blank
Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, mencoba mengukir kayu di salah satu stan kerajinan yang ada di UMKM Grande 2026 yang diadakan BI Jateng di Mall Paragon Semarang, Kamis 7 Mei 2026. foto : hp

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah resmi menggelar kegiatan UMKM Grande 2026 di Mall Paragon Semarang.

Ajang yang berlangsung mulai tanggal 7 hingga 11 Mei 2026 ini merupakan bentuk rebranding dari program ikonik “UMKM Gayeng” yang telah sukses berjalan selama tujuh tahun terakhir.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, mengungkapkan bahwa perubahan nama menjadi “Grande” membawa misi baru yang lebih mendalam, yakni menekankan pada empat pilar utama yaitu Green (Hijau), Kerakyatan, Digital, dan Ekspor.

“Tahun ini kita melakukan rebranding karena ada aspek baru yang ingin kita tekankan, terutama dari sisi sustainability atau ekonomi hijau. Kita tahu kondisi lingkungan dunia sedang mengalami penurunan kualitas (deterioration), maka kami mendorong UMKM untuk mulai mengadopsi konsep ekonomi sirkuler,” ujar pria yang biasa disapa Pak Nunu ini saat pembukaan acara, Kamis 7 Mei 2026.

Salah satu daya tarik utama dalam UMKM Grande tahun ini adalah kehadiran Booth Hijau. Di sini, pengunjung tidak hanya melihat produk UMKM yang ramah lingkungan, tetapi juga bisa mencoba Kalkulator Hijau. Fasilitas ini memungkinkan masyarakat menghitung emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.

Menariknya, BI Jawa Tengah berkomitmen untuk menghitung total emisi karbon yang dihasilkan selama lima hari penyelenggaraan acara dan akan mengkompensasikannya melalui penanaman pohon.

“Harapannya, emisi yang dihasilkan bisa balance dengan jumlah pohon yang kita tanam sebagai sumbangsih bagi kelestarian alam,” tambah Pak Nunu menjelaskan.

Penyelenggaraan UMKM Grande 2026 melibatkan sekitar 90 UMKM binaan dari seluruh Jawa Tengah, termasuk dukungan dari kantor perwakilan BI Solo, Purwokerto, dan Tegal.

Adapun produk yang dipamerkan sangat beragam, mulai dari komoditas kopi, furniture, home decor, kerajinan tangan (craft), hingga wastra atau fashion ready-to-wear.

Tak hanya itu saja, untuk memperluas pasar, BI menghadirkan business matching dengan mengundang pembeli potensial (potential buyers) dari berbagai negara, antara lain dari kawasan ASEAN seperti Singapura dan Thailand, serta dari tingkat Global yaitu Uni Emirat Arab dan Sri Lanka.

Selain itu, strategi penjualan juga merambah ke dunia digital melalui program Live Selling yang bekerja sama dengan para affiliator untuk mendongkrak omzet pelaku usaha secara real-time.

Terkait target penjualan, Pak Nunu bersikap optimis namun tetap realistis mengingat tantangan ekonomi yang ada. Ia menargetkan kenaikan omzet sebesar 5 hingga 10 persen dari pencapaian tahun lalu.

“Tahun lalu omzet kita mencapai Rp600 juta. Tahun ini kami harapkan ada peningkatan menjadi sekitar Rp630 juta,” jelasnya lebih lanjut.

Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik seperti talk show wastra, fashion show hasil kerja sama dengan Dekranasda Jateng, edukasi keuangan di akses “Aku Bisa Sejahtera” (kolaborasi dengan OJK), hingga program subsidi buku melalui Grand Book Initiative.

Sebagai penutup rangkaian, UMKM Grande akan dilaksanakan secara berkelanjutan (back-to-back) dengan Central Java Investment and Business Forum (CJIBF) yang akan dibuka pada 11 Mei mendatang.

“Sinergi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang tidak hanya tinggi, tetapi juga lebih inklusif bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

Hery Priyono