Oleh : Hadi Priyanto
Ada banyak prosesi yang wajib dilakukan dalam ritual Perang Obor Tegalsambi, Jepara mulai doa, ziarah di 8 punden, kirap pusaka, penyembelihan kerbau sebagai sesaji, hingga pembuatan jajanan khas Kintelan. Jajanan khas ini menjadi pembuka ritual Perang Obor.
Konon jajanan Kintelan ini dibuat oleh Ki Babadan dan Ki Gemblong usai mereka berseteru hebat dengan menggunakan kobaran api sebagai senjata. Namun kedua tokoh ini kemudian berdamai setelah mereka melihat hikmah yang terjadi. Hewan yang sakit menjadi sembuh karena percikan api. Sebagai simbul persahabatan dan persaudaraan keduanya kemudian merayakan dengan membuat jajanan yang kemudian dinamakan Kintelan.
Karena itu Kintelan merupakan makanan khas dari desa Tegalsambi. Biasanya dibuat sehari sebelum Perang Obor dan dijadikan sebagai sajian dalam sedekah bumi dan sekaligus pembuka ritual Perang Obor dengan cara memberikan kepada tetangga dan saudara.
Memang jajanan Kintelan ini hanya muncul setahun sekali. Sekilas makanan ini mirip poci., ada enten-enten dari parutan kelapa dan gula. Bedanya poci dibungkus daun pisang dan Kintelan tanpa bungkusan dan disajikan dengan santan kental. Perbedaan lain, Kintelan bentuknya bulat dan poci lancip.

Makna yang tersirat
Ada makna yang tersirat dari makanan Kintelan ini. Bahan ketan sebagai bahan utamanya memiliki tekstur lengket. Maka ketan diartikan “kraketan” atau “ngraketke ikatan” atau mempererat ikatan.
Simbol ketan ini dimaknai mempererat persaudaraan antar sesama manusia yang diwujudkan dalam kegiatan Sedekah Bumi dan ritual Perang Obor. Hal ini juga ditandai dengan pembagian sajian kepada tetangga dan saudara untuk mempererat persudaraan.
Santan sebagai saus makanan Kintelan memiliki makna perjalanan hidup yang tidak mudah. Asal santan dari kelapa. Untuk menggapai kelapa tidaklah mudah. Butuh perjuangan untuk menggapainya dan ketika mengulitinya hingga dibelah dan diperas isi putih buah kelapanya. Seperti halnya dalam hidup. Untuk menggapai sesuatu yang indah sangat membutuhkan perjuangan.
Makna yang diharapkan ketika memakan Kintelan dengan saus santan, kita akan mengingat bahwa untuk mendapatkan kenikmatan dan gurihnya harus melalui proses yang tidak mudah. Perlu kerja keras dan semangat yang tinggi
Rasa manis gurih Kintelan ini berasal dari bahan tepung ketan, kelapa, gula Jawa, dan areh. Selain rasanya yang manis, kulitnya kenyal, juga gurih yang berasal dari areh kental berminyak.
Bahan untuk membuat jajananan Kintelan terdiri dari tepung ketan, kelapa tua, kelapa muda, gula merah, gula pasir dan sedikit garam.
Sedangkan cara mebuatnya : Pertama, Kelapa tua dibuat santan, sisihkan yang kental untuk areh. Sisanya untuk adonan. Kedua, Parut kelapa muda untuk isinya. Parutan kelapa untuk isi ditambah gula merah disangrai di atas wajan. Sambil diaduk-aduk sampai rata dan kental, lalu ditaburi tepung ketan sedikit. Lanjutkan hingga matang.
Sedangkan Ketiga, buat bulatan enten-enten untuk isi. Keempat, tepung ketan diuleni dengan santan. Tambahkan gula pasir dan garam secukupnya. Jangan terlalu lembek. Kelima, ambil adonan ketan, lalu bentuk bulat dan pipihkan. Isi dengan bulatan enten-enten di dalamnya. Keenam, kukus dengan alas daun pisang yang diolesi dengan minyak sayur selama kira-kira 10 menit. Ketujuh, angkat dan sajikan dengan diolesi areh (santan kental) diatasnya.
Kintelan yang semula hanya digunakan sebagai hidangan pembuka ritual Perang Obor, kini telah ada di sejumlah pesar di Jepara, termasuk pasar Apung, Demaan, Jepara.
Saatnya jajanan yang menjadi salah satu potensi kuliner Jepara ini mendapatkan perhatian untuk dikembangkan guna mendukung pengembangan pariwisata. Juga layak dilestarikan ,menjadi Warisan Budaya Takbende Indondesia, seperti halnya horog-horog
Penulis adalah pegiat budaya Jepara













