blank
Kehadiran Wakil Bupati Jepara, Muhamad Ibnu Hajar, S.M., dalam acara ini menegaskan pentingnya sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan pemuda dalam membangun daerah. Foto: Rouf

JEPARA (SUARABARU.ID)  – Semangat gotong royong dan kolaborasi lintas elemen masyarakat kembali digaungkan di Bumi Kartini. Mengambil momentum sakral peringatan satu windu berjalan, kegiatan Selapanan (Ngaji) Nglaras Jiwo kali ini mengusung tema besar “Suluk Merdesa: Jepara Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur”. Acara yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan di Markas Besar Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Blingoh pada Senin, 1 Juni 2026.

Kegiatan rutin ini diinisiasi oleh Santren Karya di bawah naungan Yayasan Asta Parashima Nusantara yang bekerja sama erat dengan PR GP Ansor Blingoh. Sejak pertama kali digulirkan pada Juni 2018, forum Nglaras Jiwo telah konsisten menjadi ruang refleksi spiritual dan sosial bagi masyarakat. Kehadiran Wakil Bupati Jepara, Muhamad Ibnu Hajar, S.M., dalam acara ini menegaskan pentingnya sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan pemuda dalam membangun daerah.

Satu Windu Nglaras Jiwo: Konsistensi Merawat Jiwa dan Sosial

Pertemuan selapanan kali ini terasa sangat spesial. Praktis, sejak dimulai delapan tahun lalu, forum ini telah berhasil bertahan dan terus konsisten mendidik masyarakat setiap selapan sekali.

Kehadiran Wakil Bupati Jepara yang akrab disapa Gus Hajar ini pun menjadi kado sekaligus apresiasi atas keteguhan Santren Karya dan GP Ansor Blingoh dalam merawat ruang dialektika yang sehat di tingkat akar rumput.

Dalam sambutan kuncinya (keynote speech), Gus Hajar menyampaikan apresiasi yang mendalam atas konsistensi gerakan ini. Bagi pemerintah daerah, forum-forum berbasis komunitas seperti Nglaras Jiwo adalah fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan harmoni sosial warga.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Harmoni sosial dan partisipasi aktif warga seperti yang ditunjukkan malam ini adalah prioritas utama kami. Dari forum seperti inilah ide-ide segar dan energi positif untuk membangun Jepara bermula,” ujar Gus Hajar di hadapan jemaah yang memadati Markas Besar GP Ansor Blingoh.

 

Komitmen Pemkab Jepara Menuju “Jepara MULUS”

Lebih lanjut, Gus Hajar memanfaatkan momentum tersebut untuk menegaskan kembali komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Jepara dalam mewujudkan visi Jepara MULUS—sebuah akronim dari Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius. Visi ini bukan sekadar jargon, melainkan peta jalan (roadmap) pembangunan Jepara di masa depan.

Gus Hajar menjelaskan bahwa untuk mencapai Jepara MULUS, diperlukan keseimbangan antara pembangunan fisik dan spiritual. Selain memprioritaskan harmoni warga, sektor infrastruktur juga tetap menjadi perhatian utama.

“Peningkatan infrastruktur yang merata dan tepat sasaran menjadi prioritas strategis pada era kepemimpinan kami saat ini. Namun, pembangunan fisik itu akan sia-sia jika tidak dibersamai dengan pembangunan manusianya. Di sinilah esensi dari Jepara MULUS,” tegasnya.

Meneladani Resolusi Sosial Zaman Kenabian

Setelah mukadimah dari Wakil Bupati, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para tokoh agama dan akademisi yang dihadirkan sebagai pembicara utama.
Pembicara pertama, KH. Muslim Assalamy, menggarisbawahi bahwa sejarah mencatat keberhasilan pembangunan sebuah peradaban selalu bertumpu pada manusia di dalamnya. Beliau mengingatkan bahwa membangun suatu daerah atau daerah seperti Jepara tidak boleh menegasikan atau meninggalkan peran aktif masyarakat.

“Masyarakat yang berkualitas harus menjadi prioritas utama dalam blueprint pembangunan. Hal ini secara gamblang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW ketika membangun Yatsrib menjadi Madinah Al-Munawwarah, hingga terwujud apa yang kita kenal sebagai Masyarakat Madani,” papar KH. Muslim Assalamy.

Menurutnya, kegotongroyongan warga adalah kunci utama transformasi sosial tersebut.
Senada dengan hal itu, Ustadz Sahal Japara selaku pembicara kedua menarik benang merah yang lebih luas dalam konteks khazanah Islam. Ia menegaskan bahwa Islam memiliki segudang literatur dan keteladanan yang sangat kaya mengenai arsitektur pembangunan peradaban. Salah satu figur sentral yang wajib diteladani dalam konteks ini adalah Nabi Ibrahim AS.

Transformasi Paradigma: Dari Antroposentris-Ekstraktif Menuju Teosentris-Regeneratif
Sebagai pamungkas sesi diskusi, Ahmad Rouf, S.Si. membawa perspektif yang sangat kontekstual dengan tantangan era kekinian. Menghubungkan sejarah masa lalu dengan krisis modern saat ini. Ahmad Rouf menekankan perlunya perubahan mendasar dalam cara pandang manusia terhadap pembangunan dan alam.
Menurutnya, jika masyarakat ingin belajar dari cara Nabi Muhammad SAW membangun Madinah secara utuh, maka strategi pembangunan masa kini harus segera mengubah paradigmanya.

“Kita harus bergeser dari paradigma lama yang antroposentris-ekstraktif menuju paradigma baru yang teosentris-regeneratif. Artinya, pembangunan tidak boleh merusak, melainkan harus meregenerasi atau memulihkan bumi. Segala aktivitas pembangunan kita harus diletakkan dalam bingkai ibadah dan kesadaran ketuhanan yang berwujud pada gerakan sosial rahmatan lil ‘alamin,” urai Ahmad Rouf secara ilmiah dan filosofis.

Suluk Merdesa sebagai Arah Baru Pembangunan Jepara

Tema “Suluk Merdesa” yang diangkat dalam satu windu Nglaras Jiwo ini pada akhirnya berhasil merumuskan sebuah kesadaran kolektif yang baru bagi warga Blingoh khususnya, dan Jepara pada umumnya.

Konsep ini menawarkan jalan spiritualitas (suluk) menuju kemandirian dan kelayakan hidup yang bermartabat (merdesa).
Melalui sinergi pemikiran antara para kiai, akademisi, pemuda Ansor, serta dukungan penuh dari pemerintah daerah yang diwakili oleh Gus Hajar, acara selapanan ini tidak lagi sekadar menjadi ritual mengaji rutin. Lebih dari itu, forum ini telah menjelma menjadi laboratorium gagasan yang progresif.

Suluk Merdesa dinilai menjadi sarana yang sangat efektif dan kontekstual untuk membangun kesadaran baru tentang arah pembangunan Jepara ke depan. Sebuah arah pembangunan yang tidak kehilangan jati dirinya; yang tetap kokoh berpegang pada nilai-nilai ketuhanan, ramah terhadap lingkungan hidup, serta digerakkan melalui semangat gotong royong warga demi mewujudkan cita-cita luhur: Jepara yang MULUS dan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur

Hadepe – Rouf