blank
Gedung Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah. foto : hp

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Provinsi Jawa Tengah mencatatkan tren positif dalam pengendalian harga pada periode April 2026. Berbeda dengan kondisi nasional yang mengalami inflasi, wilayah Jawa Tengah justru mencatatkan deflasi sebesar 0,03% (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengungkapkan bahwa capaian ini sangat dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca-momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H.

“Deflasi pada periode laporan ini terutama dipicu oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar -0,22% (mtm),” ujar pria yang biasa disapa Pak Nunu ini dalam keterangan resminya, Selasa 5 Mei 2026.

Dirinya merinci bahwa komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit menjadi penyumbang utama penurunan harga seiring melandainya konsumsi masyarakat setelah lebaran.

Faktor Penahan dan Tekanan Global

Meski secara keseluruhan mengalami deflasi, BI mencatat adanya beberapa komoditas yang masih mengalami tekanan harga. Kenaikan harga minyak goreng terjadi akibat dampak konflik di Timur Tengah yang mengerek harga kelapa sawit serta biaya produksi kemasan.

Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran turut menyumbang inflasi sebesar 0,09% (mtm) yang dipicu oleh kenaikan biaya energi gas LPG.

“Sektor teknologi juga terpantau mengalami kenaikan harga. Komoditas telepon seluler dan laptop tercatat mengalami inflasi akibat kenaikan harga komponen elektronik global seperti chipset dan memori,” katanya.

Kinerja Tahunan dan Spasial

Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada April 2026 berada di angka 2,11% (yoy). Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,42% (yoy) maupun provinsi lain di Pulau Jawa.

Dirinya menjelaskan kalau komoditas emas perhiasan saat ini masih menjadi motor utama inflasi tahunan dengan andil 0,63% (yoy), dipicu oleh tensi geopolitik global.

Ditinjau secara spasial, mayoritas kota IHK di Jawa Tengah mengalami deflasi bulanan, dengan Kab. Wonogiri mencatatkan angka terdalam sebesar 0,25% (mtm). Namun, Kota Semarang dan Kudus justru menunjukkan anomali dengan tetap mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,17% dan 0,02% (mtm).

Komitmen Pengendalian ke Depan

Guna memastikan stabilitas harga tetap terjaga, Bank Indonesia bersama Forum TPID di seluruh wilayah Jawa Tengah berkomitmen memperkuat koordinasi program pengendalian inflasi.

“Fokus utama kami adalah menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang agar inflasi tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1%,” pungkasnya menjelaskan.

Hery Priyono