JEPARA (SUARABARU.ID) — Debur ombak yang memecah bibir pantai berpadu dengan desir angin laut siang itu menjadi irama yang menemani para wisatawan di Pulau Panjang. Di antara lalu-lalang pengunjung yang menikmati pasir putih dan rindangnya pepohonan pesisir, tampak seorang perempuan paruh baya duduk setia menjaga dagangannya. Di hadapannya berjajar plastik-plastik berisi ikan asin, kerupuk, hingga terasi udang dengan aroma khas laut yang menguar pelan diterpa angin.
Perempuan itu adalah Siti Sokiyem, perempuan 63 tahun asal Yogyakarta yang sudah empat tahun terakhir menggantungkan harapan dari berjualan di pulau wisata tersebut. Wajahnya yang mulai dipenuhi garis usia tidak menghapus semangatnya menyapa setiap pengunjung yang lewat.
“Hari Sabtu Minggu, pokoknya hari merah sama pas anak-anak libur,” ucapnya sambil tersenyum, Minggu (3/5/2026).
Di atas tikar sederhana, ia menjajakan beragam hasil olahan laut dan makanan tradisional. Mulai dari kerupuk kepiting, kerupuk tenggiri, terasi udang, ikan gabus asin, teri nasi, cumi kering, layur, hingga dendeng gapoh tersusun rapi menunggu pembeli. Ada pula gimbal, petek emping, dan sekar waru yang bagi sebagian wisatawan justru menghadirkan kenangan masa kecil.
Bagi Sokiyem, dagangan itu bukan sekadar komoditas, melainkan cara bertahan hidup di tengah perubahan zaman dan kerasnya kondisi ekonomi pascapandemi. Harga jual yang ia tawarkan pun sangat beragam, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp35 ribu. Nominal kecil bagi sebagian orang, tetapi menjadi harapan besar bagi dirinya.
“Sekarang bisa dapat bisa enggak. Dapat Rp10 ribu pernah, Rp200 ribu pernah. Enggak pasti semenjak corona. Sekarang paling banyak Rp700 ribu,” katanya lirih.
Kalimat itu meluncur sederhana, namun menyimpan cerita panjang tentang ketidakpastian hidup pedagang kecil di kawasan wisata. Cuaca, ombak, hingga jumlah kapal penyeberangan menjadi penentu rezeki hariannya. Ketika ombak tinggi dan wisatawan enggan datang, dagangannya pun sering hanya dipandangi tanpa dibeli.
Meski demikian, Sokiyem tetap datang. Ia percaya selalu ada pengunjung yang mencari rasa khas kampung halaman di antara hiruk-pikuk wisata modern.
Wisatawan yang datang ke Pulau Panjang tidak hanya berasal dari Jepara. Banyak yang datang dari Semarang, Solo, Tegal hingga Tangerang. Sebagian menikmati pantai, sebagian lagi berziarah ke makam yang ada di pulau tersebut. Di sela perjalanan itu, lapak kecil milik Sokiyem sering menjadi tempat persinggahan.
Bagi Fika (27), membeli ikan asin dari pedagang sepuh seperti Sokiyem menghadirkan nostalgia yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern.
“Memang harus dilestarikan ya makanan tradisional yang sangat enak ini. Rata-rata yang jualan juga mbah-mbah yang sudah sepuh, ya hitung-hitung membantu,” ujarnya.
Ia mengaku teringat masa kecil saat makan bersama keluarga dengan lauk ikan asin dan sambal terasi. Kenangan sederhana yang kini justru terasa mahal di tengah makanan cepat saji dan gaya hidup serba instan.
Di tengah geliat pariwisata yang terus berkembang, keberadaan pedagang kecil seperti Sokiyem menjadi bagian penting dari wajah asli pesisir Jepara. Mereka bukan hanya menjual makanan, tetapi juga menjaga rasa, tradisi, dan cerita tentang kehidupan yang bertahan di antara ombak dan panas matahari.
Dari lapak kecil beralas tikar itu, perjuangan terus berlangsung—kadang hanya membawa pulang Rp10 ribu, kadang ratusan ribu. Namun bagi Sokiyem, selama masih ada wisatawan datang dan laut tetap berdebur, harapan akan selalu ada.
Septiana W – Defika Andreani













