawarkan pemandangan ombak khas pantai selatan dan muara sungai.
Pantai Keburuhan: Terletak di Kecamatan Butuh, dikenal sebagai area yang masih alami dengan ombak besar dan suasana yang tenang.
Wilayah garis pantai ini juga menjadi pusat aktivitas perikanan laut yang didukung oleh beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan dilintasi oleh jalur wisata historis Jalan Daendels.
Nadine Bahari tercetus dalam benaknya yang sempat dipresentasikan dalam proses meraih gelar Roro Purworejo 2026 belum lama ini. Ide genial Nadine muncul saat dirinya berkunjung ke kawasan Pesisir Selatan Purworejo yang belum maksimal dalam implementasi mewujudkan mimpi destinasi wisata ideal kawasan tersebut.
“Saya membayangkan kawasan ini adalah anugrah Tuhan yang harus sijaga, dirawat dan di msnfaatkan secara optimal untuk semua warga Purworejo, semua bisa menikmati karunia Nya, tentunya butuh effort kita semua! ” kata Gen Z satu ini diplomatis.
Nadine tak hanya bicara atau istilah anak muda Not Action Talking Only (NATO), dirinya terjun langsung membenahi lokasi, membersihkan tempat ibadah, memungut sampah yang berserak, termasuk mengkomunikasikan gagasannya dengan pimpinan teritori terkait. Ini memang masih sebatas gerakan moral, namun dengan berjalannya waktu, Roro Purworejo 2026 merupakan jabatan prestisius dan strategis untuk menggerakkan anak-anak muda yang punya energi positif berlebih yang bertebaran di pelosok Purworejo.
“Kuliner Purworejo yang punya karakter kuat, pantai, anak muda yang up to date dan punya potensi besar menebar gagasan positif dan diajak sharing..’ tambahnya.
Clorot yang khas produk warga kawasan Pesisir Selatan Purworejo, kini telah bertranformasi menjadi produk tahan lama bisa dikirim ke kota lain tanpa resiko membusuk. Anak-ank muda Purworejo sudah mampu memberi sentuhan Clorot dengan kemasan Vacuum. Emping Mlinjo original yang melimpah di kawasan Pesisir, Peyek kacang dengan cita rasa penuh rempah mengingatkan tangan terampil sesepuh jaman dulu, Jongkong yang lekat dengan pewarna berbahan herbal, semua masih punya potensi yang marketable untuk didisplay di era kekinian di tempat yang exotic nan romantic sembari menunggu Sun Set Jingga.
Beruntung pula pelaku UMKM di Purworejo telah terorganisir rapi dan siap anytime digerakkan karena di semua kecamatan telah terbentuk forum UMKM.
Nadine siap mengimplementasikan ide dan gagasan sexy ini tentunya dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Anak muda sudah saatnya bangun dan menjadi penggerak perubahan di kota yang dilewati perbukitan Menoreh ini.
Ada Pakutho, Forum UMKM dan berbagai komunitas yang konsen punya tujuan mulia mensejahterakan warganya khususnya para pelaku UMKM, pasti siap untuk berkomunikasi dan berkolaborasi.
Ardia Nikke, Sang Mama tak putus memberikan dukungan terbaik buat putri nya. “Saya seperti merasakan De Javu saat Nadine berjuang dan berproses seperti sekarang ini, pengalaman empiris puluhan tahun lalu saya tumpahkan kepada Nadine untuk diambil esensi pelajaran nya dan lebih penting lagi Nadine bisa memberi kontribusi positif buat masyarakat Purworejo.” kata Ardia Nikke kepada SUARABARU.ID.
Ternyata Nadine mengulang pengalaman Sang Mama yang meraih gelar Roro Purworejo Tahun 1991. Artinya peristiwa 35 tahun yang lalu kembali diulang lewat putrinya, Nadine dengan segala effort dan tantangan yang berbeda era. Dan Nadine mampu membuktikan nya. Semangat untuk mengukir prestasi dan memberi kontribusi positif akan selalu menyala dalam hati Ardia Nike dan Nasine, seperti lagu Eternal Flame (The Bangles) yang pernah dilantunkan nya 35 tahun lalu.(age).













