blank
Dra. Puji Rahayu, M.Pd. dalam sesi wawancara dengan penulis pada kegiatan Kartini's Inspiration Parade Sabtu 18/4=2026. Foto: Ika Putri

JEPARA (SUARANBARU.ID) – Di tengah geliat  pendidikan di Jepara yang terus berderap maju, sosok Dra. Puji Rahayu.  M.Pd. hadir bukan sekadar sebagai kepala sekolah, tetapi juga sebagai penjaga nilai dan arah bagi generasi muda. Sebagai Kepala SMAN 1 Jepara, ia menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai proses transfer ilmu, melainkan juga pembentukan karakter yang menjadikan sebuah prinsip yang ia yakini selaras dengan semangat perjuangan R.A. Kartini.

Bagi Puji, Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol emansipasi perempuan. Ia melihat Kartini sebagai figur yang jauh melampaui zamannya.

“Menurut saya Kartini itu kan tidak sekadar tokoh emansipasi, tetapi beliau adalah tokoh yang peka terhadap lingkungan, pertumbuhan aset budaya lokal, dan pendidikan yang harus terus disuarakan dan diperjuangkan. Karena pada masa sekarang kita tahu bahwa tantangan ke depan akan selalu berbeda,” ungkapnya.

blank
Kepala SMAN 1 Jepara, Dra. Puji Rahayu ., M.Pd. Foto: Dok Pribadi

Pandangan itu menjadi dasar bagaimana ia memaknai peran perempuan dalam pendidikan. Menurutnya, perempuan terutama ibu memiliki peran sentral dalam membentuk arah generasi. “Dari tangan seorang ibu, nilai, karakter, hingga cara berpikir anak mulai dibentuk sejak dini,” terang Puji Rahayu

Di era digital yang serba cepat, Puji menekankan pentingnya perempuan untuk terus belajar dan tidak tertinggal. Ia melihat tantangan zaman kini jauh lebih kompleks, terutama dengan kemudahan akses informasi yang dimiliki anak-anak. “Karena itu, perempuan dituntut untuk lebih cerdas, adaptif, dan memiliki wawasan luas agar mampu mendampingi generasi muda dengan tepat,” pintanya

“Perempuan itu yang pertama kali akan mengasuh anak. Dari seorang ibulah arah generasi ditentukan,” tuturnya dalam wawancara disela mengikuti acara Kartini’s Inspiration Parade di alun alun Jepara, Sabtu 18/4-2026..

Pandangan itu tidak berhenti sebagai gagasan. Dalam kesehariannya, Puji menekankan pentingnya peran perempuan terutama ibu untuk terus belajar dan berkembang. “Di era digital saat ini. tantangan membentuk generasi muda tidak lagi sederhana. Anak-anak kini hidup dalam arus informasi tanpa batas, dan orang tua dituntut untuk tidak gagap teknologi,” terang Puji Rahayu

“Kalau tidak ingin anak keblinger, ibunya harus jauh lebih pintar. Harus lebih tahu dari apa yang diakses anak,” ujarnya tegas.

Sebagai seorang pendidik sekaligus perempuan Jawa, Puji juga menempatkan keseimbangan sebagai kunci. Ia tidak menolak kemajuan, tetapi mengingatkan pentingnya tetap berpijak pada nilai budaya. Dalam pandangannya, perempuan boleh maju setinggi mungkin, namun tetap memahami peran dan tanggung jawabnya dalam keluarga dan masyarakat.

Keteladanan menjadi metode utama yang ia terapkan di lingkungan sekolah. Ia percaya, nasihat tanpa contoh hanya akan menjadi suara kosong tanpa arti.

“Anak sekarang butuh bukti, bukan sekadar kata-kata. Kalau hanya banyak bicara tanpa isi, mereka justru jenuh,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendorong guru dan orang tua untuk menyampaikan pesan dengan wawasan yang kuat dengan pendekatan yang sesuai dengan usia anak.

Sebagai guru sejarah, Puji kerap menghidupkan kembali kisah Kartini di ruang kelas. Ia mengajak siswa memahami bahwa keberanian Kartini bukan hanya pada pemikirannya tentang pendidikan, tetapi juga pada sikapnya yang berani bersuara di tengah budaya yang membatasi perempuan.

Baginya, keberanian itu relevan hingga hari ini terutama ketika generasi muda dihadapkan pada tantangan modern yang lebih kompleks.

Di balik ketegasannya, Puji juga reflektif. Ia mengakui bahwa banyak perempuan, termasuk dirinya, perlu terus belajar untuk tidak merasa selalu benar. Baginya, kesadaran untuk terus memperbaiki diri adalah bagian penting dari menjadi perempuan yang berdaya.

Harapan  puji dalam peringatan hari Kartini tahun ini  cukup sederhana namun mendalam. Ia berharap semangat Kartini tidak berhenti sebagai peringatan tahunan saja, namun lebih dari itu ia harap generasi muda, khususnya perempuan mampu menempuh pendidikan setinggi mungkin tanpa kehilangan jati diri. Ia ingin melihat perempuan yang cerdas, berwawasan, namun tetap berakar pada nilai budaya. “Boleh maju, tapi jangan sampai lupa karakter budaya bangsa yang kita adhiluhung,” pungkasnya.

Hadepe -Diyan Ni’matus Sa’adah