Oleh Akhmad Faozan
Jika dulu kita memandang 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) seakan sebagai beban geografis, namun hari ini pemerintah melakukan reframing: justru mereka adalah titik tumpu dalam menggairahkan kebangkitan. Inilah yang menjadi sumber kekuatan dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan untuk semua. Kesejahteraan bukan hanya bagi yang berada di kota dan sekedar kuat gaungnya, namun kebijakan dan langkah nyata telah diambil oleh pemerintah.
Masyarakat awam sangat paham dan pemerintah sepakat untuk mengambil langkah penting ini. Investasi dalam bidang pendidikan sebagai langkah strategis yang harus diambil oleh pemerintah lewat Kemendikdasmen. Langkah yang diambil pemerintah dengan menggelontorkan anggaran sebesar Rp1,38 triliun bukan sekadar besaran biaya, melainkan upaya menyelaraskan ‘vibrasi’ pendidikan di pelosok dengan pusat.”
Transformasi digital dan bantuan PIP di Sumba atau Maluku bukan sekadar distribusi barang dan uang. Di baliknya, ada pesan cinta dari negara bahwa identitas sebagai anak Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa jauh mereka dari ibu kota. Namun karena keterpanggilan hati, bahwa mereka yang tinggal jauh dari ibu kota pun harus terurusi kelayakan tempat untuk sekolah, maupun fasilitas lain yang dibutuhkannya hari ini pemerintah sudah mengupayakan.
Mari kita terbuka dengan kejujuran bahwa ketimpangan masa lalu di daerah 3T, tidak sekedar memilukan. marilah kita buka data terkini, bahwa program revitalisasi dari pemerintah di tahun 2025 sebesar Rp1,38 triliun benar-benar sampai kepada daerah sasaran. Demikian juga dengan program yang dikenal luas dengan PIP tercatat sebesar 102% berjalan. Bukan sekedar berbicara angka dan data, tetapi saya mengajak kita jujur berbicara dari data ini. Maka perbandingan periode sebelumnya dengan sekarang sangat nampak akan naiknya progres perkembangan secara fisik. Ini adalah upaya real pemerintah.
Belum lagi digitalisasi pendidikan, program digitalisasi yang membuat kesenjangan dan ketimpangan akan munculnya disparitas kualitas pendidikan. Sehingga digitalisasi sebagai Jembatan dalam upaya pemerataan kualitas pendidikan. Pembagian alat (tools) pendidikan berupa IFP (Interactive Flat Panel) yang diberikan kepada satuan pendidikan (sekolah, madrasah, dan SLB) mulai dari PAUD/TK sampai dengan sekolah menengah merupakan bantuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai langkah nyata program Digitalisasi Pembelajaran. Pembagiannya sudah merambah ke semua daerah termasuk 3T.
Peran penting pemerintah dengan memanusiakan sang guru bukan isapan jempol, menaikan dari sisi kualitas besaran maupun jumlah penerima adalah bukti nyata. dari angka Rp1,500.000,- menjadi Rp2.000.000,- dan dari setiap triwulanan menjadi setiap bulan. Demikian juga agar merata, yang belum S1 ditingkatkan kemampuan akademisnya dengan kuliah lagi. Walaupun kebijakan positif ini ndak terasa maksimal, namun memberikan tambahan support berupa suntikan semangat untuk pendampingan pada murid. jelas bahwa langkah pemerintah ini menguatkan dari sisi sumber daya manusia.
Pada akhirnya, pendidikan bermutu bukanlah hadiah, melainkan hak yang harus ditunaikan. Ketika negara hadir di daerah 3T dengan totalitas, kita tidak hanya sedang membangun sekolah, kita sedang menjahit kembali rasa kebangsaan yang utuh. Fajar pendidikan di ufuk timur kini bukan lagi sebuah penantian panjang, melainkan realitas yang sedang kita rayakan bersama.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, komitmen untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia semakin nyata melalui penguatan sektor pendidikan. Salah satu wajah paling konkret dari keberhasilan ini adalah capaian Program Prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Keberhasilan program di daerah 3T membuktikan bahwa jarak geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi keadilan intelektual. Ketika sekolah-sekolah di pelosok mulai tersambung digital, ketika guru-gurunya sejahtera, dan ketika siswanya tidak lagi khawatir akan biaya, maka sejatinya kita sedang membangun benteng pertahanan bangsa yang sesungguhnya.
Pendidikan yang bermutu untuk semua bukan lagi utopia. Ia sedang tumbuh dan mekar di sela-sela bebukitan dan pesisir Nusantara. Tugas kita adalah mengawal energi positif ini agar terus berkelanjutan, karena setiap rupiah yang diinvestasikan pada anak-anak di daerah 3T adalah investasi untuk kejayaan Indonesia di masa depan.
Penulis adalah praktisi pendidikan, Kepala SD Muhammadiyah Jepara.













